ログイン"T-Tante digigit nyamuk, Sayang! Nyamuk kebun di perbukitan ini besar sekali!" Alina menjawab cepat dengan suara melengking panik, tangannya refleks merapikan helai rambut panjangnya demi menutupi leher jenjangnya kembali. Wajah cantiknya seketika memerah padam, bagaikan udang rebus yang baru matang. Sean memiringkan kepalanya, matanya berkedip polos. "Nyamuknya besar sekali ya, Tante? Kok merahnya banyak begitu?" Reynard yang baru saja melangkah mendekat mendadak menghentikan langkahnya. Pria tegap itu terbatuk pelan, menahan tawa renyah yang hampir saja meledak di tenggorokannya melihat kepanikan luar biasa dari pengasuh anaknya. "Iya, Sean," sela Reynard ikut bergabung, menyunggingkan senyum miring yang teramat seksi dan penuh godaan ke arah Alina. "Nyamuk di vila ini memang sangat nakal kalau malam hari. Apalagi kalau mangsanya manis... pasti digigit habis-habisan." Alina mendelik tajam, melemparkan tatapan membunuh ke arah sang CEO. "Tuan Reynard! Jangan asal bicara di depan
"Sstt... Pelan-pelan, Tuan. Nanti Sean bangun!" Alina berbisik sangat lirih, mengaitkan jemarinya pada lengan tegap Reynard saat mereka melangkah menyusuri koridor yang gelap. Sepatu mereka ditinggalkan di luar, dan kini melangkah tanpa alas di atas lantai kayu yang dingin. "Saya melangkah pelan sekali, Alina," balur Reynard dengan suara bariton rendahnya yang masih terdengar serak. Cklek Pintu kamar utama dibuka sesenyap mungkin. Pendar lampu tidur temaram langsung menyambut mereka, memperlihatkan sosok Sean yang tertidur lelap meliuk di tengah-tengah kasur berukuran *king size*. Alina bernapas lega, berjalan mendekat dan membetulkan selimut yang menutupi dada anak asuhnya. Namun tepat saat selimut dirapikan, bocah kecil itu mendadak menggeliat pelan, bibir mungilnya bergumam halus. "Eungh... Papa... sosis bakarnya enak... Sean mau tambah dua lagi..." gumam Sean polos di dalam tidurnya, lengkap dengan mengunyah-ngunyah udara. Alina refleks menutupi mulutnya dengan kedua tangan
"B-Buktikan, Tuan... buat saya lupa pada semuanya..." Bisikan lirih nan pasrah itu lolos dari bibir manis Alina, bergetar di tengah kegelapan kamar yang sunyi. Sepasang mata bulatnya menatap sayu ke dalam manik mata abu-abu milik Reynard, memancarkan kepasrahan total yang tak lagi menyisa pertahanan. Reynard membeku sejenak, tatapannya berkilat gelap dan makin tajam. Kalimat singkat dari Alina seketika melumpuhkan sisa-sisa kendali dirinya yang bertahan di ambang batas. "Pilihan yang sangat manis, Alina..." bisik Reynard dengan suara bariton yang teramat serak dan pekat akan dominasi. Tanpa membuang waktu, Reynard melucuti sisa pakaian yang menghalangi tubuh mereka. Dalam sekejap, kehangatan kulit mereka menyatu tanpa batas, menyebarkan sengatan panas yang membakar seluruh saraf. Reynard menarik tubuh ramping Alina agar semakin merapat pada tubuh tegapnya, merebahkan wanita itu di atas tempat tidur empuk kamar kosong tersebut. "T-Tuan... ahn!" Alina memekik tertahan saat Reynard
"T-Tuan... tolong jangan..." Gumam lirih Alina memecah keheningan kamar yang temaram. Kedua tangannya yang bergetar hebat refleks terangkat, mencengkeram erat pergelangan tangan tegap Reynard yang saat ini sedang meremas lembut dadanya dari balik kain pakaian. Reynard menghentikan pergerakan jemarinya sejenak, menunduk menatap manik mata bulat Alina yang tampak berkaca-kaca di bawah pendar temaram cahaya bulan. "Kenapa, Alina?" suara bariton Reynard terdengar teramat rendah dan serak, napas hangatnya berhembus terengah tepat di depan wajah wanita itu. "Kau takut?" "S-Saya..." Alina menelan ludahnya yang terasa kelu, menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan gemuruh di dadanya. Pikiran buruk dari masa lalunya mendadak menyelinap masuk tanpa permisi. Bayangan hinaan dan kata-kata kasar dari mantan suaminya dulu tentang bentuk tubuhnya yang dianggap tidak sempurna kembali berputar tajam di kepalanya. Rasa insecure dan tidak percaya diri yang teramat besar seketika menguasai s
"S-Saya... saya..." Gumam lirih Alina berulang-ulang di dalam kegelapan kamar yang sepi. Bibir manisnya bergetar hebat, matanya bergerak liar menatap ke sekeliling ruangan, kebingungan dan terpojok setengah mati oleh pertanyaan sang CEO. Reynard menatap lekat paras cantik wanita di hadapannya. Suara bisikan halus Alina yang hanya mengulang kata 'saya' justru terasa bagaikan godaan terhebat yang makin membakar dahaga di dalam dadanya. "Kau bingung, Alina?" bisik Reynard dengan suara bariton yang teramat serak dan berat. "Saya... saya tidak tahu, Tuan..." cicit Alina makin gugup, mencoba mengalihkan pandangannya ke samping kanan demi menghindari tatapan mata abu-abu yang begitu mengintimidasi. Namun Reynard tak membiarkannya. Pria tegap itu menggeser posisi kepalanya ke kanan, mengikuti ke mana pun arah mata Alina memandang. Alina buru-buru memalingkan wajahnya ke kiri, dan Reynard kembali ikut memiringkan wajahnya, mengunci pandangan mereka tanpa celah. "Kalau begitu... bagaimana
"M-Maksud Tuan apa?! T-Tentu saja saya tidak suka! Kita tidak boleh seperti ini, Tuan!" Alina tergagap-gagap, suaranya naik satu oktav penuh kepanikan. Wajah cantiknya kian memerah padam bagaikan terbakar hingga ke ujung telinga. Pertanyaan provokatif dari Reynard benar-benar melumpuhkan seluruh akal sehatnya. "Kenapa tidak boleh, Alina? Kau belum menjawab pertanyaanku," goda Reynard dengan suara bariton rendah, tatapan mata abu-abunya mengunci rapat manik mata Alina. "Tuan! Lepaskan saya!" jerit Alina panik. Demi melarikan diri dari kungkungan sang CEO, wanita itu bergerak-gerak makin heboh di atas pangkuan tegap Reynard. Ia memutar pinggulnya, bergeser ke kiri dan kanan dengan liar tanpa menyadari dampak dari gerakannya tersebut. Sentuhan dan gesekan berulang dari bokong sintal Alina yang menempel rapat di atas pangkuannya seketika mengirimkan sengatan getaran hebat ke ulu hati Reynard. Napas pria tegap itu memburu mendadak, otot-otot tubuhnya menegang sempurna. Naluri alaminya







