مشاركة

Kecemburuan

مؤلف: Nona Lee
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 12:47:09

"Maafkan saya, Alina."

Alina membeku di ambang pintu, netranya berkedip bingung menatap pria jangkung di hadapannya. Hening sejenak merayap di antara mereka, hanya bersisa suara jangkrik malam di pelataran kontrakan yang terletak tepat berseberangan dengan gerbang rumah megah itu.

"T-Tuan... Reynard?" bisik Alina dengan nada suara bergetar ragu. "Maaf... untuk apa Tuan meminta maaf?"

Reynard menghela napas panjang. Tanpa menunggu diizinkan, ia melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit itu, m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
ampun deh pak CEO, kalo cinta ngaku aja pak gak usah gengsi2an hmmm kalo kayak gini terus sikap bapak, ya bakal salah paham terus pak. hehehehe makasih updatenya kakak syng:)
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Haruskah Kita Mengulang?

    "Lepaskan saya, Tuan Reynard..." Bisikan Alina tertahan di tenggorokan, suaranya gemetar menyatu dengan suara deru napas Reynard yang makin memburu. Pria itu sama sekali tidak mengendurkan cengkeraman tangannya pada dagu Alina, justru makin memojokkan tubuh wanita itu hingga tak bersisa celah di antara mereka. "Lepaskan?" Reynard menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi, tatapannya mengunci manik mata Alina yang panik. "Kenapa saya harus melepaskanmu, Alina? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa saya hanya berprasangka? Lantas kenapa tubuhmu gemetar seperti ini?" "T-Tuan... tolong, ini tidak sopan," lirih Alina seraya berusaha memalingkan wajahnya, namun jemari Reynard menahannya dengan lembut namun begitu mengikat. "Tidak sopan?" Reynard mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan tipis dengan pipi Alina yang mendadak terasa hangat. "Apakah kau mendadak lupa dengan apa yang pernah terjadi di antara kita, hm? Apakah kau lupa bagaimana kau merintih

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kecemburuan

    "Maafkan saya, Alina." Alina membeku di ambang pintu, netranya berkedip bingung menatap pria jangkung di hadapannya. Hening sejenak merayap di antara mereka, hanya bersisa suara jangkrik malam di pelataran kontrakan yang terletak tepat berseberangan dengan gerbang rumah megah itu. "T-Tuan... Reynard?" bisik Alina dengan nada suara bergetar ragu. "Maaf... untuk apa Tuan meminta maaf?" Reynard menghela napas panjang. Tanpa menunggu diizinkan, ia melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit itu, membiarkan aroma parfum maskulin khas dirinya menguasai ruangan kecil tersebut. "Sikap Ayah saya," ujar Reynard seraya berbalik menatap Alina yang masih memegang gagang pintu. "Saya tahu Ayah saya menyambangi sekolah Sean dan mengintimidasimu. Saya minta maaf atas perkataan buruk yang terlontar dari mulutnya hingga membuatmu menangis histeris tadi sore." Jantung Alina serasa berhenti berdetak saat itu juga. Wajahnya seketika pucat pasi. Bagaimana Tuan Reynard bisa tahu? batinnya panik. Padahal

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Apa Yang Ayah Katakan Pada Alina?!

    "Sean tidak tahu, Papa..." Cicitan polos Sean memecahkan keheningan malam di ruang keluarga. Bocah kecil itu memiringkan kepalanya dengan raut bingung. "Waktu kakek datang, kakek suruh Sean masuk ke dalam kelas. Sean tidak dengar kakek bicara apa sama Tante Alina..." Reynard mengepalkan tangannya di atas pangkuan, meremas kain celananya hingga kusut. Rahangnya mengeras tajam. Asumsinya makin kuat bahwa histeria Alina sore tadi bukanlah tanpa alasan. Ayahnya pasti telah mendatangi Alina dan melontarkan kata-kata menyakitkan yang menekan mental wanita itu. Namun, rasa panas di dada Reynard justru makin membakar ketika teringat pemandangan sore tadi. Sialan. Kenapa di saat Alina rapuh dan menangis histeris, bukan dirinya yang ada di sana untuk merengkuh dan menenangkan wanita itu? Kenapa justru supirnya, si Andri, yang dengan leluasa memeluk dan mengusap kepala Alina? "Papa...? Papa kenapa melamun...?" panggil Sean seraya menyentuh lutut Reynard. Reynard tersentak dari amarahnya, la

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Salah Paham

    "Kalian sedang apa?" Suara berat dan dingin itu membuat suasana di ruang tengah seketika membeku. Alina buru-buru melepaskan pelukannya dari tubuh Sean, lalu menyapu sisa air mata di pipinya dengan telapak tangan yang gemetar. Ia mendongak, menatap sosok Reynard yang berdiri tegap di dekat foyer dengan wajah kaku dan tatapan yang amat tajam. Alina berusaha menata napasnya, mencoba bersikap biasa saja agar pria itu tidak berpikir macam-macam. "T-Tuan Reynard... Anda sudah pulang?" bisik Alina dengan suara parau seraya pelan-pelan berdiri dari lantai. Namun, perhatian Reynard sama sekali tidak tertuju pada sapaan Alina. Manik mata pria itu menusuk lurus ke arah Andri yang masih berlutut di samping karpet. Aura keberadaan Reynard terasa begitu menekan dan sarat akan kecemburuan yang terselubung. Sadar akan situasi yang sangat tidak mengenakkan itu, Andri buru-buru bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya sedikit. "Maaf, Tuan Reynard... Ini tidak seperti yang Tuan pikirkan," potong

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Alina, Kau Kenapa?

    "Tante... Tante Alina kenapa hiks..." Cicitan polos Sean menggema di ruang tengah rumah megah milik Reynard. Bocah kecil itu membalas pelukan Alina dengan tangan mungilnya yang gemetar. Air mata Sean mengalir makin deras, membasahi bahu Alina. Ia mencoba menyapu air mata di pipi pengasuhnya dengan telapak tangan kecilnya, namun tangisan Alina yang kian histeris justru membuat Sean makin panik dan ketakutan. "Tante Alina jangan menangis... Sean takut, Tante... hiks..." jerit Sean di antara isak tangisnya yang ikut pecah makin kencang. Alina benar-benar tidak bisa mengendalikan gelombang kesedihan yang menghantam jiwanya. Dadanya terasa teramat sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak lenyap. Ingatan masa lalu yang menyakitkan tentang penolakan, cacian, hingga dinginnya tubuh Jeno dalam dekapannya, membuat luka lama yang terendam bertahun-tahun kembali terbuka lebar. Rasa rindu yang mendalam pada sang buah hati membuat tubuh Alina bergetar hebat. Ia meremas punggung Sean

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Malaikat Kecilku

    "Mas, lepas! Aku tidak mau! Aku tidak mau hamil lagi!" Alina memekik panik, berusaha mendorong dada bidang Bagas dengan sisa tenaganya yang tersisa. Namun, pengaruh alkohol dan obsesi pria itu untuk mendapatkan keturunan dari rahim Alina jauh lebih besar. Bagas mengunci kedua tangan Alina di atas kepala, menatap wajah istrinya dengan pandangan membara. "Kau harus hamil lagi, Alina! Kau harus memberi aku anak laki-laki!" bisik Bagas penuh penekanan tepat di depan wajah Alina. Malam itu menjadi awal dari babak baru penderitaan Alina. Meski jiwanya menolak keras dan trauma kehilangan tiga anak sebelumnya masih membusuk di dalam dada, takdir kembali mempermainkan hidupnya. Beberapa minggu kemudian, garis dua merah kembali terpampang di atas alat tes kehamilan. Ketakutan luar biasa sempat merayapi Alina. Namun, saat usia kandungannya melampaui sembilan bulan dan proses persalinan darurat berhasil dilewati, tangisan nyaring seorang bayi mungil memecah keheningan kamar bedah. Seorang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status