Compartir

Kecupan Tak Terduga

Autor: Nona Lee
last update Fecha de publicación: 2026-07-27 13:23:19

"J-Jangan... jangan tinggalkan aku... Tolong jangan pergi..."

Gumam lirih nan pilu itu memecah kesunyian kamar utama yang temaram. Alina membolak-balikkan tubuhnya gelisah di atas kasur, jemari tangannya meremas kuat seprai putih tempat ia berbaring. Keringat dingin menyelimuti dahinya, sementara napasnya terdengar semakin memburu dan tersengal.

"Jangan tinggalkan aku... kumohon..." ringis Alina lagi, kini disertai Isakan pelan dan lelehan air mata yang menetes membasahi pipinya.

Di sisi lai
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kenapa Sean Tidak Punya Adik?

    "T-Tuan ini bicara apa, sih?!" Pekikan halus Alina seketika memecah keheningan ruang tamu. Wajah cantiknya memerah padam hingga ke ujung telinga, menatap tidak percaya pada pria tegap yang berdiri santai di hadapannya. Sean justru mengedipkan matanya polos, lalu mengangguk mantap dengan raut wajah sangat serius. "Siap, Papa! Kalau ada Om-Om nakal yang lirik-lirik Tante Alina, nanti Sean catat namanya lalu bisikin ke Papa!" "Anak pintar," puji Reynard mengusap puncak kepala putranya, melayangkan senyuman miring ke arah Alina yang sudah geleng-geleng kepala. "Sana berangkat, nanti terlambat." "Daaah Papa!" seru Sean riang, menarik jemari halus Alina keluar menuju mobil. Perjalanan menuju sekolah baru Sean terasa begitu menyenangkan. Mobil sedan hitam yang dikendarai Andri berhenti di pelataran parkir sebuah TK Internasional terkemuka di kawasan Jakarta Selatan. Bangunan sekolah itu begitu megah dengan fasilitas serba modern dan halaman hijau yang amat luas. "Wah... Tante Alina, se

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Saya, Tidak Suka!

    "Kenapa berdandan sangat cantik pagi ini, Alina...? Kau sengaja berpenampilan begini untuk menggoda laki-laki lain di luar sana, hmm?" Bisikan bariton bernada cemburu itu bergemuruh tepat di samping telinga Alina. Belum sempat Alina mencerna tuduhan itu, pelukan lengan tegap Reynard di pinggang rampingnya mendadak kian mengetat. Cup.. cup... Kecupan-kecupan basah dan hangat mulai mendarat bertubi-tubi di leher jenjang Alina, berpindah dari ceruk leher hingga ke batas garis gaunnya. Tak berhenti di situ, jemari tegap Reynard yang berani mulai bergerak lancang, meraba lekuk tubuh sintal Alina yang tercetak begitu sempurna di balik blouse rajut pas badan itu. Deg! Sengatan panas seketika menjalar menembus seluruh persendian Alina, membuat napasnya tertahan dan lututnya mendadak lemas. "T-Tuan... ah, jangan, Tuan!" cicit Alina panik setengah mati. Reynard seolah tuli. Usapan jemari dan kecupan hangatnya justru kian menuntut dan sarat akan dominasi kepemilikan yang menggebu-gebu. Me

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Sengaja Ingin Menggoda Laki-Laki?

    "Apakah Tuan tidak takut... kalau apa yang dikatakan Bagas itu benar? Bahwa saya ini... adalah wanita pembawa sial?" Pertanyaan lirih dari bibir Alina membelah keheningan kontrakan yang remang. Jemari halusnya yang menempel di rahang tegap Reynard gemetaran hebat, menanti respons pria di hadapannya dengan perasaan teramat waswas. Reynard tidak langsung menjawab. Pria tegap itu memegang jemari Alina di pipinya, menyatukan telapak tangan mereka, lalu menggelengkan kepala dengan tegas. Sepasang mata abu-abunya berkilat penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Jangan pernah mengulangi kalimat bodoh itu lagi, Alina," tegur Reynard dengan suara bariton yang teramat dalam dan tegas. "Kau bukan pembawa sial. Bagi saya... kau adalah pembawa kebahagiaan." Alina menahan napasnya, matanya berkaca-kaca menatap kesungguhan di paras tampan sang CEO. "Lihat rumah saya sekarang. Lihat bagaimana Sean tertawa setiap hari sejak ada kau di sisinya," lanjut Reynard seraya mengusap lembut ibu jarinya di

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pelukan Penenang

    "A-Alina... Ssst... Jangan menangis di luar begini..." Reynard langsung merangkul erat bahu Alina yang berguncang hebat, mengarahkan tubuh wanita itu untuk masuk ke dalam rumah kontrakan. Dengan satu gerakan cepat, tangan tegapnya menutup pintu kayu dan memutar kuncinya dari dalam. Reynard tidak ingin ada tetangga sekitar yang mendengar isakan pilu Alina lalu memunculkan fitnah atau salah paham baru. Niat awal Reynard mendatangi kontrakan ini memang karena perasaan tidak tenang. Hatinya terus berdesir cemas, khawatir jika Alina masih tenggelam dalam kesedihan akibat insiden di restoran tadi. Dan benar saja, dugaan Reynard terbukti. Wanita itu justru menangis makin kencang di dalam dekapannya. "Alina... Katakan pada saya, ada apa?" panggil Reynard teramat halus, menangkup kedua belah pipi Alina yang basah oleh air mata. "Kenapa menangis sekeras ini, hmm? Siapa yang menyakitimu lagi?" Alina menggelengkan kepalanya pasrah, tatapannya membentur dada tegap Reynard. Bibirnya gemetara

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Wanita Simpanan?!

    "I-Ibu... Alina tidak pernah jadi wanita simpanan siapa pun! Itu semua fitnah Bagas, Bu!" Suara Alina melengking panik, gemetaran di balik gagang telepon. Ia mendudukkan tubuhnya yang lemas di tepi ranjang, meremas sprei kainnya kuat-kuat saat mendengar napas ibunya yang terengah-engah penuh amarah dari seberang telepon di kampung. "Jangan bohong kau, Alina!" bentak ibunya tanpa ampun, suaranya begitu melengking menusuk telinga. "Bagas mengirim foto-fotomu bersama pria kaya itu! Kau pikir Ibu bodoh, hah?!" "Ibu, dengarkan Alina dulu, Bu..." air mata Alina mulai merebak di pelupuk matanya, menahan sesak di dada. "Pria itu Tuan Reynard, majikan Alina! Alina kerja di sini jadi pengasuh anaknya, bukan jadi simpanan!" "Pengasuh mana yang dibelikan baju mahal dan pergi bersama seperti itu?!" sergah sang ibu dengan nada hinaan yang begitu menyayat hati. "Kau sudah membuat malu keluarga di kampung!" Alina menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, mengusap kasar sudut matanya. "Bu, tolong per

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Jangan Merasa Bersalah

    "T-Tuan... M-Maafkan saya..." Suara Alina bergetar hebat di antara sisa isakannya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam di depan Reynard, tak berani menatap langsung manik mata abu-abu sang CEO. "Maafkan saya, Tuan... Saya sudah membuat keributan di restoran... membuat acara makan siang rusak... dan membuat Sean menangis seperti ini..." sambung Alina lirih dengan napas tersengal. Reynard menghela napas pendek, menepuk lembut bahu Alina lalu menggeleng pelan. "Kau tidak bersalah sama sekali, Alina. Berhentilah meminta maaf." "Tapi, Tuan..." "Sudah," potong Reynard halus namun tegas, lalu memegang tangan kecil putranya. "Tidak ada yang perlu disesali. Lebih baik kita segera pulang ke rumah sekarang." Selama perjalanan pulang ke Jakarta, suasana di dalam mobil terasa begitu hening dan lengang. Sean yang kelelahan setelah menangis kencang akhirnya tertidur lelap di kursi belakang, menyandarkan kepalanya pada bantal kecil. Sementara di kursi depan, Alina tampak jauh lebih pendiam. Mata

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status