ログイン"T-Tuan Reynard?! Apa yang Tuan lakukan?!" Alina membulatkan sepasang manik mata bulatnya sempurna, menatap tidak percaya pada sosok pria angkuh di hadapannya yang masih membuka mulut dengan santai. Tangan Alina yang memegang sendok es krim seketika membeku di udara, seolah kehilangan seluruh fungsi motoriknya akibat permintaan tidak masuk akal sang majikan. Namun, sebelum Alina sempat menarik tangannya kembali atau melayangkan protes, sebuah gerakan cepat dari samping memotong pergerakan mereka. Sret! "Tidak boleh! Papa tidak boleh disuapi Tante Alina!" seru Sean dengan wajah yang mendadak cemberut total. Jiwa kepemilikan bocah itu bergejolak cemburu. Dengan gerakan tidak sabaran, jemari mungilnya langsung merebut paksa sendok es krim dari tangan Alina, meraup sisa es krim rasa cokelat dan vanila dalam jumlah banyak, lalu menyodorkannya secara brutal ke arah mulut papanya. Plop! "Ayo makan! Ini Sean yang suapi Papa! Tante Alina cuma boleh suapi Sean, tidak boleh suapi Papa!" ge
"Papa pasti mau mengajak kita jalan-jalan dan makan enak kan, makanya Papa jemput sendiri?!" Suara cempreng Sean yang tiba-tiba melengking seketika memotong kalimat sindiran Reynard. Bocah itu menatap ayahnya dengan mata bulat yang berbinar-binar, sama sekali tidak menyadari ketegangan dewasa yang baru saja tercipta di antara sang ayah dan pengasuhnya. Reynard langsung menegakkan tubuhnya kembali, berdehem pendek untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang hampir saja ketahuan. "Ehem. Iya, Jagoan. Papa kebetulan tahu ada kafe es krim baru yang enak di dekat sini. Kau mau ke sana?" "Mau! Mau banget, Papa! Horeee, makan es krim!" seru Sean kegirangan. Bocah itu melompat-lompat kecil di aspal, lalu dengan tidak sabaran langsung menarik telapak tangan Reynard di sebelah kiri dan pergelangan tangan Alina di sebelah kanan. "Ayo Papa, Tante Alina, cepat masuk mobil! Nanti es krimnya kehabisan!" Alina hanya bisa pasrah saat tubuhnya terseret mengikuti langkah lebar Sean menuju sedan mewah m
"Pak Reynard? Mengapa Bapak tiba-tiba ada di sini?" Andri mengerjipkan matanya tidak percaya, setengah menjulurkan kepalanya dari jendela mobil dinas yang terparkir di seberang gerbang sekolah Sean. Reynard yang baru saja keluar dari sedan mewah miliknya, melangkah mendekat dengan sebelah tangan tenggelam di saku celana bahan mahalnya. "Kebetulan urusan saya di kawasan ini sudah selesai lebih cepat, Andri. Kau bisa pulang ke mansion sekarang juga." Andri menatap majikannya dengan tatapan penuh selidik yang sarat akan godaan. "Pulang duluan, Pak? Tapi saya kan ditugaskan untuk menjemput Den Sean dan Mbak Alina. Kalau saya pulang, mereka pulang dengan siapa?" "Mereka akan pulang bersama saya," sahut Reynard datar, wajahnya tetap lempeng seolah permintaannya adalah hal yang paling wajar di dunia. Sebuah senyuman jahil seketika terukir di bibir Andri. Pria itu terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya gemas melihat tingkah sang atasan. "Ah, saya paham sekarang. Pak Reynard senga
"T-Tentu saja murni karena saya ingin berterima kasih, Tuan Reynard! Jangan berpikiran yang aneh-aneh!" Alina tertawa gugup, melangkah mundur dua langkah dengan wajah yang sudah sepenuhnya matang semerah tomat. Tangannya yang memegang kotak bekal biru itu meremas kain pembungkusnya dengan sangat erat, berusaha menyembunyikan getaran hebat yang mendadak melumpuhkan sendi-sendinya akibat bisikan seksi sang majikan. Andri yang sejak tadi berdiri di samping pintu mobil dinas yang terbuka, diam-diam menyaksikan interaksi manis itu. Pria itu menundukkan kepala, mati-matian menahan tawa gemas melihat bos besarnya yang biasanya kaku dan sedingin es, kini justru menjelma menjadi pria penggoda di depan pengasuh anaknya. "Ehem! Permisi, Pak Reynard, Den Sean... sepertinya kita harus segera berangkat sekarang," sela Andri berpura-pura mengecek jam tangannya, mencoba memecah kecanggungan intim di ambang pintu. "Jalanan menuju sekolah Den Sean biasanya mulai padat jam segini. Takutnya kita bisa
"Tuan Reynard... apa Tuan benar-benar memberikan cek kosong ini pada saya?" Alina menatap lembaran kertas di genggamannya dengan tangan yang bergetar halus, seolah benda itu bisa hancur kapan saja. Reynard yang masih menyandarkan tubuh tegapnya pada kursi kebesaran, menatap lekat ke dalam netra bulat Alina. "Saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan saya, Alina. Saya memercayaimu dengan nominal itu, asalkan kau tetap berada di sini dan menjaga putra saya, Sean, dengan baik. Hanya itu syaratnya." Alina menelan ludahnya yang terasa kelu, matanya mendadak terasa perih oleh rasa haru yang membuncah. "Terima kasih banyak, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan Tuan." Keesokan paginya, suasana di dalam rumah mewah itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Aroma harum kopi hitam bermutu tinggi bercampur gurihnya panggangan roti menguar kuat dari arah dapur, memenuhi seluruh sudut ruang tengah. Reynard melangkah turun dari tangga lantai dua sembari sibuk membetu
"Hal penting? Apa itu?" Reynard melipat kedua tangannya di depan dada, menatap intens pada wanita yang kini berdiri beberapa langkah di hadapannya. Aura dominan pria itu seketika membuat nyali Alina yang sudah tipis menjadi semakin menciut. "Itu... Tuan, saya... aduh, bagaimana ya menyatakannya," ucap Alina terbata-bata. Jemarinya bergerak gelisah, meremas ujung kemejanya berulang kali hingga kainnya tampak kusut. Kepalanya mendadak kosong, bingung harus memulai kalimat dari sebelah mana agar tidak terdengar seperti wanita pemeras. Reynard mengernyitkan keningnya, menatap heran pada gelagat aneh pengasuh putranya. "Alina, bicaralah yang jelas. Kau membuat saya ikut bingung dengan sikap gugupmu itu. Katakan saja, ada masalah apa?" Alina menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, sama sekali tidak berani menatap sepasang manik mata abu-abu sang majikan karena rasa malu yang teramat besar. "Tuan Reynard... saya tahu saya sangat tidak tahu diri karena baru beke







