ANMELDEN"Iya, Tuan. Saya paham," sahut Alina singkat, nada suaranya amat dingin dan ketus. Wanita itu melangkah mundur, menarik paksa jemarinya dari genggaman Reynard tanpa niat sedikit pun untuk menatap mata pria di hadapannya. "Alina, tunggu—" Reynard panik, melangkah maju berusaha menahan gerakan Alina. "Saya mau pulang ke kontrakan," potong Alina tanpa memandangnya, merapikan letak pakaiannya yang agak kusut. "Tugas saya menjaga Sean untuk hari ini sudah selesai. Permisi, Tuan." Melihat Alina yang bersikap begitu acuh dan hendak berbalik pergi, rasa panik mendadak melingkupi dada Reynard. Pria berkuasa itu dengan cepat melangkah lebar, memotong jalan Alina lalu merengkuh tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Alina begitu erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher sang kekasih. "Alina, tolong... jangan seperti ini," bisik Reynard penuh penyesalan, suaranya bergetar lirih. "Saya minta maaf. Demi Tuhan, saya sangat menyesal atas kata-kata kasar saya tadi." Ali
"Tuan Reynard, cukup! Jangan membentak Sean seperti itu!" Suara Alina melengking memecah keheningan ruang tengah. Wanita itu bergerak secepat kilat, memasang badannya tepat di depan Sean yang sudah bergetar ketakutan. Alina menatap lurus manik mata Reynard dengan sorot mata membara sama sekali tidak ada rasa takut, meski pria di hadapannya adalah majikannya sendiri. Sean yang menyembunyikan wajahnya di belakang pinggang Alina mulai sesenggukan, tangannya mencengkeram erat rok kain yang dikenakan pengasuhnya. Reynard melangkah satu maju, dadanya kembang kempis menahan emosi yang membakar kepalanya. "Alina, menyisilah! Jangan ikut campur saat saya sedang mendidik anak saya!" "Mendidik Tuan bilang?!" serkas Alina tak kalah tajam, suaranya naik satu oktaf. "Membentak anak kecil yang sedang kesakitan dan ketakutan itu bukan mendidik, Tuan Reynard! Itu cuma melampiaskan emosi Tuan!" "Alina!" bentak Reynard dengan nada rendah yang amat menakutkan, urat-urat di lehernya menegang tajam. "
"Sean kenapa, Bu Chika? Kenapa kakinya sampai pincang begini?" Suara Alina bergetar hebat saat berlutut di atas tanah, memegang erat kedua bahu kecil Sean yang gemetaran. Matanya yang berkaca-kaca menyapu seluruh tubuh bocah itu, sebelum akhirnya terhenti pada pergelangan kaki kanan Sean yang mulai membengkak. Bu Chika menghela napas panjang seraya memegang lembut punggung Sean. "Maafkan saya, Mbak Alina. Tadi saat jam pelajaran terakhir, Sean terjatuh saat sesi belajar... dia memanjat naik ke atas meja kelas." "Naik ke atas meja?!" Alina melotot sempurna. Matanya membulat besar, sebuah campuran antara kaget, marah, dan bingung yang amat sangat. Tatapan matanya yang biasa begitu lembut dan penuh kehangatan, seketika berubah tajam dan penuh penekanan. "Sean... kenapa sampai naik-naik ke atas meja? Kan tempat duduknya di kursi, untuk belajar, bukan untuk dipanjat," tegur Alina dengan suara yang ditahan agar tidak terlalu keras di depan umum. Melihat raut wajah Alina yang tidak sel
"Aduh! Sakit, Alina!" Andri meringis pelan seraya memegangi lengannya yang baru saja dicubit oleh Alina. Senyuman tipis dan derai tawa halus keluar dari bibir wanita itu, mencairkan suasana hening di taman sekolah yang sempat terasa begitu tegang. "Makanya jangan mulai lagi, Ndri!" omel Alina seraya menggelengkan kepalanya gemas. "Jangan buka-buka lembaran lama yang sudah berlalu. Kita ini kan sahabat, bahkan aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri." Andri terkekeh pelan, lalu mengusap-usap lengannya. "Iya, iya, ampun! Aku kan cuma bertanya, tidak boleh bercanda sedikit?" Alina menggeleng-gelengkan kepala seraya mengalihkan pandangannya kembali menatap dedaunan pohon yang melambai ditiup angin. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik tawa dan candaan ringan Andri, ada perasaan besar yang pernah dan masih tersimpan begitu rapi. Sejak kecil, mereka berdua memang tumbuh bersama di kampung halaman yang sama. Bermain di pematang sawah, pulang sekolah bersama, hingga melewati
"Tidak semua Ibu seperti itu, Sean..." Alina berlutut semakin rendah, menyamakan tingginya dengan Sean. Tangan lembutnya mengusap pipi ramah bocah kecil itu dengan begitu penuh kasih sayang. "Tante meminta maaf ya, kalau kehadiran Ibu tadi pagi membuat Sean takut," lanjut Alina dengan suara yang sangat lembut, menatap lekat iris mata polos di hadapannya. Sean mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mengunyah roti di mulutnya sampai habis sebelum kembali bersuara. "Sean tidak takut, Tante. Tapi... Sean cuma berpikir, untung saja Sean tidak punya Ibu." Alina dan Andri seketika tertegun mendengarnya. "Kenapa Sean bicara begitu, Sayang?" tanya Alina prihatin. "Kata teman-teman Sean di kelas, Ibu mereka itu suka mengomel dan memarahi mereka kalau tidak mau belajar atau salah pakai kaus kaki," celoteh Sean dengan polosnya, menyedot susu kotaknya sampai terdengar bunyi berisik di dasarnya. "Jadi Sean pikir, lebih baik tidak punya Ibu daripada punya Ibu yang galak." Alina menghel
"Ibu sudah!! Berhenti, Bu!!" Alina menerobos kerumunan tetangga dengan napas terengah-engah. Tepat saat jemari Mirna hendak mencengkeram sanggul Ibu Karin, Alina dengan sekuat tenaga menarik bahu ibunya mundur ke belakang. "Lepaskan Ibu, Alina! Biar Ibu beri pelajaran wanita mulut lancang ini!" jerit Mirna berontak, matanya mendelik murka ke arah Ibu Karin. Ibu Karin justru semakin melipat tangannya di dada, melayangkan senyum mengejek yang teramat menyebalkan. "Coba saja kalau berani! Dasar keluarga tidak tahu malu! Datang-datang cuma bikin ribut di komplek orang!" "Ibu Karin, tolong berhenti memperkeruh suasana!" tegur Alina tegas dengan wajah memerah tahan malu, membungkukkan badan sedikit pada warga sekitar. "Maafkan keributan ini, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Tolong semuanya bubar, tidak ada yang perlu ditonton!" Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Alina menyeret lengan Mirna masuk ke dalam rumah kontrakan, lalu membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat. Brak! "Ibu ini kenapa







