เข้าสู่ระบบ"Ada duka yang tidak pernah selesai dihitung oleh waktu. Sejak hari dimana napas kecilmu terhenti, sebagian dari jiwaku ikut terkubur bersama tanah yang memelukmu. Bertahun-tahun aku belajar berjalan di dalam kegelapan, membawa rindu yang begitu berat hingga tak ada lagi air mata yang sanggup menetes. Takdir mungkin merenggutmu terlalu cepat dari dekapanku, membuat setiap hariku berjalan bagaikan bayang-bayang tanpa arah. Aku memeluk sepi, mendekap trauma, dan merindukanmu dalam derita yang tak bersuara. Namun di antara pekatnya sunyi, Tuhan mengirimkan binar mata yang sama, senyum yang tak asing, dan hangat yang dulu amat kurindukan. Melalui kehadiran sosok ini, aku sadar. Cintaku padamu tidak pernah hilang, ia hanya menemukan jalan pulang untuk kembali kupeluk." ~ Alina. Bab yg bikin author nangis pagi :( scene yg pernah author alami dalam hidup, dimana kehilangan anak yg paling kita sayang. Jeno, walaupun kamu sudah tidak ada di dunia ini, namamu akan selalu abadi di novel Mamih syg
"Kalian sedang apa?" Suara berat dan dingin itu membuat suasana di ruang tengah seketika membeku. Alina buru-buru melepaskan pelukannya dari tubuh Sean, lalu menyapu sisa air mata di pipinya dengan telapak tangan yang gemetar. Ia mendongak, menatap sosok Reynard yang berdiri tegap di dekat foyer dengan wajah kaku dan tatapan yang amat tajam. Alina berusaha menata napasnya, mencoba bersikap biasa saja agar pria itu tidak berpikir macam-macam. "T-Tuan Reynard... Anda sudah pulang?" bisik Alina dengan suara parau seraya pelan-pelan berdiri dari lantai. Namun, perhatian Reynard sama sekali tidak tertuju pada sapaan Alina. Manik mata pria itu menusuk lurus ke arah Andri yang masih berlutut di samping karpet. Aura keberadaan Reynard terasa begitu menekan dan sarat akan kecemburuan yang terselubung. Sadar akan situasi yang sangat tidak mengenakkan itu, Andri buru-buru bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya sedikit. "Maaf, Tuan Reynard... Ini tidak seperti yang Tuan pikirkan," potong
"Tante... Tante Alina kenapa hiks..." Cicitan polos Sean menggema di ruang tengah rumah megah milik Reynard. Bocah kecil itu membalas pelukan Alina dengan tangan mungilnya yang gemetar. Air mata Sean mengalir makin deras, membasahi bahu Alina. Ia mencoba menyapu air mata di pipi pengasuhnya dengan telapak tangan kecilnya, namun tangisan Alina yang kian histeris justru membuat Sean makin panik dan ketakutan. "Tante Alina jangan menangis... Sean takut, Tante... hiks..." jerit Sean di antara isak tangisnya yang ikut pecah makin kencang. Alina benar-benar tidak bisa mengendalikan gelombang kesedihan yang menghantam jiwanya. Dadanya terasa teramat sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak lenyap. Ingatan masa lalu yang menyakitkan tentang penolakan, cacian, hingga dinginnya tubuh Jeno dalam dekapannya, membuat luka lama yang terendam bertahun-tahun kembali terbuka lebar. Rasa rindu yang mendalam pada sang buah hati membuat tubuh Alina bergetar hebat. Ia meremas punggung Sean
"Mas, lepas! Aku tidak mau! Aku tidak mau hamil lagi!" Alina memekik panik, berusaha mendorong dada bidang Bagas dengan sisa tenaganya yang tersisa. Namun, pengaruh alkohol dan obsesi pria itu untuk mendapatkan keturunan dari rahim Alina jauh lebih besar. Bagas mengunci kedua tangan Alina di atas kepala, menatap wajah istrinya dengan pandangan membara. "Kau harus hamil lagi, Alina! Kau harus memberi aku anak laki-laki!" bisik Bagas penuh penekanan tepat di depan wajah Alina. Malam itu menjadi awal dari babak baru penderitaan Alina. Meski jiwanya menolak keras dan trauma kehilangan tiga anak sebelumnya masih membusuk di dalam dada, takdir kembali mempermainkan hidupnya. Beberapa minggu kemudian, garis dua merah kembali terpampang di atas alat tes kehamilan. Ketakutan luar biasa sempat merayapi Alina. Namun, saat usia kandungannya melampaui sembilan bulan dan proses persalinan darurat berhasil dilewati, tangisan nyaring seorang bayi mungil memecah keheningan kamar bedah. Seorang
"Mas... barang siapa yang kau belikan perhiasan mahal ini?" Suara Alina terdengar bergetar hebat saat meletakkan selembar struk pembelian dari toko perhiasan ternama di atas meja makan. Pagi itu, Bagas yang sedang menikmati kopi hitamnya mendongak, menatap selembar kertas itu lalu beralih menatap Alina dengan sorot mata penuh cemooh. "Kau membongkar-bongkar kantong jasku?!" bentak Bagas seraya menggebrak meja makan hingga cangkir kopinya terguncang. "Kau ini paranoid sekali, Alina! Mau jadi mata-mata di rumah sendiri, hah?!" Alina mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik roknya. "Paranoid kata Mas Bagas?! Parfum wanita manis di jasmu, pesan mesra pukul dua pagi di ponselmu, dan sekarang nota perhiasan ini... Mas Bagas selingkuh, kan?!" Bagas tertawa mengejek, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan keangkuhan yang meluap-luap. "Kalau iya aku selingkuh, memangnya kenapa?" tantang Bagas tanpa ada sedikit pun rasa bersalah. "Kau mau menyalahkanku?! Cermin rumah ini k
"Dimana... dimana anak saya, Dokter...?" Suara itu terdengar teramat parau, hampir tenggelam oleh bunyi monoton alat pemantau detak jantung di sudut ruangan. Alina perlahan membuka matanya yang amat berat. Kesadarannya baru saja kembali secara bertahap pasca pengaruh obat bius total menghilang. Perut bagian bawahnya terasa sangat nyeri, bagaikan diiris-iris oleh ratusan sembilu, namun rasa sakit fisik itu lenyap seketika berganti dengan kecemasan yang membakar dadanya. Dokter wanita yang berdiri di samping ranjang menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup menatap binar mata penuh harapan dari wanita muda yang baru saja melintasi gerbang kematian itu. "Ibu Alina... Harap tenang dahulu..." bisik Dokter dengan nada suara bergetar menahan duka. "Anak saya... anak laki-laki saya mana, Dok?!" jerit Alina mulai histeris. Ia berusaha menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa pada jahitan bekas operasi caesar di perutnya. "Kenapa saya tidak mendengar suara tangisa
"Kau ini emosional sekali, Alina! Begitu saja sampai menjerit-jerit seperti orang kesurupan!" Marni tertawa hambar, sebuah tawa meremehkan yang amat menyakitkan telinga. Wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengibas-ibaskan tangan di udara, seolah beban penderitaan yang baru saja diluahkan oleh anak kandungnya hanyalah sebuah keluhan manja tanpa arti. "Ibu bilang begitu saja...?" bisik Alina dengan suara bergetar heboh, air matanya menetes makin deras membasahi pipinya yang kusam. "Alina ini baru saja keguguran untuk kedua kalinya, Bu! Dua kali! Rahim Alina dikuret, tubuh Alina rasanya mau hancur, dan tidak ada satu orang pun di rumah ini yang peduli! Kenapa... kenapa ibu dan semua orang menyepelekanku seolah-olah bayi yang mati di perutku ini tidak ada harganya?!" Napas Alina memburu, dadanya naik turun menahan gumpalan rasa sakit hati yang terlanjur membuncah hebat. Dua kali kehilangan calon buah hati di usia yang baru delapan belas tahun, tanpa ada satu







