Mag-log in"Aku benar-benar mencintai Alina, Bu," ucap Reynard tegas, menatap lurus ke dalam manik mata ibunya tanpa keraguan sedikit pun. "Dia wanita yang sangat baik, santun, dan begitu tulus menyayangi Sean. Sean bahkan sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri." Nyonya Ella tidak langsung merespons. Wanita paruh baya itu hanya diam membisu, berdiri kaku dengan raut wajah datar yang tak tertebak, terus menatap putra tunggalnya. Keheningan di dalam ruangan pribadi itu terasa begitu menyiksa. Jantung Reynard berdegup kencang secara abnormal. Rasa takut yang amat sangat perlahan merayapi pikirannya. Reynard sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk, ia membayangkan ibunya akan mengamuk hebat, memaki-makinya habis-habisan, membanting barang-barang di meja, atau bahkan melayangkan sebuah tamparan keras ke pipinya demi menegakkan kehormatan keluarga Dirgantara. Namun, di luar dugaan... Sudut bibir Nyonya Ella perlahan terangkat. Sebuah senyuman kecil yang teramat lembut mengembang di wajah angg
"K-Kami... kami cuma bicara biasa kok, Bu," potong Reynard cepat, berusaha keras menetralkan nada suaranya seraya memperbaiki posisi berdirinya. Nyonya Ella tidak langsung percaya. Matanya yang tajam bak elang beralih menatap Alina yang terus menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang pucat dan memerah akibat sisa air mata. Pendar intimidasinya begitu terasa mengintimidasi hingga membuat ruang kamar yang tenang itu menjadi sangat mencekam. "Bicara biasa tidak akan membuat pengasuh anakmu gemetaran dan menunduk seperti itu, Reynard," sindir Nyonya Ella dingin. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati Alina. "Alina, katakan padaku ap—" "M-Maaf, Nyonya Ella..." sela Alina terbata-bata, memotong ucapan majikannya sebelum Nyonya Ella sempat bertanya lebih jauh. "Saya baru ingat ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan di dapur. Saya permisi dulu." Tanpa berani menatap mata Nyonya Ella maupun Reynard, Alina membungkuk singkat lalu setengah berlari keluar dari kam
"Alina, jawab aku! Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?!" desak Reynard, jemarinya mengusap pipi Alina yang terasa makin dingin bagaikan es. Alina buru-buru memalingkan wajahnya, menepis secara halus usapan tangan Reynard. Wanita itu menghembuskan napas panjang, berusaha keras menetralkan rasa panik yang meremas dadanya. "S-saya hanya merasa sedikit pusing, Tuan," alibi Alina lirih, memegang keningnya dengan jari-jari yang masih gemetaran. "Mungkin... mungkin saya belum sempat sarapan dengan benar tadi pagi. Ditambah cuaca di taman belakang tadi cukup terik." Reynard menyipitkan matanya tajam. Pria tegap itu melangkah satu titik lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik mata Alina yang terus menghindari tatapannya. "Pusing karena belum sarapan?" ulang Reynard dengan nada suara yang perlahan berubah dingin dan penuh skeptisisme. "Atau... kau pusing karena mendengar keinginanku untuk menikah dan punya anak darimu?" "Bukan begitu, Tuan—" "Lalu kenapa reaksimu berlebihan sekali, A
"Sean sudah tidur, Alina?" bisik Reynard pelan seraya melangkah masuk dan menutup pintu kamar anak itu rapat-rapat. Alina mendongak dari tepi tempat tidur, tangan kanannya masih telaten mengusap lembut kepala Sean yang sudah terlelap pulas. "Sudah, Tuan. Sean sepertinya sangat lelah setelah main di taman tadi. Pudingnya juga sudah habis dimakan." Reynard melangkah mendekat, menghentikan tubuh tegapnya tepat di samping Alina. Pandangannya sempat tertuju pada wajah polos putranya yang bernapas teratur, sebelum akhirnya beralih sepenuhnya menatap wanita di hadapannya. "Bagaimana... dengan pertemuan Tuan bersama Nyonya Anna dan Tuan Gunawan tadi?" tanya Alina ragu-ragu, mencoba memecah keheningan seraya menatap manik mata Reynard. Ada nada cemas yang tak sanggup ia sembunyikan sepenuhnya. Reynard tersenyum tipis, lalu menarik kursi kecil di dekat meja belajar Sean dan duduk di hadapan Alina. "Kau tidak perlu khawatir lagi, Alina. Mulai sekarang, Anna tidak akan pernah menemuiku atau
"Kau ini terlalu polos, Richard," potong Nyonya Ella cepat, menyerobot omongan Reynard sebelum putranya sempat membuka suara. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis seraya meletakkan cangkir tehnya. "Aku tadi cuma bergurau agar Anna dan Gunawan berhenti mengganggu Reynard." Tuan Richard menepuk dahi, matanya membelalak tak percaya menatap istrinya. "Apa?! Jadi kau cuma berbohong?!" "Tentu saja," sahut Nyonya Ella santai. "Kalau tidak dipotong seperti itu, Gunawan akan terus-menerus mendesak perjodohan itu. Lebih baik kita mengunci mulut mereka rapat-rapat, bukan?" "Astaga, Ella... kenapa harus berbohong seperti itu?" keluh Tuan Richard seraya memijat pelipisnya, menghembuskan napas kecewa. "Padahal aku sudah senang sekali mendengar ucapanmu tadi. Aku pikir Reynard benar-benar sudah menemukan wanita yang dia cintai. Aku bahkan sudah tidak sabar ingin segera melihat siapa wanita yang berhasil meluluhkan hati putra kita." Di sofa tunggal, Reynard hanya bisa terdiam memb
"A-apa maksud Ibu?" tanya Reynard terbata-bata, matanya membelalak menatap Nyonya Ella dengan keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan. Jantung pria tegap itu berdegup kencang secara abnormal. Apakah ibunya benar-benar sudah tahu tentang hubungan rahasianya bersama Alina selama ini? Tapi... bagaimana mungkin? Kapan ibunya tahu, dan dari mana wanita itu mendapatkan buktinya? Melihat reaksi putranya yang linglung, Nyonya Ella melotot tajam, sebuah isyarat tak kasatmata yang seolah menegaskan, 'Katakan iya saja, bodoh!' Reynard langsung menangkap kode dari balik sorot mata ibunya. Pria itu menyapu rasa gugupnya dalam hitungan detik, membenarkan posisi duduknya seraya berdehem singkat untuk menguasai diri. "I-iya, benar apa kata Ibu," bohong Reynard seraya memasang raut wajah seserius mungkin. "Aku sudah memiliki wanita yang sangat aku cintai, Pak Gunawan. Kami sudah cukup lama dekat, dan... aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memperkenalkannya secara resmi pada Ayah







