แชร์

Tidak Bisa Menahan

ผู้เขียน: Nona Lee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-23 12:49:18

"Kenapa Tuan mengembalikan semua pakaian itu pada Nyonya Ella?" bisik Alina halus, suaranya nyaris tenggelam di antara detak jantung pria yang kini memeluknya.

Di dalam kamar pengasuh yang remang-remang, ketika seluruh penghuni kediaman Dirgantara telah terlelap, Reynard dan Alina berbaring berdampingan di atas kasur baru yang tebal. Alina menyandarkan kepalanya di dada bidang Reynard, merasakan hangat tubuh pria itu yang menjadi tempat perlindungan terbaiknya di rumah ini.

"Aku takut Nyonya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
ah,, ganggu aja ni yg ngetok pintu wkwkwkwk
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Hampir Ketahuan

    "Alina? Buka pintunya!" Suara tegas Nyonya Ella dari balik pintu yang terkunci itu bagaikan petir yang menyambar di dalam kamar sempit tersebut. Panik bukan main seketika menguasai Reynard dan Alina. Wajah Alina memucat pasi, sementara Reynard langsung terduduk kaku di atas tempat tidur dengan napas memburu. "T-Tuan... Nyonya Ella ada di luar!" bisik Alina panik setengah mati, suaranya gemetaran hebat seraya mendorong bahu Reynard. "Sembunyi, Tuan! Cepat bersembunyi!" "Ke mana?" bisik Reynard cepat, matanya menyapu ruangan sempit yang tak punya banyak celah itu. "Di dalam lemari! Cepat, Tuan, masuk ke sana!" Alina menarik tangan Reynard, mengarahkannya ke lemari kayu jati baru yang berdiri di sudut kamar. "Tolong diam dan jangan buat suara sedikit pun!" Pria bertubuh jangkung dan tegap itu terpaksa melipat tubuh besarnya, bersusah payah merosot masuk ke dalam lemari yang sempit, lalu Alina segera menutup pintunya rapat-rapat. Dengan jemari yang gemetaran, Alina membenahi pakaiann

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Tidak Bisa Menahan

    "Kenapa Tuan mengembalikan semua pakaian itu pada Nyonya Ella?" bisik Alina halus, suaranya nyaris tenggelam di antara detak jantung pria yang kini memeluknya. Di dalam kamar pengasuh yang remang-remang, ketika seluruh penghuni kediaman Dirgantara telah terlelap, Reynard dan Alina berbaring berdampingan di atas kasur baru yang tebal. Alina menyandarkan kepalanya di dada bidang Reynard, merasakan hangat tubuh pria itu yang menjadi tempat perlindungan terbaiknya di rumah ini. "Aku takut Nyonya akan semakin marah dan mengomeli saya besok," lanjut Alina dengan nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan. Reynard mengusap bahu polos Alina perlahan. "Kau tidak usah cemas. Jika Ibu menanyakannya atau mencarimu besok, biarkan aku yang turun tangan. Kau tidak perlu menghadapi Ibu sendirian." Alina menghela napas panjang, meremas bagian depan kaus yang dikenakan Reynard. "Tapi saya tetap merasa tidak enak, Tuan. Sikap Nyonya Ella belakangan ini sangat aneh. Saya... saya takut Nyonya mulai me

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Perangkap Dalam Senyuman

    "Tidak ada, Tuan. Nyonya Ella tidak mengatakan hal yang aneh-aneh pada saya," bisik Alina cepat, berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Reynard. Reynard tidak mengendurkan pegangannya sedikit pun. Matanya menatap tajam, menembus manik mata Alina yang menyiratkan kepanikan. "Jangan berbohong padaku, Alina. Aku kenal betul bagaimana ibuku. Dia tidak akan memberikan barang-barang mahal seperti ini tanpa alasan." "Saya sungguh tidak berbohong, Tuan," desak Alina dengan suara memohon, melirik ke arah Sean yang tertunduk di atas kasur. "Nyonya hanya bilang ini agar saya terlihat lebih rapi saat mengantar Sean. Tidak ada hal lain." Reynard mengembuskan napas keras melalui hidungnya. Ketakutan dan rasa tak nyaman di hatinya justru makin membumbung tinggi. Ia memandangi gaun berbahan sutra yang melekat di tubuh Alina, lalu mendengus dingin. "Lepaskan pakaian itu sekarang, Alina," perintah Reynard tegas. "Ganti dengan pakaianmu yang biasa. Aku yang akan mengembalikan semua ini pada Ib

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Sikap Aneh Nyonya Ella

    "B-bukan begitu, Nyonya! Saya sangat suka dan berterima kasih..." cicit Alina gugup, pandangannya beralih dari kasur empuk yang tebal ke cangkir teh di tangan majikannya. "Baguslah kalau suka," sahut Nyonya Ella santai, mengibaskan tangannya seraya berbalik pergi tanpa menjelaskan apa-apa lagi. Alina berdiri mematung di ambang pintu. Dalam hati, kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. Mengapa wanita paruh baya yang semalam menekannya begitu tajam kini malah memanjakannya dengan fasilitas kamar yang begitu layak? Berusaha melupakan kegundahan itu sejenak, Alina langsung bergegas merapikan diri dan menyiapkan kebutuhan Sean untuk pergi ke sekolah. Satu jam kemudian, Sean sudah rapi dengan seragamnya dan siap berangkat. Anak kecil itu berlari menghampiri ayahnya di ruang tengah yang sedang bersiap ke kantor. "Papa! Sean berangkat sekolah dulu, ya!" seru Sean riang. Reynard tersenyum, berjongkok untuk mengusap kepala putranya. "Iya, Jagoan. Belajar yang rajin, ya." Namun, saat Alina m

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Introgasi Nyonya Ella

    "Kau tidak punya penyakit menular tertentu, kan? Aku tidak mau cucuku tertular hal-hal aneh dari orang luar!" Suara Nyonya Ella terdengar dingin dan menekan, berdiri tegak di tengah ruang kerja pribadinya seraya melipat tangan di dada. Matanya yang tajam menatap Alina dari atas ke bawah tanpa ampun. Alina mendongak sedikit, menggelengkan kepala dengan panik seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "T-tidak, Nyonya! Sama sekali tidak ada. Saya selalu rutin memeriksa kesehatan saya, apalagi sejak bekerja mengurus Sean." Nyonya Ella mendengus pelan, lalu melangkah satu garis lebih dekat. Tatapannya kian menelisik, seolah ingin menembus langsung ke dalam benak wanita muda di hadapannya. "Lalu... katakan padaku dengan jujur," desak Nyonya Ella dengan suara yang memelan namun sarat ancaman. "Apa kau dan Reynard punya hubungan khusus di belakangku?" Deg! Jantung Alina serasa berhenti berdetak seketika. Lidahnya mendadak kelu, dadanya bergemuruh hebat diserang rasa panik yang

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pengakuan Polos Sean

    "Bagaimana perkembangan proyek resort di Bali, Reynard? Direktur Utama menyetujui investasinya?" Tuan Richard memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang amat presisi, membuka obrolan di tengah keheningan meja makan malam itu. Reynard yang duduk berseberangan dengan ayahnya mengangguk tenang, meneguk sedikit air putih sebelum menjawab. "Semua sesuai rencana, Ayah. Analisis risiko sudah diselesaikan minggu lalu, dan penandatanganan kontrak dilakukan akhir bulan ini." "Bagus," puji Tuan Richard singkat, raut wajahnya yang selalu kaku tampak sedikit melunak. "Kau harus memastikan tidak ada celah hukum sedikit pun." Namun, percakapan bisnis yang serius itu terhenti tatkala ponsel di saku jas Tuan Richard bergetar nyaring. Pria paruh baya itu merogoh sakunya, melihat nama pemanggil di layar, lalu berdiri dari kursinya. "Aku harus mengangkat telepon penting dari jajaran komisaris dulu," pamit Tuan Richard seraya melangkah menjauh meninggalkan area meja makan. Kini di meja m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status