Share

Bab 108

Author: Ayesha
Harvis mengambil kontrak itu dan membukanya pada halaman pernyataan pengalihan. "Ayahmu yang memberi izin pada Raka untuk memegang sampel donor ini. Secara hukum, pemberiannya sah."

Air mata Brielle menggenang saat menatap halaman itu. Di sana memang tertera tanda tangan ayahnya.

Kenapa? Bagaimana Raka bisa membuat ayahnya mau mengalihkan sampel sumsum tulang milik ibunya? Apa yang telah dia lakukan untuk menekan ayahnya?

Brielle memejamkan mata, setetes air mata jatuh. Dia teringat, demi pernik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Naning
makin seru ceritanya, tambah greget
goodnovel comment avatar
Jihan Dwi Annisa
harusnya Brie jangan terlalu kekanakan, bisa kan nunggu di ruangan Raka..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1192

    Brielle melangkah masuk dan melirik sekilas ke arah kursi utama tempat Raka duduk. Hari ini Raka masih mengenakan kacamata, seluruh auranya terlihat dalam dan tajam. Namun saat menatap Brielle, ada sedikit kelembutan yang tersirat.Rapat baru saja dimulai, seorang direktur langsung mengeluh, "Seratus triliun? Pak Raka, proyek BCI sudah menghabiskan dana besar, sampai sekarang belum ada hasil komersial. Sekarang mau tambah 100 triliun lagi? Ini benar-benar cuma bakar uang."Ruangan langsung riuh. Setengah dari para direktur menyatakan setuju."Aku sarankan kita pertahankan bagian sipil dari proyek ini, tapi hentikan pengembangan di bidang medis," usul direktur lain. "Setidaknya bisa menyelamatkan investasi awal."Raka duduk di kursi utama, wajahnya tampak tenang mendengarkan semua penolakan. Tatapan di balik kacamata emasnya tampak tajam."Ada lagi pendapat lain? Sekalian saja disampaikan semuanya," ucap Raka dengan suara tenang. Tidak keras, tetapi langsung membuat para pemegang saham

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1191

    Brielle menghabiskan lebih dari satu jam untuk serah terima pekerjaan. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal. Saat mendorong pintu dan masuk, langkahnya tiba-tiba terhenti. Yang terlihat di matanya adalah sosok yang tertidur di sofa.Brielle sedikit mengernyit, tetapi tetap meringankan langkah dan kembali ke mejanya. Masih ada beberapa dokumen yang harus dia selesaikan, jadi dia hanya bisa berada dalam satu ruangan dengan Raka.Pria itu tepat berada di bawah cahaya matahari dari jendela. Seluruh tubuhnya diselimuti cahaya lembut. Saat ini, dia tidak lagi terlihat tajam seperti elite dunia bisnis, melainkan sangat tenang, seperti seorang anak.Brielle sedang mengetik dokumen ketika tiba-tiba pria di sofa itu menggumam pelan, "Brielle ... jangan pergi."Tangan Brielle yang mengetik langsung berhenti beberapa detik. Dia mengangkat kepala menatap ke arah sofa. Raka tidak terbangun, alisnya berkerut, seolah terjebak dalam mimpi buruk.Pikiran Brielle pun sedikit terganggu. Dia mengerutkan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1190

    Pria ini memang sangat pandai menyembunyikan semua emosinya di balik ketenangan, membuat orang lain sulit menebak isi hatinya."Baik, besok aku kembali ke tim BCI," akhirnya Brielle mengangguk.Raka terdiam sejenak, lalu tetap mendesak, "Hari ini kamu serahkan dulu pekerjaanmu, sore ini langsung kembali ke tim itu."Rasa heran muncul di mata Brielle. Kenapa sampai terburu-buru begini? Bagaimanapun, sikap Raka hari ini memang terasa aneh. Bukan hanya tiba-tiba memulai proyek baru, dia juga secara khusus menekankan arah penelitiannya.Hal ini membuat Brielle tanpa sadar mengaitkannya dengan hilangnya kabar Niro. Mungkinkah ....Tidak, seharusnya tidak mungkin. Brielle menggeleng, menepis pikiran buruk itu. Niro sedang menjalankan misi, bagaimana mungkin ada hubungannya dengan proyek penelitian ini?Saat itu, ponsel Brielle berdering. Dia melirik nama di layar, napasnya langsung tertahan.Tatapan Raka juga langsung menajam. Itu panggilan dari Faisal.Brielle mengangkat ponsel. "Aku angkat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1189

    Setelah berkata demikian, Anya berlari membuka pintu. Gaga langsung menjadi yang pertama berlari keluar. Benar saja, di luar berdiri sosok Raka.Raka membungkuk dan mengusap kepala Gaga, lalu menangkap putrinya yang langsung memeluknya.Rambut putihnya tampak sedikit berantakan di bawah cahaya pagi. Di matanya terlihat jelas kelelahan. Dia hampir tidak tidur semalaman karena langsung kembali dari Kyoza ke Kota Amadeus, dan kebetulan tiba tepat saat putrinya berangkat sekolah."Papa, mata Papa merah sekali!" Anya terkejut melihat mata ayahnya yang merah.Raka menggenggam tangan kecilnya dengan lembut. "Papa semalam lembur sampai larut."Brielle berdiri di pintu, juga menyadari kelelahan Raka. Dia berinisiatif berkata, "Aku yang antar anak ke sekolah. Kamu pulang dan istirahat saja.""Bareng saja. Nanti aku istirahat di laboratorium sebentar. Masih ada rapat penting," Raka menggeleng.Brielle akhirnya berkata, "Aku yang menyetir." Dengan kondisi Raka sekarang, jelas dia tidak cocok menye

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1188

    "Baik, aku akan segera mengatur tim untuk mulai penelitian," Raka mengangguk."Brielle adalah peneliti profesional di bidang BCI," kata Justin.Faisal tiba-tiba teringat sesuatu, pesan terakhir dari putranya sebelum berangkat, "Ayah, aku dan Brielle sudah resmi bersama. Dia gadis yang sangat baik, aku harap bisa mendapat restumu."Faisal menarik kembali pikirannya. Ekspresinya berat saat merenung sejenak. "Brielle dan Niro baru menjalin hubungan dua minggu. Kalau dia tahu kondisi Niro sekarang, emosinya pasti akan sangat terpukul."Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Raka, aku punya permintaan yang mungkin nggak pantas. Demi nggak mengganggu penelitian Brielle, aku berharap untuk sementara menyembunyikan kebenaran darinya."Alis Raka sedikit berkerut. "Maksud Anda?""Aku akan mengatakan padanya bahwa Niro sedang menjalankan tugas rahasia dan butuh waktu sebelum bisa dihubungi. Setelah penelitian BCI menunjukkan perkembangan, baru perlahan membuatnya menerima kenyataan ini."Raka t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1187

    Malam semakin larut. Di bandara dini hari, sosok Raka melangkah cepat menuju pesawat pribadi Gulfstream G650 yang sudah menunggunya. Gavin mengikuti di belakang dengan langkah cepat, sambil terus memberi instruksi terkait penjemputan di Kyoza.Begitu masuk ke dalam kabin, Gavin memilih duduk tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Dia diam-diam mengamati ekspresi atasannya, yang jarang sekali terlihat seberat ini.Sejenak, dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di Kyoza.Pukul dua dini hari, Gulfstream G650 mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Kyoza. Pintu kabin terbuka, Raka melangkah turun dari tangga pesawat. Di samping pesawat sudah terparkir tiga mobil hitam misterius, di sebelahnya berdiri beberapa pria paruh baya mengenakan jas hitam."Pak Raka, silakan." Pria paruh baya yang memimpin melangkah maju, suaranya penuh hormat.Gavin secara refleks ingin mengikuti, tetapi langsung dihalangi oleh dua orang lainnya. "Maaf, hanya Pak Raka yang diund

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 722

    "Nggak ada pilihan, soalnya anaknya ada di tangannya. Dia juga menuntut kakakku membelikan kalung edisi terbatas yang dibuat khusus. Entah kakakku berutang apa padanya di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan ini dia terus membayangi dan melekat pada kakakku."Tangan Brielle yang memegang gelas

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 707

    Devina memang sangat menyukai berlian. Meski sekilas dia tampak tidak terlalu suka, dalam hatinya dia benar-benar menyukai berlian. Kalung tadi jelas-jelas edisi terbatas. Dia yakin, pada jamuan amal istri wali kota hari Sabtu nanti, kalung itu akan menjadi salah satu pusat perhatian di seluruh ruan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 712

    Sambil berbicara, Devina buru-buru berkata, "Aku ke toilet sebentar."Saat Devina berdiri, tubuhnya terasa goyah. Dia meninggalkan tempat duduknya dengan satu tangan mengangkat gaun malam berwarna sampanye, tangan lainnya mencengkeram kalung itu dengan erat. Keanggunan yang seharusnya dia miliki len

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 746

    "Sudah empat tahun," kata Lambert dengan nada santai. "Seharusnya belum terlalu kaku.""Aku mau lihat Papa main ski," sela Anya."Aku juga mau lihat Paman main ski," timpal Vivian.Lambert tersenyum. "Besok kami temani kalian main seharian dulu. Kita hanya akan main di jalur pemula. Vivian, kamu per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status