Se connecterSuara Meira tersendat, "Raka sudah berkali-kali mengingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengannya, tapi aku malah mengagumi Devina. Aku bersikeras mengundangnya makan ke rumah, bahkan membiarkannya dekat dengan Anya.""Itu yang menyebabkan kesalahpahaman di antara kalian. Setelah mengetahui kebenarannya, aku baru sadar Devina membencimu karena dulu kamu merebut Raka darinya. Dia selalu mencari kesempatan untuk memisahkan kalian, bahkan memanfaatkan Anya untuk memancing reaksimu. Aku benar-benar pantas disalahkan."Suara Meira semakin bergetar, "Aku tahu sekarang aku ngomong ini sudah terlambat. Kamu dan Raka sama-sama anak yang baik. Aku nggak pantas jadi ibunya, nggak pantas menjadi mertuamu, bahkan nggak pantas jadi nenek Anya. Kalau saja dulu kamu nggak segera bawa Anya pergi, dia pasti sudah dimanfaatkan sama Devina. Aku bahkan nggak tahu hal buruk apa lagi yang bisa terjadi."Mata Meira dipenuhi rasa takut. Belakangan ini, semakin dia memikirkannya, dia merasa semakin ngeri. Dia
Brielle menutup mulutnya dengan terkejut dan senang, lalu segera membalas.[ Melahirkan juga nggak bilang-bilang, masih sahabat nggak, sih? ][ Syahira: Aku tahu kamu orang sibuk! Jadi setelah lahiran baru kasih tahu kamu, biar jadi kejutan. ][ Brielle: Oke, besok aku datang untuk jenguk anak angkatku. ]Brielle tersenyum sambil membalas pesan itu. Dia kembali melihat foto bayi itu dengan teliti dan ikut merasa bahagia untuk sahabatnya.[ Syahira: Nggak usah buru-buru, kami masih observasi di rumah sakit, minggu depan juga masih belum terlambat. ][ Brielle: Oke, kamu harus istirahat yang cukup. Minggu depan aku bawa Anya sekalian menjengukmu. ]Setelah berbincang beberapa kalimat lagi dengan Syahira, Brielle tanpa sadar teringat momen saat putrinya lahir. Meskipun berat badan Anya saat lahir hanya sekitar tiga kilogram, karena itu adalah anak pertama, dia tetap harus berjuang selama tiga jam di ruang bersalin.Setelah melahirkan, kesibukan mengurus bayi membuat rasa sakit saat melahi
Lastri keluar dari dapur. Melihat Anya yang sudah tertidur, dia spontan ingin mengambil alih. Namun, Raka berkata dengan suara rendah, "Aku saja."Lalu, Raka berjalan menuju kamar utama di lantai dua. Brielle hanya melirik sekilas dan tidak mengikutinya. Di kamar utama, Raka dengan lembut membaringkan putrinya di atas tempat tidur, lalu melepas sepatu dan menyelimutinya dengan teliti.Dia menunduk menatap wajah tidur putrinya yang tenang. Kemudian, dia mengulurkan tangan merapikan rambut di dahi Anya, lalu membungkuk mencium keningnya sebelum berdiri dan keluar.Di tangga, mereka berpapasan. Brielle menatap pria yang turun itu, lalu berkata dengan sopan, "Terima kasih sudah menjaga Anya dua hari ini."Raka menatapnya dalam-dalam dan berkata, "Nggak perlu ngomong begitu di antara kita."Setelah berkata demikian, dia melewati Brielle dan turun ke bawah. Lastri datang menyambutnya, "Tuan Raka, mau minum teh?"Raka berbalik menatap ke arah tangga. Brielle juga sedang menoleh ke arahnya. Te
Pesawat mendarat dengan stabil di bandara Kota Amadeus. Brielle mengambil bagasinya dan mengikuti arus penumpang menuju area penjemputan. Dia sudah menghubungi Frederick untuk menjemputnya, tetapi begitu keluar, dia langsung melihat sosok tinggi di tengah kerumunan.Raka berdiri di sana sambil menggendong Anya. Begitu melihat ibunya, Anya langsung melambaikan tangan kecilnya dengan penuh semangat, "Mama!"Brielle berjalan cepat menghampiri. Anya langsung merentangkan tangan dari pelukan Raka ke arahnya. Brielle pun segera membuka tangan untuk menggendongnya. Pada saat itu, Frederick juga tersenyum dan berjalan mendekat, "Bu Brielle.""Frederick, kamu kembali ke kantor saja," kata Brielle kepadanya, mengetahui bahwa pekerjaan perusahaan sedang sangat sibuk.Frederick mengangguk, lalu menyapa Raka, "Pak Raka, Bu Brielle saya titipkan pada Anda. Saya kembali ke kantor dulu."Raka mengangguk ringan. Frederick pun pergi lebih dulu.Brielle mencium pipi putrinya, "Kamu kangen Mama?""Kangen!
Brielle segera berkata, "Nggak perlu, aku bisa naik taksi dari hotel ke bandara. Kamu istirahat saja dengan baik.""Nggak apa-apa, aku bisa bangun." Niro tersenyum, "Masuklah."Brielle berjalan menuju area lift. Di tengah jalan, dia menoleh ke belakang dan melihat Niro masih berdiri di sana melambaikan tangan. Dia masuk ke dalam lift. Baru saja sedikit melamun, ponselnya berbunyi menunjukkan pesan dari Raka.[ Anya sudah tidur, nggak perlu khawatir. Kamu istirahat lebih awal. ]Brielle keluar dari lift, lalu dengan singkat membalas "oke", kemudian berjalan menuju kamarnya.Sementara itu, pria yang berada di kamar utama di Cloudwave Residence sama sekali tidak merasa mengantuk. Dia berdiri di depan jendela besar di ruang kerja sambil memegang ponsel. Layar masih menampilkan percakapannya dengan Brielle.Kata "oke" yang sederhana itu, seperti duri kecil yang menusuk hatinya. Dia teringat pemandangan di video tadi, saat Brielle makan malam bersama Niro dengan suasana santai dan bahagia. I
Saat itu, Brielle melihat sebuah menara. Di atasnya juga bisa dikunjungi dan menikmati pemandangan. Dia tiba-tiba tertarik, lalu berkata kepada Niro di belakangnya, "Aku ingin naik ke atas untuk lihat-lihat.""Oke, aku temani," Niro mengangguk, lalu mendampingi Brielle menuju menara kuno itu. Pemandangan dari atas memang bagus, tetapi karena ini adalah menara tua, lorong masuknya hanya cukup untuk satu orang berjalan. Orang yang bertubuh tinggi bahkan harus menunduk agar tidak membentur balok atap.Hal ini sedikit menyulitkan Niro.Baru naik dua lantai dan saat sampai di lantai tiga, ada empat wisatawan dari atas yang ingin turun. Di ruang sempit itu, gadis di depan berkata dengan sopan, "Boleh kasih jalan? Kami ada urusan mendesak mau turun."Brielle segera mundur ke bagian bawah yang sedikit rata. Saat itu, Niro juga tidak punya pilihan selain mendekat. Wisatawan wanita pertama agak gemuk, ketika melewati sisi Niro, dia tidak sengaja menabrak Brielle. Tubuh Niro refleks condong ke de
Brielle juga merasa sangat senang bisa mendapatkan penghargaan. Setelah mengobrol sebentar dengan Harvis tentang situasi di Desa Mesha, dia pun menutup telepon.Di laboratorium, Cherlina yang memang gemar mengumpulkan gosip, kebetulan mendengar bahwa Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional akan mengadakan
"Ada apa?" Suara Raka terdengar serak, wajah tampannya tampak mengantuk.Brielle menurunkan pandangan. Sesaat, kilat kebencian melintas di matanya. Dia turun dari tempat tidur, tidak ingin melihat Raka lagi.Tatapan Raka tertuju ke arah punggung Brielle. Sorot mata yang biasanya tajam, kini semakin
Brielle kembali tertidur dalam kondisi setengah sadar. Dia samar-samar merasakan ada tangan yang menyentuh lembut wajahnya. Dia tak punya tenaga untuk mengusirnya, hanya mengernyit dengan kesal.Di dekat telinganya, terdengar suara helaan napas panjang yang penuh ketidakberdayaan.Pagi hari, Brielle
Di foto kedua, Anya tampak duduk di atas kuda poni berwarna merah, tertawa riang sambil membentuk tanda peace dengan jarinya ke arah kamera Devina.Foto-foto itu membuat dada Brielle terasa sesak dan sakit. Baru sehari dia tidak di rumah, Raka sudah membawa putri mereka bertemu dengan Devina.Briell







