LOGINTak lama kemudian, penampilan pertama dimulai dan seluruh aula pun menjadi hening.Saat memasuki penampilan ketiga, pembawa acara naik ke panggung. "Selanjutnya, mari kita sambut pianis ternama, Nona Devina, yang akan membawakan karya terkenalnya."Di tengah gemuruh tepuk tangan, Devina melangkah naik ke panggung dengan anggun. Dia duduk di depan piano yang berada di tengah panggung, lalu pandangannya menyapu ke arah penonton, tepat ke arah Raka.Dia menarik napas dalam-dalam. Jemari rampingnya mulai menekan tuts piano, alunan nada indah pun mengalir memenuhi aula.Sejak awal, Devina memang bukan sekadar hiasan. Kemampuannya dalam bermain piano memang patut diakui. Sejak mengenal Raka, dia berusaha keras menjadikan dirinya wanita yang pantas berdiri di sisi Raka.Dia bergadang berlatih piano, memaksa dirinya terus berkembang. Semua itu karena Raka bagaikan sosok yang tinggi tak terjangkau baginya.Di bawah sorotan lampu, gaun sampanye yang dikenakannya berpadu dengan kilau berlian mera
Di seberang sana, Jay malah balik bertanya, "Kenapa kamu jadi tertarik sekali sama dia?""Cemburu, ya? Aku cuma melihat dia bersama Brielle, jadi penasaran saja," balas Devina. Setelah itu, dia kembali mengirim sebuah foto lain, memperlihatkan Brielle duduk berdampingan dengan pria tersebut."Aku nggak kenal orang ini," jawab Jay apa adanya."Kalau begitu, kirimkan ke Lambert. Tanya dia kenal nggak," lanjut Devina."Itu kurang pantas, 'kan? Bisa melukai perasaan Lambert," Jay sedikit ragu."Justru bagus supaya Lambert bisa melihat dengan jelas seperti apa Brielle sebenarnya. Itu demi kebaikannya," balas Devina. Di dalam hatinya, dia memang tidak pernah berhenti berusaha menyingkirkan Brielle dari lingkaran pergaulan Raka.Di seberang sana, Jay seolah setuju dengan pendapatnya. "Baiklah, aku kirim ke dia dan tanyakan."Devina pun tersenyum tipis. Tepat pada saat itu, suara dari pengeras terdengar lantang di seluruh aula, "Hadirin sekalian, mari kita sambut dengan tepuk tangan meriah keh
"Terima kasih," ucap Brielle sambil tersenyum. Dia juga merasa cukup simpati pada sang asisten.Asisten itu belum sempat mengantarnya ke tempat duduk ketika sebuah panggilan masuk dan memaksanya pergi terburu-buru. Brielle sedang mencari-cari tempat duduknya ketika tiba-tiba dia melihat Devina.Devina sedang berbincang dengan dua wanita yang tampak berkelas. Di bawah cahaya lampu, kalung berlian merah muda berbentuk kepingan salju di lehernya tampak sangat mencolok, berpadu sempurna dengan gaun malam berwarna sampanye yang dia kenakan.Pada saat yang sama, Devina mengangkat pandangan dan melihat Brielle. Sebenarnya dia sudah menduga Brielle akan datang. Lagi pula, hubungan Brielle dengan Agnes cukup baik dan penggalangan dana kali ini juga berkaitan dengan leukemia.Namun Devina juga percaya, Brielle memang punya keistimewaannya sendiri. Sama seperti dirinya, yang merupakan sosok unik dan tak tergantikan.Devina melengkungkan bibirnya membentuk senyum. Seolah khawatir Brielle tidak mel
"Anya?""Bibi datang ke rumah kami untuk makan malam, ya?" tanya Anya dengan penasaran.Raline mengangkat kepala dan menatap ke arah ruang tamu yang mewah. Kepalanya seakan meledak seketika. Pantas saja kakaknya tidak membeli penthouse. Pantas saja dia hanya membeli satu unit apartemen besar. Karena yang tinggal di atas adalah Brielle."Anya, kamu sedang bicara sama siapa?" Brielle mendengar putrinya berbicara dengan seseorang. Dia melangkah cepat ke arah pintu masuk dan pandangannya langsung bertemu dengan Raline.Melihat Brielle, Raline juga tertegun. Namun, ekspresi Brielle tetap dingin. "Nona Raline, ada perlu apa?""Ini rumahmu?" Raline tak bisa menahan diri untuk bertanya."Ini rumahku," jawab Brielle singkat.Seketika, banyak pertanyaan di benak Raline yang langsung terjawab. Dia berjongkok di hadapan Anya dan berkata, "Anya, Bibi tinggal di lantai bawah. Nanti kalau ada waktu, main ke rumah Bibi, ya?"Alis Brielle berkerut. Raline adalah bibi kandung Anya. Secara posisi, Briell
Devina memang sangat menyukai berlian. Meski sekilas dia tampak tidak terlalu suka, dalam hatinya dia benar-benar menyukai berlian. Kalung tadi jelas-jelas edisi terbatas. Dia yakin, pada jamuan amal istri wali kota hari Sabtu nanti, kalung itu akan menjadi salah satu pusat perhatian di seluruh ruangan."Tolong sampaikan terima kasihku pada kakakmu," katanya dengan nada dibuat-buat anggun."Tenang saja. Lihat saja kapan kakakku yang bodoh itu menyadarinya. Biar dia menyesal," dengus Raline. Dia benar-benar yakin kalung itu memang ditujukan untuk Devina.Apalagi setelah mendengar langsung kisah cinta Devina dan kakaknya, Raline semakin percaya bahwa Devina adalah satu-satunya wanita yang pernah benar-benar dicintai kakaknya.Sedangkan Brielle, untungnya sekarang sudah bercerai. Kalau tidak, bukankah hidup kakaknya akan terbuang sia-sia jika terikat seumur hidup dengan Brielle?Sore hari, Raline menghubungi seorang teman dan memanggil desainer untuk datang ke Cloudwave Residence untuk me
Brielle melangkah ke arah lift dan menjawab singkat, "Ya."Raka mengikutinya masuk ke dalam lift. Jari-jarinya yang panjang menekan tombol lantai 27. Suasana di dalam lift terasa mencekam. Begitu tiba di lantai 27, Raka melangkah keluar lebih dulu.Brielle kembali ke apartemennya untuk merapikan barang-barang, lalu bersiap berangkat ke laboratorium. Namun saat dia menenteng tas dan keluar, Raka malaj berdiri di depan pintu rumahnya. Di tangannya, dia menggenggam sebuah kotak beludru panjang berwarna biru tua. Dia menatap Brielle dan menyodorkan kotak itu."Sebagai hadiah ulang tahun pengganti untukmu," ucapnya dengan suara rendah.Brielle mundur setengah langkah, tatapannya dingin. "Aku sudah bilang aku nggak butuh hadiah darimu.""Ini hadiah kedewasaan untuk Anya," kata Raka. Tatapannya menjadi lebih dalam.Brielle memalingkan wajah. "Tunggu saja sampai dia dewasa, baru berikan padanya." Setelah berkata demikian, dia melangkah melewatinya hendak pergi.Namun, Raka tiba-tiba mengulurka







