MasukDevina menggigit bibir merahnya. Raka pergi ke luar negeri? Untuk apa?Tepat saat itu, dia mendengar suara mobil dari luar. Dia segera menghapus riwayat obrolan dengan Gavin di ponselnya. Jangan sampai Ignas tahu dia meminta hadiah dari Raka.Devina mengenakan gaun tali tipis berwarna merah anggur yang seksi, lalu dia melangkah turun dari lantai dua dengan anggun. Namun, begitu melihat Ignas masuk dengan wajah muram tanpa meliriknya sama sekali, hatinya langsung berdegup kencang."Ignas, ada apa?" Devina mendekat dengan nada khawatir.Ignas duduk di sofa, lalu tiba-tiba meninju bantal dengan keras. Nada suaranya suram. "Raka diundang ke konferensi Solar Valley. Kali ini, entah berapa banyak lagi sumber daya yang akan dia dapatkan."Jantung Devina langsung berdegup keras. Konferensi Solar Valley diadakan tiga tahun sekali. Itu adalah pertemuan para pemimpin bisnis top dunia. Yang diundang semuanya tokoh berpengaruh di bidangnya. Dia ingat tiga tahun lalu Raka sudah pernah ikut, tak disa
Gavin berbalik untuk menerima telepon. Cherlina baru sadar kalau ponselnya tertinggal, lalu dia berkata kepada Brielle, "Brielle, tunggu aku sebentar, ponselku ketinggalan."Brielle mengangguk. Tak lama kemudian, terdengar suara Gavin. "Bu Devina, ada perlu?"Brielle tanpa sadar menoleh ke arah Gavin. Lalu, Brielle mendengar dia tetap berbicara dengan nada profesional, "Pak Raka lagi dinas di luar negeri. Untuk jadwal detailnya nggak bisa kami beri tahu.""Saat ini aku juga nggak bisa menghubungi Pak Raka, mohon maaf.""Daftar hadiah?" Suara Gavin terdengar agak terkejut. "Maksudnya hadiah seperti apa?""Maaf, soal itu aku nggak bisa ambil keputusan atas nama Pak Raka. Silakan tunggu sampai beliau kembali ke dalam negeri."Entah apa yang dikatakan Devina di sana, nada suara Gavin mulai terdengar sedikit tidak sabar. "Aku mengerti perasaanmu, tapi urusan pribadi Pak Raka bukan wewenangku untuk campur tangan. Maaf ya, aku masih ada urusan."Gavin langsung menutup telepon lebih dulu. Saat
Brielle sedikit terkejut. Dia bahkan belum sempat memesan makanan, siapa yang memesankan untuknya?Perawat membantu memasangkan meja makan di atas tempat tidurnya, lalu menyajikan semangkuk bubur ayam suwir bergizi, tiga lauk pelengkap yang segar, serta satu porsi makanan nutrisi dari rumah sakit."Eee ...." Brielle menatap perawat. "Siapa yang pesan ini?"Perawat tersenyum menjelaskan, "Yang satu ini makanan nutrisi dari kantin, dipesankan oleh Pak Gavin. Yang ini bubur dari luar, sekalian kami antarkan bersama."Perasaan Brielle langsung campur aduk. Nama bubur di kotak kemasan itu adalah nama restoran yang dulu sering dia makan.Setelah perawat pergi, Brielle memegang sendok dan sempat ragu. Aroma yang familier tercium di udara. Dia mencicipi sedikit, rasanya masih sama seperti dalam ingatannya. Hanya saja, perasaannya sudah benar-benar berbeda.Brielle mengambil ponselnya, membuka percakapan terakhir dengan Niro. Dalam hitungannya, sudah 38 hari dia kehilangan kontak dengannya.Tib
"Pertemuan Solar Valley kali ini berkaitan langsung dengan pendanaan lanjutan dan kerja sama internasional untuk proyek BCI.""Kalau Pak Raka nggak hadir, bukan hanya kehilangan peluang penting, tapi juga bisa membuat dewan direksi meragukan kemampuannya dalam mengambil keputusan, bahkan menimbulkan ketidakpuasan."Akhirnya, Gavin menyampaikan maksudnya. "Tolong bujuk Pak Raka agar tetap menghadiri pertemuan itu."Brielle berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, aku akan bicara dengannya."Wajah Gavin langsung menunjukkan sedikit kelegaan. "Terima kasih."Setelah Gavin pergi, Brielle langsung mengambil ponselnya dan tanpa ragu menelepon Raka.Telepon segera terhubung. "Aku masih di jalan. Anya sudah meneleponmu?" Suara pria itu terdengar rendah."Bukan." Brielle menarik napas pelan. "Raka, kamu nggak perlu membatalkan kepergian ke Solar Valley cuma karena aku terluka."Di ujung sana hening beberapa detik. "Gavin yang memintamu membujukku?""Aku nggak butuh kamu untuk menjaga ...."Suar
"Aku yang pesan makanan untukmu," kata Raka, lalu menambahkan, "Aku pesan bubur ayam suwir dari tempat favoritmu."Brielle menatapnya dengan mata yang jernih dan tenang, lalu menolak. "Nggak perlu. Dulu mungkin aku suka, sekarang belum tentu masih cocok di lidahku."Gerakan Raka terhenti. Ada kilasan redup yang jelas di matanya. Dia terdiam beberapa detik, lalu bertanya dengan suara rendah, "Kalau sekarang, kamu suka makan apa? Aku suruh orang antar."Brielle menggeleng. "Makanan nutrisi dari rumah sakit saja sudah cukup."Raka menatap sisi wajah Brielle yang tenang. Memang dia sudah punya selera baru, kebiasaan baru, dan ... kehidupan yang baru."Baiklah." Akhirnya, Raka hanya menjawab singkat.Ruang rawat itu hening selama belasan detik. Raka melirik arlojinya. "Aku pulang dulu. Gavin ada di luar, kalau ada apa-apa langsung hubungi dia.""Nggak usah, suruh dia pulang istirahat saja. Kalau ada apa-apa, aku bisa panggil perawat." Brielle juga tidak ingin merepotkan Gavin."Aku suruh di
Brielle juga tidak menyangka, eksperimen bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi dia sudah harus dirawat di rumah sakit. Luka di lengannya sudah dijahit, setengah lengannya dibalut rapat. Dia juga sudah berganti dengan pakaian pasien yang lebih nyaman.Brielle berbaring di ranjang. Rasa sakit ditambah kehilangan darah membuatnya sedikit kelelahan.Raka duduk di kursi di samping tempat tidurnya, menatap wajah pucatnya dengan sorot mata yang rumit."Jangan beri tahu Anya," kata Brielle.Raka mengangguk. "Ya." Kemudian, dia bertanya dengan suara rendah, "Ini bukan pertama kalinya kamu dicakar monyet, 'kan?"Brielle tertegun. Bagaimana Raka tahu sebelumnya dia pernah terluka seperti ini?Ada kilasan rasa bersalah di mata Raka. "Ke depannya aku akan minta mereka untuk lebih berhati-hati."Brielle tidak ingin membahas hal itu lebih jauh. Dia ingin beristirahat, jadi dia berkata kepada pria di kursi itu, "Kamu pulang saja. Di sini ada perawat yang jaga."Raka hanya mengubah posisi duduknya,
Brielle baru saja duduk di mobil ketika panggilan dari Raka masuk. Dia langsung menolaknya. Kalau pria itu ingin membela Devina, Brielle sama sekali tidak akan memberi muka. Dia langsung mengemudi menuju sekolah dan meminta Alice untuk berbicara berduaan.Di kafe. Setelah mendengarkan penjelasan Bri
Lalu, ponsel Brielle tiba-tiba berbunyi. Dia mengangkatnya dan melihat nama Harvis, lalu segera menjawab, "Halo, Kak Harvis.""Brie, data yang kamu minta sudah kukirim ke email-mu.""Baik, terima kasih banyak." Brielle menoleh pada pria di belakangnya. "Kamu pergi sana. Jangan ganggu hidupku lagi."
Brielle kerap memanfaatkan urusan pekerjaan untuk muncul di sisi Raka, maksudnya jelas sekali."Bu Devina, saya antar Anda ke atas." Resepsionis menyambutnya dengan ramah.Devina tersenyum tipis, lalu menenteng tas dan melangkah menuju lift pribadi milik Raka.Sore harinya, Brielle menghadiri rapat
Brielle mengangguk. "Ayo!"Brielle juga ingin mencari tempat yang tenang sebentar.Keduanya berjalan menuju balkon sambil mengobrol. Tak jauh dari sana, Raka melihat pemandangan itu. Tangannya yang memegang gelas pun menegang.Devina menyadari perhatian Raka teralihkan. Dia bertanya dengan lembut, "







