共有

Bab 127

作者: Ayesha
Devina menunduk sambil menopang dagunya, mengangguk patuh. "Oke."

"Aku tadi nggak sengaja dengar dari adikku, Brielle mau ikut ujian lulus percepatan. Dia ingin menyelesaikan kuliah S1 lebih cepat, kamu tahu?" tanya Devina padanya.

Raka mengangkat alis. "Oh ya?"

"Aku juga dengar, Profesor Madeline kali ini membentuk ulang tim dan nama Brielle nggak ada di daftar. Raka, kenapa nggak kamu masukkan saja dia? Lagian, dia 'kan istrimu," lanjut Devina.

Raka menyahut, "Aku yang minta Profesor Madeline
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
suami bego..istri pintar malah dieklaurkan dr tim demi ga menghambat sumsum tulang ibu brielle di pake..tunggu aja balasan dr brielle...dan jgn syok ntar dpt surat cerai
goodnovel comment avatar
Hari Santiana
lama kali cerainya, hampir bosan. cepat dong biar raka menyesal dan tau devina yg jahat
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1196

    Sekarang kalau dipikir kembali, sejak saat itu Raka sudah mulai menyusun rencana. Di permukaan dia membantu Grup Datau untuk go public, tetapi diam-diam sudah menanam benih yang mengarah pada kebangkrutan hari ini."Devina, kamu dengar nggak?" Dari seberang terdengar suara Declan yang sangat cemas. "Cepat datang ke sini, hari ini kita harus bertemu Pak Raka. Hanya dia yang bisa menyelamatkan kita."Hati Devina langsung jatuh ke dasar. Bagaimana mungkin Raka yang kejam itu masih akan membantu Keluarga Datau?Dia juga tidak menyangka, satu keputusan yang dia ambil dulu justru akan membuat Grup Datau hancur total."Ayah, dengarkan aku ...." Devina menarik napas dalam-dalam. "Raka nggak akan membantu kita lagi, percuma memohon padanya.""Mana mungkin? Bukannya selama ini dia selalu membantu kita?" Suara Declan penuh kebingungan. Bagaimanapun, dia memang pernah benar-benar mendapatkan manfaat dari Grup Pramudita. Seperti urusan pinjaman bank dan persetujuan sumber daya, semua dibantu oleh R

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1195

    Dari sisi Smith, pengembangan obat sudah berhasil diselesaikan. Tidak heran jika Raka mulai bergerak.Raka sudah menyiapkan sebuah skema yang rapi untuk Devina. Devina yang serakah mendapatkan 13 persen saham Grup Datau dari tangannya, sebagai "imbalan" atas kerja samanya dalam eksperimen.Ambisi Devina memang besar. Saham enam triliun itu cukup untuk memuaskan hasratnya. Bahkan sejak awal Raka membantu Grup Datau go public, semua itu memang dipersiapkan untuk hari ini.Sekarang eksperimen sudah selesai. Kendali Devina terhadap Raka selama 10 tahun ini berakhir dengan kebangkrutan Grup Datau, dan 13 persen saham yang dimilikinya langsung menjadi tidak bernilai.Krisis internal Grup Datau sebenarnya sudah lama dimulai. Namun demi menenangkan investor, Declan terus menutupinya dari publik. Namun pada akhirnya, kehancuran itu tidak bisa disembunyikan lagi.Di vila Devina, terdengar suara gelas pecah menghantam lantai.Anggur merah yang tumpah menyebar ke mana-mana. Dengan tangan gemetar,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1194

    Brielle melepas jas labnya. Zondi masih harus tinggal untuk mencatat data, jadi dia menyuruh Brielle pulang dulu. Brielle juga mengingatkannya agar tidak bergadang terlalu larut.Brielle membawa tas dan keluar dari kantor. Di koridor, ada sosok yang tersenyum berjalan ke arahnya. "Bu Brielle, sudah selesai kerja?""Pak Gavin? Kenapa kamu di sini?" tanya Brielle terkejut."Aku datang untuk menjemputmu. Pak Raka khawatir kamu kelelahan lembur, jadi aku diminta jadi sopirmu," jawab Gavin.Brielle memang merasa lelah. Demi keamanan, dia tidak menolak.Di perjalanan pulang, cara mengemudi Gavin sangat stabil. Brielle merasa bersyukur terhadap kebaikan Gavin. Sesampainya di parkiran, Brielle mengucapkan terima kasih. "Pak Gavin, terima kasih. Kamu juga cepat pulang dan istirahat.""Bu Brielle, kalau mau berterima kasih, ucapkan saja ke Pak Raka." Gavin tentu tidak berani mengambil pujian itu. Dia hanya menjalankan perintah.Perhatian itu memang berasal dari atasannya.Brielle mengangguk, lal

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1193

    Dewan direksi akhirnya menyetujui tambahan investasi, sehingga membuat Brielle sedikit lega. Setelah berbincang dengan Harvis, dia mengetahui bahwa proyek sipil berjalan sangat lancar dan saham Grup Pramudita terus menunjukkan tren stabil yang positif.Baru saja kembali ke laboratorium, ponselnya berdering. Nama Justin muncul di layar."Pak Justin," Brielle mengangkat telepon."Brielle, aku akan datang ke laboratoriummu jam tiga sore. Ada beberapa detail penelitian yang ingin aku bahas langsung."Hati Brielle sedikit bergetar. Sampai Justin rela datang sendiri ke Kota Amadeus untuk berdiskusi dengannya, itu semakin menguatkan dugaannya. Dia langsung bertanya, "Pak Justin, apakah boleh saya tahu, apakah ada seseorang yang perlu segera ditangani dengan proyek BCI ini?"Di seberang telepon terdiam beberapa detik. "Kita bicarakan waktu ketemu."....Pukul tiga sore, Justin datang tepat waktu ke laboratorium. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Lingkar hitam di bawah matanya menun

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1192

    Brielle melangkah masuk dan melirik sekilas ke arah kursi utama tempat Raka duduk. Hari ini Raka masih mengenakan kacamata, seluruh auranya terlihat dalam dan tajam. Namun saat menatap Brielle, ada sedikit kelembutan yang tersirat.Rapat baru saja dimulai, seorang direktur langsung mengeluh, "Seratus triliun? Pak Raka, proyek BCI sudah menghabiskan dana besar, sampai sekarang belum ada hasil komersial. Sekarang mau tambah 100 triliun lagi? Ini benar-benar cuma bakar uang."Ruangan langsung riuh. Setengah dari para direktur menyatakan setuju."Aku sarankan kita pertahankan bagian sipil dari proyek ini, tapi hentikan pengembangan di bidang medis," usul direktur lain. "Setidaknya bisa menyelamatkan investasi awal."Raka duduk di kursi utama, wajahnya tampak tenang mendengarkan semua penolakan. Tatapan di balik kacamata emasnya tampak tajam."Ada lagi pendapat lain? Sekalian saja disampaikan semuanya," ucap Raka dengan suara tenang. Tidak keras, tetapi langsung membuat para pemegang saham

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1191

    Brielle menghabiskan lebih dari satu jam untuk serah terima pekerjaan. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal. Saat mendorong pintu dan masuk, langkahnya tiba-tiba terhenti. Yang terlihat di matanya adalah sosok yang tertidur di sofa.Brielle sedikit mengernyit, tetapi tetap meringankan langkah dan kembali ke mejanya. Masih ada beberapa dokumen yang harus dia selesaikan, jadi dia hanya bisa berada dalam satu ruangan dengan Raka.Pria itu tepat berada di bawah cahaya matahari dari jendela. Seluruh tubuhnya diselimuti cahaya lembut. Saat ini, dia tidak lagi terlihat tajam seperti elite dunia bisnis, melainkan sangat tenang, seperti seorang anak.Brielle sedang mengetik dokumen ketika tiba-tiba pria di sofa itu menggumam pelan, "Brielle ... jangan pergi."Tangan Brielle yang mengetik langsung berhenti beberapa detik. Dia mengangkat kepala menatap ke arah sofa. Raka tidak terbangun, alisnya berkerut, seolah terjebak dalam mimpi buruk.Pikiran Brielle pun sedikit terganggu. Dia mengerutkan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 829

    "Lagian ...."Sebuah suara lain menyela, "Kalian lihat ekspresi Pak Raka hari ini? Sikapnya terhadap Pak Harvis jelas penuh hormat dan kepuasan. Tapi, aku sama sekali nggak melihat dia memperlakukan Faye seperti calon adik ipar.""Benar. Selain menatap Brielle, Pak Raka seperti menganggap orang lain

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 820

    Sekitar pukul 11 siang, rapat yang berlangsung dua setengah jam akhirnya berakhir.Pembawa acara mengundang seluruh tamu dan rekan media untuk menuju area restoran prasmanan, tempat makan siang telah disiapkan.Saat Brielle mengambil tas dan berdiri, Lambert berkata padanya, "Aku sudah pesan restora

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 800

    Gavin membawakan makan malam untuknya. Setelah menatanya, dia masuk ke ruang kebugaran. Melihat bosnya sudah berlatih selama satu jam penuh, dia berkata dengan khawatir, "Pak Raka, makanlah sedikit."Kaos olahraga Raka basah oleh keringat dan menempel di tubuhnya, menonjolkan garis otot pria itu yan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 810

    Saat itu, Jay melihat Frederick. Dia pun melangkah maju dan memanggilnya, "Pak Frederick.""Pak Jay sudah datang.""Lihat Lambert nggak?""Bukankah Pak Lambert bersama Bu Brielle?" jawab Frederick dengan nada alami.Tatapan Jay sedikit menyipit. Dia menepuk bahu Frederick. "Baiklah, silakan lanjutka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status