Share

Bab 127

Author: Ayesha
Devina menunduk sambil menopang dagunya, mengangguk patuh. "Oke."

"Aku tadi nggak sengaja dengar dari adikku, Brielle mau ikut ujian lulus percepatan. Dia ingin menyelesaikan kuliah S1 lebih cepat, kamu tahu?" tanya Devina padanya.

Raka mengangkat alis. "Oh ya?"

"Aku juga dengar, Profesor Madeline kali ini membentuk ulang tim dan nama Brielle nggak ada di daftar. Raka, kenapa nggak kamu masukkan saja dia? Lagian, dia 'kan istrimu," lanjut Devina.

Raka menyahut, "Aku yang minta Profesor Madeline
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Devina bener2 ga tau malu mau pake sum2 tulangnya ibu Brielle ....
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
suami bego..istri pintar malah dieklaurkan dr tim demi ga menghambat sumsum tulang ibu brielle di pake..tunggu aja balasan dr brielle...dan jgn syok ntar dpt surat cerai
goodnovel comment avatar
Hari Santiana
lama kali cerainya, hampir bosan. cepat dong biar raka menyesal dan tau devina yg jahat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1515

    "Dua barang antik yang kubeli dari balai lelang. Nenek pasti suka," kata Raka.Brielle sedikit tertegun.Kalau barang yang diperoleh melalui balai lelang, nilainya pasti bukan jumlah yang kecil. Menurutnya, hadiah itu benar-benar menunjukkan ketulusan hati.Namun ketika teringat Raka memberikan hadiah bernilai puluhan miliar, sementara dia hanya mengajaknya makan sekali, rasanya Raka benar-benar rugi."Aku tetap akan mentransfer uang ...."Brielle tidak menyangka tanpa sadar telah berutang budi sebesar ini kepadanya. Raka meliriknya melalui kaca spion, lalu tersenyum sambil menggeleng. "Kalau kamu masih merasa nggak enak hati, ajak saja aku makan beberapa kali lagi."Brielle terdiam sejenak. Nada bicara Raka terdengar seperti bercanda, tetapi juga menyiratkan kesungguhan. Jelas sekali dia sedang memberi Brielle jalan keluar.Brielle menggigit bibirnya pelan. Dia tahu, kalau terus berdebat, hasilnya juga tidak akan berubah. Malah hanya akan membuatnya terlihat terlalu kaku. Dia menunduk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1514

    Ucapan itu langsung membuat Raka tertawa geli sekaligus merasa tak berdaya."Haruskah kita menghitung semuanya sejelas ini?"Brielle menggigit bibirnya pelan. Bukannya dia tidak tahu Raka tidak kekurangan uang, tetapi dia juga tidak bisa menerima kebaikan Raka begitu saja. Selama tiga tahun terakhir, dia sudah terbiasa bersikap seperti itu. Dalam segala hal, tanpa sadar dia selalu ingin menjaga batas yang jelas."Bukan ingin menghitung semuanya, aku hanya nggak ingin membuatmu mengeluarkan biaya. Lagian, ini hadiah ulang tahun untuk Nenek," jawab Brielle dengan suara tegas.Raka melangkah mendekat dua langkah, memperpendek jarak di antara mereka.Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat cahaya lampu di belakangnya memantulkan bayangan samar yang seolah menyelimuti Brielle."Jadi kamu benar-benar ingin menghitung semuanya sejelas itu?" Suaranya terdengar semakin rendah.Brielle mengangkat kepala dan menatap matanya. Sesaat dia tidak menemukan alasan untuk membalas. Namun tetap saja, membe

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1513

    Ucapan polos Anya itu menimbulkan riak di hati semua orang yang berada di ruang VIP.Ketiga orang yang duduk di sana serempak mengalihkan pandangan kepada Brielle dan Raka.Wajah Brielle langsung memerah. Kulitnya memang putih, sehingga rona merah di pipinya tampak semakin jelas di balik gaun berwarna sampanye yang dikenakannya.Raka tertawa pelan. Dia berjongkok, lalu mengusap kepala kecil putrinya. "Benarkah?""Iya! Mama cantik sekali, Papa ganteng sekali." Anya lalu bertanya dengan rasa penasaran, "Kalau begitu, kapan Papa dan Mama akan menikah lagi?"Begitu kalimat itu keluar, semua orang kembali terdiam."Anya," kata Brielle akhirnya. Dia berusaha mengalihkan rasa penasaran putrinya. "Lapar nggak? Temani Mama makan, ya."Raline melirik kakaknya, lalu diam-diam memberi isyarat menyemangati dengan tangannya.Raka hanya memperlihatkan senyum tak berdaya tetapi penuh kasih sayang. Dia berkata kepada putrinya, "Mama sudah lapar. Kita temani Mama makan dulu, ya?""Baik!" Anya mengangguk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1512

    Saat itu, sebuah tangan mengambil tasnya, lalu mengulurkan lengannya kepada Brielle."Perlu pegangan?"Brielle awalnya ingin berkata tidak perlu, tetapi urung mengucapkannya. Dia pun mengulurkan tangan dan menggenggam lengan Raka sebagai tumpuan.Gerakan sederhana itu membuat jantung Raka berdebar kencang, lalu segera dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa. Dia sedikit mengencangkan lengannya. Saat ini, dia sama sekali tidak peduli apakah mereka akan terlambat atau tidak. Dia justru berharap jarak menuju mobilnya bisa sedikit lebih jauh.Namun, jaraknya hanya sekitar 15 meter, dan mereka pun tiba di samping mobil.Dengan sopan, Raka membukakan pintu mobil. Brielle sedikit membungkuk untuk masuk ke dalam, sementara tangan Raka yang semula melindungi kepalanya dari kusen pintu perlahan ditarik kembali.Pada saat yang sama, dia menyerahkan tas Brielle kepadanya. Brielle menerimanya, lalu melirik waktu. Hari sudah hampir pukul tujuh malam. Langit benar-benar gelap dan lampu-lampu kota baru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1511

    Brielle terus melihat isi pesan itu. Ternyata Raka sempat bertanya apakah dia perlu menjemputnya, lalu memutuskan untuk datang sendiri. Saat ini dia juga hampir tiba.[ Brielle: Nggak usah, aku nyetir sendiri ke sana. ]Brielle menunggu beberapa saat, tetapi tidak mendapat balasan dari Raka. Dia pun mengambil tasnya dan keluar.Begitu melangkah keluar dari lobi gedung laboratorium, sosok pria tinggi yang disinari cahaya matahari senja sudah berdiri di luar.Siapa lagi kalau bukan Raka?Staf resepsionis segera menghampiri untuk menyambutnya, "Pak Raka, Anda sudah datang.""Aku datang untuk menjemput Dokter Brielle," jawab Raka dengan senang hati. Tatapannya tertuju pada Brielle saat dia bertanya penuh perhatian, "Sudah selesai?""Ya, baru saja selesai." Brielle mengangguk, lalu berkata dengan sedikit rasa bersalah, "Maaf, aku lupa melihat waktu."Raka hanya tersenyum."Nggak apa-apa. Pekerjaan lebih penting. Ayo."Begitu mereka berdua pergi, area resepsionis langsung ramai oleh obrolan.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1510

    "Ayahmu cuma diskusi denganku soal penelitiannya. Aku juga nggak banyak tanya. Lagi pula, dengan pengaruh ayahmu saat itu, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapat pendanaan."Setelah berkata demikian, Derrick kembali melanjutkan, "Kurasa alasan ayahmu menyetujui kamu keluar dari universitas dan menikah dengan Raka saat itu juga karena beliau berpikir, kalau suatu hari nanti benar-benar terjadi sesuatu padamu, Raka akan meneruskan penelitian itu untuk menyelamatkanmu. Namanya kalian suami istri ""Mungkin perkataanku ini terdengar kurang enak didengar, tapi sebagai orang tua, mereka selalu ingin menyiapkan jalan terbaik untuk masa depan anaknya."Mendengar itu, mata Brielle kembali memanas. Dia bisa membayangkan kecemasan dan pengorbanan ayahnya saat itu."Bisa dibilang, ayahmu telah mencarikanmu keluarga yang bisa menjadi tempatmu bersandar di masa depan," ucap Derrick dengan jujur.Brielle menarik napas pelan. "Aku ngerti niat baik ayahku.""Itu sebabnya, ketika aku dengar kalian

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 128

    Brielle meliriknya dengan dingin. "Kenapa memangnya kalau iya?""Jangan terlalu memaksakan diri, kesehatan itu yang utama," kata Raka. Dia tahu Brielle tidak akan mampu.Brielle tidak mau menghiraukannya.Raka menatap tumpukan buku itu yang membentuk bayangan besar. Bayangan itu menutup tubuh Briell

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 144

    "Faye, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Cherlina bertanya dengan penuh perhatian. Bukan cuma dirinya yang merasa tidak puas, hati Faye juga pasti lebih kesal. Bagaimanapun, dia adalah orang yang paling tidak berharap Brielle bisa lulus ujian itu."Ujian saja, nggak bisa dijadikan patokan. Masih harus dili

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 118

    "Mulai sekarang, jangan pernah lagi ngomong seperti itu." Nada suara Raka dingin saat menegur.Di seberang sana, Raline mendengus kesal, lalu memutus sambungan telepon lebih dulu. Tak lama kemudian, telepon dari Meira masuk."Halo, Ibu." Raka berdiri, melangkah keluar dari pintu utama, lalu pergi ke

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 117

    "Kamu ini, mengakui kakak iparmu hebat sesusah itu ya? Brielle sudah dapat penghargaan, kamu masih saja bilang itu orang lain." Emily menoleh dan memarahinya.Raline mengambil ponselnya. "Aku cek saja, nanti juga ketahuan."Selesai berbicara, dia langsung mencari siapa peneliti utama obat khusus itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status