Share

Bab 137

Author: Ayesha
Brielle sempat melirik sekilas ke arah cangkir teh itu, tetapi dia tidak menyentuhnya.

Pukul 21.30, Brielle sedang menidurkan Anya. Namun tak lama kemudian, Anya berlari keluar kamar dan tidak lama kembali lagi dengan menggandeng Raka masuk ke kamar. "Papa, aku mau Papa tidur bareng Mama dan aku."

Brielle seketika menegang. Raka berbaring di sisi lain dengan tenang, sementara Anya meringkuk dalam pelukannya. Gadis kecil itu lalu mengulurkan tangan ke arah Brielle. "Mama, kasih tangan Mama."

Brie
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Pasti Raka ga mau cerai , udah mulai sadar punya istri hebat , ga rela dia klo orang lain bisa dapetin istrinya nanti , udah punya pelakor masih mau nidurin istrinya hadeehh ya jijiklah brielle
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
dikira Raka brilee kesenengan kali..dibantu masuk jd tim Madeline lagi..sorry ya...malah bikin muak...hbs tu belagak minta jatah lg..sebagai kompensasi membantu masuk tim...jijik bngt..hbs selingkuh masih minta jatah aja lg..
goodnovel comment avatar
Renadwijo
bagus Brie..knapa ga dari dulu aja kamu tampar? biar agak lempeng tuh otak si Raka...jadi tau kalo kamu udh bener2 enek ma dia, ga kegeeran mulu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1513

    Ucapan polos Anya itu menimbulkan riak di hati semua orang yang berada di ruang VIP.Ketiga orang yang duduk di sana serempak mengalihkan pandangan kepada Brielle dan Raka.Wajah Brielle langsung memerah. Kulitnya memang putih, sehingga rona merah di pipinya tampak semakin jelas di balik gaun berwarna sampanye yang dikenakannya.Raka tertawa pelan. Dia berjongkok, lalu mengusap kepala kecil putrinya. "Benarkah?""Iya! Mama cantik sekali, Papa ganteng sekali." Anya lalu bertanya dengan rasa penasaran, "Kalau begitu, kapan Papa dan Mama akan menikah lagi?"Begitu kalimat itu keluar, semua orang kembali terdiam."Anya," kata Brielle akhirnya. Dia berusaha mengalihkan rasa penasaran putrinya. "Lapar nggak? Temani Mama makan, ya."Raline melirik kakaknya, lalu diam-diam memberi isyarat menyemangati dengan tangannya.Raka hanya memperlihatkan senyum tak berdaya tetapi penuh kasih sayang. Dia berkata kepada putrinya, "Mama sudah lapar. Kita temani Mama makan dulu, ya?""Baik!" Anya mengangguk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1512

    Saat itu, sebuah tangan mengambil tasnya, lalu mengulurkan lengannya kepada Brielle."Perlu pegangan?"Brielle awalnya ingin berkata tidak perlu, tetapi urung mengucapkannya. Dia pun mengulurkan tangan dan menggenggam lengan Raka sebagai tumpuan.Gerakan sederhana itu membuat jantung Raka berdebar kencang, lalu segera dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa. Dia sedikit mengencangkan lengannya. Saat ini, dia sama sekali tidak peduli apakah mereka akan terlambat atau tidak. Dia justru berharap jarak menuju mobilnya bisa sedikit lebih jauh.Namun, jaraknya hanya sekitar 15 meter, dan mereka pun tiba di samping mobil.Dengan sopan, Raka membukakan pintu mobil. Brielle sedikit membungkuk untuk masuk ke dalam, sementara tangan Raka yang semula melindungi kepalanya dari kusen pintu perlahan ditarik kembali.Pada saat yang sama, dia menyerahkan tas Brielle kepadanya. Brielle menerimanya, lalu melirik waktu. Hari sudah hampir pukul tujuh malam. Langit benar-benar gelap dan lampu-lampu kota baru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1511

    Brielle terus melihat isi pesan itu. Ternyata Raka sempat bertanya apakah dia perlu menjemputnya, lalu memutuskan untuk datang sendiri. Saat ini dia juga hampir tiba.[ Brielle: Nggak usah, aku nyetir sendiri ke sana. ]Brielle menunggu beberapa saat, tetapi tidak mendapat balasan dari Raka. Dia pun mengambil tasnya dan keluar.Begitu melangkah keluar dari lobi gedung laboratorium, sosok pria tinggi yang disinari cahaya matahari senja sudah berdiri di luar.Siapa lagi kalau bukan Raka?Staf resepsionis segera menghampiri untuk menyambutnya, "Pak Raka, Anda sudah datang.""Aku datang untuk menjemput Dokter Brielle," jawab Raka dengan senang hati. Tatapannya tertuju pada Brielle saat dia bertanya penuh perhatian, "Sudah selesai?""Ya, baru saja selesai." Brielle mengangguk, lalu berkata dengan sedikit rasa bersalah, "Maaf, aku lupa melihat waktu."Raka hanya tersenyum."Nggak apa-apa. Pekerjaan lebih penting. Ayo."Begitu mereka berdua pergi, area resepsionis langsung ramai oleh obrolan.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1510

    "Ayahmu cuma diskusi denganku soal penelitiannya. Aku juga nggak banyak tanya. Lagi pula, dengan pengaruh ayahmu saat itu, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapat pendanaan."Setelah berkata demikian, Derrick kembali melanjutkan, "Kurasa alasan ayahmu menyetujui kamu keluar dari universitas dan menikah dengan Raka saat itu juga karena beliau berpikir, kalau suatu hari nanti benar-benar terjadi sesuatu padamu, Raka akan meneruskan penelitian itu untuk menyelamatkanmu. Namanya kalian suami istri ""Mungkin perkataanku ini terdengar kurang enak didengar, tapi sebagai orang tua, mereka selalu ingin menyiapkan jalan terbaik untuk masa depan anaknya."Mendengar itu, mata Brielle kembali memanas. Dia bisa membayangkan kecemasan dan pengorbanan ayahnya saat itu."Bisa dibilang, ayahmu telah mencarikanmu keluarga yang bisa menjadi tempatmu bersandar di masa depan," ucap Derrick dengan jujur.Brielle menarik napas pelan. "Aku ngerti niat baik ayahku.""Itu sebabnya, ketika aku dengar kalian

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1509

    Keesokan pagi, Raka meluangkan waktu untuk menemani putri dan keluarganya, karena malam itu adalah perayaan ulang tahun Emily.Sementara itu, Brielle masih harus bekerja, sehingga pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke laboratorium.Ferdian datang lebih awal untuk melakukan berbagai persiapan di laboratorium. Zondi juga merupakan asisten yang sangat bertanggung jawab."Brielle, siang nanti kita harus pergi ke laboratorium Profesor Derrick." Zondi mengingatkannya.Brielle teringat bahwa dia memang sudah membuat janji dengan Derrick untuk membahas analisis data. Dalam penelitian kali ini, laboratorium Derrick juga bersedia memberikan dukungan.Pukul 10 pagi, Brielle dan Zondi tiba di bekas Laboratorium Kasih, yang kini telah menjadi Laboratorium Rine milik Derrick.Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Brielle memasuki ruang rapat Derrick. "Brielle, kamu sudah datang. Ayo duduk."Derrick berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat.Di samping mereka, Ferdian tampak begitu bersemangat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1508

    Lastri segera membawakan sepiring buah yang sudah dipotong, meletakkannya di atas meja, lalu kembali ke kamarnya.Kini, hanya mereka berdua yang tersisa di ruang tamu.Raka mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulut, lalu bertanya kepada Brielle, "Besok Nenek ingin merayakan ulang tahunnya sedikit lebih meriah. Kamu sudah punya gaun yang cocok belum? Apa akan ada tamu lain juga?"Brielle mengangkat kepala dan bertanya. Dia mengira mungkin kerabat jauh Keluarga Pramudita juga akan diundang.Raka menggeleng. "Tahun ini Nenek nggak berniat mengundang orang luar. Cuma keluarga kita saja."Setelah itu, dia menambahkan, "Soal gaunmu, biar aku yang atur."Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku akan urus sendiri."Karena hanya makan bersama keluarga, dia cukup berdandan sedikit lebih rapi, tidak perlu terlalu berlebihan.Brielle mengambil sebutir anggur dan mulai mengupas kulitnya."Tadi sudah pamitan dengan Niro?" tanya Raka tiba-tiba."Sudah," jawab Brielle dengan tenang.Raka tidak m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 576

    Dalam perjalanan mengantar Derrick kembali ke hotel, Brielle berbicara dengannya tentang kondisi peralatan laboratorium."Ya! Peralatan inti ini bagus, hanya perlu dikalibrasi ulang dan sudah bisa dipakai." Derrick berkata, sangat puas dengan semua fasilitas laboratorium itu.Brielle juga merasa bah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 579

    Lebih-lebih lagi, dunia bisnis penuh dengan tipu muslihat."Brielle, aku nggak punya niat apa pun. Aku hanya berharap bisa memberi Anya jaminan untuk masa depannya." Raka tetap berwajah tenang seperti biasa.Brielle mengerutkan kening. Cara laki-laki ini menghitung dan menekan orang lain sudah lama

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 601

    Saat itu, dua pria paruh baya yang berdiri di samping Hubert juga memperhatikan Raka dan Brielle. Salah satu dari mereka menghela napas dan berkata, "Pak Raka benar-benar masih muda. Berani mempertaruhkan masa depan bisnis MD pada seorang ilmuwan muda, bukankah itu terlalu ceroboh?""Belakangan ini

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 582

    "Mm! Baik." Brielle mengangguk. "Anda harus banyak beristirahat."Melihat pria tua berambut putih itu masih berjuang demi penelitian negara, dia merasa sangat hormat.Derrick menepuk bahunya. "Orang yang menggeluti penelitian jangan terlalu banyak khawatir. Kamu selesaikan saja tahap akhir uji obat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status