Share

Bab 187

Author: Ayesha
Brielle dan Syahira sedang duduk santai di kafe dekat situ. Saat itu, ponsel Brielle berdering. Dia melihat layar sebentar, lalu berkata kepada Syahira, "Telepon dari seniormu."

"Cepat angkat! Bisa jadi ada kabar soal perceraianmu," ucap Syahira buru-buru.

Brielle pun mengangkat. "Halo, Pak Farel."

"Bu Brielle, ada waktu untuk bertemu?"

"Ada. Apa ada perkembangan soal perceraian?" tanya Brielle dengan tak sabar.

"Ya. Kalau kamu sempat, bisa datang ke kantor aku."

"Oke. Aku lagi bersama Syahira,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Lianzzah
mau cerai aja banyak syarat nya.. yang iyaa blom ikhlas pisah dia..
goodnovel comment avatar
Jihan Dwi Annisa
mau cerai aja ribet,si raka maunya apa sih..bukannya dia ingin buru2 nikah sm si devina
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
intinya Raka nggak mau cerai sm briele....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1016

    Sejak saat itu, Devina menjalani kehidupan mewah yang selama ini dia impikan. Dia menikmati kemewahan yang dibangun oleh uang Raka, juga menikmati waktu singkat setiap setengah tahun, di mana dia bisa memiliki Raka.Dia masuk ke lingkaran Raka, mengenal teman-temannya, dan muncul di berbagai kesempatan dengan identitas sebagai pasangannya.Dia tahu, selama waktunya cukup lama, jarak antara Brielle dan Raka akan semakin besar. Dia akan memiliki kesempatan.Pada tahun ketika putri Raka lahir, Devina hampir melewati tahun itu dalam penderitaan. Namun, pada tahun yang sama, dia juga mengetahui sebuah kabar.Penyakit Meira memiliki kemungkinan bersifat genetik. Devina pun menjadi keberadaan yang lebih penting bagi Raka.Taruhannya menjadi lebih besar. Dia menerima kenyataan yang tidak bisa diubah dan terus menyesuaikan rencananya. Ketika Raka membawa putrinya ke luar negeri, dia memainkan peran sebagai seorang bibi dengan baik.Ketika Raka tidak berada di luar negeri, dia terus mendekati Me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1015

    Devina pernah diam-diam menjual darahnya beberapa kali, hanya untuk menukar sepasang sepatu yang enggan dibelikan ibunya. Namun tak disangka, karena hal itu dia malah dilirik oleh sebuah laboratorium, yang kemudian menawarkan harga sangat tinggi agar dia bersedia mendonorkan darah secara berkala.Tentu saja dia menolak. Dia tidak akan mempertaruhkan nyawanya sendiri.Setelah menolak tawaran donasi dengan bayaran tinggi dari Doktor Smith, dia berlari keluar dari kantor. Tanpa sengaja, dia menabrak seseorang. Saat dia menutup bagian tubuh yang sakit karena benturan itu dan mengangkat kepala, dia langsung terpaku.Dia bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang berdetak liar.Raka yang saat itu berusia 20 tahun, membantunya berdiri dengan sopan. Dengan suara rendah dan agak dingin, dia berkata, "Maaf."Setelah itu, dia berbalik dan masuk ke kantor di belakangnya.Saat Devina hendak pergi, dia tiba-tiba mendengar percakapan antara Raka dan Doktor Smith. Saat itulah dia mengetahui bah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1014

    Di seberang telepon terdengar suara Smith yang bergetar karena terlalu bersemangat. "Hebat sekali, Brielle! Ini benar-benar sebuah terobosan bersejarah. Ini berarti kita akhirnya sepenuhnya terbebas dari ketergantungan pada satu donor saja.""Iya, dan hasilnya bahkan lebih baik," timpal Brielle. Suaranya terdengar lega dan dipenuhi rasa gembira seolah beban besar akhirnya terangkat.Di sisi lain, Smith juga sangat bersemangat. Selama bertahun-tahun dia mencurahkan seluruh tenaga untuk membangun laboratorium ini. Tak disangka, pada akhirnya malah Brielle yang menghasilkan terobosan paling luar biasa. Jawabannya sebenarnya selalu ada di sana, hanya saja dia tidak memiliki bakat untuk menemukannya, sedangkan Brielle akhirnya berhasil menemukan jawabannya."Aku akan segera merapikan datanya dan langsung kasih penjelasan ke Pak Raka," kata Smith tidak sabar.Brielle teringat pada wajah Raka saat baru saja pergi tadi. Wajah yang penuh kelelahan, dengan mata yang memerah karena bergadang. Kal

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1013

    "Baik, Mama. Papa akan temani aku," kata Anya sambil mengangguk dengan patuh.Brielle berbalik dan pergi. Saat ini dia membutuhkan sedikit ruang pribadi untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.Raka mengangkat tangan dan merapikan rambutnya yang tebal. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli pada penampilannya, tetapi rambut yang tiba-tiba beruban seperti ini tetap membuatnya sedikit terkejut."Papa, kenapa rambut Papa tiba-tiba jadi putih?" tanya Anya dengan polos."Mungkin karena akhir-akhir ini Papa terlalu banyak mikir," jawab Raka dengan nada santai."Papa, apa pun yang terjadi, aku tetap mencintai Papa," kata Anya dengan suara lantang.Hati Raka langsung tersentuh oleh kata-kata putrinya yang polos dan hangat itu. Dia berjongkok dan mencium pipi anaknya. "Benar-benar anak Papa yang baik."Saat itu Lastri keluar sambil membawa sup. Ketika tanpa sengaja melihat Raka di bawah cahaya lampu, dia tertegun beberapa detik. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya merasa sedikit

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1012

    Cahaya yang sempat menyala di mata Raka kembali meredup, tertutup oleh pembuluh darah merah yang memenuhi matanya."Aku ambilkan air hangat untukmu." Dia berdiri dan berjalan ke arah meja minum, lalu menuangkan segelas air hangat untuk Brielle.Brielle tidak langsung menerimanya. Suara Raka kembali menjadi rendah seperti biasa. "Dokter menyarankan kamu harus lebih banyak minum air."Brielle akhirnya mengulurkan tangan dan mengambilnya. Setelah meneguk beberapa kali dia berkata, "Aku benar-benar sudah nggak apa-apa. Kamu bisa pergi."Raka tetap duduk di sana. "Aku akan pergi setelah kamu melakukan pemeriksaan jantung dan memastikan kamu benar-benar baik-baik saja.""Pemeriksaan jantung?" Brielle mengerutkan kening."Ya. Itu saran dokter." Raka mengangguk.Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri.""Kalau memang benar begitu, kamu nggak akan pingsan sampai masuk rumah sakit," Raka mendengus pelan.Brielle terdiam."Kalau kamu nggak ingin mengalami nasib seperti

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1011

    Semalam para perawat di meja jaga masih membicarakannya. Namun, hari ini dia malah melihat pria itu berubah beruban hanya dalam satu malam demi wanita yang terbaring di tempat tidur itu.Di antara rambut hitamnya yang tebal, helai-helai uban itu tampak semakin jelas. Meski tidak mengurangi ketampanannya, pemandangan itu tetap membuat orang merasa iba.Perawat itu diam-diam menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar. Ketika dia menceritakannya kepada rekan-rekannya, semua orang terkejut. Meski mereka bekerja di rumah sakit dan sudah sering melihat berbagai tragedi manusia, kejadian rambut memutih dalam satu malam tetap jarang terjadi."Benarkah?""Benar. Karena dia terlalu tampan, semalam aku sampai melihatnya beberapa kali. Waktu itu rambutnya masih hitam semua. Tapi pagi ini waktu aku melihatnya lagi, sudah ada banyak uban di antara rambut hitamnya. Kalau tekanannya bertambah sedikit lagi, mungkin suatu hari rambutnya bisa benar-benar memutih.""Bu Brielle itu mantan istrinya, 'kan? Kalia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 110

    "Pak Raka, istri Anda sudah menjadi bagian dari tim risetku. Dia punya hak untuk tahu." Suara Harvis terdengar tenang di seberang.Langkah Raka terhenti, sorot matanya menjadi semakin tajam. "Pak Harvis, aku menaruh investasi 100 triliun di penelitianmu, bukan untuk membiarkanmu memakai koneksi prib

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 78

    Brielle kembali tertidur dalam kondisi setengah sadar. Dia samar-samar merasakan ada tangan yang menyentuh lembut wajahnya. Dia tak punya tenaga untuk mengusirnya, hanya mengernyit dengan kesal.Di dekat telinganya, terdengar suara helaan napas panjang yang penuh ketidakberdayaan.Pagi hari, Brielle

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 74

    Faye sebenarnya tidak pernah berniat mencuri hasil kerja Brielle, tetapi dia tahu begitu dia mengungkapkan kebenaran, orang tuanya pasti akan kecewa padanya. Namun ....Sejak kecil, Faye selalu diperlakukan sebelah mata oleh keluarganya karena dia bukan anak laki-laki. Ayahnya pun sering bersikap di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 107

    Harvis mengangkat kepala, sorot matanya penuh dengan pergulatan batin. Brielle berkedip, justru semakin penasaran menatapnya.Genggaman erat di tangan Harvis akhirnya mengendur. Dia menarik napas panjang dan berkata, "brie, sebaiknya ... aku kasih tahu kamu lain waktu saja."Namun, rasa ingin tahu B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status