공유

Bab 236

작가: Ayesha
Agnes adalah pusat perhatian mutlak malam ini.

Melihat Agnes masuk, Devina segera mengatur ekspresinya, bersiap maju untuk menyapa. Dalam acara seperti ini, siapa pun yang bisa menjadi orang pertama berbicara dengan Agnes, dialah yang akan unggul di lingkaran sosial.

Jadi, Devina menyesuaikan senyuman terbaiknya, lalu melangkah ke depan.

Di sisi lain, Agnes melirik sekilas ke arah aula, lalu tatapannya akhirnya tertuju pada Brielle dan Syahira. Dia menyunggingkan senyuman ramah dan berjalan menu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (5)
goodnovel comment avatar
Ardiansyah
mudah 2 Han brieelle jadi menantunya diangkat derajatnya bisa ngalahi Raka brieelle . sombong nya Devina si pelakor
goodnovel comment avatar
Arlina
Rasain kau devina, mulut manis hati busuk … sebenarnya devina tdk menyukai anya !!
goodnovel comment avatar
Iin Iin
mampus lu Devina, kalo bukan karena bantuan Raka, lu juga bukan siapa"...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1523

    Melihat Raka baru saja selesai mandi, Brielle tahu pria itu pasti tidak akan bisa bersiap secepat itu.Dia pun langsung berkata, "Aku turun duluan."Melihat wanita itu melangkah pergi dengan tergesa-gesa, sudut bibir Raka sedikit terangkat. Seulas senyum melintas di bibirnya.Saat tiba di lobi lantai satu, Brielle melihat Gavin sedang memeluk laptop dan menyapanya, "Selamat pagi, Bu Brielle.""Selamat pagi." Brielle membalas dengan sebuah senyuman, lalu berjalan menuju pantai.Baru sekitar pukul 10 pagi, Raka akhirnya datang ke pantai. Dia sudah mengenakan setelan olahraga berwarna abu-abu muda. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat menghiasi sudut bibirnya, menandakan suasana hatinya sedang sangat baik."Papa!" Anya berlari menghampirinya seperti seekor burung kecil.Raka langsung mengangkat putrinya dengan kedua tangan, lalu memutarnya satu kali di udara. Tawa renyah Anya terdengar hingga jauh.Brielle duduk di bawah payung pantai. Mendengar tawa putrinya, tanpa sadar sudut bibirnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1522

    Raka tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam-diam kembali berdiri di sisi Brielle. Cahaya api unggun yang menari di kejauhan membuat sorot matanya tampak makin dalam.Kali ini, dia tak lagi menghalangi pandangan Brielle. Pada akhirnya, tatapannya tertuju pada buket bunga yang dipeluk Brielle. Seolah dari sanalah dia memperoleh sedikit penghiburan."Dulu kamu jarang mengidolakan artis." Raka menunduk menatapnya.Brielle sedikit tertegun. Memang benar. Dahulu, hampir seluruh hidupnya dipenuhi oleh Raka dan putri mereka. Dia bahkan tidak punya waktu ataupun keinginan untuk mengidolakan selebritas."Orang pasti berubah," jawab Brielle. "Dulu aku nggak punya waktu, juga nggak punya suasana hati untuk itu."Hati Raka terasa seperti ditusuk jarum. Dia teringat, dahulu ketika beberapa foto dirinya menghadiri forum bisnis beredar di internet, banyak netizen perempuan meninggalkan komentar di bawahnya.Malam itu, ketika dia pulang ke rumah, Brielle langsung melingkarkan kedua tangan di lehernya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1521

    Raline menggandeng Anya menuju sebuah kios yang menjual bunga. Mawar-mawar yang dibungkus dengan kertas warna-warni itu tetap tampak segar dan indah meski di bawah langit malam.Dia membeli satu buket, lalu menarik Anya mendekat dan berbisik, "Anya, kasih bunga ini ke Papa, terus suruh Papa kasih ke Mama."Anya langsung mengangguk. Sambil memeluk buket bunga itu, dia berlari menghampiri Raka bak burung kecil yang riang. Dia mendongakkan wajah mungilnya dan berkata, "Papa, ini buat Papa."Raka sedikit terkejut melihat buket bunga di tangan putrinya. Tak lama kemudian, dia melihat Raline yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum penuh kelicikan sambil menggerakkan bibir tanpa suara. 'Kasih ... ke ... Kak Brielle.'"Terima kasih, Sayang." Raka menerima buket bunga itu. Tatapannya dipenuhi senyuman, bercampur sedikit rasa tak berdaya sekaligus kasih sayang.Tentu saja dia mengerti maksud adiknya. Dia menunduk melihat buket bunga di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Brielle ya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1520

    Namun, waktu telah berlalu. Segalanya sudah berubah. Kini, Brielle menyukainya atau tidak, rasanya sudah tidak lagi berarti. Terlebih lagi, tato itu pernah menjadi sesuatu yang membuatnya sangat menderita.Permukaan air kolam bergoyang pelan, sementara sinar matahari terasa sedikit menyilaukan. Tatapan Raka tetap terkunci padanya, seolah masih menunggu jawabannya.Bulu matanya yang lebat dipenuhi butiran air, bagai deretan kipas kecil, membuat sorot matanya tampak makin dalam bak lautan."Yang penting kamu suka." Brielle menundukkan pandangannya. Jawabannya tetap sama seperti tadi. Cahaya di mata Raka sedikit meredup.Raka tahu Brielle sedang menghindari pertanyaannya, jadi dia tidak memaksanya untuk menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku suka."Dua kata itu diucapkan dengan pelan tetapi jelas, mengandung keyakinan yang tak perlu diragukan lagi.Brielle tetap menunduk sambil menggerakkan air dengan ujung jarinya. Raka mengambilkan pelampungnya, meny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1519

    Di seberang kolam, Anya langsung panik. "Mama, Mama nggak apa-apa?"Anak kecil itu langsung hendak mengayuh pelampungnya untuk menghampiri. Namun, sebuah tangan segera menariknya."Nggak apa-apa. Ada Papa yang melindungi Mama."Dalam situasi seperti ini, mana mungkin Raline membiarkan si kecil mengganggu? Tentu harus ditahan.Sambil mengusap air di wajahnya, Brielle menenangkan putrinya. "Anya, Mama nggak apa-apa. Jangan khawatir."Brielle menyeka tetesan air yang menutupi matanya. Begitu membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah garis-garis tubuh yang kencang dan kekar tepat di hadapannya.Tubuhnya seketika membeku. Wajahnya pun mulai terasa panas.Tangan Raka masih melingkari pinggangnya dengan erat. Telapak tangannya pun memancarkan kehangatan yang begitu nyata.Posisi mereka terlalu dekat. Begitu dekat hingga seolah membawa mereka kembali ke tahun-tahun ketika mereka masih sangat mesra.Tepat pada saat itu, Brielle melihat tato di dekat jantung Raka. Tatapannya langsung mem

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1518

    Kolam renang berada di teras yang memanjang dari lantai satu vila dan terhubung langsung dengan bagian dalam rumah melalui pintu kaca besar.Air kolam yang jernih berkilauan diterpa sinar matahari sore. Anya mengenakan pelampung dan sedang asyik bermain air."Papa, Mama, kalian datang!" Dia menatap orang tuanya yang datang bersama dengan wajah penuh kegembiraan.Raline juga tampak terkejut sekaligus senang melihat pemandangan itu. Sebulan yang lalu, dia bahkan tidak berani membayangkan momen seperti ini.Sekarang, dia merasa harapan yang selama ini dinantikannya benar-benar memiliki peluang untuk menjadi kenyataan.Raka melempar handuk ke kursi santai, lalu berjalan ke tepi kolam. Dengan gerakan yang lincah, dia langsung melompat ke dalam air, memercikkan cipratan yang cukup besar.Dalam sekejap, dia sudah menyelam beberapa meter sebelum akhirnya muncul kembali di samping putrinya. Tetesan air mengalir dari rambut pendeknya yang rapi hingga ke wajahnya yang tampan."Papa hebat sekali!"

  • Bukan Mantan Biasa   #Bab 584

    Baik teknologi maupun farmasi yang dibangun oleh perusahaan Pramudita, semuanya merupakan komoditas penting negara. Brielle memijat pelipisnya yang agak sakit, lalu mendongak menatap langit.Akhirnya, dia menghela napas. Dibandingkan perasaannya sendiri, perkembangan penelitian negara jauh lebih pen

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 597

    Brielle mengangkat ponsel. "Aku kasih kamu satu menit buat pergi. Kalau nggak, aku langsung lapor polisi."Senyuman Devina menegang. "Brielle, aku nggak berniat jahat.""Kamu mendekati putriku dengan status sebagai seorang selingkuhan, lalu kamu bilang nggak berniat jahat? Aku nggak keberatan membua

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 579

    Lebih-lebih lagi, dunia bisnis penuh dengan tipu muslihat."Brielle, aku nggak punya niat apa pun. Aku hanya berharap bisa memberi Anya jaminan untuk masa depannya." Raka tetap berwajah tenang seperti biasa.Brielle mengerutkan kening. Cara laki-laki ini menghitung dan menekan orang lain sudah lama

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 582

    "Mm! Baik." Brielle mengangguk. "Anda harus banyak beristirahat."Melihat pria tua berambut putih itu masih berjuang demi penelitian negara, dia merasa sangat hormat.Derrick menepuk bahunya. "Orang yang menggeluti penelitian jangan terlalu banyak khawatir. Kamu selesaikan saja tahap akhir uji obat

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status