เข้าสู่ระบบSetelah selesai membaca semua informasi itu, Brielle kembali melamun beberapa saat. Dia tahu bahwa selama penelitiannya memiliki nilai, dia akan mendapatkan dukungan pasar. Perasaan bisa berdiri tegak dengan mengandalkan kemampuan sendiri benar-benar membuatnya merasa tenang dan mantap.Sedangkan mengenai Raka, Brielle memutuskan untuk terus mempertahankan batas yang jelas seperti sekarang.Ayah dari putrinya.Pendukung proyek penelitiannya.Dan untuk masa depan ....Brielle menggelengkan kepala. Entah kenapa, dia tidak ingin memikirkannya lagi. Dia mematikan lampu ruang kerja dan kembali ke kamar tidur.Putrinya sedang tidur dengan nyenyak. Wajah mungilnya merona kemerahan, bahkan masih membawa aroma susu yang samar. Hati Brielle langsung luluh melihatnya. Dia menggesekkan ujung hidungnya ke pipi lembut putrinya yang harum.Mungkin memang begitulah kebiasaan para ibu.Sejak Anya lahir, Brielle merasa ingin menciumnya ratusan kali setiap hari. Begitu melihat Anya, dia langsung ingin me
Raline benar-benar berharap waktu bisa diputar kembali.Kalau begitu, dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu."Sudahlah, biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu. Kalau kalian benar-benar merasa bersalah sama Brielle, mulai sekarang lebih hormati dia dan bantu dia. Sekali lihat saja sudah jelas kalau anak itu bukan orang yang pendendam," ujar Emily dengan tenang."Benar."Meira mengangguk."Aku dan Raline sama-sama berutang budi besar sama Brielle. Raka juga sedang berusaha menebus semuanya. Yang bisa kita lakukan adalah membantu mereka sebisa mungkin dan jangan membuat masalah lagi.""Kak Raka dan Kak Brielle masih punya kesempatan untuk rujuk, 'kan?" Raline bertepuk tangan kecil dengan wajah penuh harap.Emily meliriknya."Rujuk itu nggak semudah yang kamu bayangkan. Kakakmu memang orang yang pikirannya dalam, tapi setidaknya kali ini arahnya sudah benar.""Kalau Raka ingin Brielle kembali, hanya mengandalkan perhitungan dan materi saja jelas nggak cukup. Dia harus menggunakan hat
Raline seketika tersadar."Jadi, dari dulu Kak Raka memang sudah memikirkan semuanya dengan matang?"Emily mendengus. "Itu adalah cara kakakmu menebus Brielle. Waktu itu dia masih terikat sama Devina. Dia nggak bisa ngomong, jadi hanya bisa menunjukkannya lewat tindakan."Raline berkata dengan kesal, "Tapi mulut Kak Raka kan nggak disegel. Kenapa dia nggak bilang saja? Kalau dia ngomong jujur, mungkin mereka bahkan nggak perlu bercerai."Emily langsung menatapnya. "Memangnya kakakmu berani bahas soal perceraian? Yang minta cerai itu Brielle."Raline pun menoleh ke arah ibunya dengan wajah penuh kebingungan."Bu, sebenarnya dulu kenapa Kak Raka menikahi Kak Brielle? Kalian nggak pernah benar-benar jelasin ke aku. Aku selalu mengira Kak Raka menikahinya untuk membalas budi. Tapi kalau dilihat dari situasinya sekarang, dia benar-benar mencintai Kak Brielle, 'kan?"Saat topik itu disebut, Meira kembali menghela napas panjang."Dulu aku juga nggak bisa melihat dengan jelas apakah kakakmu su
Di dalam mobil seketika menjadi hening. Dari luar jendela terdengar samar-samar hiruk pikuk kota. Brielle bersandar di kursi sambil memejamkan mata untuk beristirahat, tetapi pikirannya sedang menyusun rencana mengenai detail koordinasi berikutnya dengan pihak militer.Raka menoleh menatap wajah Brielle yang tenang. Bulu matanya yang panjang memantulkan bayangan tipis di bawah kelopak mata. Hidungnya mancung, bibirnya kemerahan dan lembap. Jakun Raka tanpa sadar bergerak pelan.Dalam cahaya yang redup, Brielle bersandar di kursi dengan tenang. Penampilannya begitu lembut hingga membuat hati orang melunak dan memunculkan dorongan dalam diri pria itu untuk memeluknya.Hanya saja, Raka tetap menahan diri meski dorongan dalam dirinya itu begitu kuat. Dia tahu Brielle tidak mau dan tidak akan mengizinkannya melakukan hal itu.Setidaknya, sekarang hubungan mereka mulai membaik. Brielle menerima kerja samanya dan bersedia hidup berdampingan dengannya secara damai. Itu sudah cukup.Mobil berhe
Brielle baru saja selesai bertukar nomor telepon dengan biolog muda itu ketika sebuah suara pria yang rendah dan serak terdengar di sampingnya."Profesor Brielle, sudah selesai ngobrolnya? Bisa bicara sebentar?"Brielle mengangkat kepala dan menjawab, "Baik."Setelah mengangguk pada biolog muda itu sebagai salam perpisahan, Brielle mengikuti Raka ke sisi ruangan."Sepuluh menit lagi aku pulang ke rumah Keluarga Pramudita, mau ikut?" tanya Raka.Putrinya berada di rumah Keluarga Pramudita, tentu saja Brielle harus pergi menjemputnya. Dia pun mengangguk. "Oke, aku ikut."Brielle tidak membawa mobil sendiri dan area di sekitar juga ditutup sehingga sulit mendapatkan taksi. Dia hanya bisa menumpang mobil Raka.Senyuman samar melintas di mata Raka. "Aku suruh Gavin bawa mobil ke depan."Sepuluh menit kemudian, Brielle dan Raka meninggalkan lokasi pesta bersama-sama.Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam. Begitu masuk ke mobil, Brielle memijat pelipisnya dengan lelah. Jamuan sos
Setelah kembali ke tempat duduknya, Devina tiba-tiba diberi tahu oleh bartender bahwa Ignas pergi ke ruang santai untuk beristirahat dan menyuruhnya untuk menyusul nanti.Devina memandang Raka yang berada di tengah kerumunan. Dia menyesuaikan ekspresinya, lalu menghampirinya sambil membawa gelas anggur."Raka, lama nggak bertemu." Devina memaksakan senyuman alami dengan suara manja.Saat itu, Raka sedang berbicara dengan beberapa tokoh senior dunia bisnis. Mendengar suara itu, dia hanya melirik sekilas, bahkan tidak repot-repot menatap langsung.Devina melihat beberapa wajah familier di kerumunan. Sudut bibirnya terangkat. Dari tatapan mereka, dia tahu orang-orang itu dulu pernah salah paham tentang hubungannya dengan Raka."Raka, jangan sedingin itu dong! Bagaimanapun juga, kita ini kenalan lama," kata Devina tanpa rasa malu.Reaksi Raka membuat orang-orang di sekitar sedikit terkejut. Mereka semua tahu Devina pernah memiliki hubungan dengan Raka, tetapi sekarang terlihat jelas Raka s
Lambert sudah kembali dari luar negeri, Vivian juga datang untuk ikut kelas."Bibi Brielle." Vivian melihatnya, lalu menyapa dengan ramah.Brielle membalas dengan senyuman lembut."Mama, boleh nggak aku ajak Vivian main ke rumah kita? Kita sudah lama banget nggak ketemu." Anya menarik tangan Brielle
Brielle membolak-balikkan laporan penelitian di ponselnya, tenggelam dalam bacaannya. Pukul 9.45 pagi, dari arah pintu lift, asisten Raka berjalan cepat menghampiri. "Bu Brielle, Pak Raka sudah menunggu di ruang rapat."Brielle tertegun. Sepertinya resepsionis sudah memberi tahu kantor pusat, jadi R
Di sisi lain, Jay yang melihat semuanya pun menawarkan diri, "Raka, biar aku yang mengantar Brielle pulang!"Devina menggigit bibir, lalu menatap Brielle sambil berkata, "Brielle, aku tahu kamu membenciku, juga nggak butuh perhatianku."Dalam hati Brielle mencibir, 'Kalau tahu nggak dibutuhkan, untu
Raka tiba-tiba berdiri, lalu melangkah ke arah jendela kaca besar yang menjulang."Dengar-dengar, Lukas memberimu sebuah dana penelitian?" tanyanya mendadak.Brielle terkejut sejenak, lalu menjawab datar, "Itu nggak ada hubungannya dengan pekerjaan.""Aku dengar itu dana yang tersisa setelah laborat







