تسجيل الدخولSiang harinya, Raka mentraktir seluruh anggota tim proyek makan bersama di aula perjamuan. Malam harinya, dia juga telah menyiapkan sebuah pesta perayaan berskala besar.Tim Harvis kini telah berkembang menjadi lebih dari 30 orang. Ditambah para asisten dan staf dari berbagai divisi, total ada lima meja yang terisi di aula perjamuan.Brielle duduk bersama tim Harvis di salah satu meja.Raka datang sedikit lebih lambat, tetapi kursi di samping Brielle sengaja dibiarkan kosong untuknya. Seolah semua orang sudah memiliki kesepahaman bahwa tempat di sebelah Brielle memang disediakan bagi Raka.Brielle tidak menyadari hal itu. Dia sedang mendengarkan Harvis menjelaskan rencana proyek berikutnya. Saat membahas topik yang berkaitan dengan bidang mereka, Brielle dan Harvis memang memiliki perasaan seolah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diri masing-masing.Seakan ada hal-hal yang tak perlu Brielle ucapkan karena Harvis sudah bisa menebaknya. Begitu pula sebaliknya. Harvis kadang h
Brielle tidak menghampirinya, melainkan berjalan ke arah Harvis yang sedang berada di samping panggung.Tatapan Raka mengikuti langkahnya. Saat melihat Brielle menyapa dan mengobrol dengan Harvis, dia mendorong pelan kacamata di pangkal hidungnya. Di balik wajahnya yang tampak tenang dan elegan, tersirat gejolak yang sulit disembunyikan.Kemudian, Raka berkata kepada para tamu di sampingnya, "Permisi sebentar."Dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana, dia melangkah ke arah Brielle.Brielle sedang menanyakan kondisi Harvis ketika sebuah suara pria yang rendah terdengar dari belakangnya. "Kamu cantik sekali."Brielle menoleh. Tatapan Raka tertuju lurus kepadanya."Terima kasih." Brielle menatapnya sejenak. Kacamata yang dipakainya hari ini ternyata adalah kacamata yang dulu pernah dia hadiahkan kepada Raka.Harvis berkata kepada Brielle, "Brielle, kalian ke tempat duduk kalian saja. Acara akan segera dimulai."Brielle mengangguk. Dia tidak ingin mengganggu persiapan terakhir Harvis,
Di balik jendela kaca besar, panorama cakrawala kota terbentang luas.Harvis telah pulih dengan sangat baik. Dia mengenakan pakaian rumahan yang nyaman. Wajahnya tampak segar seperti biasa, sorot matanya masih memancarkan kelembutan yang khas.Dibandingkan tiga tahun lalu, kini dia terlihat jauh lebih dewasa."Silakan duduk," kata Harvis. "Mau minum apa? Teh, kopi, atau jus?""Biar aku ambil sendiri." Brielle tidak ingin merepotkannya. Dia kemudian membawa dua gelas air hangat dan kembali duduk.Tatapannya penuh perhatian saat mengamati Harvis. "Gimana keadaanmu? Masih sakit?""Jauh lebih baik. Hanya lukanya mulai terasa gatal karena sedang tumbuh jaringan baru." Harvis tersenyum sambil menggenggam gelasnya. "Jangan khawatir. Dokter bilang pemulihanku berjalan sangat baik."Mendengar itu, Brielle pun merasa lega.Tak lama kemudian, ponsel Harvis berdering. Ternyata telepon dari pengacaranya. Setelah menyelesaikan panggilan itu, dia menoleh kepada Brielle."Vonis untuk Faye kemungkinan
Tetap saja, dia terlalu gegabah. Padahal dia sudah berkali-kali mengingatkan dirinya untuk melangkah perlahan.Namun barusan, saat melihat Brielle memejamkan mata, dengan sudut mata yang berkilau oleh cairan obat sehingga membuatnya tampak begitu rapuh, kebanggaannya atas akal sehat dan pengendalian dirinya seketika runtuh.Yang dia inginkan hanyalah mendekati Brielle dan menyentuhnya, meski hanya dengan sentuhan yang sangat ringan.Kini, dia justru mulai menyesal. Kenapa tadi dia tidak memastikan lebih dulu apakah Brielle masih merasa jijik padanya atau masih menolaknya?Dia bisa merasakan setiap perubahan emosi Brielle terhadap dirinya. Dari rasa benci dan penolakan sebelum perceraian, lalu kebencian setelah mereka resmi bercerai, hingga setahun yang lalu ketika tatapan Brielle akhirnya kembali tenang.Tak ada lagi kebencian, tak ada lagi keluhan. Yang tersisa hanyalah sikap acuh tak acuh. Ekspresi itu jauh lebih membuatnya gelisah daripada kebencian. Seolah dirinya benar-benar telah
Detak jantung Brielle terasa semakin jelas di tengah gelap dan sunyi. Dia dapat dengan jelas merasakan bahwa Raka belum juga menjauh.Napas pria itu masih menyelubunginya, membawa tekanan samar yang sulit diabaikan. Dia bahkan bisa membayangkan Raka sedang membungkuk menatapnya.Karena kedua matanya dipenuhi cairan obat, rasa perih dan tidak nyaman masih terasa. Dia menahannya dan tidak membuka mata.Tak lama kemudian, dia merasakan sisa cairan obat mengalir keluar dari sudut matanya. Entah mengapa, hal itu membuatnya sedikit malu. Rasanya dia seperti sedang menangis.Saat itulah, ujung jari yang hangat menyeka perlahan sisa cairan obat yang mengalir di sudut matanya. Tubuh Brielle sontak bergetar pelan."Bisa tolong ambilkan tisu?" Dia ingin melakukannya sendiri. Namun, pria itu tidak menanggapi permintaannya.Saat Brielle hampir tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak membuka mata, dia tiba-tiba merasakan sentuhan yang luar biasa lembut di sudut matanya.Kali ini ... sepertinya b
"Sayang sekali. Padahal kamu itu tulang punggung teknis di tim kita. Kalau kamu pulang untuk mengurus keluarga, entah kapan bisa kembali lagi ke dunia kerja?""Siapa yang tahu? Kadang aku berpikir, kenapa perempuan selalu harus memilih antara keluarga atau karier? Yang paling nggak adil, yang dikorbankan hampir selalu karier perempuan.""Benar. Seolah-olah perempuan memang harus mengalah demi keluarga dan anak. Kenapa bukan laki-laki saja yang berhenti kerja untuk mengasuh anak? Andai suamiku mau mengurus anak, aku juga nggak ingin melepaskan karierku.""Menjadi perempuan memang sulit. Menyeimbangkan keluarga dan karier bukan perkara mudah."Brielle berdiri di balik sudut lorong. Perasaannya mendadak menjadi rumit.Belakangan ini, Raka memang banyak membantunya, terutama dalam mengurus Anya. Karena terlalu sibuk dengan penelitian, dia memang jarang memikirkan hal itu. Di alam bawah sadarnya, dia selalu menganggap semua itu adalah tanggung jawab Raka sebagai seorang ayah.Namun, setelah
Setelah berpamitan dengan Harvis, Brielle memutuskan pulang dengan taksi.Tak lama kemudian, WhatsApp-nya bertambah satu kontak baru, yaitu Jared, wakil direktur MD. Dia mengirim pesan, berharap ke depannya bisa langsung berkomunikasi dengan Brielle mengenai arah penelitian.Brielle pun menjawab den
'Ya ampun! Pak Raka benar-benar minum dari botol air yang sudah diminum Brielle?'Saat Brielle mengangkat kepala, dari ujung matanya dia melihat botol kosong yang baru saja ditaruh Raka. Dia menoleh dan mendapati botol air yang tadi diminumnya ternyata sudah dihabiskan oleh Raka.Raka mengira Briell
Devina dan adik perempuan Jay terlihat seperti teman dekat. Keduanya berjalan sambil mengobrol dan memasuki gerbang agrowisata.Di mata Brielle, sekilas tampak rasa kesal. Namun, dia tahu Devina adalah "kesayangan" di lingkaran pergaulan Raka. Jay dan Lambert sama-sama bersikap baik padanya. Di seti
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi ngomong seperti itu." Nada suara Raka dingin saat menegur.Di seberang sana, Raline mendengus kesal, lalu memutus sambungan telepon lebih dulu. Tak lama kemudian, telepon dari Meira masuk."Halo, Ibu." Raka berdiri, melangkah keluar dari pintu utama, lalu pergi ke







