Compartir

Bab 315

Autor: Ayesha
Setelah menutup telepon, Niro tersenyum. "Nenek sudah lama menanti kedatanganmu di rumah. Sepertinya dia sudah menyiapkan banyak makanan enak untuk menyambutmu."

Kemudian, mereka memasuki kompleks perumahan bergaya villa. Niro mengajak Brielle masuk ke rumah dua lantai dengan halaman kecil di depannya. Di ambang pintu, seorang wanita tua berambut putih sudah berdiri menunggu.

Brielle langsung mengenalinya sebagai nenek yang pernah dia selamatkan sebelumnya.

Begitu melihat Brielle, Fina bergegas
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Rahma Diana Utami
wah..sepemikiran..aku br mo nulis bgtu ternyata uda keduluan ... dunianya brielle mmg sngt sempit..sll ktmu raka dimana2..mending klo raka g sm si kunyang devina setidaknya g ad yg provokasi brielle
goodnovel comment avatar
Rina Dwi
bapak mayjend... service of act nya boleh juga nih.......
goodnovel comment avatar
Suryat
Raka kyk hantu ada di mana mana...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1264

    Baru saja turun dari pesawat, Brielle langsung dijemput menuju Universitas Medis. Dia berhasil menghadiri rapat tepat waktu.Enam pakar medis sedang berdiskusi mengenai penanganan lanjutan untuk Niro. Saat melihat foto yang muncul di layar, Brielle menahan air matanya sekuat tenaga.Di foto itu, Niro tampak seperti sedang tertidur. Dia mengenakan alat bantu pernapasan dan tubuhnya terlihat jauh lebih kurus."Brielle, kami sudah mendiskusikan situasinya. Sekarang kami ingin dengar pendapatmu." Suara Justin terdengar lembut.Dia juga bisa melihat emosi Brielle sedang bergejolak, tetapi dia berharap Brielle dapat memberikan saran yang memberi mereka harapan.Brielle menarik napas dalam-dalam, menekan rasa sesak yang bergulung di hatinya, lalu memusatkan perhatian pada rapat di hadapannya. Dia mulai menjelaskan perkembangan terbaru dan dasar teori dari proyek BCI dengan runtut dan jelas."Meskipun proyek kami masih agak jauh dari tahap klinis, kalau benar-benar diperlukan, kami tetap punya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1263

    Meskipun Raka berkata begitu, Brielle tetap refleks ingin mengatakan sesuatu lagi untuk menebus sikapnya yang berlebihan hari ini.Namun, saat dia mengangkat kepala, pandangannya justru bertemu dengan sepasang mata yang sedalam lautan. Di dalamnya samar-samar bergolak emosi yang rumit.Tatapan Raka terlalu terang-terangan, seolah-olah membawa suhu yang membakar. Brielle tanpa sadar memalingkan wajah, menghindari tatapan panas pria itu."Sudah malam, kamu juga pasti capek. Pulanglah dan istirahat."Raka menatap sorot mata Brielle yang menghindar. Dia segera menyembunyikan seluruh emosi di matanya dan kembali berbicara dengan tenang, "Kamu juga istirahat. Jangan terlalu banyak mikir."Setelah berkata begitu, dia tidak tinggal lebih lama lagi dan berjalan menuju pintu.Baru setelah mendengar suara pintu tertutup, Brielle perlahan menghela napas lega. Bahu yang semula tegang ikut mengendur. Dia bersandar di meja dapur sambil menghabiskan segelas air sebelum ke atas.Selesai mandi dan baru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1262

    "Aku ngerti kesulitan Bapak." Brielle menahan emosinya dan berusaha menjawab dengan tenang."Terutama Raka, dia menanggung tekanan yang sangat besar. Dia bukan hanya harus mengoordinasikan sumber daya untuk mendorong proyek ini, tapi juga terus mendesak kemajuan penelitian.""Aku harap kamu jangan melampiaskan kemarahanmu padanya karena hal ini. Meskipun dia mantan suamimu, dia juga mitra yang layak dipercaya. Demi urusan Niro, kali ini dia sudah banyak berkorban."Sorot mata Brielle dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan. Dalam masalah ini, dia memang sudah terlalu berlebihan terhadap Raka."Tenang saja. Sekarang aku sudah mengetahui kebenarannya dan aku juga akan berusaha sekuat tenaga mempercepat perkembangan penelitian supaya proyek ini bisa segera memasuki tahap klinis.""Bagus, bagus. Aku jadi lega kalau kamu bilang begitu." Faisal terdengar sangat terhibur. "Kalian semua sudah bekerja keras.""Niro terluka demi negara. Semua ini memang sudah seharusnya kulakukan.""Baiklah, aku t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1261

    Tatapan Raka sedikit bergerak, dia menatap Brielle dengan terkejut.Brielle kembali meminta maaf, "Aku seharusnya nggak mempertanyakanmu seperti tadi. Aku tahu menyembunyikan semua ini dariku bukan keputusanmu, tapi perintah Pak Faisal."Raka menatap wanita di sampingnya. Tatapannya jernih dan tulus, membawa pengertian yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi dia lihat. Dadanya terasa sesak."Terima kasih sudah menanggung tekanan demi menarikku kembali ke proyek ini. Terima kasih juga atas investasi yang kamu berikan untuk proyek ini. Keluarga Niro juga seharusnya berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk mereka. Kalau Niro masih bisa selamat ...."Brielle menggigit bibir merahnya. Tenggorokannya tercekat hingga dia tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Hanya air mata yang berputar di pelupuk matanya.Jantung Raka terasa diremas. Ada rasa pahit dan kelegaan yang sulit dijelaskan bercampur di dadanya. Dia menghela napas pelan."Janji padaku, kita harus menyelamatkan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1260

    "Dia masih bisa bertahan?" tanya Raka dengan suara berat."Tim kami sudah berhasil menstabilkan kondisinya, tapi kami juga nggak tahu dia bisa bertahan sampai kapan. Penelitian ini harus dipercepat.""Baiklah, aku sudah tahu." Raka memijat pelipisnya.Dari seberang, Justin terdengar sedikit lega. "Kalau begitu ... aku serahkan Brielle padamu."Setelah telepon ditutup, Raka menoleh menatap pintu ruang istirahat yang tertutup rapat. Sorot matanya dalam.Wajah marah Brielle tadi terasa seperti jarum kecil yang menusuk hatinya. Dia tahu, kepercayaan di antara mereka yang semula sudah rapuh kini semakin hancur setelah kejadian ini.Sepuluh menit kemudian, Raka mendengar pintu ruang istirahat terbuka dari dalam. Brielle sedang menunduk merapikan kerah bajunya dan rambutnya yang sedikit berantakan. Emosinya tampak tenang setelah sempat runtuh, tetapi itu hanya di permukaan. Di matanya masih terlihat jelas kecemasan dan kegelisahan yang pekat."Kepalamu sudah nggak pusing?" Raka segera melangk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1259

    Lengan di pinggang memeluknya dengan kuat, menopang tubuhnya yang hampir jatuh."Ada apa?" Suara rendah Raka terdengar sedikit tegang. "Pusing atau bagian jantung sakit?""Pusing." Brielle memejamkan mata. Suaranya serak karena habis menangis. Sensasi pusing membuatnya merasa langit dan bumi ikut berputar setiap kali bergerak sedikit.Saat ini, Brielle sebenarnya masih ingin mendorongnya menjauh. Namun, dia sadar sekarang bahkan untuk berdiri tegak saja dia sudah tidak punya tenaga.Guncangan emosi yang besar ditambah pekerjaan intens beberapa hari terakhir akhirnya membuat tubuhnya memberi perlawanan.Raka mengernyit. Tanpa banyak bicara lagi, dia sedikit membungkuk, menyelipkan lengannya ke bawah lutut Brielle, lalu langsung menggendongnya."Lepaskan aku ...." Brielle meronta.Namun, Raka sama sekali tidak memedulikannya. Dia menggendong Brielle menuju sebuah pintu tersembunyi yang menyatu dengan rak buku di sisi dalam kantor.Di balik pintu itu ternyata ada ruang istirahat pribadi d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 79

    "Ada apa?" Suara Raka terdengar serak, wajah tampannya tampak mengantuk.Brielle menurunkan pandangan. Sesaat, kilat kebencian melintas di matanya. Dia turun dari tempat tidur, tidak ingin melihat Raka lagi.Tatapan Raka tertuju ke arah punggung Brielle. Sorot mata yang biasanya tajam, kini semakin

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 75

    Setelah keluar dari lantai sepuluh, akhirnya telinga Brielle sedikit tenang. Dia tersenyum tipis. Jadi, Faye dengan entengnya mengambil alih hasil penemuannya?Bunyi lift menandakan pintu terbuka. Brielle melangkah menuju ruangannya. Golda pun menyambut dengan semangat. "Kak Brielle sudah datang!"M

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 113

    Saat ini, seorang pemimpin datang menghampiri Raka untuk berjabat tangan dan berbincang."Pak Raka, terima kasih banyak atas dana bantuan yang sudah kamu berikan kali ini. Mewakili seluruh anggota kelompok kami, aku mengucapkan terima kasih," kata pemimpin itu."Nggak perlu sungkan, ini sudah kewaji

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 73

    Saat berjalan di lingkungan Universitas Kedokteran, Faye sering dikelilingi oleh adik-adik kelas. Beberapa bahkan memintanya tanda tangannya. Faye merasa agak canggung, tetapi perasaan dipuja dan dihormati itu tetap menyenangkan baginya.Hanya saja, setiap kali ditanya bagaimana dia menemukan formul

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status