Share

Bab 361

Author: Ayesha
"Kedengarannya memang bagus." Seorang direktur di sisi kiri, Loki, tiba-tiba menyela, "Tapi sejauh yang aku tahu, proyek ini akan membutuhkan investasi yang sangat besar."

"Bu Brielle, gimana kamu berencana menangani masalah pendanaan? Sekarang kita sudah terpisah dari Grup Pramudita, seharusnya nggak bisa lagi bergantung pada Pak Raka, 'kan?"

Nada sarkastis yang terselip dalam kata-katanya membuat Frederick langsung mengernyit.

Gavin menunduk sambil mencatat sesuatu, tetapi sama sekali tidak be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Raehana Hakim
mulai malas bacanyaaa ceritanyaa gk tamat
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
hebat gavin jd penyelamat rapat kali ini
goodnovel comment avatar
Azkadina Putri Wahyudin
ini ceritanya kapan sampai di inti.mutar2 saja di situ2 hhh... !!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1252

    Waktu itu, Freyna yang datang lebih awal untuk menjemput di bandara juga berhasil mengambil foto-foto itu dengan sempurna. Devina langsung menyerahkannya ke media. Dia tidak tahu apakah Brielle melihatnya atau tidak, hanya saja foto-foto itu baru tayang setengah hari sudah ditemukan Gavin, lalu dia menelepon media dan meminta foto-foto itu diturunkan.Namun dia merasa, Brielle yang begitu memperhatikan setiap gerak-geriknya bersama Raka pasti sudah melihatnya.Tentu saja Devina tidak tahu, saat itu Brielle sudah menyewa detektif pribadi untuk memotret adegan itu dan mengirimkannya padanya. Semua itu menjadi bukti yang membuat Brielle semakin mantap memutuskan untuk bercerai.Devina benar-benar menyesal dulu dia tidak sedikit lebih berani. Kalau saja dia mencampurkan sesuatu ke dalam air minum Raka lalu mengirim Gavin pergi sejauh mungkin, mungkin dia dan Raka sudah lama tidur bersama.Asal mereka melakukannya sekali saja, dia tidak percaya Raka bisa menolaknya untuk kedua kali dan keti

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1251

    Raka berdiri tanpa ekspresi. "Nggak apa-apa."Gavin sangat paham, bosnya membuat kontrak baru itu justru untuk menghindari berhadapan langsung dengan Ignas dan sengaja mengurangi risiko. Bagaimanapun, Ignas juga tokoh besar di dunia teknologi. Meskipun Grup Pramudita sudah punya fondasi yang kuat, mereka tetap tidak ingin menambah musuh.Apalagi sampai harus membuat dua perusahaan besar saling berkonflik hanya karena Devina.Saat Raka hampir keluar dari ruang rapat, dia menoleh dan memberi perintah, "Kirim orang untuk cek kondisi pajak Ignas."Gavin langsung mengerti. Bosnya tidak pernah bertarung tanpa persiapan. Dalam banyak hal, dia selalu memilih menyerang lebih dulu. Kalau Ignas benar-benar bersikeras membela Devina, maka konflik dengan Grup Pramudita tidak akan terhindarkan.Sementara itu, Devina sudah duduk di dalam mobil. Dia hanya terdiam. Freyna yang duduk di sampingnya juga tidak berani bertanya. Dia hanya melihat Devina terus mencengkeram jari-jarinya, menggertakkan gigi, j

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1250

    Devina langsung berdiri. "Jangan harap, aku nggak akan pernah menandatangani kontrak seperti ini."Gavin di sampingnya menjelaskan, "Bu Devina, sebaiknya Anda melihat kontrak baru ini dengan teliti. Ini justru lebih menguntungkan bagi Anda."Devina mencibir. "Menguntungkan bagiku?" Tatapannya penuh kebencian menatap wajah tampan Raka. "Sepuluh tahun ini aku sudah mencurahkan begitu banyak perasaan untukmu. Apa yang aku dapatkan? Kamu bahkan nggak pernah menyentuhku.""Raka, bisa saja kalau mau aku tanda tangan. Aku punya dua syarat, lihat saja kamu berani setuju atau nggak. Pertama, temani aku tidur selama satu tahun. Kedua, seumur hidup nggak boleh bertemu Brielle lagi, apalagi menikah kembali dengannya."Gavin di sampingnya langsung terbatuk kecil dengan canggung. "Bu Devina, tolong jaga sikap."Tatapan Raka seketika membeku. Suasana ruang rapat menjadi mencekam."Kenapa? Nggak mau? Aku nggak minta hadiah juga nggak apa-apa, aku juga bisa tetap donor darah untukmu, asalkan kamu memen

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1249

    Tak lama kemudian, suara Gavin terdengar dengan nada sopan yang formal. "Bu Devina, silakan naik."Devina menoleh dan melotot ke arah resepsionis. "Perlu kamu cek lagi identitasku?"Resepsionis itu menoleh, lalu melihat rekannya memberi isyarat. Dia segera tersenyum dan mempersilakan Devina. "Bu Devina, maaf, silakan lewat sini."Devina kembali mengenakan kacamata hitamnya. Dagunya terangkat dan melangkah dengan angkuh menuju lift pribadi milik Raka. Perasaan itu seolah-olah dia sudah sangat terbiasa.Di sampingnya, resepsionis itu diam-diam bergumam dalam hati. 'Jelas-jelas minggu lalu Pak Gavin sudah kirim email bahwa Devina nggak boleh lagi naik ke kantor eksekutif. Apa sekarang Pak Raka kembali berbaikan dengannya?''Apakah dia masih kandidat calon nyonya besar?'Memikirkan itu, resepsionis itu diam-diam melirik Devina. Dengan dandanan yang rapi, dia memang tipe wanita yang mudah menarik perhatian pria.Belakangan ini, gosip di perusahaan sudah beredar dalam berbagai versi. Katanya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1248

    Devina berpura-pura malu dan menurunkan suaranya. "Malam itu kakakmu sangat bersemangat, bahkan bilang aku lebih mengerti dia dibanding Brielle ....""Diam." Raline menggertakkan gigi dan menatapnya tajam. "Devina, kamu benar-benar membuatku muak.""Muak?" Devina tertawa ringan. "Dulu waktu kamu berharap aku jadi kakak iparmu, kenapa nggak merasa muak?"Saat itu pegawai menyerahkan kotak hadiah. Raline menerimanya lalu berbalik pergi.Devina menatap punggung Raline yang menjauh. Mood belanjanya langsung hilang. Sebaliknya, dia teringat ada satu hal yang harus segera dia urus, yaitu soal meminta hadiah dari Raka. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan hadiah bernilai miliaran begitu saja."Nggak jadi belanja, temani aku ke Grup Pramudita," kata Devina pada Freyna."Devina, mau ngapain kamu ke sana?" Freyna sedikit terkejut. Bukankah Raka sudah tidak mau menemuinya?"Tentu saja untuk menemui Raka." Devina mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya, menutupi ambisi dan keserakahan di matanya.S

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1247

    Devina tiba-tiba merasa bosan. Ignas tidak punya waktu menemaninya, tapi memberinya sebuah kartu kredit untuk berbelanja. Batasnya tidak disebutkan, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan.Devina menghubungi Freyna untuk membawa mobil van menjemputnya. Mereka berdua menuju pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota. Di perjalanan, Freyna sudah mengecek bahwa tas edisi terbatas yang diincar Devina sudah resmi dijual.Sorot mata Devina langsung dipenuhi ambisi. Begitu turun dari mobil, mereka berdua langsung menuju butik mewah itu.Dengan sepatu hak tinggi, Devina melangkah masuk ke dalam toko. Sekilas saja, dia langsung melihat tas itu dipajang di posisi paling mencolok. Matanya berbinar. Tepat saat itu, terdengar langkah kaki dari belakang. Dia langsung menoleh, karena jelas banyak orang yang datang demi tas tersebut.Saat melihat siapa yang datang, mata Devina sempat terkejut, lalu dia segera menampilkan senyum khasnya. "Lama nggak ketemu, Raline."Raline datang bersama seorang teman

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 632

    "Awas!" Sebuah sosok tiba-tiba menerjang dari samping dan mendorongnya dengan kuat. Brielle terhuyung beberapa langkah, lalu berlutut di tanah, sementara suara benturan berat terdengar dari belakangnya.Dia menoleh dengan rasa takut. Tiga meter dari tempat dia berdiri tadi, Lambert terbaring miring

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 628

    Malam itu setelah mandi, Brielle duduk di sofa menonton berita sambil menggulir beberapa video pendek yang sedang populer belakangan ini.Tiba-tiba, di layar muncul sebuah video pendek Devina di bandara, diunggah oleh salah satu penggemarnya. Devina mengenakan gaun panjang seksi dan bepergian bersam

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 608

    Pembantaian oleh kapitalis biasanya berlangsung tanpa suara.Saat itu, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengambilnya dan melihat sekilas. Nomor tak dikenal. Dia ragu sejenak, lalu mengangkatnya, "Halo, siapa?""Profesor Brielle, aku Nicholas. Mungkin kamu nggak terlalu mengingatku."Nicholas? Tentu saja

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 633

    "Vivian makan malam di rumahku. Kamu mau makan apa? Biar kubungkuskan untukmu," tanya Brielle padanya.Lambert tersenyum simpul. "Terserah. Tapi dokter menyarankanku makan yang ringan.""Di sebelah rumah sakit ada toko bubur, enak sekali. Aku beli bubur untukmu ya," kata Brielle."Baik." Mata Lamber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status