Share

Bab 431

Penulis: Ayesha
Brielle menatap punggung Raka dengan amarah yang membara.

Begitu menekan tombol lift, dia terkejut melihat Raka masih di dalam. Dia bersandar santai di dinding kabin sambil menatap layar ponsel. Dengan rasa jengkel, Brielle melangkah masuk. Dia sadar Raka bahkan belum menekan tombol lantai mana pun, jadi dia menekan lantai kantornya sendiri dan berdiri di posisi paling jauh darinya.

Begitu pintu lift terbuka, Brielle keluar dan langsung melihat Jared berjalan cepat ke arah lain. Saat melihat mer
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Antono Kastani
faye sundal Devina Raline cewek murahan otaknya zonk cuma karena diratukan dan dpt perioras utama dr CEO oon JD sok pinter tp omong doang sejatinya cuma modal selakangan dan wajah polesan aja u menarik mangsa atau CEO botol bodoh tolol
goodnovel comment avatar
Suryat
si faye pinternya ngomong doang otaknya kosong
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1096

    Brielle tertegun sejenak, lalu segera tersenyum, "Nggak perlu, aku turun sekarang."Brielle membawa tasnya turun. Saat melangkah keluar dari lift di lantai satu, dia melihat sosok tinggi tegap berdiri beberapa meter di depan. Pria itu tidak sedang melihat ponsel, melainkan menunggu seseorang dengan sabar.Tatapan Brielle bertemu dengan tatapannya. Pria itu langsung tersenyum.Melihatnya, hati Brielle sedikit diliputi rasa bersalah. Dia teringat terakhir kali pria itu datang mencarinya, Brielle bahkan tidak sempat menahannya untuk makan."Lama nggak ketemu." Brielle mengangkat kepala menatapnya, lalu menyadari ada bekas luka beberapa sentimeter di samping dahinya. Meski tidak terlalu mencolok, jelas itu bekas jahitan.Brielle langsung mendekat beberapa langkah dan memperhatikan luka itu, "Kenapa kamu bisa terluka begini?"Niro mengangkat tangan dan menyentuhnya. "Kena gores peluru sedikit, nggak apa-apa, cuma luka kecil."Napas Brielle sempat terhenti beberapa detik. Sulit dibayangkan b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1095

    Saat itu, seorang asisten mendekat dan berkata, "Kak Faye, kamu juga lagi lihat berita tentang Brielle ya?"Faye mencibir, "Apa yang menarik dari itu.""Dengar-dengar, Kak Faye dulu satu kelas sama Brielle? Benarkah?" tanya asisten itu dengan nada penasaran.Faye tersenyum sinis, "Iya, satu kelas. Dia itu cuma mengandalkan ayahnya dan mantan suaminya, Raka. Masih berani membual di sini."Asisten itu langsung mendekat dengan wajah penuh penasaran, "Kak Faye, yang kamu bilang itu benar? Brielle bisa dapat penghargaan itu karena ayahnya dan mantan suaminya?"Saat itu, asisten lain di samping mereka ikut menyela, "Tapi dia juga cukup hebat, 'kan?""Hebat apanya? Ayahnya dulu sudah meninggalkan banyak catatan penelitian. Dia cuma menginjak dasar akademik ayahnya untuk melakukan riset. Bukannya wajar kalau bisa dapat beberapa terobosan?" kata Faye dengan nada meremehkan.Kedua asisten itu langsung mengangguk setuju, di mata mereka tampak sedikit pemahaman, "Kalau begitu, Brielle juga biasa s

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1094

    Pusat Konferensi Nasional Kyoza tampak megah dan meriah.Pukul dua lewat tiga puluh sore.Brielle mengenakan setelan kerja abu-abu gelap yang elegan, berdiri di bawah sorotan lampu dan menerima piala. Pidato penerimaannya singkat dan kuat. Dia berterima kasih kepada tim dan orang-orang yang mendukungnya, serta secara khusus menyebut pengaruh ayahnya terhadap dirinya.Saat itu, seorang pria yang sedang duduk di pesawat menunggu lepas landas kebetulan melihat siaran langsung Brielle di atas panggung. Dia teringat gadis muda yang dulu masih polos, kini telah tumbuh menjadi ilmuwan yang mampu berdikari."Pak, boleh minta tolong matikan ponselnya? Pesawat kami akan segera lepas landas," ucap pramugari sembari tersenyum manis.Raka mengangguk. Namun pada saat itu, dia tanpa sadar membuka kontak Brielle dan menulis sebuah kalimat.[ Kalau ayahmu masih hidup, dia pasti akan bangga padamu. ]Setelah menulisnya, Raka menatap pesan itu cukup lama. Pada akhirnya, dia tetap menutup layar, lalu mema

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1093

    "Profesor, memangnya ada hal begitu?" Brielle berkedip.Louie menatapnya. "Waktu itu kamu menolak kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, kamu lupa? Tapi, kuota ini selalu aku simpan untukmu," katanya. "Aku ingat waktu itu aku suruh Madeline untuk menanyakanmu. Dia bilang kamu nggak berencana pergi ke luar negeri karena anakmu."Ingatan Brielle langsung kembali ke dua tahun lalu. Dia memang samar-samar mengingat Madeline pernah menanyakan hal itu dan dia juga dengan tegas menolaknya."Kuota ini diperjuangkan khusus oleh Raka untukmu. Sayang sekali kalau kamu nggak pergi," lanjut Louie, "Tapi dengan pencapaianmu sekarang, itu juga sudah sangat membanggakan."Mata Brielle sedikit membelalak. Kuota yang diperjuangkan Raka untuknya? Bukankah itu waktu dia memberikan kuota program gabungan sarjana-doktor kepada Faye? Dia ternyata membuat pengaturan seperti ini untuknya?Brielle tersenyum tipis. "Aku nggak bisa pergi. Waktu itu anakku sangat membutuhkan aku. Sebagus apa pun kesemp

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1092

    Brielle melepas masker oksigen. Raka segera memeriksa kondisinya. Selain wajahnya sedikit pucat dan rambutnya agak berantakan, tidak ada ketidaknyamanan lain pada Brielle.Melihat rambut panjang Brielle yang berantakan menutupi wajahnya, Raka tanpa sadar mengulurkan tangan ingin merapikannya. Namun, Brielle mengira Raka akan melakukan sesuatu sehingga dia langsung menoleh dan menatapnya tajam. Tangan Raka terhenti di udara, lalu dia mengepalkannya dan menarik kembali.Brielle melepas ikat rambutnya. Rambut panjangnya yang mencapai pinggang terurai dengan halus. Dengan cekatan, dia mengikatnya kembali menjadi kuncir rendah di belakang kepala. Gayanya terlihat santai tetapi memikat."Kamu benar," kata Raka sambil menatapnya dengan dalam, "Kita memang nggak seharusnya mengambil risiko ini."Brielle menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali memandang lautan awan berlapis-lapis di luar jendela, "Ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua."Raka mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1091

    Tiga hari kemudian, Brielle bersiap berangkat ke Kyoza untuk menghadiri upacara penghargaan. Karena perjalanan itu memakan waktu dua hari, dia terpaksa menghubungi Raka untuk membicarakan soal menjaga anak mereka.Selama dua hari ini Raka tidak berada di laboratorium, jadi dia hanya bisa menghubunginya lewat telepon."Besok pagi aku ke Kyoza naik pesawat jam sepuluh. Anya perlu kamu jaga selama dua hari," kata Brielle di telepon."Oke, aku akan jaga Anya dengan baik," jawab Raka dengan sangat tegas.Melihat dia sudah setuju, Brielle pun tidak punya hal lain untuk dibicarakan dan langsung menutup telepon.Hari Jumat pagi, Brielle mengantar Anya ke sekolah. Anya juga tahu ibunya akan pergi menerima penghargaan. Dia sangat bangga dan berjanji akan bersikap baik sambil menunggu ibunya pulang.Setelah mengantar anaknya, Brielle naik taksi menuju bandara. Upacara penghargaan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional dijadwalkan pukul dua siang dan dia masih sempat mengejarnya.Sesampainya di ba

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 126

    Raka tidak menghampiri putrinya untuk menyapa, melainkan langsung pergi. Sepertinya, kekasih di hatinya sudah menempati posisi yang lebih penting daripada putrinya.Beberapa menit kemudian, Lambert datang. Dia tampak sedikit menyesal. "Maaf, tadi macet."Brielle tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, mere

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 142

    Akhir pekan, Brielle tetap tinggal di rumah. Raka pergi ke rumah Keluarga Pramudita untuk menemani Anya dan Brielle tidak ikut.Hari Senin.Setelah mengantar Anya, Brielle langsung menuju lokasi ujian di Fakultas Kedokteran. Jurusan utamanya adalah Ilmu Penyakit Dalam, tetapi ujian lulus percepatan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 145

    Brielle melirik sekilas tesis itu, lalu tersenyum tipis. "Menurut Profesor Madeline sendiri bagaimana?"Andai Brielle gagal lulus ujian kali ini, Madeline pasti akan mengira itu hanyalah peninggalan Adam. Namun dengan nilai yang begitu mencengangkan, dia benar-benar bisa memercayai bahwa itu adalah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 149

    Devina menggigit bibirnya, memegang cangkir teh dengan ekspresi sedikit canggung. Dialah guru piano pertama Anya, tetapi sekarang Anya sama sekali tidak menyebut namanya.Melihat Anya mengangkat dagu mungilnya yang bulat, menatap Brielle dengan penuh kekaguman, Devina tak kuasa mencaci dalam hati, '

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status