MasukNiat hati meminta bantuan atasannya yang dingin dan gila, Amaya Risjad justru mendapat tawaran kesepakatan yang membuatnya semakin gila! Dhanadoya Kusuma Wardhana, atasan menyebalkan nan perfeksionis yang membuat Amaya tidak tenang selama 24/7 hari dalam hidupnya, tiba-tiba menawarkan sebuah pernikahan padanya. Amaya tidak menduga kegilaannya meminta bantuan pada Dhanadoya justru menuntunnya pada hidup baru. Setelah ini, apakah hidup Amaya akan semakin gila bersama Dhanadoya atau justru sebaliknya, atasannya itu yang akan tergila-gila pada Amaya setelah hidup bersamanya?
Lihat lebih banyak“Risjad, kamu udah berapa tahun kerja sama saya, kenapa kayak gini aja nggak becus? Revisi lagi. Rapikan dalam tiga puluh menit.”
Amaya menghela napas pelan, sebelum melempar senyum karir ke hadapan atasannya, dan berkata, “Baik, Pak. Akan saya laksanakan.” Setelah itu, Amaya berbalik dan pergi dari sana.
Keluar dari ruangan CEO Wardhana Group yang megah, dada Amaya sesak, dan kepalanya pening bukan main. Sambil menutup pintu kayu jati di belakangnya Amaya menoleh dan menggerutu di depan pintu. “Tiga puluh menit? Dia pikir aku ini penyihir?”
Tetapi, hanya itu yang bisa dia lakukan.
Karena Amaya tetap berjalan ke kubikelnya, tetap melakukan pekerjaannya.
Karena Amaya adalah potret budak korporat Jakarta, yang lelah, stres dan selalu dikejar tenggat waktu. Kalau ditanya apa pencapaian terbesar hidup Amaya, dia akan menjawab berhasil bertahan menjadi sekretaris Dhanadoya selama tiga tahun.
Dhanadoya Kusuma Wardhana.
Pria paling menyebalkan di muka bumi.
Pria itu baru berusia 33 tahun, tetapi di usianya saat ini dia sudah menjabat sebagai CEO sekaligus pewaris utama Wardhana Group, sebuah konglomerat keluarga yang bergerak di berbagai proyek properti elit, jaringan hotel bintang lima, deretan mal termewah di ibu kota, hingga kepemilikan maskapai penerbangan swasta kelas premium.
Tampan dan berwibawa. Semua orang mengaguminya, para wanita berlomba untuk mendapatkan perhatiannya, para pria berusaha untuk bisa menjadi rekan kerjanya.
Namun bagi Amaya, Dhanadoya tidak lebih dari seorang monster berwujud manusia.
Pria itu adalah bos yang gila kerja, kejam, dan perfeksionis setengah mati. Dua puluh empat jam sehari, hidup Amaya harus berputar mengelilingi pria itu.
Jika bukan karena harus tetap hidup, Amaya sudah melempar surat resign ke wajah tampan pria itu sejak tahun pertama.
“May? Masih hidup, ‘kan?”
Sebuah kepala menyembul dari balik partisi kubikel.
Feya.
Sahabat karib Amaya sejak zaman kuliah, yang mengetahui semua seluk-beluk kehidupan Amaya, yang mau menampungnya sejak Amaya keluar dari rumah ayahnya.
Dan, dia juga yang melempar Amaya ke kandang singa ini.
“Sedikit lagi mati,” gumam Amaya lesu.
Feya terkekeh pelan, lalu meletakkan es kopi hitam manuka di dekat Amaya. “Ini, minum dulu.”
Amaya langsung menyambar gelas kopi dan menyeruputnya cepat.
Feya melipat dan menyandarkan kedua tangannya di atas partisi, memerhatikan Amaya yang semangat meminum kopinya. “Pelan-pelan, May. Kenapa, sih? Habis diomelin sama Kak Dhana?”
Mata Amaya mendelik masih sambil meminum kopinya. “Jangan tanya,” kata Amaya setelah menaruh gelas kopinya yang tinggal setengah di meja. “Aku cuma salah ketik satu huruf, tapi sepupumu itu memperlakukanku kayak yang paling salah di muka bumi.”
Feya menepuk-nepuk bahu Amaya prihatin. "Sabar, Amaya sayang. Lagipula, besok kan Sabtu. Kita bebas dari kantor ini!"
Mendengar kata 'Sabtu', mata Amaya langsung sedikit berbinar.
"Besok reuni kuliah kita, kan? Kamu jangan cemberut terus," goda Feya dengan senyum misterius. "Ingat, besok ada siapa?"
Jantung Amaya mendadak berdegup kencang. Rasa kesal akibat omelan Dhanadoya mendadak menguap begitu saja.
"Audy..." gumam Amaya pelan, pipinya mendadak terasa hangat.
Audy Pradana. Cinta terpendamnya sejak semester pertama kuliah yang hingga kini belum sempat dia nyatakan.
"Nah, makanya!" Feya mencondongkan tubuhnya, berbisik bersemangat. "Cepat selesaikan revisi laporan dari kakak sepupuku yang kata kamu gila itu. Setelah itu kita pulang, tidur yang cukup, dan besok pagi kita ke salon biar kamu kelihatan cantik badai di depan Audy."
Amaya menatap Feya, lalu tersenyum bahagia. Harapan untuk bertemu Audy besok menjadi satu-satunya semangat yang tersisa di tubuhnya malam ini.
"Oke," jawab Amaya mantap. Kesepuluh jemarinya menyatu terangkat di udara. "Aku akan selesaikan ini dalam lima belas menit. Demi Audy!"
“Mantap!” seru Feya semangat, bertepuk tangan satu kali. “Kalau gitu, aku kembali ke ruanganku. Kalau kamu masih lembur, aku pulang duluan. Aku tunggu di apart.”
Amaya mengangguk semangat sambil menggulung rambutnya dengan pulpen. Demi reuni dan Audy, semangat Amaya kembali berkobar.
Amaya benar-benar membuktikan ucapannya. Laporan itu selesai lebih cepat dua menit dari tenggat waktu. Amaya menyerahkan dokumen laporan dan menaruh laporan itu di sisi meja Dhanadoya. “Sudah saya revisi.”
Pria itu masih bekerja di kursinya, menunduk berkutat dengan berkas-berkas lain di hadapannya. “Ya.”
“Kalau tidak ada lagi, saya permisi, Pak.”
Karena tidak ada jawaban, Amaya membungkuk hormat dan hendak berbalik, tetapi suara Dhanadoya menghentikan niatnya.
“Kamu boleh pulang.”
Mendengar itu, mata Amaya langsung membola. Wah, Amaya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Tidak pernah dalam satu hari selama hampir seribu hari bekerja dengan pria ini, atasannya memperbolehkannya pulang lebih dulu. “Serius, Pak? Tapi, Bapak belum selesai.”
Dhanadoya meletakkan pulpennya, menyandarkan tubuh kemudian bersedekap menatap Amaya. “Oh, kamu nggak mau pulang?”
Tanpa menunggu respon lain dan membuat atasannya berubah pikiran, Amaya langsung membungkukkan badan sembilan puluh derajat secepat kilat. “Saya pulang duluan, Pak. Terima kasih. Sampai jumpa Senin.”
Setelah itu, Amaya berbalik, berjalan dengan langkah seribu keluar dari ruangan Dhanadoya.
Amaya pulang dengan perasaan membuncah. Di akhir pekan bisa pulang lebih dulu dan menunggu hari esok bertemu pujaan hatinya, meskipun harus menempuh kemacetan Jakarta yang melelahkan.
Karena itu pula, ketika sampai di apartemennya, begitu selesai membersihkan diri, Amaya langsung tidur.
Namun, alam bawah sadarnya sepertinya tidak bisa diajak bekerjasama.
“Risjad, jadwal saya mana?”
“Risjad, kenapa kopi saya belum ada di meja?”
“Risjad.”
“Risjad ….”
“AMAYA RISJAD! BANGUN, INI SUDAH JAM BERAPA?!”
Amaya langsung tersentak bangkit dari tidurnya. Napasnya terengah-engah, dengan pelipis yang sedikit basah oleh keringat dingin.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar hingga tatapannya jatuh pada sosok Feya.
Sahabatnya itu tengah berdiri di samping kasur, bersedekap dengan wajah kesal. Namun, melihat ekspresi galak Feya sama sekali tidak membuat Amaya tersinggung.
Justru sebaliknya. Ada rasa lega yang luar biasa menyerbunya.
Itu semua cuma mimpi!
Tiba-tiba, mata Amaya memanas. "Feyaaaaaa!!!! Huaaaaaa!"
Air mata Amaya tumpah seketika.
Napas Amaya tertahan seketika. Suara bariton yang amat familier itu rasanya terdengar begitu dekat di balik punggungnya. Dengan gerakan kaku, Amaya memutar tubuhnya. Di hadapannya, Dhanadoya berdiri dengan kaus santai dan rambut yang masih acak-acakan, khas orang yang baru bangun tidur, tapi belum pernah Amaya lihat sebelumnya! Justru karena penampilan kasual seperti ini, aura tampannya meningkat berkali-kali lipat! “D-Dhana?” Amaya memaksakan senyum canggung, mencoba mencairkan atmosfer yang tiba-tiba kaku karena kehadiran Tuan Muda di dapur. “Kenapa sudah bangun? Tadi masih tidur…?” “Aku terbangun karena tidak melihat istriku di sampingku,” balas Dhanadoya santai. Suaranya terdengar begitu tenang dan hangat, saking tenangnya membuat Amaya benar-benar lupa bernapas dan tersentak pelan. Oh, benar. Di rumah ini, mereka harus berakting sebagai pasangan suami-istri yang saling mencintai. “O-oh… kamu mau sarapan apa?” Amaya buru-buru menguasai diri, menenangkan dadanya yang terus b
Amaya bisa merasakan atmosphere di ruang makan ini berubah semakin dingin setelah Dhanadoya bicara.“Dhana.” Suara Arya yang tegas memecah ketegangan di meja makan ini.Amaya masih menatap cemas karena nada bicara Dhanadoya yang terdengar tak bersahabat sama sekali pada ibunya.Dengan kesadaran penuh, Amaya menyentuh tangan Dhanadoya, seolah dia ingin menenangkan dan meredam apa pun yang membuat Dhanadoya kesal.Ratna menatap beberapa saat pada Dhanadoya. Napasnya berembus pelan, lalu dengan nada datar dia membalas, “Mama hanya bertanya. Jika kalian tidak mau menjelaskan, mama tidak akan bertanya lagi.”Tatapan Ratna tertuju sejenak pada Amaya tanpa kata, lalu mengalihkan pandangan ke piring di meja. Ratna tidak peduli siapa yang dinikahi Dhanadoya. Benar kata putranya, sejak kapan dia peduli pada apa yang dilakukan Dhanadoya.Di samping Ratna. Mata hitam Ryan terus tertuju pada Amaya. Dia berdiri dari duduknya setelah mendengar perdebatan antara sang mama dan sang kakak. Sambil seten
Amaya menoleh pada Dhanadoya. Dan, saat itu Amaya menyadari kalau tatapan Dhanadoya berubah.Dingin dengan sorot mata yang menajam.Belum lagi, Amaya bisa merasakan genggaman jemari Dhanadoya yang mengerat. Sama persis saat Amaya menghadapi keluarganya sendiri dalam kondisi tak nyaman dan tak menyenangkan.Saat Amaya masih menatap ekspresi wajah Dhanadoya dan mencerna arti tatapan pria itu pada wanita yang ada di meja makan. Suara Arya sudah lebih dulu terdengar.“Kemarilah, kenapa kalian hanya berdiri di sana?”Tatapan Amaya kembali tertuju ke arah meja makan. Dia melihat wanita paruh baya yang duduk di kursi samping Arya Wardhana sama sekali tak menyapa atau menatap ke arah mereka. Bahkan, Amaya melihat ekspresi wajah wanita itu begitu datar.Sedang pria muda di samping wanita ini, terlihat tak acuh. Harusnya pria itu tak lebih tua dari Dhanadoya, mungkinkah pria muda ini adik Dhanadoya?“Ayo duduk.”Akhirnya Amaya kembali mendengar suara Dhanadoya setelah pria ini membisu sejak bebe
Amaya mengeratkan remasannya di ujung gaunnya. Tatapan intens tanpa jeda dari Dhanadoya membuat dada Amaya berdebar tak karuan sekaligus dihantui rasa canggung yang membuat kedua pipinya mendadak panas.‘Kenapa dia menatapku seperti itu?’ batin Amaya menjerit panik. Dia menurunkan pandangan ke bawah, mengamati penampilannya dari ujung kaki. ‘Apa penampilanku aneh? Atau gaun ini kelihatan konyol saat kupakai?’Rasa percaya diri yang tadi membumbung tinggi di depan cermin mendadak menguar begitu saja.Amaya berniat melangkah kembali ke walk-in closet untuk mengganti pakaiannya, tetapi dia mengurungkan niatnya.“Hm.”Deheman Dhanadoya memecah kecanggungan yang menggantung di antara mereka. Sekilas Amaya melihat jakun Dhanadoya bergerak naik-turun, lalu pria itu mengalihkan pandangan darinya dan membetulkan letak jam tangan mewahnya sebelum kembali menatap ke arah Amaya.“Kemari, Risjad.” Suara Dhanadoya terdengar tenang tetapi dalam. Dagunya terangkat mengarah ke sofa, agar Amaya duduk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak