LOGINNiat hati meminta bantuan atasannya yang dingin dan gila, Amaya Risjad justru mendapat tawaran kesepakatan yang membuatnya semakin gila! Dhanadoya Kusuma Wardhana, atasan menyebalkan nan perfeksionis yang membuat Amaya tidak tenang selama 24/7 hari dalam hidupnya, tiba-tiba menawarkan sebuah pernikahan padanya. Amaya tidak menduga kegilaannya meminta bantuan pada Dhanadoya justru menuntunnya pada hidup baru. Setelah ini, apakah hidup Amaya akan semakin gila bersama Dhanadoya atau justru sebaliknya, atasannya itu yang akan tergila-gila pada Amaya setelah hidup bersamanya?
View MoreAmaya Risjad tidak pernah menyangka bahwa dia berani melakukan ini.
Entah keberanian gila dari mana yang merasuki otaknya yang sudah konslet sejak tadi, dia nekat menggenggam erat telapak tangan bosnya yang dingin, gila dan menyeramkan tanpa ada niat sedikit pun untuk melepaskannya.
Saat ini, mereka sedang berada di lobi The Andrawina Hotel, dan hari ini adalah hari Sabtu. Amaya berada di hotel ini untuk menghadiri undangan reuni akbar fakultas kampusnya.
Sebenarnya, Amaya sudah menantikan hari ini sejak dia mendapat undangan reuni. Alasannya sederhana, di reuni ini, Amaya bisa bertemu dengan pujaan hatinya saat masa kuliah dulu. Dan setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dan berkomunikasi, di ajang reuni ini, Amaya berencana untuk mendekati Audy. Yah, siapa tahu, dari reuni ini, hubungan Amaya dan Audy bisa berkembang.
Tetapi, semua itu hanya harapan belaka!
Karena yang Amaya dapati justru melihat Audy datang bersama dengan seorang wanita.
Masalahnya, jika wanita itu adalah orang asing, Amaya mungkin tidak akan dengan berani menghadapi atasannya seperti ini.
Tapi, kekasih Audy adalah Tamara. Adik tirinya!
Bagaimana bisa dari sekian banyaknya perempuan di muka bumi ini, Audy justru memilih Tamara?
Di dalam aula hotel tempat reuni akbar tadi, Tamara juga dengan santainya bertanya soal kekasih Amaya. Amaya tahu pertanyaan itu hanya untuk mempermalukan Amaya, karena Amaya datang bersama sahabatnya, Feya.
Namun, Amaya tidak ingin membiarkan Tamara menang. Jadi, tadi Amaya berkata bahwa kekasihnya sedang berada di toilet dan Amaya akan menjemputnya untuk diperkenalkan pada mereka.
Masalah kedua, Amaya tidak tahu harus mencari pria mana yang bisa diajak kerjasama sampai dia melihat Dhanadoya Kusuma Wardhana, atasannya, juga berada di hotel ini.
“Pak Dhana, tolong bantu saya,” pinta Amaya, suaranya lemah, tatapannya putus asa menatap Dhanadoya.
Dhanadoya melirik tangannya yang digenggam sekretarisnya itu, sebelum beralih menatap Amaya. “Bantuan Risjad?” tanya Dhanadoya dengan suara baritonnya yang tenang.
Dhanadoya memberikan isyarat kecil pada staf hotel di sekelilingnya untuk menjauh, sebelum akhirnya memutar tubuh sepenuhnya menghadap Amaya.
“Iya, Pak.” Amaya mendesah frustasi, bahunya merosot lemas. Dia sudah terlanjur sampai di sini, tidak ada gunanya mundur sekarang. “Kalau Bapak membantu saya sekali ini saja, saya... saya akan lakukan apa pun untuk Bapak.”
Dhanadoya diam. Pria itu tidak langsung menjawab, melainkan hanya menatap Amaya dengan pandangan dalam yang sulit dibaca.
Melihat keterdiaman bosnya, rasa panik Amaya semakin membubung tinggi.
Lantas, dia segera menambahkan dengan tergesa-gesa, “Saya bersedia kasih makan Cherry, antar-jemput sekolahnya, lembur tanpa digaji ….” Amaya mengerutkan kening, menyadari kalimat terakhirnya yang sangat merugikan diri sendiri, tetapi dia segera menggeleng kuat-kuat, meyakinkan dirinya sekali lagi, lalu menatap Dhanadoya mantap bercampur pasrah. “Apa pun, Pak. Apa pun akan saya lakukan, asal Bapak bantu saya. Tolong saya, Pak.”
Seketika, senyum samar yang nyaris tak kentara menghiasi wajah tampan Dhanadoya.
Pria itu melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Amaya bisa menghirup aroma maskulin khas perpaduan kayu dan kulit dari parfum mahal sang bos. “Apa pun, Risjad?”
Amaya meneguk ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang menatap balik sepasang mata gelap Dhanadoya yang kini mengunci pandangannya. Meskipun dia sama sekali tidak mengerti arti dari tatapan itu, Amaya tetap mengangguk mantap.
“Apa pun!”
Satu sudut bibir Dhanadoya terangkat, kemudian dia mengangguk kecil.
Pandangan Amaya langsung berbinar mendapat persetujuan itu. Lalu, merasa sudah mendapat lampu hijau, Amaya langsung menggenggam tangan kiri Dhanadoya.
“Maaf ya, Pak, tapi tolong balas genggaman saya,” bisik Amaya, memberikan instruksi cepat. “Terus kita masuk ke ballroom itu. Jangan lupa senyum sama saya juga.”
Kemudian, mereka berjalan masuk ke dalam aula hotel. Amaya sedikit tersentak ketika Dhanadoya membalas genggamannya, meremas lembut jemarinya dengan hangat. Dia sendiri yang meminta bantuan konyol ini, dia pula yang kaget.
“Tatapannya yang penuh perhatian ya, Pak, natap saya,” bisik Amaya lagi, setengah bergumam tanpa berani menatap wajah Dhanadoya. “Kita ketemu sama dua orang di depan sana. Yang perempuan di sebelah laki-laki itu saudara tiri saya.”
“Kalau yang laki-laki?”
Satu tangan Amaya yang bebas reflex bergerak mengusap lengan jas biru gelap mahal Dhanadoya secara manja. Dia menoleh ke arah bosnya, lalu berdehem pelan untuk mengusir rasa canggung. “Cowok yang saya suka.”
Seketika, ada pancaran mata yang tidak biasa berkilat di tatapan Dhanadoya begitu mendengar ucapan lirih sekretarisnya. Namun kilatan tajam itu meredup secepat kilat, hingga Amaya sama sekali tidak menyadarinya.
Tepat di hadapan tiga orang yang sudah menunggu, Amaya tersenyum. Amaya melepas genggamannya, berniat ingin memperkenalkan Dhanadoya pada dua orang di hadapan mereka.
Meskipun Feya dan Dhanadoya adalah sepupu, namun, rahang Feya tetap jatuh melihat Amaya masuk bersama sepupunya sendiri.
“Dhana, kenalin, ini Audy teman seangkatanku.” Amaya mulai memperkenalkan, “dan ini Tamara, pacar Audy juga saudara tiriku. Maaf aku baru ngenalin saudara tiriku ke kamu.”
Amaya bisa melihat jelas reaksi terkejut dan tidak terima yang tercetak di wajah Tamara. Namun, perempuan itu bisa memainkan ekspresi wajahnya dengan baik.
Tamara tersenyum tipis, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dhanadoya. Akan tetapi, tubuh Tamara mendadak kaku dan darahnya terasa mendidih ketika melihat gerakan tangan pria tampan di samping Amaya.
Napas Amaya seolah tertahan di tenggorokan dan darahnya berdesir saat merasakan tangan kekar Dhanadoya berada di pinggangnya dan dengan posesif menarik tubuh Amaya hingga merapat ke dada bidangnya, memberikan remasan kecil di pinggang Amaya, sebelum tangan yang lain menjabat uluran tangan Tamara dan berkata dengan sangat tenang seolah memang itu kenyataannya.
“Dhana. Tunangan Risjad.”
Semua orang terperangah menatap Dhanadoya.
Tunangan?! Sejak kapan?!
Amaya terus berjalan bersama Dhanadoya, menjauh dari tempat Audy berada.“Bukankah sudah saya bilang, jauhi Audy Pradana jika gak ada saya?” Nada bicara Dhanadoya pelan tetapi penuh dengan penekanan.“Saya sudah mencoba menghindar, Pak. Tapi Pak Audy menahan saya.” Jantung Amaya masih berdegup cepat gara-gara sikap Audy tadi, untung saja Dhanadoya datang tepat waktu menyelamatkannya. “Apa yang coba dia lakukan tadi?” Dhanadoya bicara lagi, tetapi pandangannya masih lurus ke depan.Amaya menggeleng pelan. “Saya gak tahu, Pak.” Amaya menjeda kalimatnya. “Saya bener-bener gak paham dengan sikapnya itu.”Ekspresi Dhanadoya datar meski matanya berkilat tak senang.Sampai Dhanadoya terkejut karena Amaya menghentikan langkah. Kedua alisnya berkerut dalam menatap Amaya yang kebingungan.“Ada apa?” tanya Dhanadoya.“Tas saya, Pak.” Amaya panik. Mendapati tas tak ada dalam genggaman. “Sepertinya tertinggal di meja tadi.” Amaya menunjuk pelan ke arah belakang.Dhanadoya menoleh ke belakang. Tan
Amaya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan pelan. Mencoba tenang meski begitu malas berhadapan dengan Audy.“Anda menikmati pestanya, Pak Audy?” Amaya bicara hanya sekadar untuk formalitas.“Sangat.” Audy mengangguk-angguk pelan. “Hanya saja ….” Dia sengaja menjeda kalimatnya, tatapannya begitu dalam pada Amaya. “Rasanya sangat asing saat kamu bersikap formal begini padaku, May.”Amaya menipiskan senyum. “Tidak ada yang asing, Pak Audy. Saya hanya bersikap profesional saja. Bagaimanapun Anda adalah rekan bisnis perusahaan tempat saya bekerja, jadi sudah sepatutnya saya menghormati Anda.”“May, apa aku salah padamu? Kamu masih marah soal yang pernah aku lakukan waktu itu? Kamu belum bisa maafin aku? Atau, kamu marah karena hal lain? Mungkin karena aku pacaran dengan Tamara?”Amaya tersentak. Matanya membola lebar mendengar rentetan pertanyaan yang meluncur dari bibir Audy.Soal Audy pacaran sama Tamara, ya memang awalnya dia terkejut, kenapa harus Tamara yang menjadi kekasih Audy
Di tengah ballroom.Dhanadoya dan Amaya menjadi pusat perhatian semua orang.“Ternyata kalian sudah menikah. Heboh sekali berita waktu itu, sampai kaget mengetahui Pak Dhana menggandeng sekretarisnya.” Salah satu petinggi tertawa setelah mendengar penjelasan Dhanadoya soal hubungannya dengan Amaya.“Maaf jika berita pernikahan kami mengejutkan Anda sekalian. Kami memang tak bikin pesta karena tak mau mengganggu beberapa proyek yang sedang berjalan, tapi jika sempat, kami akan memikirkan soal membuat pesta. Benar ‘kan, Sayang?” Dhanadoya menoleh pada Amaya dengan tatapan melembut.Amaya mengangguk pelan mengiyakan ucapan Dhanadoya. Meskipun masih saja aneh setiap kali melihat tatapan Dhanadoya yang seperti ini, tetapi Amaya juga sudah membiasakan diri. Para jajaran direksi tertawa lagi mendengar pengakuan keduanya. “Kalian ini anak muda memang gila kerja, ya? Nikah saja cukup dapat surat tanpa pesta karena gak mau kerjaan terhambat.” Salah satu petinggi tertawa.“Betul-betul, itu lag
Tamara berbalik, pandangannya tertuju ke arah telunjuk Feya.Dia melihat Amaya yang berjalan masuk ke dalam ballroom hotel bersama Dhanadoya, hingga mengundang rasa penasaran Tamara.“Emang suaminya itu kerja di Wardhana Group juga? Kok Dhana ikut acara ini?” Tamara menyipitkan mata, apalagi melihat Amaya yang berjalan dengan sangat anggun memakai gaun hitam yang begitu elegan di samping Dhanadoya.Feya melirik Tamara dengan ekspresi meledek. Belum tahu saja Tamara kalau suami Amaya adalah CEO Wardhana.“Tadi katanya nyari Amaya. Tuh, udah dateng orangnya, gak mau nyamperin?” Feya memprovokasi. “Jangan bilang kamu minder lihat Amaya tampil anggun banget, berkelas pula.”Setelah bicara, Feya berjalan meninggalkan Audy dan Tamara.Jari-jari Tamara mencengkram kuat tali tas yang dia pegang, bagaimana bisa dia kalah pesona dari Amaya?Apalagi Tamara lihat tatapan semua orang mendadak tertuju pada Amaya.Tidak bisa!Tamara saja bisa dapatkan Audy sebelum Amaya, jadi seharusnya Tamara bisa l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore