LOGIN"Kalau yang itu ...."Raline menyipitkan matanya. "Kak Devina, kalau kamu nggak mau bilang, aku juga bisa tanya langsung ke kakakku. Tapi aku harap kamu bisa jujur kepadaku. Bagaimanapun juga, di dalam hatiku aku masih menganggapmu sebagai calon kakak iparku di masa depan."Wajah Devina sedikit berubah. Tangan yang memegang sendok kopi mengencang. Dia tidak menyangka Raline akan bertanya seterus terang ini.Di matanya sekilas muncul rasa canggung yang hampir tak terlihat. Dia menarik napas dalam-dalam, mempertahankan ketenangan di permukaan. "Raline, karena kamu sudah bertanya sampai sejauh ini, aku juga nggak takut kamu mentertawakanku.""Mobil itu ... sebenarnya mobil bekas yang dijual teman Jay kepadaku. Aku menyukainya saat melihatnya. Jay juga menawariku harga yang cocok, jadi aku membelinya. Sedangkan vila ...."Dia berhenti sejenak, seolah-olah agak sulit mengatakannya. Akhirnya, dia tetap berkata jujur, "Waktu itu aku baru kembali ke negara ini dan belum punya tempat tinggal. T
Sekitar pukul 3 sore, Raline berdandan, lalu keluar. Dia menunggu di kafe. Tak lama kemudian, Devina datang seperti biasa dengan pakaian yang anggun.Raline menatapnya, hanya merasa silau dan munafik. Di luar, Devina membungkus dirinya dengan citra sebagai pianis sukses, membuat orang mengira semua itu diraih dari usahanya sendiri, tanpa bergantung pada bantuan siapa pun.Namun kenyataannya, setiap tetes darahnya dijual dengan harga selangit kepada kakak Raline. Bahkan sejak awal dia memang mengincar posisi Nyonya Pramudita. Dia menganggap seluruh Keluarga Pramudita sebagai alat yang bisa dimanfaatkan, tak peduli cara apa pun selama tujuannya tercapai.Devina duduk dengan anggun. Wajahnya menampilkan senyuman lembut yang sudah biasa dia pakai. "Raline, sudah nunggu lama? Tadi di jalan agak macet."Setelah berkata begitu, dia dengan alami melambaikan tangan memanggil pelayan, menikmati perlakuan istimewa yang terasa lebih tinggi dari orang lain.Raline diam saja menonton pertunjukannya.
"Kak Devina, aku tenang kalau kamu bicara begitu. Sekarang ibuku benar-benar bergantung padamu," kata Raline dengan nada penuh rasa terima kasih."Raline, aku benar-benar senang kamu bisa memahamiku. Aku tadi bahkan mengira kamu sudah percaya pada Brielle.""Untuk apa aku percaya padanya? Sekalipun dia ingin mengadu domba hubungan kita, aku nggak akan membiarkannya berhasil." Raline mendengus, lalu bertanya, "Tapi aku ingin ketemu kamu. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.""Raline, kamu sekarang lagi jaga Bibi, pasti ....""Ada kakakku yang jaga! Aku bosan setengah mati di sini. Di kafe di seberang laboratorium saja. Aku tunggu kamu." Raline bersikeras ingin bertemu."Raline, tapi aku mungkin ....""Tapi aku ingin ketemu." Raline tidak memberi kesempatan untuk menolak, malah melemparkan umpan. "Kak Devina, kamu nggak ingin tahu gimana keadaan kakakku dan Brielle sekarang?""Baiklah, aku akan ke tempatmu." Devina langsung setuju.Raline meletakkan ponselnya. Kebencian di matanya berki
Brielle tertegun sejenak. Melihat Raline yang berusaha keras untuk menebus kesalahan, sedikit ganjalan di hatinya tampaknya juga perlahan menghilang."Kamu fokus saja menjalani pengobatan dengan baik." Brielle menenangkannya dengan nada ringan. "Urusan nanti, kita bicarakan nanti."Meskipun hanya sebuah kalimat perhatian yang sangat ringan, bagi Raline saat ini rasanya seperti mendapatkan penebusan. Hal itu membuat hatinya yang dipenuhi penyesalan terasa jauh lebih lega.Dia mengangguk. "Aku akan melakukannya, Kak Brielle. Aku pasti akan bekerja sama dengan baik dan cepat sembuh.""Mm." Brielle mengangguk, lalu berdiri dan pergi.Raline juga menghela napas panjang, lalu berbaring dengan patuh. Saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melihatnya sekilas. Di layar muncul, nama orang yang paling dia benci seumur hidupnya, Devina.Raline menutup pintu, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol terima."Halo, Raline, kamu dengar aku?" Di seberang sana, suara Devina tetap selembut b
Selama bertahun-tahun seperti itu, Raline tenggelam dalam kebohongan yang dirancang oleh Devina, dengan sukarela menjadi pisau di tangan Devina.Di rumah, di depan ibu dan neneknya, dia mulai memuji-muji kebaikan Devina, mengatakan bahwa Devina baik hati dan berbakat.Pada saat yang sama, setiap tahun ketika Meira menjalani prosedur transplantasi sel punca, Devina juga berada di rumah sakit. Karena itu, dia sering mengambil kesempatan untuk mengunjungi Meira, menemani ibunya mengobrol. Dengan cara mendekati serta menyenangkan hati Meira, dia juga berhasil memenangkan hatinya.Raline ingat suatu kali setelah makan malam, dia mengatakan bahwa Anya ada di rumah. Devina lalu berkata ingin bertemu keponakannya. Raline berpikir Anya cukup dekat dengannya, jadi dia tidak terlalu memikirkannya dan membawa Devina pulang.Kemudian, Devina mengatakan bahwa dia merasa pusing. Tanpa ragu, Raline membiarkannya menginap di rumah Keluarga Pramudita.Hari itu, ketika Brielle datang, Devina yang awalnya
"Kak, kalau begitu ... kalau begitu apa Kakak masih akan mengejar kembali Kak Brielle?" Raline mengangkat matanya yang penuh air mata saat bertanya. Saat ini, dia benar-benar merasa bahwa Brielle adalah kakak ipar terbaik di dunia.Sudut bibir Raka memperlihatkan sedikit kepahitan, tetapi dia tidak menjawab.Raline langsung menjadi cemas. "Tapi di antara kalian masih ada Anya!"Raka memegang bahu adiknya. Tatapannya menjadi jauh lebih tenang. "Raline, sekarang bukan waktunya membicarakan hal ini. Tugasmu yang paling penting adalah bekerja sama dengan pengobatan, cepat sembuh, dan jangan lagi nambah masalah bagi Brielle."Raline mengangguk. Semua kata yang ingin dia katakan akhirnya dia telan kembali. Benar, sekarang Brielle sepenuhnya fokus pada penelitian, memang tidak boleh mengganggu pikirannya pada saat seperti ini."Baik, Kak. Aku ngerti. Aku akan bekerja sama dengan baik." Raline mengangguk dengan patuh.Raline kembali ke ruang rawat. Seluruh tubuhnya masih menegang karena marah
Malam itu, Brielle baru bisa tidur nyenyak setelah memeluk putrinya di dalam dekapan.Keesokan paginya, dia menerima beberapa pesan, dari Lambert maupun Niro. Lambert mengucapkan selamat atas penghargaan yang dia raih di pertemuan tahunan kedokteran semalam. Dia sendiri sedang dinas ke luar kota, se
Kasus Devina terus memanas, hampir merebut posisi pertama trending topic. Bahkan berita perceraian seorang selebritas papan atas pun kalah dibuatnya.Langkah Devina kali ini memang benar-benar kejam. Topik pemalsuan kegiatan amal begitu menyentuh batas bawah publik, sekali terkuak pasti memicu gelom
"Raline, aku nggak akan datang. Kamu saja yang temani Nenek dan Bibi merayakan tahun baru dengan baik.""Tapi ....""Tenang saja. Aku nggak akan membiarkan Brielle punya kesempatan untuk mendekati kakakmu. Kamu percaya nggak, hanya dengan satu telepon dariku, aku bisa membuat kakakmu pergi? Nggak bu
"Beritahu Profesor Madeline, kita adakan rapat sore ini! Dan tolong minta dia panggil Raka untuk hadir juga."Zondi pun keluar. Brielle bersandar pada meja laboratorium dengan wajah tegang. Pikirannya kembali terbayang pada seorang ibu di rumah sakit yang sedang menunggu obat baru ini. Tatapan penuh







