Share

Bab 477

Penulis: Ayesha
Devina dan Jay berjalan santai menuju taman belakang. Tempat itu cukup tenang. Tiba-tiba, Devina berbalik badan. Jay yang tidak sempat bereaksi langsung menabraknya, bahkan bibirnya tanpa sengaja menyentuh kening Devina.

Jay buru-buru mundur selangkah dengan gugup. "Maaf, aku ...."

Devina tersenyum santai, tampak tak keberatan. "Nggak apa-apa, aku cuma tiba-tiba kepikiran sesuatu yang mau aku omongin. Aku nggak sadar kamu ada di belakang."

Tatapan Jay yang dalam terarah padanya, tetapi Devina me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Nenden Lasminingsih
ular betina sedang menebar bisanya,,,
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
Si Jay ikutan tolol kemakan racun si pelakor....pdhl para lelaki yg pada gejar brielle...kalau brielle sendiri mah santai aja..dia ga da.peradaam ke siapa pun.....dia cm anggap teman aja..dan bersikap sopan..bukan utk menjebak mereka supaya jd alat balas dendam...
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
menunggu jatuhnya Devina seperti faye....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1060

    Raka memejamkan mata, bahkan kelopak matanya tidak terangkat sedikit pun."Kamu yang tangani." Suaranya dingin, tanpa sedikit pun emosi.Gavin langsung mengerti maksudnya. Dia mengambil ponsel, lalu berjalan ke arah balkon untuk menjawab panggilan itu."Bu Devina, ada perlu apa?" tanya Gavin dengan nada sopan."Di mana Raka? Aku sudah berkali-kali meneleponnya, tapi nggak tersambung. Apa dia lagi sibuk?" Suara Devina seperti biasa, lembut dan ramah."Pak Raka lagi rapat dan nggak bisa menerima telepon. Kalau ada sesuatu, bisa sampaikan padaku," jawab Gavin."Sebenarnya nggak ada apa-apa. Aku cuma ingin tanya kabarnya," ucap Devina sambil tersenyum."Pak Raka baik-baik saja. Bu Devina nggak perlu khawatir.""Baiklah, kalau begitu aku nggak akan ganggu." Devina pun menutup telepon.Gavin memegang ponsel itu, lalu kembali duduk. Dulu, tidak peduli seberapa tidak sabarnya Raka, di permukaan dia tetap menjaga formalitas. Setidaknya hubungan sosial dasar masih dipertahankan.Sekarang, setela

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1059

    Kata-kata Brielle dari awal sampai akhir sepenuhnya berdiri di sudut pandang objektif dan rasional. Tidak terdengar sedikit pun emosi pribadi di dalamnya.Bagaimana mungkin Raka tidak mengerti? Dari sudut pandang medis, dia memang benar."Aku mengerti maksudmu," kata Raka dengan suara serak. Namun kemudian, dia melanjutkan dengan nada rendah dan tegas, "Tapi aku nggak membutuhkannya."Nada suaranya mengandung keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Suara Brielle yang semula tenang tiba-tiba mengandung sedikit kejengkelan. "Raka, sekarang kalau cuma mengandalkanmu seorang sebagai donor, risikonya sangat besar. Lagi pula, kamu baru beberapa kali diambil darah saja sudah jatuh sakit. Jangan terlalu melebih-lebihkan kondisi fisik sendiri."Kerutan di antara alis Raka tiba-tiba mengendur. Bahkan tanpa sadar, sebuah senyuman yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. Jadi, alasan Brielle bersikeras mempertahankan Devina sebenarnya juga karena diam-diam mengkhawatirkan kondisi tubuhnya?"Kamu ..

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1058

    Di pihak laboratorium, Brielle baru saja keluar dari laboratorium. Ada beberapa data yang perlu dia diskusikan dengan Smith. Saat baru sampai di depan pintu, dia mendengar Smith sedang menelepon.Brielle berniat datang lagi nanti, tetapi tepat saat itu dia mendengar Smith berkata kepada orang di seberang telepon,"Pastikan bawa dokumen aslinya. Kali ini Pak Raka ingin benar-benar mengakhiri transaksi dengan Bu Devina. Jangan sampai terjadi kesalahan."Langkah Brielle langsung terhenti. Dia menoleh kembali ke arah kantor dan mengerutkan kening. Raka ingin mengakhiri transaksi dengan Devina?Saat itu, asisten Smith datang dan bertanya kepadanya, "Profesor Brielle, cari Doktor Smith ya?"Smith yang sedang menelepon juga melihat Brielle melalui jendela besar, lalu mengatakan sesuatu kepada orang di ujung telepon sebelum menutup panggilan."Brielle, ada perlu denganku?" tanya Smith sambil keluar dari kantor.Brielle mengangguk. "Ada beberapa set data yang ingin kudiskusikan. Apa Doktor puny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1057

    Sepertinya Brielle hanya bisa menunggu sampai dokter dan Gavin datang sebelum pergi.Brielle berdiri di depan jendela besar, bersabar menunggu. Sambil menunggu, dia juga memandangi langit biru cerah di luar jendela, dengan awan putih yang melayang perlahan.Meskipun Raka memejamkan mata, rasa pusing dan sakit kepala akibat demam tinggi terus menyerangnya. Namun, dia bisa merasakan bahwa Brielle masih berada di dekatnya. Dia memaksa membuka kelopak mata yang terasa berat, tidak ingin benar-benar tertidur."Uhuk!" Raka terbatuk pelan.Brielle berbalik. Melihat Raka sudah duduk kembali, dia berjalan ke meja minum, menuangkan segelas air hangat, lalu menyodorkannya.Wajah Raka terlihat agak pucat. Karena demam tinggi, ujung matanya sedikit merah. Di mata yang dalam itu berkurang sedikit ketajamannya.Raka menerima air itu, menatap Brielle, lalu berkata pelan, "Terima kasih."Brielle membalas dengan nada datar, "Dokternya seharusnya sudah dalam perjalanan."Setelah mengatakan itu, dia tanpa

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1056

    Brielle mengerutkan kening dan berkata, "Asistenmu nggak bisa menghubungimu. Dia sangat khawatir, jadi menyuruhku datang melihatmu."Raka mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu bersandar pada kusen pintu. "Nggak apa-apa, hanya sedikit ... demam."Melihat keadaannya, Brielle memang merasa dia seperti sedang demam."Suruh orang antar kamu ke rumah sakit," usul Brielle."Nggak perlu. Setelah tidur sebentar juga akan membaik." Raka menggeleng. Setelah itu, dia juga tidak menutup pintu dan langsung berjalan menuju ruang tamu.Brielle mengernyit. Cara pria ini menghadapi sakit masih saja begitu asal-asalan. Namun, Brielle tidak ingin ikut campur. Kemungkinan besar panggilan Gavin tidak diangkat hanya karena tadi dia sedang mandi dan tidak mendengarnya.Brielle berbalik hendak pergi. Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara kaca pecah. Langkahnya langsung terhenti. Dia kembali ke pintu dan melangkah masuk ke area foyer.Di ruang tamu, Raka menahan tubuhnya dengan satu tangan di me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1055

    [ Jadi, ini berarti kamu setuju? ][ Setuju apa? ][ Setuju jadi pacarku. ]Jay menarik napas dalam-dalam lalu menekan kirim.Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu, Jay tidak mendapat balasan. Dia langsung menekan nomor Siria dan meneleponnya."Halo!" Terdengar suara Siria dari seberang."Siria." Suara Jay begitu bersemangat sampai sedikit serak. "Aku ... aku menyukaimu. Kamu mau jadi pacarku?""Jay, sekarang sudah hampir jam 2 pagi. Kamu mabuk ya? Jangan-jangan kamu salah orang lagi?" Siria bertanya dengan nada serius.Kepala Jay langsung berdengung. Dia teringat malam ketika dia pernah salah mengira Siria sebagai Devina. Dengan nada cemas tetapi tulus, dia berkata, "Nggak. Siria, aku nggak salah orang.""Aku ingin mengatakan langsung padamu kalau yang kusukai adalah kamu. Kamu, Siria. Aku ingin secara resmi dan sungguh-sungguh memintamu menjadi pacarku."Di sana, Siria terdengar tertawa. Akhirnya, dengan sedikit nada tak berdaya tetapi juga geli, dia berkata, "Aku belum pernah de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 628

    Malam itu setelah mandi, Brielle duduk di sofa menonton berita sambil menggulir beberapa video pendek yang sedang populer belakangan ini.Tiba-tiba, di layar muncul sebuah video pendek Devina di bandara, diunggah oleh salah satu penggemarnya. Devina mengenakan gaun panjang seksi dan bepergian bersam

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 617

    "Jangan ketawa, aku serius," protes Syahira sambil mengembungkan pipinya.Brielle menutup mulut sambil menahan senyum. "Baik-baik, aku nggak ketawa lagi. Tenangkan diri, hadapi saja dengan normal.""Bi Lastri bisa kamu ajak sekalian. Nanti dia bisa bantu jagain Anya," kata Syahira."Baik, nanti aku

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 620

    "Barusan, buket bunga yang aku lempar ... sebenarnya aku ingin sekali memberikannya padamu. Tapi begitu melihat kamu nggak ada di tempat dudukmu, kamu pergi ke mana?" tanya Syahira."Aku keluar sebentar untuk angkat telepon.""Sayang sekali! Padahal aku benar-benar ingin kamu yang menerimanya, tepat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 632

    "Awas!" Sebuah sosok tiba-tiba menerjang dari samping dan mendorongnya dengan kuat. Brielle terhuyung beberapa langkah, lalu berlutut di tanah, sementara suara benturan berat terdengar dari belakangnya.Dia menoleh dengan rasa takut. Tiga meter dari tempat dia berdiri tadi, Lambert terbaring miring

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status