LOGINPukul 8 malam, kedua pria itu pun membawa anak-anak pulang, lalu menemani mereka bermain di taman bermain. Di bawah cahaya lampu malam, Lambert dan Raka berdiri di samping sambil membicarakan urusan bisnis.Sekitar pukul 8.30, Brielle pulang dari laboratorium. Lastri memberi tahu bahwa Anya masih belum kembali, jadi Brielle membawa Gaga turun untuk jalan-jalan. Seharian berada di laboratorium membuatnya juga ingin menghirup udara segar.Baru sampai di taman bermain, pandangannya langsung tertuju pada Anya dan Vivian. Brielle menggandeng Gaga mendekat, lalu melihat Raka dan Lambert berdiri di bawah bayangan pepohonan."Guk!" Gaga langsung mengeluarkan suara manja dengan antusias, membuat Brielle tak punya pilihan selain membawanya menghampiri mereka.Raka menoleh dan langsung melihat Brielle yang sedang mengajak anjing jalan-jalan. Napas Lambert juga sedikit tertahan karena Brielle berdiri tepat di belakangnya.Brielle turun setelah mandi. Tanpa riasan sedikit pun, wajahnya tampak putih
Pukul 5 sore, Brielle menerima pesan dari Raka. Pria itu mengatakan malam ini dia akan membawa Anya menghadiri acara pernikahan, lalu menanyakan apakah Brielle ingin ikut.Brielle menolaknya dan meminta Raka cukup menjaga putri mereka saja. Jawaban itu memang sudah diduga oleh Raka.Malam itu, Lambert juga membawa Vivian. Dua gadis kecil itu duduk berdampingan, masing-masing ditemani wali mereka sendiri.Banyak orang memandang kedua gadis kecil itu sambil diam-diam menghela napas kagum. Bahkan ada yang mulai diam-diam punya niat lain, membayangkan apakah putra mereka kelak bisa merebut hati dua gadis kecil itu, lalu menjodohkan keluarga mereka dengan Keluarga Pramudita atau Keluarga Seraphine.Bagaimanapun, punya besan seperti Lambert dan Raka bisa membuat hidup anak mereka menjadi lebih mudah. Bahkan bukan cuma lebih mudah, itu adalah kekayaan yang mungkin tidak bisa didapatkan bahkan dalam beberapa generasi.Malam ini juga membuat banyak orang melihat sisi Raka saat merawat putrinya
Hati Devina terasa perih sekaligus sakit. Dulu dia pernah begitu dekat dengan lingkaran itu, begitu dekat hingga seolah-olah bisa digapai hanya dengan mengulurkan tangan.Namun sekarang, mereka masih berdiri tinggi di atas sana dan bersinar terang, sedangkan dirinya bahkan tidak punya kualifikasi untuk mendekat dan sekadar menyapa.Dulu dia mengira dengan memprovokasi Jay dan menjadikan Brielle sebagai senjata untuk memecah hubungan tiga pria itu, dia akan berhasil. Namun, pada akhirnya tetap gagal.Sekarang hubungan Lambert dan Raka sudah kembali membaik. Sepertinya Lambert juga sudah mundur dari persaingannya mengejar Brielle dan memilih memberikan kesempatan itu kepada Raka.Apalagi saat perusahaan Lambert mengalami masalah di luar negeri beberapa waktu lalu, Raka yang turun tangan membantunya, membuat hubungan mereka semakin solid.Kini, dia terjebak di sisi Ignas. Meskipun tampak glamor di mata orang luar, hanya dirinya sendiri yang tahu pahit manis kehidupannya.Saat itu, Ignas s
Bagian bersulang dari acara pernikahan memang ditiadakan, tetapi saat jamuan berlangsung agak lebih malam, Jay menggandeng Siria berjalan di antara para tamu untuk menyampaikan ucapan terima kasih.Tak lama kemudian, Sunny membawa Siria untuk menyapa kelompok para nyonya kaya. Beberapa nyonya kaya langsung tidak sabar mengerubungi mereka dan mulai memuji Siria."Pengantin wanitanya cantik sekali hari ini.""Iya! Gaun pengantinnya itu pasti pesanan khusus dari luar negeri, 'kan? Cocok sekali sama kamu.""Nyonya Sunny, Anda benar-benar beruntung bisa mendapatkan menantu secantik Siria."Sunny mengenakan gaun merah mewah dengan detail bordir yang rumit. Penampilannya sangat terawat dan hari ini suasana hatinya jelas sangat bahagia."Mulai sekarang mohon bantuannya untuk jaga Siria, ya.""Tentu saja."Siria menerima semua pujian itu dengan anggun. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan pengantin baru. "Terima kasih tante-tante dan kakak-kakak semua atas pujiannya."Salah satu nyonya kaya langsung m
Devina jelas bukan wanita biasa. Dia tersenyum tipis lalu berkata, "Nyonya pintar bercanda, ya. Aku dan Raka itu sudah masa lalu. Lagi pula kami cuma teman, jadi jangan terlalu percaya gosip di luar."Kedua nyonya itu langsung saling bertukar pandang.Teman?Mereka jelas tidak buta. Kalau Devina gagal mendapatkan Raka, itu hanya berarti kemampuannya masih kurang. Namun sekarang dia malah berusaha menyangkal semuanya seperti ini, itu malah terasa lucu.Devina kemudian memandang ke arah Ignas dengan mata penuh kelembutan. "Tapi sekarang aku bertemu Ignas. Dia dewasa, tenang, dan lebih memahami diriku. Bisa bersama dia adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku."Kedua nyonya itu saling tersenyum sambil bertukar tatapan penuh arti. Wajah mereka tetap mempertahankan senyum sopan."Kalau begitu selamat ya, Bu Devina akhirnya menemukan cinta sejati.""Iya. Cinta sejati memang langka. Lagi pula zaman sekarang bukannya ada pepatah, di depan cinta sejati, usia bukan masalah."Senyum Devina lan
Sebagai pendamping pria terpenting, Raka dan Lambert duduk di kursi paling depan di meja utama. Keduanya benar-benar ikut bahagia untuk sahabat mereka.Posisi Devina dan Ignas berada agak lebih belakang. Saat ini Devina juga menatap ke arah pintu aula, tetapi tatapannya menyimpan kebencian yang dalam. Penghinaan yang pernah diberikan Siria kepadanya jelas tidak akan pernah dilupakannya.Pada saat itu, pintu besar aula perlahan terbuka.Mempelai wanita yang mengenakan gaun pengantin putih muncul dengan anggun sambil menggandeng lengan ayahnya. Dari balik kerudung yang tipis, samar-samar terlihat wajah cantik Siria dan senyumnya yang malu-malu.Jay menatap pengantin wanita yang berjalan perlahan mendekatinya. Matanya tiba-tiba memerah. Perasaan haru dan cinta bercampur di wajah tampannya.Di tengah tepuk tangan dan sorakan seluruh tamu, sang pengantin wanita melangkah mantap menuju mempelai pria di atas panggung.Raka duduk di tempatnya sambil mengikuti sosok pengantin wanita dengan tata
Di ruang rapat, lebih dari sepuluh perwira tinggi militer dan pakar medis sudah menunggu cukup lama. Raka masuk bersama seorang jenderal dan duduk di kursi utama masing-masing tim.Di seberang meja, seorang pria paruh baya segera berdiri menyambut. "Dokter Brielle, akhirnya bisa bertemu langsung den
Raka berjongkok di depan Brielle. Jarinya hampir menyentuh sepatunya, tetapi Brielle tiba-tiba menarik kakinya menjauh. Tatapannya penuh kebencian."Jangan sentuh aku!" kata Brielle dengan ketus sambil menggertakkan gigi.Gerakan tangan Raka terhenti sejenak. Dia menatap Brielle yang duduk di sofa.
Brielle terdiam sejenak. "Baik, aku akan datang tepat waktu."Belum sempat Raka mengatakan apa pun lagi, Brielle sudah lebih dulu menutup panggilan.Meski dia tidak suka bekerja bersama Raka, demi penelitian dia harus menyingkirkan urusan pribadi. Yang terpenting sekarang adalah memperkuat dirinya s
"Mama."Anya mengulurkan tangan ke arah Brielle, lalu langsung berpindah dari pelukan ayahnya ke pelukan sang ibu. Brielle memeluk putrinya dengan erat, lalu menatap Syahira. "Syahira, kita pergi.""Tapi Papa ...." Anya menoleh ke arah Raka dengan mata berkaca-kaca.Raka melangkah cepat mengikuti me







