LOGINPerasaan dan kondisi batin Raline sekarang memang sudah banyak berubah. Dari awal yang penuh ketakutan terhadap penyakitnya, kini dia benar-benar sudah lebih tenang. Lagi pula, jika dia bisa pulih, itu berarti penyakit ibunya juga memiliki harapan untuk disembuhkan.....Di vila, Devina baru saja menerima telepon dari ibunya dan suasana hatinya sedang buruk. Freyna membawa kontrak iklan yang baru diterima dan meletakkannya di depannya."Devina, aku tahu belakangan ini suasana hatimu nggak baik. Tapi, uang yang datang sendiri ini, apa nggak sebaiknya kita ...."Devina melihat kontrak iklan itu, lalu berkata dengan kesal, "Iklan sampah apa ini? Kamu suruh aku jadi bintang iklan popok?""Bukan, maksudku ...." Freyna mencoba menjelaskan.Devina membanting kontrak itu ke meja dengan marah, "Kamu pikir aku sudah terpuruk sampai harus menerima iklan apa saja? Iklan yang merendahkan statusku begini, jangan pernah kamu bawa lagi."Freyna menghela napas, lalu membujuk dengan sabar, "Devina, seka
Dari balik kaca, Brielle melihat Raka yang duduk tenang di kursi dan lengannya terulur. Perawat melakukan prosedur pengambilan darah dengan terampil.Seolah menyadari keberadaan Brielle di luar, Raka mengangkat kepala. Tatapannya kembali dalam dan tenang seperti biasa. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, lalu Brielle langsung berbalik untuk pergi.Perawat mencabut jarum dan menekan bekas tusukan dengan kapas. Raka mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu berdiri. Dia menggulung lengan kemeja dan memperlihatkan lengannya yang kokoh. Setelah menekan beberapa detik, dia merapikan kembali lengan bajunya dan berjalan menuju pintu dengan tenang.Brielle baru hendak masuk ke kantor ketika mendengar langkah kaki di belakangnya. Dia pun berbalik.Raka berdiri beberapa langkah darinya dan menjaga jarak yang tepat."Dokter Brielle," sapanya dengan nada bicara formal.Brielle mengangkat pandangan dengan dingin. "Ada perlu?""Aku datang untuk menyelesaikan pengambilan darah minggu ini,"
Brielle memang mewarisi sifat ayahnya yang terobsesi pada penelitian. Saat Brielle jatuh pingsan ketika meneliti tanpa henti selama tiga hari tiga malam waktu itu, Raka yang berdiri di depan ruang gawat darurat telah mengambil keputusan untuk jawaban hari ini.Tidak apa-apa, biarlah Brielle membencinya.Masalah itu sudah berhasil dipecahkan Brielle, jadi tidak perlu lagi menjadi beban berat di hatinya. Mengurangi satu tanggung jawab dan beban di pundak Brielle agar wanita itu bisa hidup dengan lebih tenang.Raka kembali memejamkan mata dan menekan semua emosinya.Pukul sebelas, dia berkata dengan suara serak, "Kamu kembali untuk istirahat saja. Aku sudah nggak apa-apa."Brielle melirik waktu, lalu benar-benar berdiri hendak pergi.Raka menatap punggungnya yang berjalan tanpa ragu menuju pintu. Dadanya terasa sesak. Hampir secara refleks dia ingin bangkit untuk menghentikan Brielle."Brielle ...," panggil Raka dengan suara serak dan tiba-tiba berdiri dari sofa.Namun, kelemahan dan rasa
Saat Brielle hendak menutup telepon, Gavin berkata dengan cemas, "Bu Brielle, tolong bantu urus Pak Raka. Ayahku juga baru dirawat di rumah sakit, aku nggak bisa pergi."Brielle tertegun sejenak, lalu menjawab, "Baik."Brielle membuka pintu. Di ruang tamu hanya ada satu lampu dinding yang redup menyala. Raka terbaring di sofa dan tampaknya sudah tertidur. Brielle mendekat untuk memeriksanya dan mendapati napasnya tampak memburu. Alisnya berkerut dan tidurnya tidak nyenyak.Brielle mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. Ternyata benar, panasnya mengejutkan.Raka kembali demam tinggi.Brielle berdiri dan pergi ke kamar mandi. Dia memeras handuk dingin, lalu kembali dan menempelkannya di dahi Raka. Saat dia sedang mengambil obat di atas meja, dari belakang terdengar suara pria yang serak dan tidak percaya, "Brielle?""Jam berapa terakhir kali kamu minum obat?" Brielle menoleh dan menatapnya dengan dingin.Raka mengernyit, seolah sedang mengingat, "Sepertinya sekitar jam empat lewat."
Brielle kembali ke rumah. Setelah masuk ke ruang kerja, air matanya akhirnya tidak bisa lagi ditahan. Dia menangis karena ayahnya.Memikirkan seseorang yang mendedikasikan diri pada penelitian sepanjang hidupnya, tapi malah dipandang sebagai sebuah peluang bisnis bagi sebagian orang di masa-masa terakhirnya.Beberapa menit kemudian, Brielle mengusap air matanya hingga kering, sorot matanya perlahan berubah menjadi tegas.Mungkin mengejar kebenaran memang tidak lagi ada artinya sekarang. Akan tetapi, dia tidak boleh lemah. Di masa depan, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang yang dipedulikannya dalam bentuk apa pun.Pukul sembilan, Lastri yang turun untuk memanggil Anya. Anya pun naik ke lantai atas dengan patuh.Sebelum tidur, Anya berkata dengan sedikit murung, "Papa bilang dia mau pergi beberapa hari, nggak tinggal di bawah lagi."Brielle menghiburnya, "Mungkin Papa sedang sakit, jadi harus pergi berobat. Mama yang temani Anya.""Mama, Papa kasihan sekali sendirian. Dia
"Baik, aku akan panggil Anya naik untuk makan," kata Brielle.Brielle datang ke lantai 27 dan menekan bel. Melihatnya datang, Gavin lalu tersenyum, "Bu Brielle datang, ya. Kebetulan aku ada urusan dan harus pergi. Tolong bantu jaga Pak Raka sebentar."Brielle sedikit terkejut, lalu bertanya, "Gimana kondisinya sekarang?""Sekarang Pak Raka sudah dalam kondisi demam ringan, tapi dokter khawatir malam ini dia bisa kembali demam tinggi," kata Gavin dengan nada khawatir."Ya." Brielle mengangguk.Gavin langsung terlihat lega, "Kalau begitu, maaf merepotkan Bu Brielle. Aku pamit dulu."Ekspresi Gavin seperti baru saja melepaskan beban berat. Dia membuka pintu dan pergi dengan santai.Raka tidak ada di ruang tamu. Brielle mendengar suara dari ruang bermain. Raka sedang duduk di sofa menemani putrinya bermain balok. Gaga berbaring di sofa, mulutnya bersandar manja di paha Raka sambil menikmati usapan tangannya dengan mata setengah terpejam.Pemandangan ayah, anak, dan seekor anjing itu sebena
Cahaya licik melintas di mata Devina, menandakan rencananya sudah berhasil. Dia berpura-pura menghela napas dan berkata, "Tapi kamu bisa apa? Lambert sekarang sudah benar-benar terpikat oleh Brielle. Apa kamu yakin dia mau mendengar kata-katamu?"Tatapan Jay menjadi dalam. "Kalau begitu, kita kasih
Saat itu di dalam aula pameran yang tenang, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengeluarkannya dan melirik sebentar, lalu langsung memutus panggilan itu.Lambert menoleh dan bertanya, "Kenapa nggak diangkat?""Telepon iseng," jawab Brielle dengan tenang.Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Brielle meng
Baru saat itu Syahira tersadar. Astaga, menyebalkan sekali! Sahabatnya ini bosnya sendiri!"Ah, nggak usah! Kamu mau bikin aku mati kelelahan?" jawab Syahira cepat, wajahnya langsung memerah.Brielle tak bisa menahan tawa. "Masih muda, wajar saja begitu!""Oh, berani ngeledek aku ya?" Syahira langsu
Brielle menekan amarah di dadanya dan melangkah keluar dari lift. Cherlina sedang bergegas menuju ruang rapat. Ketika melihat Brielle, dia langsung menyapa, "Brielle, perlu aku buatin kopi?"Brielle tersenyum padanya. "Boleh, terima kasih!""Ah, santai saja." Cherlina mengangkat alisnya sedikit. Dia







