Setelah Dikhianati Kaisar, Aku Menjadi Ibu Tiga Anak

Setelah Dikhianati Kaisar, Aku Menjadi Ibu Tiga Anak

last updateHuling Na-update : 2026-08-20
By:  Fachra. LIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
80Mga Kabanata
4.5Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Aku pikir malam itu akan menjadi akhir hidupku. Malam ketika pria yang paling kucintai merebut kekuatanku dengan tangannya sendiri. Namun saat membuka mata, aku justru terbangun di tubuh wanita asing bernama Blair Shanon—seorang ibu muda yang dianggap gila dan hidup terbuang bersama tiga anak kecil di pinggir hutan. Mereka memanggilku Ibu. Masalahnya, aku bahkan bukan ibu mereka. Aku adalah Gwen, seorang penyihir dari dunia lain yang seharusnya mati setelah dikhianati Kaisar. Di dunia asing tanpa sihir ini, aku mencoba bertahan hidup bersama tiga anak kecil yang perlahan mulai menjadi keluargaku sendiri. Sampai suatu hari, aku menemukan seorang pria terluka parah di tengah hutan bersalju. Tubuhnya dipenuhi bekas luka dengan kruk kayu di sisinya. Dan untuk pertama kalinya … sihirku tidak bekerja pada seseorang. Aku tidak tahu bahwa pria berbahaya yang kutolong itu adalah ayah kandung ketiga anak ini. Dan aku terlalu terlambat untuk menyadari—suatu hari nanti, dia mungkin akan merebut mereka dariku.

view more

Kabanata 1

Bab 1 Wanita dengan Otak Terbelakang

“Apa Ibu sudah mati?”

Suara kecil itu terdengar pelan di tengah udara dingin yang membeku.

Gadis kecil bermata bulat seperti kelopak teratai itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap kedua kakak laki-lakinya dengan bingung. Bola matanya hitam pekat, sebening genangan air hujan.

“Bagaimana cara mengetahui orang mati?” Kakak laki-laki pertama bertanya sambil mengerutkan kening. “Meski Ibu kita bodoh, aku tidak berharap dia benar-benar mati.”

“Benar,” sahut bocah laki-laki kedua dengan cepat.

Tangannya mengguncang bahu wanita yang terbaring di tanah itu pelan-pelan. “Tidak apa-apa kalau Ibu tidur lama lagi. Tidak apa-apa kalau Ibu lupa siapa kita. Tapi Ibu bodoh tidak boleh meninggalkan kita.”

“Ibu ….”

“Bangunlah.”

“Bu, apa kau mati?”

Suara-suara kecil itu terdengar saling bersahutan, samar dan jauh, seolah datang dari dasar air yang gelap.

Kesadaran wanita itu perlahan tertarik kembali.

Kepalanya terasa sakit luar biasa. Seluruh tubuhnya dingin. Namun saat matanya akhirnya terbuka, tiga wajah mungil memenuhi pandangannya dari jarak sangat dekat.

Mereka cantik.

Tidak—menggemaskan sekali.

Seorang gadis kecil dengan pipi lembut seperti mochi, lalu dua bocah laki-laki tampan yang terlihat sangat mirip satu sama lain.

Wanita itu menatap mereka selama beberapa detik sebelum perlahan duduk. Rambut hitam panjangnya jatuh berantakan di bahu.

“Mmm ….” Bibirnya melengkung tanpa sadar. “Kalian ini apa? Bola-bola kapas?”

Tiga anak kecil itu langsung terdiam.

“Aku belum pernah melihat anak kecil secantik kalian sebelumnya,” lanjutnya tulus sambil menatap mereka satu per satu. “Siapa nama kalian?”

Ekspresi mereka berubah aneh.

Kakak laki-laki pertama langsung bersedekap sambil menghela napas panjang seperti orang dewasa kecil.

“Lihat? Ibu bodoh tidak mengenali kita lagi.”

“Tidak apa-apa.” Gadis kecil itu justru tersenyum lega lalu memeluk lengannya. “Yang penting Ibu belum mati.”

“Iya.” Bocah laki-laki kedua ikut memeluk pinggangnya tanpa ragu. “Ibu tetap Ibu kita.”

Wanita itu membeku.

Tunggu.

Ibu?

Senyumnya perlahan menghilang.

Dengan gerakan kaku, dia melepaskan tangan kecil yang menempel padanya satu per satu, lalu menatap ketiga anak itu dengan serius.

“Baiklah,” katanya hati-hati. “Kita luruskan dulu satu hal. Aku bukan ibu kalian.”

Tiga pasang mata bulat langsung menatapnya.

“Aku juga tidak bodoh,” lanjutnya cepat. “Dan—”

Kalimat itu terputus begitu saja.

Ingatan terakhir sebelum semuanya gelap kembali menghantam kepalanya.

Cahaya bulan purnama, lingkaran sihir, lalu rasa sakit ketika kekuatannya direnggut paksa.

Dan wajah pria yang paling ia percaya di dunia—Kaisar Erland.

Napas wanita itu tercekat.

Dia ingat sekarang.

Dia baru saja melarikan diri dari dunianya sendiri menggunakan sisa kekuatan teleportasi terakhir yang ia miliki.

Dari keluarganya. Dari para penyihir kerajaan. Dari pria yang seharusnya menjadi suaminya.

Jantungnya langsung berdegup keras.

Kalau begitu … di mana dia sekarang?

Wanita itu buru-buru bangkit dan berjalan limbung menuju tepi sungai terdekat. Air dingin memantulkan wajah asing yang membuatnya terpaku.

Seorang wanita muda.

Cantik. Sangat cantik.

Wajahnya lembut dengan mata bulat besar yang mirip ketiga anak tadi.

Dia bukan lagi Gwen Gladwyn.

Wanita itu menatap bayangannya cukup lama sebelum menoleh kembali ke arah anak-anak kecil yang masih memperhatikannya tanpa berkedip.

“… Baiklah.” Dia menarik napas panjang lalu tersenyum tipis. “Kurasa terjadi sedikit kesalahan.”

Ketiga anak itu tetap diam.

“Sebenarnya aku tidak berniat datang ke sini,” katanya lagi sambil mundur selangkah. “Jadi aku akan pergi sekarang.”

Ketika ia mencoba mengumpulkan sisa sihir dalam tubuhnya, rasa nyeri tajam langsung menusuk kepalanya.

Potongan-potongan ingatan asing membanjiri pikirannya tanpa ampun.

Seorang wanita berjalan sendirian di tengah salju.

Tiga anak kecil menangis kelaparan.

Sebuah gubuk reyot di tepi hutan.

Tatapan jijik orang-orang.

Lalu rasa bingung yang terus-menerus.

Wanita pemilik tubuh ini … tidak sepenuhnya normal. Bahkan bisa dikatakan ia memiliki keterbelakangan mental.

Kepalanya pernah mengalami cedera parah di masa lalu. Ingatannya kacau. Pikirannya sering kosong. Kadang dia bahkan lupa jalan pulang dan tidak mengenali anak-anaknya sendiri.

Napas Gwen tercekat saat ingatan berikutnya muncul.

Wanita itu diusir keluarganya.

Dibuang bersama tiga anak kecilnya.

Dan beberapa menit yang lalu … dia mati karena tabrak lari.

Gwen memegangi kepalanya kuat-kuat. Rasa sakitnya seperti ribuan jarum menusuk otaknya bersamaan.

Namun yang paling membuatnya tidak nyaman bukanlah rasa sakit itu. Melainkan tiga pasang mata kecil yang masih menatapnya penuh harap.

Anak-anak itu kurus, dan pakaian mereka tipis. 

Jelas, mereka sudah terlalu sering ditinggalkan.

Gwen mengutuk pelan dalam hati.

Dia baru saja dikhianati semua orang yang ia cintai. Baru saja kehilangan dunianya sendiri. Dan sekarang—

Sekarang dia malah terjebak menjadi ibu dari tiga anak kecil?

Dia bahkan belum pernah menikah.

Bagaimana cara mengurus anak-anak?

Dan lebih penting lagi … bagaimana dia bisa pergi setelah melihat keadaan mereka seperti ini?

***

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

unknown
unknown
thorrr adrian gantung loh gak kamu lanjutin kah
2026-07-11 20:18:13
1
1
80 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status