MasukAku pikir malam itu akan menjadi akhir hidupku. Malam ketika pria yang paling kucintai merebut kekuatanku dengan tangannya sendiri. Namun saat membuka mata, aku justru terbangun di tubuh wanita asing bernama Blair Shanon—seorang ibu muda yang dianggap gila dan hidup terbuang bersama tiga anak kecil di pinggir hutan. Mereka memanggilku Ibu. Masalahnya, aku bahkan bukan ibu mereka. Aku adalah Gwen, seorang penyihir dari dunia lain yang seharusnya mati setelah dikhianati Kaisar. Di dunia asing tanpa sihir ini, aku mencoba bertahan hidup bersama tiga anak kecil yang perlahan mulai menjadi keluargaku sendiri. Sampai suatu hari, aku menemukan seorang pria terluka parah di tengah hutan bersalju. Tubuhnya dipenuhi bekas luka dengan kruk kayu di sisinya. Dan untuk pertama kalinya … sihirku tidak bekerja pada seseorang. Aku tidak tahu bahwa pria berbahaya yang kutolong itu adalah ayah kandung ketiga anak ini. Dan aku terlalu terlambat untuk menyadari—suatu hari nanti, dia mungkin akan merebut mereka dariku.
Lihat lebih banyakMatahari sudah cukup tinggi ketika tiga orang pria itu akhirnya benar-benar menjalankan hukuman mereka.Pakaian yang semula rapi kini mulai melekat di tubuh. Napas Nelson terdengar paling berisik, sementara Ryan mulai memasang wajah seolah sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya.Logan masih berusaha mempertahankan ritme.Gwen?Ia duduk dengan sangat nyaman. Satu tangannya memegang bungkus camilan.Krek.Ia menggigit keripik.Ryan mengangkat kepalanya sedikit.“Blair ….”“Hm?”“Boleh berhenti sebentar?”Bahkan Ryan sudah mulai kelelahan.Namun Gwen menjawab begitu cepat, seolah tidak perlu mempertimbangkannya sama sekali.“Tidak.”“Kalau begitu, boleh minum?” Nelson memasang wajah memelas.“Setelah lima puluh.”“Tapi kita sudah enam puluh lebih, Blair,” keluh Nelson. “Aku bahkan sudah tidak bisa menghitung lagi.”“Bagus. Berarti sebentar lagi.”Nelson memejamkan mata.Wanita ini benar-benar kejam.“Blair,” rayunya lagi. “Aku tidak sanggup lagi, Blair. Sungguh!”Gwen hanya men
Ryan kembali melirik Arsen.Namun pria itu juga tidak memberikan bantuan sedikit pun.Sepertinya semua orang sepakat menyerahkan urusan ini kepadanya.Sialan.“Mm … di dunia ini … memang alkohol bisa memiliki efek seperti itu.” Ryan mengusap tengkuknya pelan, berusaha terdengar meyakinkan.“Astaga … aku tidak tahu kalau alkohol di sini sekuat itu.”Baru saat itu Damien meletakkan tabletnya.“Itu sebabnya perhatikan apa yang mau kau lakukan.”Gwen tidak menjawab. Dia hanya mendengus kecil.Dia memang hanya ingin bersenang-senang sedikit. Lagipula, sudah sangat lama dia tidak bisa hidup dengan bebas.Dan itu juga gara-gara pria yang sekarang sedang menceramahinya.“Apa Logan juga mengatakan sesuatu mengenai tanganku ini?”Gwen mengangkat tangannya dan menunjukkan telapak tangannya.“Oh, ya, itu ….” Ryan kembali memutar otak. “Itu katanya saat kau tidak sadar, kau tergores pecahan gelas.”Gwen diam sejenak.Kemudian dia mengangguk-angguk.Semua alasan itu diterimanya dengan mudah.Namun,
“Kenapa? Ada yang kau keluhkan?” Damien bertanya dengan ringan sambil naik lagi ke ranjang.“Damien?”“En?” Pria itu berbaring di sisinya, memeluknya lagi. Kepalanya mendongak, menatap Gwen tanpa rasa bersalah.“Kenapa kau di sini?”“Memang kenapa?” Damien mengerutkan alis. “Ini rumahku. Jika tidak kemari, ke mana lagi aku harus pulang?”Ekspresi Gwen justru semakin bingung. “Pulang?”“Kau … sudah pulang?” Ia mengulangnya lagi. “Bukannya kau bilang akan pergi berhari-hari?”“Ya. Dan ini sudah tiga hari sejak aku pergi.”Tiga hari?Gwen meneguk ludah.Kenapa bisa tiba-tiba sudah tiga hari?Kenapa dia tidak bisa ingat apa yang terjadi selama tiga hari?“Kemari, tidurlah lagi dan buat dirimu nyaman.” Damien membantunya merebahkan tubuh lagi, menata bantalnya. “Tidakkah kau merasa pusing?”“Sebenarnya … ya, aku merasa pusing. Tubuhku juga seperti kehabisan tenaga.”Gwen menurut saja ketika Damien membaringkannya. Tapi saat pria itu melingkari tubuhnya lagi, ia mendorong dengan sisia tenag
Rumah itu masih ramai meskipun waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi.Orang-orang masih berlalu-lalang di sepanjang lorong sambil membawa kopi. Sementara yang lain ada di sekitar halaman sambil berbincang.Hingga suara kendaraan terdengar dari halaman depan.Beberapa orang yang berada di dekat pintu segera menoleh.Rombongan Damien akhirnya tiba.Pintu kendaraan terbuka, dan Damien turun lebih dulu. Arsen menyusul di belakangnya, disusul Ryan serta beberapa orang lainnya yang ikut dalam perjalanan.Begitu melihat sosok itu kembali, para pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak.“Selamat datang, Tuan Besar.”Suara mereka terdengar hampir bersamaan.Damien hanya mengangguk singkat.Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada pula ekspresi puas atas gelar yang kini resmi menjadi miliknya.Namun semua orang tahu siapa dia saat ini.Bukan lagi Tuan Muda Ace.Kini, Damien adalah Tuan Besar yang berdiri sebagai pemimpin tertinggi atas semua klan bawah tanah.Logan yang sejak tadi menunggu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan