Mag-log inAku pikir malam itu akan menjadi akhir hidupku. Malam ketika pria yang paling kucintai merebut kekuatanku dengan tangannya sendiri. Namun saat membuka mata, aku justru terbangun di tubuh wanita asing bernama Blair Shanon—seorang ibu muda yang dianggap gila dan hidup terbuang bersama tiga anak kecil di pinggir hutan. Mereka memanggilku Ibu. Masalahnya, aku bahkan bukan ibu mereka. Aku adalah Gwen, seorang penyihir dari dunia lain yang seharusnya mati setelah dikhianati Kaisar. Di dunia asing tanpa sihir ini, aku mencoba bertahan hidup bersama tiga anak kecil yang perlahan mulai menjadi keluargaku sendiri. Sampai suatu hari, aku menemukan seorang pria terluka parah di tengah hutan bersalju. Tubuhnya dipenuhi bekas luka dengan kruk kayu di sisinya. Dan untuk pertama kalinya … sihirku tidak bekerja pada seseorang. Aku tidak tahu bahwa pria berbahaya yang kutolong itu adalah ayah kandung ketiga anak ini. Dan aku terlalu terlambat untuk menyadari—suatu hari nanti, dia mungkin akan merebut mereka dariku.
view more“Apa Ibu sudah mati?”
Suara kecil itu terdengar pelan di tengah udara dingin yang membeku.
Gadis kecil bermata bulat seperti kelopak teratai itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap kedua kakak laki-lakinya dengan bingung. Bola matanya hitam pekat, sebening genangan air hujan.
“Bagaimana cara mengetahui orang mati?” Kakak laki-laki pertama bertanya sambil mengerutkan kening. “Meski Ibu kita bodoh, aku tidak berharap dia benar-benar mati.”
“Benar,” sahut bocah laki-laki kedua dengan cepat.
Tangannya mengguncang bahu wanita yang terbaring di tanah itu pelan-pelan. “Tidak apa-apa kalau Ibu tidur lama lagi. Tidak apa-apa kalau Ibu lupa siapa kita. Tapi Ibu bodoh tidak boleh meninggalkan kita.”
“Ibu ….”
“Bangunlah.”
“Bu, apa kau mati?”
Suara-suara kecil itu terdengar saling bersahutan, samar dan jauh, seolah datang dari dasar air yang gelap.
Kesadaran wanita itu perlahan tertarik kembali.
Kepalanya terasa sakit luar biasa. Seluruh tubuhnya dingin. Namun saat matanya akhirnya terbuka, tiga wajah mungil memenuhi pandangannya dari jarak sangat dekat.
Mereka cantik.
Tidak—menggemaskan sekali.
Seorang gadis kecil dengan pipi lembut seperti mochi, lalu dua bocah laki-laki tampan yang terlihat sangat mirip satu sama lain.
Wanita itu menatap mereka selama beberapa detik sebelum perlahan duduk. Rambut hitam panjangnya jatuh berantakan di bahu.
“Mmm ….” Bibirnya melengkung tanpa sadar. “Kalian ini apa? Bola-bola kapas?”
Tiga anak kecil itu langsung terdiam.
“Aku belum pernah melihat anak kecil secantik kalian sebelumnya,” lanjutnya tulus sambil menatap mereka satu per satu. “Siapa nama kalian?”
Ekspresi mereka berubah aneh.
Kakak laki-laki pertama langsung bersedekap sambil menghela napas panjang seperti orang dewasa kecil.
“Lihat? Ibu bodoh tidak mengenali kita lagi.”
“Tidak apa-apa.” Gadis kecil itu justru tersenyum lega lalu memeluk lengannya. “Yang penting Ibu belum mati.”
“Iya.” Bocah laki-laki kedua ikut memeluk pinggangnya tanpa ragu. “Ibu tetap Ibu kita.”
Wanita itu membeku.
Tunggu.
Ibu?
Senyumnya perlahan menghilang.
Dengan gerakan kaku, dia melepaskan tangan kecil yang menempel padanya satu per satu, lalu menatap ketiga anak itu dengan serius.
“Baiklah,” katanya hati-hati. “Kita luruskan dulu satu hal. Aku bukan ibu kalian.”
Tiga pasang mata bulat langsung menatapnya.
“Aku juga tidak bodoh,” lanjutnya cepat. “Dan—”
Kalimat itu terputus begitu saja.
Ingatan terakhir sebelum semuanya gelap kembali menghantam kepalanya.
Cahaya bulan purnama, lingkaran sihir, lalu rasa sakit ketika kekuatannya direnggut paksa.
Dan wajah pria yang paling ia percaya di dunia—Kaisar Erland.
Napas wanita itu tercekat.
Dia ingat sekarang.
Dia baru saja melarikan diri dari dunianya sendiri menggunakan sisa kekuatan teleportasi terakhir yang ia miliki.
Dari keluarganya. Dari para penyihir kerajaan. Dari pria yang seharusnya menjadi suaminya.
Jantungnya langsung berdegup keras.
Kalau begitu … di mana dia sekarang?
Wanita itu buru-buru bangkit dan berjalan limbung menuju tepi sungai terdekat. Air dingin memantulkan wajah asing yang membuatnya terpaku.
Seorang wanita muda.
Cantik. Sangat cantik.
Wajahnya lembut dengan mata bulat besar yang mirip ketiga anak tadi.
Dia bukan lagi Gwen Gladwyn.
Wanita itu menatap bayangannya cukup lama sebelum menoleh kembali ke arah anak-anak kecil yang masih memperhatikannya tanpa berkedip.
“… Baiklah.” Dia menarik napas panjang lalu tersenyum tipis. “Kurasa terjadi sedikit kesalahan.”
Ketiga anak itu tetap diam.
“Sebenarnya aku tidak berniat datang ke sini,” katanya lagi sambil mundur selangkah. “Jadi aku akan pergi sekarang.”
Ketika ia mencoba mengumpulkan sisa sihir dalam tubuhnya, rasa nyeri tajam langsung menusuk kepalanya.
Potongan-potongan ingatan asing membanjiri pikirannya tanpa ampun.
Seorang wanita berjalan sendirian di tengah salju.
Tiga anak kecil menangis kelaparan.
Sebuah gubuk reyot di tepi hutan.
Tatapan jijik orang-orang.
Lalu rasa bingung yang terus-menerus.
Wanita pemilik tubuh ini … tidak sepenuhnya normal. Bahkan bisa dikatakan ia memiliki keterbelakangan mental.
Kepalanya pernah mengalami cedera parah di masa lalu. Ingatannya kacau. Pikirannya sering kosong. Kadang dia bahkan lupa jalan pulang dan tidak mengenali anak-anaknya sendiri.
Napas Gwen tercekat saat ingatan berikutnya muncul.
Wanita itu diusir keluarganya.
Dibuang bersama tiga anak kecilnya.
Dan beberapa menit yang lalu … dia mati karena tabrak lari.
Gwen memegangi kepalanya kuat-kuat. Rasa sakitnya seperti ribuan jarum menusuk otaknya bersamaan.
Namun yang paling membuatnya tidak nyaman bukanlah rasa sakit itu. Melainkan tiga pasang mata kecil yang masih menatapnya penuh harap.
Anak-anak itu kurus, dan pakaian mereka tipis.
Jelas, mereka sudah terlalu sering ditinggalkan.
Gwen mengutuk pelan dalam hati.
Dia baru saja dikhianati semua orang yang ia cintai. Baru saja kehilangan dunianya sendiri. Dan sekarang—
Sekarang dia malah terjebak menjadi ibu dari tiga anak kecil?
Dia bahkan belum pernah menikah.
Bagaimana cara mengurus anak-anak?
Dan lebih penting lagi … bagaimana dia bisa pergi setelah melihat keadaan mereka seperti ini?
***
Sejak siang Damien sudah menunggu Gwen keluar dari kamar.Awalnya dia tidak terlalu memikirkannya.Wanita itu mungkin lelah dan membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga. Karena itu Damien membiarkannya beristirahat.Namun waktu terus berlalu. Menjelang sore, pintu kamar itu tetap tertutup.Arsen sudah mengajaknya makan siang sejak tadi. Anak-anak juga sudah makan siang bersama Ryan di luar. Namun Damien tetap memintanya makan lebih dulu.Sampai akhirnya dia tidak tahan lagi. Bukan karena dirinya. Gwen sendiri yang sejak tadi mengeluh kehabisan tenaga. Tapi sampai sekarang, wanita itu tidak juga mau keluar.Damien yang sejak tadi duduk di ruang tengah akhirnya berdiri dan berjalan menuju kamar Gwen.Tanpa mengetuk, tangannya langsung membuka pintu.Rupanya wanita itu masih berada di sana. Gwen tidur membelakangi pintu. Entah benar-benar tertidur atau hanya sengaja berbaring dan tidak ingin bertemu siapa pun.Damien mendekat. Dia berdiri di belakang wanita itu, lalu menyentuh pundaknya
Jarak mereka semakin lama semakin jauh.Gwen sudah berada cukup jauh di depan, sementara Damien masih terpaku di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung wanita itu yang semakin menjauh.“Kami akan menyusulnya, Tuan.”“Tidak perlu.”Damien tetap berdiri dengan tenang.“Selama anak-anak ada di sini, dia tidak akan pergi jauh.”Namun baru beberapa detik setelah ucapan itu keluar dari mulutnya, suara mesin kendaraan terdengar dari belakang.Sebuah van hitam melaju kencang di sepanjang jalan.Mobil itu mendadak menepi tepat di sisi Gwen.Pintu sampingnya terbuka.Tiga orang lelaki langsung turun dan menerjang wanita itu.Gwen bahkan tidak sempat berteriak. Salah satu dari mereka membekap mulutnya, sementara dua lainnya menarik tubuhnya dengan paksa ke dalam van.“Brengsek!”Wajah Damien berubah seketika.Tanpa berpikir lagi, kakinya langsung bergerak.Damien berlari mengejar van itu, sementara tangannya sudah meraih senjata yang terselip di balik pakaiannya.Namun kerumunan orang di sepan
Gwen tidak sadar bahwa dia sudah tidur terlalu lama.Saat membuka mata, Damien sudah tidak ada di sisinya.Setidaknya itu lebih baik. Dia tidak perlu melihat pria itu lebih dulu.Tubuhnya masih terasa sakit. Bukan hanya satu bagian, tetapi hampir seluruh tubuhnya. Hanya saja, rasa sakit di bagian bawah terasa jauh lebih menyiksa.Tulang-tulangnya seperti baru saja dilepas, lalu dipasang kembali dengan cara yang salah. Tubuhnya kaku dan berat untuk digerakkan.Belum lagi bekas-bekas yang ditinggalkan Damien.Akhirnya ... dia kehilangan sesuatu yang sejak awal berusaha dia jaga.Meskipun tubuh ini bukan miliknya dan Blair yang asli memang pernah tidur bersama Damien, tetap saja saat ini dia-lah yang menempati tubuh tersebut.Apa yang terjadi tadi adalah pengalaman pertamanya. Setiap rasa dan sensasi yang ditinggalkan pria itu, Gwen-lah yang mengalaminya.Bukan Blair.Gwen mencoba bangkit.Namun begitu kedua kakinya menyentuh lantai, tubuhnya langsung terasa berat. Dari telapak kaki hing
Sementara di sana ....“Ketemu. Ryan, kamar itu ada di sini.” Suara seorang pengawal terdengar melalui earpiece.Itu benar kamar nomor 55.Padahal ketika mereka melewatinya tadi, kamar tersebut sama sekali tidak ada. Yang mereka lihat hanya sebuah tembok biasa.Ryan segera menghubungi Arsen. “Sudah ketemu. Kamar itu memang ada.”“Pastikan anak-anak di dalam baik-baik saja.”“Ya. Damien bisa berhenti sekarang.”Namun ....Arsen melirik ke pintu di belakangnya.Damien tidak mungkin berhenti sekarang. Gairah yang sedang menguasai pikiran dan hatinya telah mencapai puncaknya.Setelah dari bibir, dia turun ke leher, meninggalkan banyak bekas cupang di sana. Itu hanya permulaan sampai dia bergerak semakin ke bawah. Lalu ke bawah lagi.Selama itu pula Arsen dan para pengawal lain tidak berani mendekat. Mereka hanya berjaga di sisi tangga, menunggu jauh di bawah sana.Ryan kembali menghubunginya. “Arsen, kenapa lama sekali? Anak-anak baik-baik saja bersamaku di sini.”“Reservasi kamar untuk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu