MasukBrielle tertegun sejenak, lalu segera tersenyum, "Nggak perlu, aku turun sekarang."Brielle membawa tasnya turun. Saat melangkah keluar dari lift di lantai satu, dia melihat sosok tinggi tegap berdiri beberapa meter di depan. Pria itu tidak sedang melihat ponsel, melainkan menunggu seseorang dengan sabar.Tatapan Brielle bertemu dengan tatapannya. Pria itu langsung tersenyum.Melihatnya, hati Brielle sedikit diliputi rasa bersalah. Dia teringat terakhir kali pria itu datang mencarinya, Brielle bahkan tidak sempat menahannya untuk makan."Lama nggak ketemu." Brielle mengangkat kepala menatapnya, lalu menyadari ada bekas luka beberapa sentimeter di samping dahinya. Meski tidak terlalu mencolok, jelas itu bekas jahitan.Brielle langsung mendekat beberapa langkah dan memperhatikan luka itu, "Kenapa kamu bisa terluka begini?"Niro mengangkat tangan dan menyentuhnya. "Kena gores peluru sedikit, nggak apa-apa, cuma luka kecil."Napas Brielle sempat terhenti beberapa detik. Sulit dibayangkan b
Saat itu, seorang asisten mendekat dan berkata, "Kak Faye, kamu juga lagi lihat berita tentang Brielle ya?"Faye mencibir, "Apa yang menarik dari itu.""Dengar-dengar, Kak Faye dulu satu kelas sama Brielle? Benarkah?" tanya asisten itu dengan nada penasaran.Faye tersenyum sinis, "Iya, satu kelas. Dia itu cuma mengandalkan ayahnya dan mantan suaminya, Raka. Masih berani membual di sini."Asisten itu langsung mendekat dengan wajah penuh penasaran, "Kak Faye, yang kamu bilang itu benar? Brielle bisa dapat penghargaan itu karena ayahnya dan mantan suaminya?"Saat itu, asisten lain di samping mereka ikut menyela, "Tapi dia juga cukup hebat, 'kan?""Hebat apanya? Ayahnya dulu sudah meninggalkan banyak catatan penelitian. Dia cuma menginjak dasar akademik ayahnya untuk melakukan riset. Bukannya wajar kalau bisa dapat beberapa terobosan?" kata Faye dengan nada meremehkan.Kedua asisten itu langsung mengangguk setuju, di mata mereka tampak sedikit pemahaman, "Kalau begitu, Brielle juga biasa s
Pusat Konferensi Nasional Kyoza tampak megah dan meriah.Pukul dua lewat tiga puluh sore.Brielle mengenakan setelan kerja abu-abu gelap yang elegan, berdiri di bawah sorotan lampu dan menerima piala. Pidato penerimaannya singkat dan kuat. Dia berterima kasih kepada tim dan orang-orang yang mendukungnya, serta secara khusus menyebut pengaruh ayahnya terhadap dirinya.Saat itu, seorang pria yang sedang duduk di pesawat menunggu lepas landas kebetulan melihat siaran langsung Brielle di atas panggung. Dia teringat gadis muda yang dulu masih polos, kini telah tumbuh menjadi ilmuwan yang mampu berdikari."Pak, boleh minta tolong matikan ponselnya? Pesawat kami akan segera lepas landas," ucap pramugari sembari tersenyum manis.Raka mengangguk. Namun pada saat itu, dia tanpa sadar membuka kontak Brielle dan menulis sebuah kalimat.[ Kalau ayahmu masih hidup, dia pasti akan bangga padamu. ]Setelah menulisnya, Raka menatap pesan itu cukup lama. Pada akhirnya, dia tetap menutup layar, lalu mema
"Profesor, memangnya ada hal begitu?" Brielle berkedip.Louie menatapnya. "Waktu itu kamu menolak kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, kamu lupa? Tapi, kuota ini selalu aku simpan untukmu," katanya. "Aku ingat waktu itu aku suruh Madeline untuk menanyakanmu. Dia bilang kamu nggak berencana pergi ke luar negeri karena anakmu."Ingatan Brielle langsung kembali ke dua tahun lalu. Dia memang samar-samar mengingat Madeline pernah menanyakan hal itu dan dia juga dengan tegas menolaknya."Kuota ini diperjuangkan khusus oleh Raka untukmu. Sayang sekali kalau kamu nggak pergi," lanjut Louie, "Tapi dengan pencapaianmu sekarang, itu juga sudah sangat membanggakan."Mata Brielle sedikit membelalak. Kuota yang diperjuangkan Raka untuknya? Bukankah itu waktu dia memberikan kuota program gabungan sarjana-doktor kepada Faye? Dia ternyata membuat pengaturan seperti ini untuknya?Brielle tersenyum tipis. "Aku nggak bisa pergi. Waktu itu anakku sangat membutuhkan aku. Sebagus apa pun kesemp
Brielle melepas masker oksigen. Raka segera memeriksa kondisinya. Selain wajahnya sedikit pucat dan rambutnya agak berantakan, tidak ada ketidaknyamanan lain pada Brielle.Melihat rambut panjang Brielle yang berantakan menutupi wajahnya, Raka tanpa sadar mengulurkan tangan ingin merapikannya. Namun, Brielle mengira Raka akan melakukan sesuatu sehingga dia langsung menoleh dan menatapnya tajam. Tangan Raka terhenti di udara, lalu dia mengepalkannya dan menarik kembali.Brielle melepas ikat rambutnya. Rambut panjangnya yang mencapai pinggang terurai dengan halus. Dengan cekatan, dia mengikatnya kembali menjadi kuncir rendah di belakang kepala. Gayanya terlihat santai tetapi memikat."Kamu benar," kata Raka sambil menatapnya dengan dalam, "Kita memang nggak seharusnya mengambil risiko ini."Brielle menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali memandang lautan awan berlapis-lapis di luar jendela, "Ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua."Raka mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi
Tiga hari kemudian, Brielle bersiap berangkat ke Kyoza untuk menghadiri upacara penghargaan. Karena perjalanan itu memakan waktu dua hari, dia terpaksa menghubungi Raka untuk membicarakan soal menjaga anak mereka.Selama dua hari ini Raka tidak berada di laboratorium, jadi dia hanya bisa menghubunginya lewat telepon."Besok pagi aku ke Kyoza naik pesawat jam sepuluh. Anya perlu kamu jaga selama dua hari," kata Brielle di telepon."Oke, aku akan jaga Anya dengan baik," jawab Raka dengan sangat tegas.Melihat dia sudah setuju, Brielle pun tidak punya hal lain untuk dibicarakan dan langsung menutup telepon.Hari Jumat pagi, Brielle mengantar Anya ke sekolah. Anya juga tahu ibunya akan pergi menerima penghargaan. Dia sangat bangga dan berjanji akan bersikap baik sambil menunggu ibunya pulang.Setelah mengantar anaknya, Brielle naik taksi menuju bandara. Upacara penghargaan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional dijadwalkan pukul dua siang dan dia masih sempat mengejarnya.Sesampainya di ba
"Aku rasa dia nggak punya latar belakang pendidikan yang layak. Seseorang yang bahkan nggak lulus kuliah, mana mungkin bisa racik obat khusus? Kalau publik tahu, bisa-bisa jadi takut minum obatnya!""Benar juga sih. Faye memang lebih cocok mewakili laboratorium kita."Kedua wanita itu keluar sambil
"Baik, Pak Raka. Karena sudah disetujui, aku akan suruh bagian keuangan transfer dananya," kata manajer departemen investasi.Seorang rekan kerja di sampingnya mendorong kacamata ke atas dan memberanikan diri bertanya, "Pak Raka, kasus hukum Perusahaan Horizon belum ada keputusan. Apa perusahaan kit
"Nek, nggak usah. Aku ....""Raka, kamu dengar nggak?" Emily langsung memerintahkan cucunya."Dengar," jawab Raka yang sedang menemani Anya.Emily pun terlihat puas dengan jawaban itu. Dia berpaling ke Brielle dan berkata, "Kalau dia nggak mau belikan, biar Nenek yang belikan untukmu."Brielle terma
Devina menatap Brielle. "Brielle, kalung malam ini untukmu saja. Kamu jangan marah ya?"Brielle termangu sesaat, lalu menatap mata Devina yang penuh senyuman licik dan perhitungan."Kamu boleh ambil sesukamu semua barang yang nggak aku inginkan." Selesai berbicara, Brielle melirik ke arah pria di si







