LOGINKeesokan paginya setelah mengantar Anya ke sekolah, Brielle menerima pemberitahuan dari rumah sakit. Semua hasil pemeriksaan kesehatannya sudah keluar dan perawat memintanya datang untuk mengambil laporan.Brielle sebenarnya cukup tahu kondisi tubuhnya sendiri. Hari itu dia tiba tiba pingsan karena tubuhnya sudah bekerja di luar batas dan tidak mampu lagi menahannya.Dia datang ke meja perawat di rumah sakit. Perawat itu mencari laporan miliknya, lalu berkata dengan sedikit heran, "Eh? Aku ingat tadi pagi laporanmu sudah keluar."Pada saat itu, seorang perawat lain yang baru kembali dari kesibukan mengenali Brielle."Doktor Brielle, kamu sudah datang. Laporanmu sudah diambil oleh suamimu ... oh, maksudku mantan suamimu. Dia sedang berada di kantor dokter sekarang."Brielle tertegun beberapa detik.Raka mengambil laporan pemeriksaannya?Setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat, Brielle berjalan menuju pintu kantor dokter. Pintu itu terbuka dan dari dalam terdengar suara Raka yang
Siria tersenyum dan mengangguk. "Bagus kalau begitu. Antarkan aku pulang saja."Hati Jay langsung terasa lega, seolah perjalanan berikutnya akan menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya. "Aku pengin dengar musik," kata Siria.Jay segera membuka kunci ponselnya dan menyerahkannya padanya. "Kamu mau dengar lagu apa, pilih saja sendiri."Siria agak terkejut. Tatapannya tertuju pada wajah Jay yang tersenyum. Dia lalu menerima ponsel itu dan memilih lagu yang dia sukai. Musik yang ceria langsung terdengar di dalam mobil, seolah malam di luar pun menjadi lebih tenang.Setelah mengantar Siria sampai ke rumahnya, Siria berkata kepada Jay, "Hati-hati nyetirnya.""Oke," jawab Jay.Namun, dia tidak langsung menginjak pedal gas untuk pergi.Siria menatapnya lalu tersenyum. "Kenapa kamu belum pergi?"Jay tertegun sejenak, lalu baru menyalakan mobil dan pergi. Namun, dia masih menatap sosok Siria melalui kaca spion sampai mobilnya berbelok dan tidak bisa melihatnya lagi.Dalam perjalanan pulang, Ja
"Benar. Bu Devina, kamu pulang saja dulu. Apa pun yang ingin kamu katakan, tunggu sampai kamu sadar baru bicara sama Jay."Devina menatap Siria, lalu melirik Jay, kemudian tersenyum tipis."Jay benar-benar beruntung bisa memiliki teman seperti Bu Siria yang begitu pengertian."Devina memang ahli dalam berbicara. Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi sebenarnya menyindir bahwa sikap pengertian Siria terasa palsu. Jay mendengar sindiran dalam kata-kata Devina dan hendak berbicara. Namun, Siria sudah lebih dulu tersenyum tipis."Teman Jay adalah temanku juga. Wajar kalau aku mengkhawatirkanmu."Dada Devina terasa sesak. Dia tahu tidak ada gunanya terus berdebat. Kalau dilanjutkan, justru akan membuatnya terlihat tidak tahu diri dan tidak bijaksana. "Baiklah ... kalau begitu aku merepotkan kalian."Devina memaksakan senyum yang sangat kaku. "Aku agak mabuk perjalanan. Aku ingin duduk di kursi depan. Bu Siria nggak keberatan, 'kan?"Devina menoleh menatap Siria. Siria tersenyum. "Ten
"Jay ...," panggil Devina dengan suara tercekat penuh kegembiraan. "Aku kira kamu nggak peduli lagi sama aku."Melihat keadaannya seperti itu, Jay mengulurkan tangan dan berkata, "Ayo. Mobilku ada di luar. Kuantar kamu pulang."Hati Devina langsung dipenuhi kegembiraan. Dia tahu Jay tidak mungkin benar-benar meninggalkannya begitu saja. Dia meraih tangan Jay dan menggenggamnya, lalu mengambil tasnya. Saat berdiri, dia sengaja menabrakkan dadanya ke tubuh Jay.Jay terlihat sedikit canggung. Dia segera memegang bahu Devina."Kamu masih bisa berjalan?"Devina tersenyum dan menggeleng seperti anak kecil. "Nggak bisa. Aku ingin kamu menopangku."Jay hanya bisa menghela napas, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Devina dan membantunya berjalan menuju pintu bar. Di balik tatapan matanya yang tertunduk, Devina memperlihatkan senyum tipis.Sepertinya, Jay sudah membuat pilihan di antara Siria dan dirinya.Devina juga yakin dirinya tidak salah menilai. Seorang pria yang telah mencintainya se
"Kamu nggak merasa aku ikut campur terlalu jauh?" Siria bertanya balik.Jay terdiam beberapa detik. Reaksi Siria jelas bukan marah padanya. Bahkan dia malah mengusulkan untuk mengantar Devina pulang bersama. Hal itu benar-benar di luar dugaannya."Siria, kamu benar-benar ... nggak marah sama aku?" Jay kembali memastikan. Bagaimanapun juga, pemandangan di bar tadi mungkin saja membuatnya salah paham.Ekspresi Siria tetap tenang, matanya tampak jernih dan sadar."Kenapa aku harus marah? Kamu dan Bu Devina itu teman. Wajar kalau kamu bantu dia waktu mabuk."Setelah berkata demikian, dia bertanya lagi, "Bukannya dia pacar Pak Raka?"Jay tertegun. "Kenapa kamu bisa tahu?"Setelah itu, rasa terkejut bercampur gembira muncul di hatinya. Mungkinkah Siria pernah menyelidiki Devina? Apakah itu karena dirinya?Tatapan Jay yang panas membuat Siria merasa pikirannya terbaca. Wajahnya sedikit memerah, lalu dia memalingkan kepala. "Kamu masih mau antar dia nggak?""Oke. Kamu tunggu di samping mobilku
Namun, hatinya malah terjerat oleh sosok lain. Jay mendongak dan menatap ke arah sofa di tengah. Pada saat itu, dia melihat Siria sedang berbicara dengan seorang pria. Entah apa yang mereka bicarakan, Siria tiba-tiba mengangkat tangan dan memukul ringan bahu pria itu sambil tersenyum dan memarahinya dengan nada bercanda.Hati Jay seolah tertusuk. Dia refleks menarik kembali tangannya yang sedang digenggam oleh Devina. Hati Devina seketika menjadi sedingin tangannya. Dia mengangkat kepala dan mengikuti arah tatapan Jay.Di matanya muncul kilatan gelap dan perasaan tidak senang.Kenapa Siria juga ada di sini?Namun tak lama kemudian, sudut bibir merahnya terangkat. Tatapan itu segera digantikan oleh kilatan penuh perhitungan. Saat itu Siria sedang mengambil tasnya, jelas dia berniat meninggalkan tempat itu.Pada saat itulah tatapan Siria mengarah ke tempat Jay berada.Devina langsung menangkap kesempatan itu. Dia menekan dahinya seolah pusing, lalu hampir seluruh tubuhnya bersandar ke ar
Mungkin saja ini adalah cara Raka untuk menyiksanya dengan sengaja!Bagaimanapun, Raka akan segera menikahi kakaknya. Jadi, melemparkan pekerjaan yang butuh banyak waktu dan tenaga kepadanya juga bisa membuat sang mantan istri tidak punya kesempatan mengganggu kehidupan mereka.Yang paling membuat
"Aku masih ada pertanyaan." Raka menghentikannya.Langkah kaki Brielle terhenti. Dia berbalik menatapnya. "Ada apa, Pak Raka?""Aku nggak begitu puas dengan progres penelitian kalian saat ini." Raka mengangkat alis, sorot matanya penuh ketidakpuasan.Brielle tertegun. Pria ini menganggap perkembanga
Brielle kerap memanfaatkan urusan pekerjaan untuk muncul di sisi Raka, maksudnya jelas sekali."Bu Devina, saya antar Anda ke atas." Resepsionis menyambutnya dengan ramah.Devina tersenyum tipis, lalu menenteng tas dan melangkah menuju lift pribadi milik Raka.Sore harinya, Brielle menghadiri rapat
Lalu, ponsel Brielle tiba-tiba berbunyi. Dia mengangkatnya dan melihat nama Harvis, lalu segera menjawab, "Halo, Kak Harvis.""Brie, data yang kamu minta sudah kukirim ke email-mu.""Baik, terima kasih banyak." Brielle menoleh pada pria di belakangnya. "Kamu pergi sana. Jangan ganggu hidupku lagi."







