LOGINBrielle kembali dibuat terdiam oleh ucapannya. Dia memang benar-benar lupa. Belakangan ini pikirannya sepenuhnya dipenuhi pekerjaan di laboratorium sehingga dia tidak punya waktu memikirkan hal lain."Aku ...."Brielle membuka mulut ingin menjelaskan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.Raka justru berkata dengan nada santai, "Sudahlah. Selama Dokter Brielle nggak merasa rambutku jelek, sebenarnya nggak diobati juga nggka masalah."Maksudnya jelas. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain. Satu-satunya yang dia pedulikan hanyalah pendapat Brielle.Brielle mengangkat cangkir tehnya, lalu mendengus pelan. "Selama nggak memengaruhi kesehatanmu, sebenarnya diobati atau nggak juga nggak ada bedanya."Raka tersenyum tipis. Dia juga tahu kapan harus berhenti menggoda. Dia kembali mengangkat sendok dan mengambil makanan."Renovasi bagian utama vila hampir selesai. Desain interiornya juga sudah dikirim desainer dalam beberapa versi. Kalau malam nanti kamu sempat, kita tentukan bersama.
"Nggak ada yang nggak bisa kukatakan."Tatapan Raka sedikit meredup saat melanjutkan, "Penyebabnya sebenarnya nggak rumit."Brielle kembali mengangkat pandangan menatapnya.Raka sedikit membungkukkan tubuhnya hingga tatapan mereka sejajar. Matanya yang dalam tertuju pada Brielle saat dia mengucapkan setiap kata dengan jelas."Karena kamu."Brielle terpaku. Jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh tanpa sadar mengencang. Dia sama sekali tidak menyangka Raka akan mengatakan alasannya seterus terang itu. Namun, Brielle tidak merasa hal itu ada hubungannya dengan dirinya.Raka juga menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin membuat Brielle merasa tertekan dan tidak nyaman. Dia pun tersenyum tipis."Tapi sebenarnya bukan salahmu. Saat itu tekanan mentalku terlalu besar, aku juga kurang beristirahat. Rambutku memutih karena terlalu banyak beban pikiran."Raka menyesap teh. Jakunnya bergerak naik turun."Waktu kamu diculik itu, syukurlah Niro datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Dia menahan
Raka yang menyetir, sementara Brielle menunjukkan arah. Hanya sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka sudah tiba di restoran.Matahari tengah hari terasa cukup terik. Setelah turun dari mobil, Brielle mengangkat tangan untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan. Saat itu juga, sebuah tangan ikut menaungi kepalanya.Brielle mendongak. Raka tersenyum. Wajahnya yang diterpa cahaya matahari tampak semakin tampan."Ayo."Mereka berjalan memasuki halaman restoran bergaya rumah pribadi itu.Hari itu pengunjung cukup ramai. Untungnya masih tersisa dua meja kosong.Di sana juga ada cukup banyak rekan kerja dari laboratorium. Beberapa meja yang sebelumnya ramai dengan tawa dan obrolan mendadak menjadi sangat hening saat melihat mereka berdua masuk.Brielle merasakan tatapan dari beberapa meja. Bagaimanapun juga, Raka memang terlalu mudah dikenali.Setelah mereka duduk, Brielle melihat para tamu yang tadi berbicara dengan suara keras kini langsung beralih menjadi berbisik-bisik.Setelah B
Anya mengangguk patuh, lalu kembali bermain. Raka menuangkan segelas air untuk Brielle. Kebetulan Brielle memang sedang haus. Dia menerimanya."Terima kasih."Tatapan Raka tertuju padanya."Brielle, penelitian ilmiah adalah sesuatu yang sangat mulia dan sangat berarti. Jangan merasa bersalah hanya karena nggak bisa selalu menemani putrimu. Mungkin sekarang dia belum sepenuhnya mengerti, tetapi saat dia tumbuh dewasa nanti, dia akan memahami bahwa ibunya sedang melakukan sesuatu yang luar biasa."Brielle tertegun. Dia tidak menyangka Raka bisa melihat perasaan itu.Namun, ucapan Raka benar-benar menghiburnya."Suatu hari nanti, dia akan merasa bangga memiliki ibu sepertimu. Itu juga akan menjadi teladan yang sangat berharga dalam perjalanan hidupnya."Brielle kembali terdiam. Ucapan Raka dipenuhi dorongan, kekuatan, sekaligus dukungan untuknya.Selama ini, dia selalu berusaha mencari keseimbangan antara karier dan perannya sebagai seorang ibu. Terkadang, ketika terlalu banyak waktu dicu
Malam itu sebenarnya Raka juga tidak minum banyak. Seingatnya, Raka hanya minum dua gelas anggur merah. Namun, apa pun maksud perkataannya, Brielle tidak ingin menanggapi apa pun sekarang. Dia mengernyit lalu berkata, "Sudah malam. Kamu pulang saja dulu."Brielle membuka pintu.Tiba-tiba Gaga berlari keluar dan berputar-putar dengan riang di sekitar kaki mereka. Raka mengusap kepala Gaga, lalu mengangkat kepala menatap Brielle."Gaga kubawa turun dulu."Brielle benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Namun melihat Gaga seolah mengerti, bahkan dengan antusias terus mengitari Raka, dia hanya mengangguk.Keesokan paginya.Brielle pergi menjenguk Harvis. Kondisi lukanya sudah pulih dengan baik dan keadaan mentalnya juga telah kembali seperti biasa. Bahkan asistennya membawa pekerjaan ke ruang rawatnya.Brielle sebenarnya ingin membujuknya untuk beristirahat, tetapi dia tahu seperti apa sikap Harvis terhadap pekerjaan. Harvis selalu mengejar kesempurnaan. Kalau hanya diminta beristirahat
"Harvis kali ini mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku. Budi itu terlalu besar. Aku butuh waktu untuk memikirkan cara terbaik membalasnya, tapi jelas bukan dengan cara yang kamu maksud."Sorot mata Raka seketika berbinar. "Aku mengerti."Ternyata memang dirinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri dan terlalu tergesa-gesa mendesak Brielle dengan pertanyaan itu.Mereka masuk ke dalam lift. Brielle menekan tombol lantai 28, sementara Raka tidak menekan tombol lantai 27. Brielle pun mengulurkan tangan dan menekannya untuknya."Di rumahmu masih ada obat tidur? Beri aku satu strip lagi," tanya Raka tiba-tiba.Brielle menoleh menatapnya, matanya dipenuhi keterkejutan. "Strip yang kuberikan waktu itu sudah kamu habiskan?"Mata Raka dipenuhi senyum. "Kenapa? Memangnya ada masalah?""Menurutku kamu jangan minum obat tidur lagi, lebih baik pergi periksa ke dokter. Kondisimu sudah cukup serius. Aku sudah pernah bilang, obat tidur nggak boleh dikonsumsi berlebihan."Brielle benar-benar t
Raka menatap foto-foto itu selama beberapa detik. Dia teringat bahwa dia sempat menanyakan pada Brielle apakah dia akan ikut kegiatan tersebut pada hari Rabu. Waktu itu, Brielle jelas mengatakan tidak akan ikut.Lalu, kenapa sekarang dia malah membawa Anya ikut? Apakah dia sengaja melakukannya agar
Setelah turun dari pelukan Raka, Anya langsung menggenggam tangan Brielle. Pelukan Raka pun mendadak kosong, alisnya sedikit berkerut.Brielle menggandeng putrinya berdiri sejenak. Anya teringat mainannya yang masih berada di sofa di samping Raka, lalu berkata, "Mama, mainanku masih ada di sofa sebe
Perbaikan rumah jelas membutuhkan waktu. Brielle pun mengambil keputusan untuk pindah rumah.Dia tidak bisa membiarkan putrinya tinggal di rumah yang memiliki potensi bahaya. Sudah saatnya berpindah ke tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Lagi pula, dengan kemampuan finansialnya sekarang, memb
Raka membawa hadiah itu dan duduk di sofa. Jemarinya yang panjang tanpa sadar mengusap tepi kotak hadiah.Beberapa detik kemudian, dia mengangkat tangan melihat waktu di jam tangannya, lalu berdiri dan melangkah keluar.Raka tidak naik lift, melainkan berjalan melalui tangga. Namun, baru saja dia me







