LOGIN"Profesor, inilah Dokter Brielle," ujar Smith.Pakar senior itu terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan nada kagum, "Usia semuda ini sudah meraih pencapaian seperti itu. Bagus sekali. Smith pernah menyebutkan penelitianmu tentang leukemia. Anak muda yang luar biasa."Brielle sangat mengaguminya. Buku-buku karya profesor tersebut juga merupakan bacaan wajib yang selalu dia pelajari siang dan malam.Setelah berbincang sejenak, konferensi pun resmi dimulai. Penyelenggara mengatur beberapa akademisi papan atas untuk naik ke panggung dan menyampaikan presentasi. Setiap sesi terasa sangat memukau. Brielle memegang buku catatan, jemarinya yang ramping bergerak cepat menuliskan poin-poin penting.Saat jeda minum teh, Novika melihat Brielle masih sibuk mencatat. Dengan rasa sayang, dia membawa secangkir teh hangat dan menyerahkannya. "Minumlah sedikit. Biar tubuhmu hangat.""Terima kasih, Dokter Novika," kata Brielle sambil tersenyum."Kelihatannya kamu sangat diperhatikan di sini," ujar No
Brielle menggandeng Anya dan melangkah cepat keluar dari lift, sengaja menjaga jarak dari Raka.Raka berjalan santai di belakang. Sosoknya yang tinggi memantulkan bayangan panjang di lorong, sementara pandangannya tertuju pada punggung ibu dan anak di depannya.Sesampainya di depan pintu kamar Brielle, Anya tak kuasa menoleh ke arah ayahnya. "Mama, Papa malam ini bisa tinggal sama kita?"Brielle membungkuk dan berkata lembut, "Papa punya kamarnya sendiri.""Tapi ...." Anya mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin tinggal sama Papa dan Mama."Raka berjongkok, menahan bahu kecil putrinya. "Papa masih harus mengurus pekerjaan. Besok baru Papa bisa menemanimu bermain, ya?"Anya pun hanya bisa mengangguk pelan.Brielle membuka pintu kamar dan menggandeng Anya masuk, lalu menutup pintu. Dia menatap putrinya dan berkata dengan hati-hati, "Anya, Papa dan Mama sekarang sudah nggak bersama lagi, tapi kami tetap sama-sama menyayangimu."Anya mengangguk, seolah mengerti setengah-setengah. Tiba-tiba dia
"Eh, nggak juga. Hanya pergi menemui seorang teman," jawab Niro."Lukamu baru saja pulih, jangan bepergian sembarangan," kata Faisal dengan nada tegas. "Sebesar apa pun urusannya, nggak ada yang lebih penting dari nyawamu."Niro menjawab singkat, "Baik, Ayah."Di ujung sana, Faisal masih menasihatinya beberapa kalimat sebelum menutup telepon.Niro sebenarnya sudah tahu pengajuan itu tidak akan disetujui, tetapi dia tetap mencobanya. Hasilnya tetap membuatnya kecewa. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Brielle.[ Aku melihat ramalan cuaca. Di tempatmu sedang turun salju. ][ Brielle: Ya, sedang turun salju. ][ Niro: Boleh kirimkan satu foto pemandangan saljunya? ]Tak lama kemudian, Brielle mengirimkan foto salju di luar jendela hotel. Niro menyipitkan mata sambil tersenyum. "Indah sekali."Brielle melirik jam. Raka belum juga mengantar Anya kembali ke hotel. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Dia mengusap lehernya yang terasa pegal, lalu memutuskan turun ke taman ho
Soal itu memang merupakan arahan langsung dari Raka. Tentu saja, meski Raka tidak mengatakannya, Raline tetap akan merawat Devina."Ibu, ke mana Kak Raka?" tanya Raline.Meira menjawab, "Dia pergi ke Negara Danmark.""Kapan? Dia pergi sendiri?" tanya Raline lagi."Mungkin iya. Ibu nggak bertanya," kata Meira. Putranya hanya menyampaikan singkat bahwa dia akan berada di luar negeri sekitar setengah bulan.Raline mendengus pelan. Saat Devina membutuhkannya, Raka malah pergi ke luar negeri. Pria macam apa itu sebagai pacar?Hanya Devina yang terlalu pengertian. Kalau dipikir-pikir, dulu Brielle tidak seperti itu. Kalau Raka tidak ada di rumah, Brielle pasti akan membuat keributan.....Kediaman Keluarga Seraphine.Lambert menerima sebuah panggilan. Waktu kunjungan penjara untuk adiknya sudah tiba. Ibu Lambert ingin putranya membawa Vivian ke luar negeri untuk menjenguk ibunya."Paman, aku ingin menjenguk Mama," kata Vivian."Baik, Paman akan mengajakmu," jawab Lambert."Paman, aku juga in
"Kakek Smith," kata Anya. Setelah itu, dia segera bersembunyi di belakang ayahnya, seolah agak takut.Smith segera menampilkan senyum paling ramah. "Tenang saja. Kakek Smith hanya ingin mengobrol sebentar dengan ibumu."Selesai berbicara, Smith menoleh ke arah Raka. "Pak Raka, dana penelitian sudah kami terima. Terima kasih banyak."Raka mengangguk tipis. "Kalau ada kendala, silakan hubungi saya kapan saja.""Baik," jawab Smith. Lalu dia menoleh ke arah Brielle. "Bu Brielle, aku membawa beberapa laporan pemeriksaan. Nanti mohon bantu dianalisis.""Anya, ayo kita ke bawah untuk buat manusia salju," kata Raka kepada putrinya.Anya menggenggam tangan ayahnya. "Mama, Papa sudah berjanji akan membuatkan manusia salju untukku.""Ya, pergilah bermain," jawab Brielle sambil tersenyum pada putrinya. Dia menyadari tidak punya banyak waktu untuk menemani Anya, sehingga di dalam hatinya muncul rasa bersalah. Karena itu, ketika Raka bisa menemani putrinya, Brielle tidak menghalanginya.Di bawah cah
Saat waktu makan malam tiba, Raka menggandeng Anya dan datang mengetuk pintu kamar Brielle. Anya maju menarik tangan Brielle. "Mama, Papa sudah pesan restoran. Kita makan malam bersama, ya."Brielle menunduk menatap mata putrinya yang penuh harap. Dia tahu, berada di negeri asing membuat Anya sedikit gelisah. Brielle juga ingin memberinya rasa aman lebih."Baik," jawab Brielle.Sorot mata Raka tampak semakin dalam. "Ayo. Restorannya di lantai empat."Setelah masuk ke dalam lift, Anya terlihat jelas lebih ceria. Wajah kecilnya dipenuhi kebahagiaan. Satu tangannya menggenggam tangan Raka, sementara tangan lainnya meraih tangan Brielle.Lift perlahan turun. Raka merasakan lembutnya tangan kecil putrinya, lalu mendongak sekilas menatap Brielle. Brielle menatap lurus ke depan, ekspresinya tenang tanpa menunjukkan perasaan apa pun.Bunyi "ding" terdengar saat lift tiba di lantai empat. Begitu pintu terbuka, alunan biola yang lembut langsung mengalun. Seluruh restoran terasa hangat dan berkel







