ANMELDENBrielle berdiri di tempatnya, perasaannya menjadi semakin rumit. Dia tahu semua yang dilakukan Raka adalah demi kebaikannya, tetapi ...."Brielle, aku beliin buah untuk Kak Harvis. Apa dia sudah sadar?" Suara Cherlina terdengar dari belakang."Sudah. Ayo masuk jenguk dia."Brielle mengangguk.Di ruang rawat, Harvis sedang bersandar di ranjang. Saat melihat mereka masuk, dia langsung bertanya kepada Brielle, "Pak Raka sudah pergi?""Dia ada urusan di perusahaan," jawab Brielle singkat, lalu bertanya dengan penuh perhatian, "Lukanya masih sakit?"Harvis menggeleng. "Obat biusnya masih bekerja, jadi belum terasa sakit."Cherlina berkata dengan kesal, "Kali ini Faye benar-benar keterlaluan. Ini sudah termasuk percobaan pembunuhan, 'kan? Kalau bukan karena Kak Harvis, Brielle pasti sudah ...."Baru sampai di situ, dia melihat Harvis menatapnya. Dia langsung menghentikan ucapannya. Tatapan Harvis pun berubah lebih dingin. "Perbuatan Faye memang sudah termasuk percobaan pembunuhan."Biasanya
Raka berkata dengan suara rendah untuk menenangkan Brielle, "Tenang saja. Dia akan baik-baik saja."Brielle mengangguk. Menatap luka Harvis, pikirannya dipenuhi ketakutan. Kalau saja garpu yang diayunkan Faye menusuk sedikit lebih ke bawah, dia benar-benar tidak berani membayangkan akibatnya.Mata Brielle kembali dipenuhi air mata. Dia menggigit bibirnya pelan, sementara air mata terus berputar di pelupuk matanya.Melihat hal itu, Raka mengambil selembar tisu lalu menyodorkannya kepada Brielle. Brielle menerimanya dan mengusap sudut matanya.Saat itu, Harvis perlahan membuka mata. Efek obat bius tampaknya mulai hilang. Dia berkedip beberapa kali sebelum pandangannya akhirnya terfokus pada wajah Brielle. Melihat tatapan penuh kekhawatiran itu, bibirnya yang pucat sedikit bergerak. Suaranya terdengar serak karena tenggorokannya kering."Aku nggak apa-apa ...."Kemudian pandangannya beralih ke Raka yang berdiri di ujung ranjang. Dia tampak sedikit terkejut."Pak Raka juga ada di sini."Ha
Melihat Brielle menangis, Harvis segera menghiburnya. "Nggak apa-apa. Sungguh, aku baik-baik saja.""Jangan bicara dulu, hemat tenagamu." Brielle menahan air matanya dan berusaha menenangkan diri.Di samping mereka, Cherlina sudah lebih dulu menghubungi polisi.Faye terduduk lemas di lantai. Dia mendongak menatap pria yang telah dicintainya diam-diam selama tiga tahun. Kini karena dirinya, tubuh Harvis berlumuran darah. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. Jantungnya terasa seperti ikut ditembus garpu itu, begitu sakit hingga dia sulit bernapas."Kak Harvis ... Kak Harvis ... maaf ... maaf ...."Tanpa sadar dia merangkak mendekati Harvis, tetapi Cherlina mengulurkan tangan untuk menghalanginya. "Kamu masih berani manggil dia Kak Harvis? Kamu sudah nggak pantas mendekatinya lagi.""Maaf ... aku nggak sengaja ... aku benar-benar nggak ingin melukaimu ...."Faye menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. Penyesalan yang begitu besar menelannya hingga tak mampu berpikir jernih.Tak
Brielle berbalik dan menatap Faye dengan dingin. "Kalau ada urusan, langsung saja katakan.""Aku dipecat karena kamu menghasut di depan Pak Raka, 'kan? Brielle, kamu benar benar licik. Mengandalkan kekuasaan mantan suamimu untuk seenaknya menindas karyawan Grup Pramudita. Kamu bangga sekali, ya?" Suara Faye menjadi tajam, wajahnya dipenuhi kebencian yang sudah lama terpendam terhadap Brielle."Faye, tolong jaga ucapanmu." Brielle berkata dengan dingin, "Kalau kamu nggak puas, silakan ajukan keberatan sesuai prosedur.""Memangnya ada gunanya? Seluruh Grup Pramudita milik mantan suamimu. Kalau dia mau memecatku, alasan apa pun bisa dipakai." Mata Faye dipenuhi rasa sakit dan kebencian."Brielle, berhenti berpura pura. Semua orang tahu sekarang kamu dekat lagi sama Raka. Mau mengandalkan putrimu untuk kembali jadi Nyonya Pramudita, ya? Kenapa? Mau balas dendam dengan memanfaatkan jabatan? Aku sudah nggak menghalangimu lagi, tapi kamu masih nggak mau melepaskanku? Masih ingin menendangku k
Keesokan paginya, suasana hati Anya sedang buruk. Dia tidak ingin pulang. Dia masih ingin terus bermain.Alhasil, ketiga orang dewasa itu pun bergantian membujuk si kecil.Setelah mereka naik ke pesawat, Anya akhirnya mau pulang karena teringat ingin bertemu kuda poni kesayangannya. Suasana hatinya pun kembali membaik.Tiga jam kemudian, Brielle tiba di rumah. Sementara itu, Anya diantar ke rumah Keluarga Pramudita.Liburan kali ini benar-benar membuat Brielle bisa mengosongkan pikirannya sejenak. Saat kembali bekerja, dia pun merasa jauh lebih segar dan ringan.Hari Senin, Brielle kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.Sementara itu, Raka juga terus memantau perkembangan proyek renovasi, ditambah dengan mengurus pekerjaan di kantor.Kali ini, bukan hanya dua unit rumah mereka yang direnovasi. Satu vila besar lain di kompleks yang sama juga sedang direnovasi untuk ditempati anggota Keluarga Pramudita.Rabu pagi, Brielle menerima pesan dari Harvis. Harvis mengajaknya bertemu sa
[ Ayo. Aku tunggu di lobi. ]Raka segera membalas pesannya.[ Oke, aku turun. ]Brielle pun menjawab dengan lugas.Tadi Raka tidak melihat fenomena air mata biru di kejauhan. Saat ini, dia mengira Brielle benar-benar ingin berjalan-jalan.Di lobi vila, Brielle sudah turun. Raka juga sudah menunggunya."Ayo," kata Brielle.Setelah selesai berbicara, dia langsung melangkah cepat ke depan, seolah terburu-buru ingin segera keluar.Raka pun segera menyusul langkahnya. Mereka melewati dek observasi sepanjang hampir 100 meter hingga tiba di pantai.Saat itulah Raka juga melihat fenomena ombak berwarna biru itu. Barulah dia mengerti mengapa Brielle mengajaknya ke luar. Ternyata Brielle mengajaknya sebagai teman untuk melihat pemandangan air mata biru.Benar saja, Brielle langsung berlari menuju bibir pantai. Di bawah sinar bulan, gaun panjangnya berkibar tertiup angin, membuatnya terlihat seperti bidadari yang turun ke bumi.Raka mengikuti di belakangnya. Untuk sesaat, dia sampai terpaku beber
Raline ikut terpengaruh oleh kisah pertemuan yang begitu romantis itu. Dia tersenyum dan berkata, "Ternyata kalian punya kenangan yang seindah itu. Sepertinya kakakku jatuh cinta pada pandangan pertama.""Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Raline penasaran."Lalu?" Devina berkata dengan sedikit malu
"Nggak ada pilihan, soalnya anaknya ada di tangannya. Dia juga menuntut kakakku membelikan kalung edisi terbatas yang dibuat khusus. Entah kakakku berutang apa padanya di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan ini dia terus membayangi dan melekat pada kakakku."Tangan Brielle yang memegang gelas
Devina memang sangat menyukai berlian. Meski sekilas dia tampak tidak terlalu suka, dalam hatinya dia benar-benar menyukai berlian. Kalung tadi jelas-jelas edisi terbatas. Dia yakin, pada jamuan amal istri wali kota hari Sabtu nanti, kalung itu akan menjadi salah satu pusat perhatian di seluruh ruan
"Sudah empat tahun," kata Lambert dengan nada santai. "Seharusnya belum terlalu kaku.""Aku mau lihat Papa main ski," sela Anya."Aku juga mau lihat Paman main ski," timpal Vivian.Lambert tersenyum. "Besok kami temani kalian main seharian dulu. Kita hanya akan main di jalur pemula. Vivian, kamu per







