Share

Bab 698

Penulis: Ayesha
Lambert menatap Niro dengan agak terkejut. "Pak Niro masih muda sekali lho!"

Niro juga punya kesan tentang Lambert. "Aku sudah lama mendengar nama Pak Lambert. Katanya Pak Lambert meraih banyak prestasi di industri pelayaran."

Lambert tersenyum tipis. "Kamu terlalu memuji. Justru kamu, di usia semuda ini sudah menjabat sebagai mayor jenderal, benar-benar membuatku kagum."

Kedua pria itu pun saling berbasa-basi. Melihat Lastri harus memasak untuk begitu banyak orang sendirian, Brielle pun berdiri dan berkata, "Kalian ngobrol saja dulu, aku ke dapur bantu sebentar."

"Pergilah. Kami bisa mengurus diri sendiri kok," ujar Niro sambil tersenyum tipis.

Lambert menyipitkan mata sambil tersenyum. "Sudah akrab begini, nggak perlu sungkan."

Setelah Brielle masuk ke dapur, kedua pria itu terdiam sejenak. Lambert lebih dulu membuka pembicaraan. "Pak Niro sudah lama mengenal Brielle?"

Niro tersenyum samar. "Sekitar satu setengah tahun. Kalau Pak Lambert?"

Sorot mata Lambert sedikit berubah. "Aku dan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Aya Aisyah
Tentu saja Raka tahu pria2 yg mendekati Brielle.
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
Lambert dan Niro berbincang basa basi padahal sambil cari info dr saingan masing2...coba ada harvis lg sama Raka tambah seru..wkwkwk
goodnovel comment avatar
Iin Iin
nah.. kan Lambert juga datang, kenapa Raka qo mundur teratur gt sih, takut panas ya lihat fans ny Brielle oada datang...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 719

    Raka memejamkan mata sambil beristirahat, lalu berkata dengan nada datar, "Taruh saja di meja.""Kak, setidaknya jelaskan, kenapa kamu beli rumah di bawah apartemen Brielle? Kamu melakukannya demi Anya atau demi ...."Wajah Raka langsung menjadi suram. "Jangan ikut campur urusanku. Urus saja dirimu sendiri."Setelah berkata demikian, Raka bangkit hendak pergi. Raline segera mencengkeram lengannya. "Kak, apa kamu masih mencintai Brielle?"Tubuh Raka seketika menegang selama beberapa detik. Punggungnya kaku seperti senar yang ditarik hingga tegang."Jawab aku!" desak Raline. "Sebenarnya kalian bercerai itu karena dia yang nggak mau kamu atau kamu yang nggak mau dia?"Di mata Raka bergejolak emosi yang rumit. Dia menarik kembali lengannya. "Ada hal-hal yang kamu nggak akan mengerti."Dengan suara berat, dia meneruskan, "Besok aku akan belikan kamu rumah baru. Pindah dari sini."Raline terkejut, lalu mendengus. "Kenapa? Aku suka kompleks ini. Aku nggak mau pindah ke mana pun.""Kamu masih

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 718

    Larut malam menjelang dini hari, Raline mengantar Devina pulang untuk beristirahat. Saat dia menopang pergelangan tangan Devina, tiba-tiba jarinya meraba dua bekas lipatan yang tidak rata. Tanpa sadar, Raline membalik pergelangan tangan Devina dan melihatnya.Di pergelangan tangan kiri Devina, ternyata ada empat atau lima bekas sayatan, seperti ....Devina segera menarik kembali tangannya, menutup bagian bekas sayatan itu, lalu berkata kepada Raline, "Raline, terima kasih untuk malam ini.""Kak Devina, ini ...." Raline menatapnya dengan kaget. Apakah itu percobaan bunuh diri?"Waktu masih muda aku terlalu bodoh. Dulu tekanan ujian seni besar, aku juga sempat depresi, jadi tanpa sadar melakukan hal-hal konyol." Devina menghela napas.Hati Raline seketika mencelos. Namun, barusan dia melihat jelas ada satu bekas di pergelangan tangan Devina yang terlihat masih baru, sama sekali tidak seperti bekas lama bertahun-tahun lalu."Kak Devina, seberat apa pun tekanannya, kamu nggak boleh melakuk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 717

    "Ke depannya, jangan sembarangan sentuh barang-barangku." Suara Raka terdengar sebagai peringatan.Meskipun tidak sampai berteriak, sejak kecil Raline belum pernah menerima ucapan keras dari kakaknya. Di telinganya, itu sama saja seperti dibentak. Rasa sedih langsung meluap. "Oke, aku nggak akan sentuh lagi. Ke depannya sama sekali nggak akan.""Kembalikan kalung itu. Jangan sampai aku melihatmu ikut campur urusanku lagi.""Apa Kakak tahu karena kalung itu, Brielle mengejek Kak Devina seperti apa? Dia memaki Kak Devina secara langsung, bilang Kak Devina memungut barang yang nggak dia inginkan, bahkan bilang Kakak juga pria yang nggak dia inginkan. Kakak benar-benar membiarkan dia menindas Kak Devina begitu saja?" tanya Raline dengan marah.Sejak kapan kakaknya menjadi tidak tahu batas seperti ini? Brielle sudah terang-terangan bilang tidak menginginkannya, tetapi kakaknya malah tetap ngotot membelikan kalung untuknya?Di seberang telepon terdiam beberapa detik, lalu terdengar suara Rak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 716

    "Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu sampai-sampai kamu sakit begini?" tanya Raline langsung.Devina tersenyum pahit. "Raline, jangan ditanya lagi. Kata-katanya cukup menyakitkan, lebih baik nggak usah diceritakan.""Aku tetap ingin dengar. Cepat kasih tahu aku." Raline benar-benar ingin tahu sejahat apa Brielle, supaya dia bisa mengadukannya kepada Nenek dan membuat Nenek berhenti memanjakannya."Dia bilang aku selalu mengambil barang-barang yang nggak dia inginkan. Sebenarnya apa yang dia katakan juga nggak sepenuhnya salah. Gelang Nenek yang waktu itu memang awalnya untuk dia, kalung ini juga, bahkan kakakmu ...." Devina menghela napas. "Juga disebut sebagai orang yang sudah nggak dia inginkan."Raline seperti mendengar lelucon. "Apa? Dia nggak menginginkan kakakku? Dari mana dia punya muka untuk mengatakan itu? Jelas-jelas kakakku yang nggak menginginkan dia."Setelah itu, Raline menggigit bibirnya dengan rasa bersalah dan meminta maaf, "Maaf, Kak Devina. Soal gelang dan kalung itu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 715

    Niro bersikeras mengantar Brielle sampai ke depan pintu rumahnya sebelum pergi. Brielle sempat ingin mengajaknya masuk untuk minum teh, tetapi malah ditolak olehnya.Sudah terlalu larut. Niro paham betul soal menjaga batas. Meski dia memang menginginkannya, Niro tidak mau meninggalkan kesan buruk di mata Brielle. Sikapnya yang penuh etika dan tahu diri benar-benar meninggalkan kesan yang sangat baik bagi Brielle."Mama!" Anya langsung berlari memeluknya dan mengangkat wajah mungilnya yang imut sambil berkata, "Mama, aku nggak makan banyak biskuit kok! Cuma satu bungkus kecil saja.""Mm, Mama tahu kamu pasti menepati janji," ujar Brielle sambil berlutut dan mengecup pipi kecilnya.Di samping, Lastri ikut tersenyum. Di bawah didikan Brielle, Anya memang semakin hari semakin mengerti dan patuh. Hanya wajahnya saja yang masih sangat mirip ayahnya, sementara sifatnya semakin lama semakin mirip Brielle.Sepanjang malam, Brielle sempat merasa tegang karena khawatir Raka akan tiba-tiba muncul

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 714

    Keindahan Brielle memang berbeda. Dia bukan tipe wanita ambisius yang agresif. Kelembutannya bagaikan bunga yang tenang, tetapi menyimpan ketajaman. Dia memiliki sebuah kekuatan yang bahkan membuat para pria terpukau.Sejak bertemu dengannya, pandangan Niro seolah tak bisa lagi berpaling. Selama Brielle belum menikah lagi dengan orang lain, Niro akan memperjuangkannya sampai akhir.Sepanjang perjalanan, Brielle berbincang dengannya tentang prinsip dasar riset BCI. Suasananya terasa menyenangkan. Bagi Niro, momen itu justru sangat menggetarkan hati."Temanmu tinggal di kompleks mana? Aku antar dulu," kata Brielle."Nggak perlu. Aku antar kamu dulu, nanti baru keluar lagi dari kompleksmu," Niro tetap bersikeras.Area parkir bawah tanah Cloudwave Residence pun tampak mewah dan terang. Brielle mengarahkan Niro untuk memarkir mobil di tempat parkir unitnya.Niro turun lebih dulu. Brielle baru hendak melepas sabuk pengaman ketika dari sudut matanya dia melihat sebuah sosok yang tinggi dan ra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status