Share

Bab 699

Author: Ayesha
"Ya. Setelah makan, kita makan kue." Brielle tersenyum lembut.

"Vivian, kita harus menyisakan sedikit ruang untuk makan kue nanti," kata Anya dengan serius kepada Vivian.

Para orang dewasa di meja pun tak bisa menahan tawa mendengarnya.

Melihat suasana yang santai, Brielle diam-diam menghela napas lega. Tadinya dia sempat khawatir suasananya akan canggung.

"Mama, aku sudah kenyang," kata Anya sambil meletakkan sendoknya.

"Aku juga sudah kenyang."

Kedua anak kecil itu hanya makan setengah piring nasi, lalu sudah mulai menantikan kue.

....

Berbanding terbalik dengan suasana makan malam di lantai atas, lantai bawah justru terasa sangat sepi.

Raka berdiri di depan jendela besar. Wiski di tangannya sudah berkurang setengah. Dia mendongak dan menenggak habis minuman itu. Jakunnya bergerak naik turun, pandangannya tanpa sadar tertuju ke langit-langit.

Saat itu, dari balkon lantai atas samar-samar terdengar tawa jernih seorang gadis kecil. Tatapannya seketika menjadi lembut.

Dia tahu itu adala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Sapta Ernawanti
Tdk ada lanjutannya ya ...
goodnovel comment avatar
Wisti Tsuroya Ramadhan
tentu membingungkan harus memilih pria2 berkualitas yg tertarik kpd brielle. buat aku, yg terbaik brielle bersatu lagi dgn raka, toh sikap brielle sekarang adl hukuman buat raka. hanya saja raka harus melakukan pengorbanan dramatis agar dimaafkan brielle
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 719

    Raka memejamkan mata sambil beristirahat, lalu berkata dengan nada datar, "Taruh saja di meja.""Kak, setidaknya jelaskan, kenapa kamu beli rumah di bawah apartemen Brielle? Kamu melakukannya demi Anya atau demi ...."Wajah Raka langsung menjadi suram. "Jangan ikut campur urusanku. Urus saja dirimu sendiri."Setelah berkata demikian, Raka bangkit hendak pergi. Raline segera mencengkeram lengannya. "Kak, apa kamu masih mencintai Brielle?"Tubuh Raka seketika menegang selama beberapa detik. Punggungnya kaku seperti senar yang ditarik hingga tegang."Jawab aku!" desak Raline. "Sebenarnya kalian bercerai itu karena dia yang nggak mau kamu atau kamu yang nggak mau dia?"Di mata Raka bergejolak emosi yang rumit. Dia menarik kembali lengannya. "Ada hal-hal yang kamu nggak akan mengerti."Dengan suara berat, dia meneruskan, "Besok aku akan belikan kamu rumah baru. Pindah dari sini."Raline terkejut, lalu mendengus. "Kenapa? Aku suka kompleks ini. Aku nggak mau pindah ke mana pun.""Kamu masih

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 718

    Larut malam menjelang dini hari, Raline mengantar Devina pulang untuk beristirahat. Saat dia menopang pergelangan tangan Devina, tiba-tiba jarinya meraba dua bekas lipatan yang tidak rata. Tanpa sadar, Raline membalik pergelangan tangan Devina dan melihatnya.Di pergelangan tangan kiri Devina, ternyata ada empat atau lima bekas sayatan, seperti ....Devina segera menarik kembali tangannya, menutup bagian bekas sayatan itu, lalu berkata kepada Raline, "Raline, terima kasih untuk malam ini.""Kak Devina, ini ...." Raline menatapnya dengan kaget. Apakah itu percobaan bunuh diri?"Waktu masih muda aku terlalu bodoh. Dulu tekanan ujian seni besar, aku juga sempat depresi, jadi tanpa sadar melakukan hal-hal konyol." Devina menghela napas.Hati Raline seketika mencelos. Namun, barusan dia melihat jelas ada satu bekas di pergelangan tangan Devina yang terlihat masih baru, sama sekali tidak seperti bekas lama bertahun-tahun lalu."Kak Devina, seberat apa pun tekanannya, kamu nggak boleh melakuk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 717

    "Ke depannya, jangan sembarangan sentuh barang-barangku." Suara Raka terdengar sebagai peringatan.Meskipun tidak sampai berteriak, sejak kecil Raline belum pernah menerima ucapan keras dari kakaknya. Di telinganya, itu sama saja seperti dibentak. Rasa sedih langsung meluap. "Oke, aku nggak akan sentuh lagi. Ke depannya sama sekali nggak akan.""Kembalikan kalung itu. Jangan sampai aku melihatmu ikut campur urusanku lagi.""Apa Kakak tahu karena kalung itu, Brielle mengejek Kak Devina seperti apa? Dia memaki Kak Devina secara langsung, bilang Kak Devina memungut barang yang nggak dia inginkan, bahkan bilang Kakak juga pria yang nggak dia inginkan. Kakak benar-benar membiarkan dia menindas Kak Devina begitu saja?" tanya Raline dengan marah.Sejak kapan kakaknya menjadi tidak tahu batas seperti ini? Brielle sudah terang-terangan bilang tidak menginginkannya, tetapi kakaknya malah tetap ngotot membelikan kalung untuknya?Di seberang telepon terdiam beberapa detik, lalu terdengar suara Rak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 716

    "Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu sampai-sampai kamu sakit begini?" tanya Raline langsung.Devina tersenyum pahit. "Raline, jangan ditanya lagi. Kata-katanya cukup menyakitkan, lebih baik nggak usah diceritakan.""Aku tetap ingin dengar. Cepat kasih tahu aku." Raline benar-benar ingin tahu sejahat apa Brielle, supaya dia bisa mengadukannya kepada Nenek dan membuat Nenek berhenti memanjakannya."Dia bilang aku selalu mengambil barang-barang yang nggak dia inginkan. Sebenarnya apa yang dia katakan juga nggak sepenuhnya salah. Gelang Nenek yang waktu itu memang awalnya untuk dia, kalung ini juga, bahkan kakakmu ...." Devina menghela napas. "Juga disebut sebagai orang yang sudah nggak dia inginkan."Raline seperti mendengar lelucon. "Apa? Dia nggak menginginkan kakakku? Dari mana dia punya muka untuk mengatakan itu? Jelas-jelas kakakku yang nggak menginginkan dia."Setelah itu, Raline menggigit bibirnya dengan rasa bersalah dan meminta maaf, "Maaf, Kak Devina. Soal gelang dan kalung itu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 715

    Niro bersikeras mengantar Brielle sampai ke depan pintu rumahnya sebelum pergi. Brielle sempat ingin mengajaknya masuk untuk minum teh, tetapi malah ditolak olehnya.Sudah terlalu larut. Niro paham betul soal menjaga batas. Meski dia memang menginginkannya, Niro tidak mau meninggalkan kesan buruk di mata Brielle. Sikapnya yang penuh etika dan tahu diri benar-benar meninggalkan kesan yang sangat baik bagi Brielle."Mama!" Anya langsung berlari memeluknya dan mengangkat wajah mungilnya yang imut sambil berkata, "Mama, aku nggak makan banyak biskuit kok! Cuma satu bungkus kecil saja.""Mm, Mama tahu kamu pasti menepati janji," ujar Brielle sambil berlutut dan mengecup pipi kecilnya.Di samping, Lastri ikut tersenyum. Di bawah didikan Brielle, Anya memang semakin hari semakin mengerti dan patuh. Hanya wajahnya saja yang masih sangat mirip ayahnya, sementara sifatnya semakin lama semakin mirip Brielle.Sepanjang malam, Brielle sempat merasa tegang karena khawatir Raka akan tiba-tiba muncul

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 714

    Keindahan Brielle memang berbeda. Dia bukan tipe wanita ambisius yang agresif. Kelembutannya bagaikan bunga yang tenang, tetapi menyimpan ketajaman. Dia memiliki sebuah kekuatan yang bahkan membuat para pria terpukau.Sejak bertemu dengannya, pandangan Niro seolah tak bisa lagi berpaling. Selama Brielle belum menikah lagi dengan orang lain, Niro akan memperjuangkannya sampai akhir.Sepanjang perjalanan, Brielle berbincang dengannya tentang prinsip dasar riset BCI. Suasananya terasa menyenangkan. Bagi Niro, momen itu justru sangat menggetarkan hati."Temanmu tinggal di kompleks mana? Aku antar dulu," kata Brielle."Nggak perlu. Aku antar kamu dulu, nanti baru keluar lagi dari kompleksmu," Niro tetap bersikeras.Area parkir bawah tanah Cloudwave Residence pun tampak mewah dan terang. Brielle mengarahkan Niro untuk memarkir mobil di tempat parkir unitnya.Niro turun lebih dulu. Brielle baru hendak melepas sabuk pengaman ketika dari sudut matanya dia melihat sebuah sosok yang tinggi dan ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status