LOGIN"Besok kami juga akan pergi melihat sebuah vila. Biar nanti kami lebih mudah merawat Anya," kata Emily."Nenek, kalau Nenek memang lebih suka tinggal di sini, sebenarnya nggak perlu buru-buru pindah," ujar Brielle. Dia tahu Emily menyukai rumah-rumah tua yang penuh nilai sejarah.Emily langsung tersenyum. "Tentu harus pindah. Rumah seperti apa yang kusukai itu nggak penting. Yang penting, kami bisa lebih mudah merawat Anya."Hati Brielle terasa hangat. Dalam urusan Anya, Keluarga Pramudita memang tidak pernah sekali pun memperlakukannya dengan setengah hati.Meira kemudian meminta pelayan menyajikan buah potong. Setelah Brielle duduk dan mengobrol sebentar, dia pun mengajak putrinya pulang.Di perjalanan, Anya sedang asyik memainkan mainan kecilnya. Tiba-tiba, dia berkata dengan lantang, "Mama, aku mau cerita sesuatu."Hati Brielle langsung menegang. Dia sudah bisa menebak apa yang akan diceritakan putrinya."Aku dan Bibi Raline tadi ketemu Bibi Devina di arena berkuda. Bibi Devina ber
Tangan Brielle yang berada di atas lututnya perlahan mengepal. Mungkin Anya belum benar-benar memahami ucapan Devina, tetapi dia pasti bisa merasakan kebencian yang tersirat di balik kata-kata itu."Mulai sekarang, tolong pastikan dia menghilang. Jangan biarkan dia menyakiti putriku lagi." Nada suara Brielle dipenuhi rasa muak yang tak lagi bisa disembunyikan.Raka membelokkan setir ke bahu jalan dan menghentikan mobil. Tatapannya yang penuh perhatian tertuju pada wajah Brielle."Maaf. Semua ini salahku. Aku janji, mulai sekarang dia nggak akan pernah muncul lagi di hadapan Anya ataupun di hadapanmu."Brielle memalingkan wajah dan tidak berkata apa-apa lagi. Putrinya adalah batas yang tidak boleh disentuh. Siapa pun yang menyakitinya, tidak akan pernah bisa dia maafkan.Suasana di dalam mobil seketika hening.Raka tidak langsung menjalankan mobil. Dia tahu semua ini berawal darinya. Rasa sakit yang dialami Brielle pun muncul karena dirinya."Maaf ... semua ini salahku." Suara Raka terd
Brielle tentu merasakan tatapan yang terus tertuju padanya. Dia mengatupkan bibirnya sejenak, lalu kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya.Setengah jam kemudian, dia selesai memasukkan data sekaligus menyelesaikan laporannya. Dia mengembuskan napas pelan, menekan tombol simpan, lalu menutup laptopnya."Sudah selesai?" Raka segera berdiri dan berjalan ke sisinya menunggu.Brielle mengangguk sambil bangkit. "Restorannya sudah dipesan?""Sudah." Raka mengangguk. Dia membiarkan Brielle melangkah lebih dulu, baru kemudian mengikutinya.Kali ini Brielle pergi menggunakan mobil Raka. Dia sudah terlalu lelah untuk menyetir sendiri.Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak mengobrol, tetapi suasananya terasa begitu alami, seolah-olah selama bertahun-tahun ini mereka tidak pernah berpisah.Restoran yang mereka datangi adalah restoran barat dengan privasi yang sangat baik.Setelah memesan makanan, Raka pun mendongak dan bertanya dengan penuh perhatian, "Ada kendala apa di pekerjaanmu?"B
"Bu Devina.""Aku ingin bertemu Raka!" teriak Devina ke arah telepon dengan nada tegas.Suara Gavin terdengar tenang dari seberang. "Kalau ada yang ingin disampaikan, beri tahu aku saja. Nanti akan kuteruskan kepada Pak Raka.""Aku bilang, aku ingin bertemu Raka." Devina menggertakkan giginya. "Kalau memang kontraknya diputus, setidaknya dia sendiri yang harus datang dan mengatakannya kepadaku. Aku masih punya sesuatu yang ingin kutanyakan padanya.""Bu Devina seharusnya tahu Pak Raka nggak ingin bertemu." Nada suara Gavin pun menjadi dingin."Gavin, kamu pikir kamu ini siapa? Kamu cuma penyampai pesan. Suruh Raka temui aku.""Kalau Bu Devina terus memaksakan diri seperti ini, yang rugi justru diri sendiri." Suara Gavin kini benar-benar dingin."Rugi? Menurutmu aku masih bisa kehilangan apa?" Devina tertawa sinis, lalu menyampaikan tuntutannya. "Aku mau Raka kasih aku uang kompensasi sebesar 20 miliar. Kalau nggak, aku nggak akan tinggal diam."Tanpa memberi Gavin kesempatan berbicara
"Bu Devina, kami sudah melakukan pemeriksaan ulang sebanyak dua kali dan hasilnya tetap sama. Sebagai peneliti, aku bertanggung jawab atas keamanan penelitian. Dengan sangat menyesal, kami harus mengatakan darahmu sudah nggak dapat digunakan untuk penelitian apa pun."Smith menyampaikan hal itu dengan tenang.Devina menatap lekat angka-angka pada laporan itu, terutama tulisan hasil positif. Dia menarik napas dalam-dalam. Seluruh tubuhnya mulai bergetar tanpa bisa dikendalikan.Pada saat yang sama, sebuah dokumen lain disodorkan kepadanya."Bu Devina, berdasarkan keputusan Pak Raka, beliau memutuskan untuk mengakhiri kontrak secara sepihak. Sesuai pasal 3 dalam perjanjian yang telah ditandatangani, kami memberitahukan bahwa kontrak ini resmi berakhir mulai saat ini."Devina langsung menatap Gavin. Nada suaranya meninggi. "Diakhiri? Atas dasar apa? Raka bisa seenaknya menyuruhku menandatangani kontrak, lalu sekarang seenaknya juga memutuskan kontrak?""Bu Devina, sampel darah Anda sudah
Saat itu, Raka mengantar Anya dan Raline kembali ke rumah Keluarga Pramudita. Setelah itu, dia bersiap menuju laboratorium Brielle.Melihat panggilan dari Smith, dia langsung menekan tombol jawab melalui sistem telepon di mobil."Halo, Doktor.""Pak Raka, ada satu hal yang harus segera kulaporkan. Bu Devina tadi datang ke laboratorium untuk pengambilan sampel darah. Tapi dari hasil pemeriksaan kami, ditemukan bahwa dia terinfeksi penyakit menular. Tes antibodi sifilisnya menunjukkan hasil positif."Hati Raka sedikit mencelos. Namun di saat yang sama, hasil itu juga tidak terlalu di luar dugaannya.Belakangan ini, dia sudah mengetahui betapa kacau kehidupan pribadi Devina. Karena itu, kabar itu tidak membuatnya terkejut."Doktor, hentikan semua penelitian yang menggunakan sampel darahnya. Aku akan mengakhiri kontrak dengannya. Mulai sekarang kita nggak akan menggunakan sampel darahnya lagi." Suara Raka terdengar rendah, tetapi tegas dan tak terbantahkan.Smith menjawab dengan sikap prof
Padahal rekan satu timnya sama sekali tidak tinggal di sana. Niro sengaja menyebut alamat itu, supaya bisa menemani Brielle lebih lama di jalan, sekaligus memastikan dia sampai dekat rumah dengan aman.Niro lalu menghentikan sebuah taksi dan pulang ke rumah.Brielle pulang dengan membawa piala. Begi
"Hmm!" Anya berkata dengan polos, "Bibi Devina bilang lain kali mau ajak aku ke taman bermain."Lampu merah menyala, Brielle menghentikan mobilnya. Kemudian, dia menoleh dan menatap putrinya dengan serius, "Anya, lain kali kalau ada orang kasih kamu hadiah, kamu harus tanya Mama dulu. Ngerti?""Tapi
Brielle menghela napas ringan, lalu menoleh ke arah Syahira."Aku tahu, sekarang kamu hanya fokus pada karier dan putrimu. Tapi kamu begitu hebat, makanya mereka tertarik padamu. Mereka juga dengan sendirinya mau mendekatimu, membantumu. Meski kamu nggak bisa membalas perasaan mereka, mereka tetap r
Menjelang dini hari, studio Devina mengeluarkan sebuah pernyataan. Karena kondisi kesehatannya menurun, dia tidak bisa menyelesaikan syuting iklan kampanye Hari Perempuan Sedunia sehingga resmi mundur dari kegiatan tahun ini.Brielle kebetulan belum tidur. Dia membuka pernyataan dari studio Devina,







