Compartilhar

Bab 772

Autor: Ayesha
Niro berdiri di tempat dengan sedikit enggan sambil menatap Brielle hingga sosoknya menghilang.

Petugas di sampingnya berbisik mengingatkan, "Pak Raka, kita juga sudah bisa naik pesawat."

Melihat Niro akhirnya berbalik dan pergi, Raka menarik kembali pandangannya lalu mengangguk tanpa ekspresi.

Brielle sudah duduk di kursinya. Dia melirik ke kursi di sampingnya yang masih kosong. Jangan-jangan kursi di sebelahnya memang tidak ada penumpang? Saat pikiran itu terlintas, pramugari terdengar menyamb
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (14)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
wah...kesempatan tuh si Raka meluk2 brielle....pas bgt brielle lagi posisi takut....cuaca buruk kayaknya ikutan mendukung si mantan beraksi...
goodnovel comment avatar
Kitachan 13
niro lebih cinta urusan negara daripada urusan pribadi makanya saat baru mulai kencan niro sudah ninggalin brili krna ada mau bantu teman2ny, niro nyadar kalau dia ga bisa selalu ketemu brili
goodnovel comment avatar
Mardiana Suprianingsih
kasihan niro dong, padahal niro cinta juga ama brie
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1012

    Cahaya yang sempat menyala di mata Raka kembali meredup, tertutup oleh pembuluh darah merah yang memenuhi matanya."Aku ambilkan air hangat untukmu." Dia berdiri dan berjalan ke arah meja minum, lalu menuangkan segelas air hangat untuk Brielle.Brielle tidak langsung menerimanya. Suara Raka kembali menjadi rendah seperti biasa. "Dokter menyarankan kamu harus lebih banyak minum air."Brielle akhirnya mengulurkan tangan dan mengambilnya. Setelah meneguk beberapa kali dia berkata, "Aku benar-benar sudah nggak apa-apa. Kamu bisa pergi."Raka tetap duduk di sana. "Aku akan pergi setelah kamu melakukan pemeriksaan jantung dan memastikan kamu benar-benar baik-baik saja.""Pemeriksaan jantung?" Brielle mengerutkan kening."Ya. Itu saran dokter." Raka mengangguk.Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri.""Kalau memang benar begitu, kamu nggak akan pingsan sampai masuk rumah sakit," Raka mendengus pelan.Brielle terdiam."Kalau kamu nggak ingin mengalami nasib seperti

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1011

    Semalam para perawat di meja jaga masih membicarakannya. Namun, hari ini dia malah melihat pria itu berubah beruban hanya dalam satu malam demi wanita yang terbaring di tempat tidur itu.Di antara rambut hitamnya yang tebal, helai-helai uban itu tampak semakin jelas. Meski tidak mengurangi ketampanannya, pemandangan itu tetap membuat orang merasa iba.Perawat itu diam-diam menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar. Ketika dia menceritakannya kepada rekan-rekannya, semua orang terkejut. Meski mereka bekerja di rumah sakit dan sudah sering melihat berbagai tragedi manusia, kejadian rambut memutih dalam satu malam tetap jarang terjadi."Benarkah?""Benar. Karena dia terlalu tampan, semalam aku sampai melihatnya beberapa kali. Waktu itu rambutnya masih hitam semua. Tapi pagi ini waktu aku melihatnya lagi, sudah ada banyak uban di antara rambut hitamnya. Kalau tekanannya bertambah sedikit lagi, mungkin suatu hari rambutnya bisa benar-benar memutih.""Bu Brielle itu mantan istrinya, 'kan? Kalia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1010

    Smith menerima kabar bahwa Brielle pingsan. Pria yang sudah berusia lebih dari 50 tahun itu langsung berlari ke sana. Para perawat juga sudah menelepon ambulans darurat.Melihat wajah Brielle yang pucat, Smith ikut ketakutan. Dia segera menelepon Raka."Pak Raka, Bu Brielle pingsan ...."Di sisi lain telepon, pria yang memegang ponsel itu langsung kosong pikirannya selama beberapa detik. Ketika tersadar kembali, dia mencengkeram ponsel itu dengan kuat."Segera bawa ke rumah sakit. Aku akan segera datang."Lastri terbangun karena suara ketukan pintu. Dia segera mengenakan pakaian luar dan bangkit. Raka berdiri di depan pintu, dadanya naik turun karena napas yang berat."Tolong turun ke bawah dan jaga Anya. Besok biarkan dia istirahat di rumah. Tolong jaga dia dengan baik," kata Raka kepada Lastri.Ini pertama kalinya Lastri melihat Raka dalam keadaan kehilangan kendali dan panik seperti ini. Dia juga merasa terkejut."Baik, Pak Raka. Saya akan menjaga Anya di rumah."Lastri turun bersam

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1009

    Tatapan Brielle malah tampak sangat jernih. Dia tersenyum tipis dan berkata, "Aku tahu, terima kasih atas pengingatnya.""Oh ya, Pak Raka sedang di telepon. Dia mau bicara sama kamu," kata Smith sambil segera menyerahkan ponselnya.Brielle langsung teringat bahwa Raka sedang menemani putri mereka. Apakah terjadi sesuatu pada Anya? Dia segera mengambil telepon itu. "Ada apa dengan Anya?"Dari seberang, terdengar suara pria yang rendah. "Anya sudah tidur, dia baik-baik saja. Brielle, istirahatlah. Jangan terus berada di laboratorium."Begitu mendengar putrinya baik-baik saja, Brielle pun merasa lega. Nada bicaranya kembali datar, "Kamu nggak perlu ikut campur urusanku.""Kamu nggak ingin hal yang terjadi pada ayahmu, kembali terjadi padamu, dengarkan nasihatku, Brielle." Suara Raka tiba-tiba menjadi sedikit emosional.Brielle tertegun.Pria di seberang kemudian menurunkan kembali nada suaranya. "Eksperimen itu bisa dilanjutkan besok. Jangan sampai kamu merusak tubuhmu sendiri karena kele

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1008

    Sejak awal penelitian, Brielle sudah memusatkan perhatian pada satu hal, yaitu melepaskan status Devina sebagai satu-satunya donor.Brielle lebih memilih menghabiskan sepuluh bahkan seratus kali lebih banyak energi untuk penelitiannya daripada suatu hari harus bergantung dan memohon pada orang lain.Kali ini, selain melakukan terapi untuk Raline, dia juga memisahkan satu proyek penelitian lain. Dia menggunakan sampel darahnya sendiri untuk mencari kemungkinan adanya reaksi antibodi khusus di antara kerabat sedarah langsung.Gagasan ini bukan muncul begitu saja. Sejak kemungkinan putrinya mewarisi penyakit itu diketahui, ide tersebut sudah ada di benaknya.Sebagai seorang ibu, dia tidak bisa menerima bahwa masa depan putrinya akan bergantung pada orang luar seperti Devina yang memiliki niat buruk dan sewaktu-waktu bisa menggunakan nyawanya sebagai ancaman.Raka memilih untuk berkompromi dan berurusan dengannya, tetapi Brielle tidak bisa melakukan hal yang sama. Pilihannya adalah mematah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1007

    "Brielle, kamu lihat bekas luka di pergelangan tangan Devina? Tindakannya memotong pergelangan tangan itu kemungkinan besar hanya cara untuk mengendalikan Pak Raka."Brielle mengerutkan kening. Dengan status Devina sebagai satu-satunya donor di dunia, dia memang bisa menggunakan nyawanya sendiri untuk mengendalikan Raka kapan saja. Jadi, apa pun yang dia inginkan, Raka harus memenuhinya.Termasuk mengorbankan pernikahannya.Brielle teringat kejadian di kolam renang waktu itu. Devina sengaja menjegalnya, lalu menariknya ke dalam air. Dia sudah yakin bahwa Raka akan melompat lebih dulu untuk menyelamatkannya, karena di tubuhnya terikat nyawa tiga generasi Keluarga Pramudita.Hari itu, Brielle juga masih ingat bagaimana Raka memeriksa keadaannya dengan cemas, serta ekspresi bangga dan puas di wajah Devina. Saat itu Brielle mengira semua itu adalah bukti bahwa Raka mencintainya.Lalu kejadian di meja makan ... ketika Devina sengaja minum alkohol hingga Raka merebut gelasnya. Dulu dia mengi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 119

    "Cherlina, lain kali jangan bertindak semaumu sendiri, paham?" Tatapan Faye mengarah tajam padanya, jelas menyalahkan Cherlina karena hari itu mendorongnya untuk naik ke ruang wawancara.Cherlina termangu sesaat. "Maaf, Faye. Aku ... aku nggak bermaksud begitu.""Kamu keluar saja, aku mau kerja," uc

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 136

    Setelah berkata demikian, Brielle keluar untuk menemani putrinya.Raka menatap sosok keras kepala yang melangkah pergi. Rahang tegasnya terangkat sedikit, lalu dia mengangkat telepon dan menghubungi Will serta memberikan kontak Brielle kepadanya.Makan malam mereka berlangsung di sebuah restoran bar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 152

    Brielle sudah menduga Raka tidak akan menyetujui perceraian begitu saja, tetapi dia sudah mempersiapkan diri secara mental. Dia mengangkat tasnya sambil berkata, "Kalau begitu, kita bertemu di pengadilan saja."Setelah mengucapkan itu, dia hendak pergi.Raka ikut berdiri, maju beberapa langkah, dan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 162

    Brielle kemudian mengambil spidol fluoresen, lalu mulai memasuki inti presentasinya hari itu. Dia membalikkan badan, lalu menggunakan spidol penanda untuk menunjuk bagian yang dia jelaskan, tetapi tetap menjaga sikap sopan dengan sesekali menghadap audiens.Teori-teori ilmiah yang rumit, seakan menj

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status