ログインKeesokan paginya, suasana hati Anya sedang buruk. Dia tidak ingin pulang. Dia masih ingin terus bermain.Alhasil, ketiga orang dewasa itu pun bergantian membujuk si kecil.Setelah mereka naik ke pesawat, Anya akhirnya mau pulang karena teringat ingin bertemu kuda poni kesayangannya. Suasana hatinya pun kembali membaik.Tiga jam kemudian, Brielle tiba di rumah. Sementara itu, Anya diantar ke rumah Keluarga Pramudita.Liburan kali ini benar-benar membuat Brielle bisa mengosongkan pikirannya sejenak. Saat kembali bekerja, dia pun merasa jauh lebih segar dan ringan.Hari Senin, Brielle kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.Sementara itu, Raka juga terus memantau perkembangan proyek renovasi, ditambah dengan mengurus pekerjaan di kantor.Kali ini, bukan hanya dua unit rumah mereka yang direnovasi. Satu vila besar lain di kompleks yang sama juga sedang direnovasi untuk ditempati anggota Keluarga Pramudita.Rabu pagi, Brielle menerima pesan dari Harvis. Harvis mengajaknya bertemu sa
[ Ayo. Aku tunggu di lobi. ]Raka segera membalas pesannya.[ Oke, aku turun. ]Brielle pun menjawab dengan lugas.Tadi Raka tidak melihat fenomena air mata biru di kejauhan. Saat ini, dia mengira Brielle benar-benar ingin berjalan-jalan.Di lobi vila, Brielle sudah turun. Raka juga sudah menunggunya."Ayo," kata Brielle.Setelah selesai berbicara, dia langsung melangkah cepat ke depan, seolah terburu-buru ingin segera keluar.Raka pun segera menyusul langkahnya. Mereka melewati dek observasi sepanjang hampir 100 meter hingga tiba di pantai.Saat itulah Raka juga melihat fenomena ombak berwarna biru itu. Barulah dia mengerti mengapa Brielle mengajaknya ke luar. Ternyata Brielle mengajaknya sebagai teman untuk melihat pemandangan air mata biru.Benar saja, Brielle langsung berlari menuju bibir pantai. Di bawah sinar bulan, gaun panjangnya berkibar tertiup angin, membuatnya terlihat seperti bidadari yang turun ke bumi.Raka mengikuti di belakangnya. Untuk sesaat, dia sampai terpaku beber
Melihat Raka baru saja selesai mandi, Brielle tahu pria itu pasti tidak akan bisa bersiap secepat itu.Dia pun langsung berkata, "Aku turun duluan."Melihat wanita itu melangkah pergi dengan tergesa-gesa, sudut bibir Raka sedikit terangkat. Seulas senyum melintas di bibirnya.Saat tiba di lobi lantai satu, Brielle melihat Gavin sedang memeluk laptop dan menyapanya, "Selamat pagi, Bu Brielle.""Selamat pagi." Brielle membalas dengan sebuah senyuman, lalu berjalan menuju pantai.Baru sekitar pukul 10 pagi, Raka akhirnya datang ke pantai. Dia sudah mengenakan setelan olahraga berwarna abu-abu muda. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat menghiasi sudut bibirnya, menandakan suasana hatinya sedang sangat baik."Papa!" Anya berlari menghampirinya seperti seekor burung kecil.Raka langsung mengangkat putrinya dengan kedua tangan, lalu memutarnya satu kali di udara. Tawa renyah Anya terdengar hingga jauh.Brielle duduk di bawah payung pantai. Mendengar tawa putrinya, tanpa sadar sudut bibirnya
Raka tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam-diam kembali berdiri di sisi Brielle. Cahaya api unggun yang menari di kejauhan membuat sorot matanya tampak makin dalam.Kali ini, dia tak lagi menghalangi pandangan Brielle. Pada akhirnya, tatapannya tertuju pada buket bunga yang dipeluk Brielle. Seolah dari sanalah dia memperoleh sedikit penghiburan."Dulu kamu jarang mengidolakan artis." Raka menunduk menatapnya.Brielle sedikit tertegun. Memang benar. Dahulu, hampir seluruh hidupnya dipenuhi oleh Raka dan putri mereka. Dia bahkan tidak punya waktu ataupun keinginan untuk mengidolakan selebritas."Orang pasti berubah," jawab Brielle. "Dulu aku nggak punya waktu, juga nggak punya suasana hati untuk itu."Hati Raka terasa seperti ditusuk jarum. Dia teringat, dahulu ketika beberapa foto dirinya menghadiri forum bisnis beredar di internet, banyak netizen perempuan meninggalkan komentar di bawahnya.Malam itu, ketika dia pulang ke rumah, Brielle langsung melingkarkan kedua tangan di lehernya
Raline menggandeng Anya menuju sebuah kios yang menjual bunga. Mawar-mawar yang dibungkus dengan kertas warna-warni itu tetap tampak segar dan indah meski di bawah langit malam.Dia membeli satu buket, lalu menarik Anya mendekat dan berbisik, "Anya, kasih bunga ini ke Papa, terus suruh Papa kasih ke Mama."Anya langsung mengangguk. Sambil memeluk buket bunga itu, dia berlari menghampiri Raka bak burung kecil yang riang. Dia mendongakkan wajah mungilnya dan berkata, "Papa, ini buat Papa."Raka sedikit terkejut melihat buket bunga di tangan putrinya. Tak lama kemudian, dia melihat Raline yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum penuh kelicikan sambil menggerakkan bibir tanpa suara. 'Kasih ... ke ... Kak Brielle.'"Terima kasih, Sayang." Raka menerima buket bunga itu. Tatapannya dipenuhi senyuman, bercampur sedikit rasa tak berdaya sekaligus kasih sayang.Tentu saja dia mengerti maksud adiknya. Dia menunduk melihat buket bunga di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Brielle ya
Namun, waktu telah berlalu. Segalanya sudah berubah. Kini, Brielle menyukainya atau tidak, rasanya sudah tidak lagi berarti. Terlebih lagi, tato itu pernah menjadi sesuatu yang membuatnya sangat menderita.Permukaan air kolam bergoyang pelan, sementara sinar matahari terasa sedikit menyilaukan. Tatapan Raka tetap terkunci padanya, seolah masih menunggu jawabannya.Bulu matanya yang lebat dipenuhi butiran air, bagai deretan kipas kecil, membuat sorot matanya tampak makin dalam bak lautan."Yang penting kamu suka." Brielle menundukkan pandangannya. Jawabannya tetap sama seperti tadi. Cahaya di mata Raka sedikit meredup.Raka tahu Brielle sedang menghindari pertanyaannya, jadi dia tidak memaksanya untuk menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku suka."Dua kata itu diucapkan dengan pelan tetapi jelas, mengandung keyakinan yang tak perlu diragukan lagi.Brielle tetap menunduk sambil menggerakkan air dengan ujung jarinya. Raka mengambilkan pelampungnya, meny
Tatapan Raka menyelidik seolah bertanya apakah Brielle sudah memberi tahu putri mereka soal perceraian. Brielle menatapnya beberapa detik. Enam tahun menjadi suami istri, sorot matanya tetap bisa terbaca dengan mudah oleh Raka."Mama sedang sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini, biarkan Mama beri
Brielle juga sudah memperhatikan konferensi itu. Itu adalah sebuah forum diskusi ilmiah yang diikuti banyak lembaga riset dalam negeri. Dia pun mengangguk. "Oke, setelah aku mengatur urusan anakku, kita bisa ikut bersama."....Grup Pramudita.Setelah mendapat kabar bahwa pemasok harus diganti dan k
Harvis juga ingin memisahkan keduanya. Sebab, pria yang tengah memeluk Brielle itu adalah seniornya sendiri, Noah.Namun, Noah hanya memberikan pelukan sekadar tanda sopan santun. Dari diri Brielle pun terpancar keramahan yang tetap menjaga batas.Noah menatap Brielle lekat-lekat dan sorot matanya p
Keesokan paginya, Brielle mengantar putrinya ke sekolah. Dari belakang, seseorang di dalam sebuah mobil SUV hitam sedang membuntutinya dan diam-diam memotret.Foto-foto hasil pembuntutan itu dikirimkan ke tangan Faye.Faye menatap foto yang hanya memperlihatkan Brielle seorang diri mengantar putriny







