แชร์

Bab 820

ผู้เขียน: Ayesha
Sekitar pukul 11 siang, rapat yang berlangsung dua setengah jam akhirnya berakhir.

Pembawa acara mengundang seluruh tamu dan rekan media untuk menuju area restoran prasmanan, tempat makan siang telah disiapkan.

Saat Brielle mengambil tas dan berdiri, Lambert berkata padanya, "Aku sudah pesan restoran, makan siang bareng yuk."

Brielle bertanya dengan heran, "Kapan kamu pesan restoran?"

"Aku minta asisten yang urus. Lokasinya pas di seberang hotel. Bukannya aku bilang prasmanan hotelmu nggak enak,
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 987

    Sementara itu, Raka hanya berdiri di samping dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya. Sosoknya tegap, tatapannya tertuju pada proses pengambilan darah. Keberadaannya lebih seperti pengawasan tanpa suara.Sepuluh menit kemudian, pintu ruang pengambilan darah terbuka. Perawat membantu Devina keluar. Wajahnya agak pucat, penampilannya rapuh. Raka keluar dengan satu tangan masih di saku."Raka, boleh aku istirahat sebentar sebelum pergi?" Devina jelas tidak berniat langsung pulang."Mobil sudah siap. Pulanglah dan istirahat di rumah," kata Raka. Setelah itu, dia melewatinya dan berjalan ke arah lain."Bu Devina, kami antar keluar ya," ujar perawat dengan lembut.Tubuh Devina yang semula tampak lemah tiba-tiba berdiri tegak. Dia berkata kepada perawat, "Nggak perlu, aku bisa keluar sendiri."Kedua perawat itu menangkap sedikit ekspresi tak suka di wajahnya, lalu mundur dua langkah dengan sadar diri.Devina membawa tasnya dan berjalan menuju lift yang mengarah ke lobi. Dia m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 986

    Ketika salah satu perawat hendak memberi tahu Raline, dia melihat seseorang melangkah masuk. Kedua perawat itu berpandangan begitu melihatnya, lalu tersenyum menyapa, "Profesor Brielle."Setelah itu, mereka segera pergi.Raline menatap para perawat yang pergi dengan tergesa-gesa. Dia pun tak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa Brielle pasti tahu siapa orang yang mereka maksud.Dia mencoba bertanya dengan nada menyelidik, "Kak Brielle, tadi mereka bilang Bu Devina, itu siapa?"Brielle membuka keran dan mencuci tangan dengan tenang. Dengan nada datar, dia menjawab, "Bukan Devina yang kamu kenal. Cuma gadis dengan nama yang sama. Dia datang untuk tes darah dan pemeriksaan."Raline tersenyum canggung. "Oh! Jadi kalian di sini juga melayani pasien luar?""Hanya bantuan medis," jawab Brielle dengan wajar.Raline diam-diam menghela napas lega. Syukurlah bukan Devina. Tadi dia hampir benar-benar mengira itu adalah Devina.Brielle keluar lebih dulu. Tak lama kemudian, Raline kembali ke kamar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 985

    Raline merasa semakin tidak mengerti. Terlalu banyak hal yang tidak bisa dia pahami. Namun dalam ingatannya, kebaikan kakaknya kepada Devina juga nyata. Devina pernah memamerkan begitu banyak hadiah dari kakaknya. Bahkan dia sendiri merasa iri.Tas edisi terbatas, mobil Ferrari, vila mewah, dan bagaimana kakaknya selalu mengangkat posisi Devina. Kalau itu bukan cinta, lalu apa namanya?Raline menghela napas.Saat itu, dia melihat Brielle sedang berdiri di dekat perawat sambil menjelaskan sesuatu. Raline segera melangkah mendekat. "Kak Brielle.""Ada apa?" Brielle menoleh menatapnya."Kak Brielle, aku tahu dulu aku banyak melakukan hal yang menyakitimu. Seperti kejadian di kolam renang itu. Aku nggak seharusnya menipumu datang ke sana. Dan membuatmu jatuh ke air di musim dingin seperti itu ...."Brielle mengernyit tipis, lalu berkata datar, "Waktu itu aku nggak jatuh secara nggak sengaja."Raline tertegun. "Bukankah waktu itu kamu terpeleset?"Dia tidak pernah memikirkan detailnya denga

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 984

    "Kak, jujur saja. Gimana sebenarnya kamu jatuh cinta pada Kak Brielle?" tanya Raline lagi, menarik Raka kembali dari lamunannya.Raka tampak enggan membahasnya. Dia kembali mengambil dokumen dan berkata, "Untuk apa kamu menanyakan ini?"Tiba-tiba Raline menggenggam lengannya dan mendongak menatapnya. "Bisa nggak kamu mengejar Kak Brielle lagi dan membuatnya kembali menjadi kakak iparku?"Tangan Raka berhenti mendadak. Dia menoleh menatap adiknya. "Sekarang bukan waktunya membicarakan ini.""Tapi aku bisa melihatnya. Kamu jelas masih peduli sama dia. Setiap kali Kak Brielle ada, matamu nggak pernah lepas darinya. Aku tahu kamu mencintainya." Suara Raline mulai bergetar. "Dulu aku terlalu bodoh. Aku tertutup prasangka dan selalu merasa Kak Brielle nggak pantas untukmu. Aku bahkan bersikap sekasar itu padanya. Sekarang aku tahu betapa salahnya aku. Aku benar-benar menyesal.""Kak, kamu selalu bilang aku nggak dewasa. Tapi kali ini aku melihatnya dengan jelas. Meski kalian sudah bercerai,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 983

    Hal itu membuat Raline memberi label jahat pada Brielle. Ditambah lagi citra Brielle sebagai ibu rumah tangga setelah menikah, membuatnya mengira Brielle hanya tahu menikmati kenyamanan. Dari lubuk hatinya, dia semakin meremehkan Brielle.Dibandingkan Devina, Brielle hanyalah ibu rumah tangga biasa yang malas di mata Raline. Dia beranggapan bahwa Brielle hanya mengandalkan status sebagai Nyonya Pramudita untuk menerima uang setiap tahunnya.Baru sekarang dia sadar, Brielle bukan hanya membesarkan putrinya setelah menikah, tetapi juga terus berkembang. Dulu dia pernah mengejek Brielle yang membaca novel di rumah untuk menghabiskan waktu, padahal kenyataannya Brielle sedang belajar ilmu kedokteran.Semakin dia mengingat perbuatan buruknya dulu, Raline semakin merasa malu. Selama ini dia hidup dalam prasangka dan kesombongannya sendiri. Dia bukan hanya salah menilai Brielle, tetapi juga pernah memperlakukannya dengan sangat buruk.Seperti kejadian pesta di kolam renang waktu itu.Malam it

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 982

    Keesokan paginya, Raka muncul tepat waktu di depan pintu untuk mengantar Anya ke sekolah. Brielle mengantar putrinya sampai depan, lalu kembali masuk untuk bersiap ke laboratorium. Saat dia turun dan berjalan ke mobil, dia melihat seseorang sudah menunggunya di sana.Lambert.Brielle agak tertegun, lalu berjalan mendekat dengan tenang. "Kamu baik-baik saja?"Lambert teringat saat dia memegang Brielle dalam keadaan mabuk semalam dan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak diucapkan. Wajahnya langsung menunjukkan rasa canggung dan bersalah."Selamat pagi." Suaranya serak, matanya masih sedikit merah. "Aku sengaja datang untuk minta maaf. Semalam aku ... minum terlalu banyak dan mengatakan hal-hal yang nggak jelas. Jangan kamu pikirkan."Brielle malah memperhatikannya dengan khawatir. "Nggak apa-apa. Tapi kondisi kamu terlihat kurang baik. Lain kali jangan minum sebanyak itu. Nggak baik untuk kesehatan.""Ya, aku tahu." Lambert mengangguk. Dia menatap Brielle seolah ingin mengatakan sesu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status