แชร์

Bab 735

ผู้เขียน: Ayesha
Saat waktu makan malam tiba, Raka menggandeng Anya dan datang mengetuk pintu kamar Brielle. Anya maju menarik tangan Brielle. "Mama, Papa sudah pesan restoran. Kita makan malam bersama, ya."

Brielle menunduk menatap mata putrinya yang penuh harap. Dia tahu, berada di negeri asing membuat Anya sedikit gelisah. Brielle juga ingin memberinya rasa aman lebih.

"Baik," jawab Brielle.

Sorot mata Raka tampak semakin dalam. "Ayo. Restorannya di lantai empat."

Setelah masuk ke dalam lift, Anya terlihat jelas lebih ceria. Wajah kecilnya dipenuhi kebahagiaan. Satu tangannya menggenggam tangan Raka, sementara tangan lainnya meraih tangan Brielle.

Lift perlahan turun. Raka merasakan lembutnya tangan kecil putrinya, lalu mendongak sekilas menatap Brielle. Brielle menatap lurus ke depan, ekspresinya tenang tanpa menunjukkan perasaan apa pun.

Bunyi "ding" terdengar saat lift tiba di lantai empat. Begitu pintu terbuka, alunan biola yang lembut langsung mengalun. Seluruh restoran terasa hangat dan berkel
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 736

    "Kakek Smith," kata Anya. Setelah itu, dia segera bersembunyi di belakang ayahnya, seolah agak takut.Smith segera menampilkan senyum paling ramah. "Tenang saja. Kakek Smith hanya ingin mengobrol sebentar dengan ibumu."Selesai berbicara, Smith menoleh ke arah Raka. "Pak Raka, dana penelitian sudah kami terima. Terima kasih banyak."Raka mengangguk tipis. "Kalau ada kendala, silakan hubungi saya kapan saja.""Baik," jawab Smith. Lalu dia menoleh ke arah Brielle. "Bu Brielle, aku membawa beberapa laporan pemeriksaan. Nanti mohon bantu dianalisis.""Anya, ayo kita ke bawah untuk buat manusia salju," kata Raka kepada putrinya.Anya menggenggam tangan ayahnya. "Mama, Papa sudah berjanji akan membuatkan manusia salju untukku.""Ya, pergilah bermain," jawab Brielle sambil tersenyum pada putrinya. Dia menyadari tidak punya banyak waktu untuk menemani Anya, sehingga di dalam hatinya muncul rasa bersalah. Karena itu, ketika Raka bisa menemani putrinya, Brielle tidak menghalanginya.Di bawah cah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 735

    Saat waktu makan malam tiba, Raka menggandeng Anya dan datang mengetuk pintu kamar Brielle. Anya maju menarik tangan Brielle. "Mama, Papa sudah pesan restoran. Kita makan malam bersama, ya."Brielle menunduk menatap mata putrinya yang penuh harap. Dia tahu, berada di negeri asing membuat Anya sedikit gelisah. Brielle juga ingin memberinya rasa aman lebih."Baik," jawab Brielle.Sorot mata Raka tampak semakin dalam. "Ayo. Restorannya di lantai empat."Setelah masuk ke dalam lift, Anya terlihat jelas lebih ceria. Wajah kecilnya dipenuhi kebahagiaan. Satu tangannya menggenggam tangan Raka, sementara tangan lainnya meraih tangan Brielle.Lift perlahan turun. Raka merasakan lembutnya tangan kecil putrinya, lalu mendongak sekilas menatap Brielle. Brielle menatap lurus ke depan, ekspresinya tenang tanpa menunjukkan perasaan apa pun.Bunyi "ding" terdengar saat lift tiba di lantai empat. Begitu pintu terbuka, alunan biola yang lembut langsung mengalun. Seluruh restoran terasa hangat dan berkel

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 734

    Raka mengangguk tipis, lalu mengambil tisu untuk menyeka remah roti di sudut bibir Anya.Brielle sebenarnya tidak ingin memperhatikan, tetapi beberapa gerak kecil Avril dengan jelas memperlihatkan bahwa dia tampaknya cukup tertarik pada Raka.Raka kini berstatus lajang, berpenampilan menarik, dan bagi wanita muda yang belum menikah, dia memang memiliki daya tarik yang besar. Wajar sekali jika Avril tertarik padanya.Namun tentu saja, Avril tidak mungkin menunjukkan ketertarikannya di depan Brielle. Dia berusaha menahan pandangannya ke arah Raka, hanya berharap perjalanan dinas kali ini bisa memberinya hasil yang berharga.Tak lama kemudian, rombongan pun naik ke pesawat.Bepergian jauh dengan membawa anak memang membutuhkan kesabaran. Setelah pesawat stabil, Anya mulai gelisah dan terus bergerak di kursinya. Raka melepas sabuk pengamannya, lalu menggendong Anya ke pangkuannya.Dia memutar film kartun untuk Anya, lalu berkata kepada Brielle yang duduk di sebelahnya, "Aku temani dia. Kam

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 733

    Sore harinya, Brielle tiba di laboratorium. Harvis juga sudah mengetahui kabar bahwa Brielle menerima undangan tersebut. Dia bukan hanya merasa iri, tetapi juga ikut bahagia untuknya. Ini membuktikan bahwa kemampuan Brielle akhirnya mendapat pengakuan."Kak Harvis, untuk sementara pekerjaan laboratorium akan merepotkanmu. Aku akan berusaha pulang secepat mungkin," kata Brielle."Nggak perlu terburu-buru. Kesempatan ke luar negeri jarang sekali, sekalian saja bersantai dan menenangkan pikiran," ujar Harvis sambil tersenyum.Brielle mengangguk. "Kali ini aku akan membawa Anya.""Kalau begitu, justru harus lebih banyak bersenang-senang. Ada yang jaga Anya?" tanya Harvis dengan nada khawatir."Raka juga akan ikut," jawab Brielle tanpa menutup-nutupi.Harvis terdiam sejenak. Mengingat berbagai sikap Raka setelah perceraian, Harvis merasa sikap itu agak tidak tahu malu. Saat masih menikah, Raka tidak pernah terlihat benar-benar peduli pada Brielle. Namun setelah bercerai, keberadaannya malah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 732

    Setelah rapat berakhir, Brielle baru saja merapikan dokumen dan bersiap pergi ketika Gavin melangkah cepat mendekat. "Bu Brielle, Pak Raka meminta Anda datang ke kantornya sebentar."Brielle mengernyit. "Ada urusan apa?""Pak Raka hanya menyampaikan agar Anda datang ke sana."Brielle mengatupkan bibirnya. Pada akhirnya, dia tetap mengikuti Gavin menuju kantor direktur utama.Begitu pintu dibuka, Raka berdiri di depan jendela kaca besar. Saat mendengar langkah kaki, dia berbalik, tatapan matanya yang dalam tertuju pada Brielle. "Duduk," katanya sambil memberi isyarat ke arah sofa.Brielle tidak bergerak. "Kalau ada urusan, katakan saja. Aku harus kembali ke laboratorium."Sorot mata Raka meredup sesaat. "Laporan penelitian terbaru dari Laboratorium Smith, sudah kamu lihat?"Brielle memang sudah membacanya. Perkembangan riset di laboratorium itu terus menunjukkan terobosan baru."Ada satu hal terkait dana hasil pencairan pribadiku yang perlu aku jelaskan padamu," timpal Raka sambil menga

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 731

    Ruang kantor eksekutif Grup Pramudita.Raka berdiri di depan jendela kaca besar, memandang seluruh kota dari ketinggian.Gavin mengetuk pintu lalu masuk, menyerahkan sebuah berkas. "Pak Raka, dana hasil pencairan opsi saham sudah seluruhnya masuk. Setelah dipotong denda, laba bersihnya delapan triliun."Raka menerima berkas itu dan melirik sekilas, lalu berkata datar, "Transfer semuanya ke rekening laboratorium luar negeri."Gavin tidak banyak bertanya. "Baik."Pukul delapan malam, Brielle kembali menerima telepon dari Frederick. Frederick mengatakan bahwa dirinya mendapat panggilan dari Gavin, yang meminta semua direktur hadir secara langsung dalam rapat besok.Dalam hati, Brielle menduga mungkin akan ada perubahan di jajaran direksi atau pengumuman penting dari dewan. Dia pun memutuskan untuk ikut hadir.Keesokan paginya, Brielle mengantar putrinya ke sekolah. Di gerbang sekolah, dia bertemu Lambert. Lambert baru saja pulang dari perjalanan dinas selama hampir seminggu, dan hari itu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status