Share

Bab 825

Author: Ayesha
Tangan Harvis yang memegang cangkir kopi sempat terhenti. Dia tidak langsung menanggapi. Tentu saja dia memahami tekanan pendanaan. Selama periode ini, dia sangat paham soal konsumsi bahan habis pakai di laboratorium, belum lagi investasi besar untuk pengajuan dan pembelian paten.

"Proyek sipil berbeda," kata Raka sambil membuka sebuah berkas. "Kurang dari satu tahun sudah bisa menghasilkan keuntungan. Laba itu bisa digunakan untuk menopang kembali proyek BCI."

Alis Harvis sedikit mengendur. "Pa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
Raka memang tdk berniat buruk terhadap Brielle, cuma dia memang sengaja memisahkan Harvis dari Brielle, biar Harvis ga dekat" lagi sama Brielle, modus tuh Raka..
goodnovel comment avatar
Suryat
tapi tetap saja orang nyangkanya brielle itu cuma alat pencetak uang..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1176

    Sebelum pukul 5 sore, mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kebetulan, masih tersisa waktu sepuluh menit sebelum jam pulang.Brielle berkata kepada pria di dalam mobil, "Biar aku yang jemput Anya, kamu tunggu di mobil saja."Di telinga Raka, maksud tersirat dari ucapannya adalah Brielle tidak ingin muncul bersamanya di tempat yang sama."Baik," jawab Raka dengan lembut. Namun, setelah Brielle turun dari mobil, dia merasakan bagian dalam dadanya sedikit nyeri. Apa Brielle sebegitu keberatannya?Brielle menggandeng Anya keluar. Saat mendengar ayahnya juga datang menjemput, si kecil melompat-lompat dengan senang. "Asyik! Aku paling suka Papa dan Mama jemput aku bareng!""Papaku jemput aku!" Seorang anak laki-laki sengaja berteriak ke arah Anya."Papaku juga!" Anya membalas dengan suara lantang, sedikit tidak mau kalah.Brielle sempat tertegun beberapa detik. Melihat senyuman putrinya yang polos dan ceria, hatinya terasa sedikit perih.Di dunia anak yang sederhana, ayah dan ibu dat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1175

    Tiga hari kemudian, Meira keluar dari rumah sakit. Di bawah perawatan tim Smith yang teliti, kondisinya sudah jauh membaik. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, dia akan pulang untuk beristirahat di rumah.Raline datang ke kantor Brielle. "Kak Brielle, hari ini Ibu sudah boleh keluar dari rumah sakit. Maaf sudah merepotkanmu selama ini.""Yang bekerja keras bukan aku, tapi tim Doktor Smith." Brielle menggeleng pelan. Dia hanya bertanggung jawab untuk urusan penelitian, sedangkan proses perawatannya sendiri adalah kontribusi tim Smith. Dia tidak bisa mengakui hasil kerja keras orang lain."Bagaimanapun juga, aku dan Ibu bisa sembuh dari penyakit darah ini, sebagian besar karena jasamu. Aku, Ibu, bahkan seluruh Keluarga Pramudita, akan selalu mengingat kebaikan ini." Raline berkata dengan tulus.Brielle mengangguk padanya. "Pulanglah. Nenekmu sendirian di rumah, temani dia."Raline mengangguk. "Baiklah. Nanti kalau ada waktu, ajak Anya pulang makan bersama ya."Brielle menjawab, "Kalau

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1174

    Devina menggigit bibir merahnya, matanya berkaca-kaca, menampakkan air mata karena terharu dan bersyukur. Dia mengangkat kepala, menatap Ignas. "Nggak perlu nunggu sampai jam 7 malam, sekarang juga aku bisa jawab .... Aku bersedia."Ignas tersenyum puas. "Bagus, kamu memang cocok jadi wanitaku."Setelah berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah kartu kamar dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. "Malam ini jam 10, di suite presiden hotel ini, kita bertemu lagi."Devina menatap kartu kamar itu, lalu menatap punggung Ignas yang pergi. Tubuhnya sedikit gemetar.Akhirnya, dia akan terlepas dari Raka? Dengan adanya Ignas, dia tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan ayahnya lagi dan sahamnya pasti bisa dipertahankan.'Raka, kalau aku nggak bisa mendapatkanmu, aku akan menjadi musuhmu!'Devina duduk sendirian di kedai teh sore yang kosong. Tangannya menggenggam kuat kartu kamar itu, hampir saja membuatnya patah.Pukul 10 malam, di dalam suite presiden, Devina hanya mengenakan handuk mandi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1173

    Mobil Maybach hitam itu menghilang di tikungan jalan. Pria itu mengendalikan setir, tetapi pikirannya melayang-layang. Perasaan rumit dan saling bertentangan berputar di hati Raka.Dia berharap Brielle bahagia, tetapi juga iri pada pria yang bisa memberinya kebahagiaan itu.Namun, apa pun yang terjadi, dia akan menjaga di sisi Brielle dengan caranya sendiri, sampai Niro kembali dengan selamat.Di sebuah kedai teh sore romantis yang terletak di rooftop, Devina sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian, sosok Ignas melangkah masuk dari pintu. Kedai teh yang luas itu sepi tanpa kehadiran orang lain karena telah dipesan seluruhnya.Devina adalah satu-satunya tamu wanita yang dijamu oleh Ignas hari ini. Kesenangan yang dikendalikan oleh kekayaan seperti ini kembali berada di tangan Devina. Dia benar-benar menikmatinya."Pak Ignas sudah datang." Devina berdiri dan berinisiatif menyambutnya.Begitu Ignas berjalan mendekat, Devina mengulurkan tangan dan merapikan dasinya dengan lembut. Gera

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1172

    Setelah sibuk seharian, waktu pun menunjukkan pukul 2.30 siang. Brielle merasa sedikit mengantuk. Dia mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya.Ketika memandang pemandangan di luar jendela, bayangan Niro muncul di benaknya. Tanpa terasa, sudah tujuh hari berlalu, tetapi tidak ada kabar sama sekali darinya. Tidak ada pesan, tidak ada telepon.Brielle sempat terpikir untuk menghubungi Keluarga Harmawan, tetapi dia tidak tahu harus menggunakan identitas apa untuk menghubungi mereka. Hubungannya dengan Niro pun hanya dikonfirmasi secara pribadi. Sebelum hubungan mereka diumumkan secara resmi, dia tidak bisa sembarangan menghubungi Keluarga Harmawan.Namun, dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Niro.Ketika Brielle sedang melamun, tiba-tiba terdengar suara pria yang rendah dari belakang. "Cemasin dia ya?"Brielle terkejut, lalu berbalik melihat pria yang entah sejak kapan sudah masuk. Dia mengerutkan kening. "Lain kali kalau masuk, tolong ketuk pintu."Wajah tampan Raka menjadi sedikit kak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1171

    "Baiklah! Kalau begitu, aku tutup dulu." Lambert menutup telepon lebih dulu.Tak lama kemudian, telepon dari Jay juga masuk. "Ketua Raka, selamat ya! Lama nggak bertemu, sekarang statusmu sudah berbeda lagi."Nada suara Jay terdengar agak bercanda. Dia juga bertanya dengan penasaran, "Terakhir kali aku lihat, rambutmu masih sebagian yang beruban. Kenapa kali ini jadi putih semua?""Aku suka warna ini, kamu juga bisa coba warnai sendiri." Suasana hati Raka sedang cukup baik hari ini, jadi dia bercanda sedikit."Haha! Kalau aku sepuluh tahun lebih muda, mungkin aku benar-benar akan mencobanya!" Setelah tertawa, Jay menjadi lebih serius. "Tanggal 5 Mei adalah hari pernikahanku, jangan lupa datang."Raka tentu sudah menerima undangan pernikahannya. Belakangan ini dia sangat sibuk, waktu itu pun dia hanya sempat berbicara sebentar sebelum akhirnya menutup telepon."Oke, selamat ya. Aku pasti akan meluangkan waktu untuk minum di pesta pernikahanmu."Di seberang, Jay terdiam selama beberapa d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 215

    Brielle menonton beberapa video lagi, lalu berhenti. Karena di perjalanan tidak sempat memilih hadiah, dia memutuskan memilihnya nanti di bandara.Sekitar pukul 8.30 malam, Brielle sampai di rumah. Dia langsung mengemudi ke rumah Keluarga Pramudita untuk menjemput putrinya. Anya keluar sambil digand

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 248

    Brielle mengangguk. "Ayo!"Brielle juga ingin mencari tempat yang tenang sebentar.Keduanya berjalan menuju balkon sambil mengobrol. Tak jauh dari sana, Raka melihat pemandangan itu. Tangannya yang memegang gelas pun menegang.Devina menyadari perhatian Raka teralihkan. Dia bertanya dengan lembut, "

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 203

    Tatapan Raka menyelidik seolah bertanya apakah Brielle sudah memberi tahu putri mereka soal perceraian. Brielle menatapnya beberapa detik. Enam tahun menjadi suami istri, sorot matanya tetap bisa terbaca dengan mudah oleh Raka."Mama sedang sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini, biarkan Mama beri

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 205

    Brielle juga sudah memperhatikan konferensi itu. Itu adalah sebuah forum diskusi ilmiah yang diikuti banyak lembaga riset dalam negeri. Dia pun mengangguk. "Oke, setelah aku mengatur urusan anakku, kita bisa ikut bersama."....Grup Pramudita.Setelah mendapat kabar bahwa pemasok harus diganti dan k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status