LOGINDetak jantung Brielle terasa semakin jelas di tengah gelap dan sunyi. Dia dapat dengan jelas merasakan bahwa Raka belum juga menjauh.Napas pria itu masih menyelubunginya, membawa tekanan samar yang sulit diabaikan. Dia bahkan bisa membayangkan Raka sedang membungkuk menatapnya.Karena kedua matanya dipenuhi cairan obat, rasa perih dan tidak nyaman masih terasa. Dia menahannya dan tidak membuka mata.Tak lama kemudian, dia merasakan sisa cairan obat mengalir keluar dari sudut matanya. Entah mengapa, hal itu membuatnya sedikit malu. Rasanya dia seperti sedang menangis.Saat itulah, ujung jari yang hangat menyeka perlahan sisa cairan obat yang mengalir di sudut matanya. Tubuh Brielle sontak bergetar pelan."Bisa tolong ambilkan tisu?" Dia ingin melakukannya sendiri. Namun, pria itu tidak menanggapi permintaannya.Saat Brielle hampir tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak membuka mata, dia tiba-tiba merasakan sentuhan yang luar biasa lembut di sudut matanya.Kali ini ... sepertinya b
"Sayang sekali. Padahal kamu itu tulang punggung teknis di tim kita. Kalau kamu pulang untuk mengurus keluarga, entah kapan bisa kembali lagi ke dunia kerja?""Siapa yang tahu? Kadang aku berpikir, kenapa perempuan selalu harus memilih antara keluarga atau karier? Yang paling nggak adil, yang dikorbankan hampir selalu karier perempuan.""Benar. Seolah-olah perempuan memang harus mengalah demi keluarga dan anak. Kenapa bukan laki-laki saja yang berhenti kerja untuk mengasuh anak? Andai suamiku mau mengurus anak, aku juga nggak ingin melepaskan karierku.""Menjadi perempuan memang sulit. Menyeimbangkan keluarga dan karier bukan perkara mudah."Brielle berdiri di balik sudut lorong. Perasaannya mendadak menjadi rumit.Belakangan ini, Raka memang banyak membantunya, terutama dalam mengurus Anya. Karena terlalu sibuk dengan penelitian, dia memang jarang memikirkan hal itu. Di alam bawah sadarnya, dia selalu menganggap semua itu adalah tanggung jawab Raka sebagai seorang ayah.Namun, setelah
Brielle kembali dibuat terdiam oleh ucapannya. Dia memang benar-benar lupa. Belakangan ini pikirannya sepenuhnya dipenuhi pekerjaan di laboratorium sehingga dia tidak punya waktu memikirkan hal lain."Aku ...."Brielle membuka mulut ingin menjelaskan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.Raka justru berkata dengan nada santai, "Sudahlah. Selama Dokter Brielle nggak merasa rambutku jelek, sebenarnya nggak diobati juga nggka masalah."Maksudnya jelas. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain. Satu-satunya yang dia pedulikan hanyalah pendapat Brielle.Brielle mengangkat cangkir tehnya, lalu mendengus pelan. "Selama nggak memengaruhi kesehatanmu, sebenarnya diobati atau nggak juga nggak ada bedanya."Raka tersenyum tipis. Dia juga tahu kapan harus berhenti menggoda. Dia kembali mengangkat sendok dan mengambil makanan."Renovasi bagian utama vila hampir selesai. Desain interiornya juga sudah dikirim desainer dalam beberapa versi. Kalau malam nanti kamu sempat, kita tentukan bersama.
"Nggak ada yang nggak bisa kukatakan."Tatapan Raka sedikit meredup saat melanjutkan, "Penyebabnya sebenarnya nggak rumit."Brielle kembali mengangkat pandangan menatapnya.Raka sedikit membungkukkan tubuhnya hingga tatapan mereka sejajar. Matanya yang dalam tertuju pada Brielle saat dia mengucapkan setiap kata dengan jelas."Karena kamu."Brielle terpaku. Jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh tanpa sadar mengencang. Dia sama sekali tidak menyangka Raka akan mengatakan alasannya seterus terang itu. Namun, Brielle tidak merasa hal itu ada hubungannya dengan dirinya.Raka juga menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin membuat Brielle merasa tertekan dan tidak nyaman. Dia pun tersenyum tipis."Tapi sebenarnya bukan salahmu. Saat itu tekanan mentalku terlalu besar, aku juga kurang beristirahat. Rambutku memutih karena terlalu banyak beban pikiran."Raka menyesap teh. Jakunnya bergerak naik turun."Waktu kamu diculik itu, syukurlah Niro datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Dia menahan
Raka yang menyetir, sementara Brielle menunjukkan arah. Hanya sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka sudah tiba di restoran.Matahari tengah hari terasa cukup terik. Setelah turun dari mobil, Brielle mengangkat tangan untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan. Saat itu juga, sebuah tangan ikut menaungi kepalanya.Brielle mendongak. Raka tersenyum. Wajahnya yang diterpa cahaya matahari tampak semakin tampan."Ayo."Mereka berjalan memasuki halaman restoran bergaya rumah pribadi itu.Hari itu pengunjung cukup ramai. Untungnya masih tersisa dua meja kosong.Di sana juga ada cukup banyak rekan kerja dari laboratorium. Beberapa meja yang sebelumnya ramai dengan tawa dan obrolan mendadak menjadi sangat hening saat melihat mereka berdua masuk.Brielle merasakan tatapan dari beberapa meja. Bagaimanapun juga, Raka memang terlalu mudah dikenali.Setelah mereka duduk, Brielle melihat para tamu yang tadi berbicara dengan suara keras kini langsung beralih menjadi berbisik-bisik.Setelah B
Anya mengangguk patuh, lalu kembali bermain. Raka menuangkan segelas air untuk Brielle. Kebetulan Brielle memang sedang haus. Dia menerimanya."Terima kasih."Tatapan Raka tertuju padanya."Brielle, penelitian ilmiah adalah sesuatu yang sangat mulia dan sangat berarti. Jangan merasa bersalah hanya karena nggak bisa selalu menemani putrimu. Mungkin sekarang dia belum sepenuhnya mengerti, tetapi saat dia tumbuh dewasa nanti, dia akan memahami bahwa ibunya sedang melakukan sesuatu yang luar biasa."Brielle tertegun. Dia tidak menyangka Raka bisa melihat perasaan itu.Namun, ucapan Raka benar-benar menghiburnya."Suatu hari nanti, dia akan merasa bangga memiliki ibu sepertimu. Itu juga akan menjadi teladan yang sangat berharga dalam perjalanan hidupnya."Brielle kembali terdiam. Ucapan Raka dipenuhi dorongan, kekuatan, sekaligus dukungan untuknya.Selama ini, dia selalu berusaha mencari keseimbangan antara karier dan perannya sebagai seorang ibu. Terkadang, ketika terlalu banyak waktu dicu
Mata Jay meredup sedikit. Benar saja, dia selalu terlambat selangkah. Kalau saja dia bisa menemani Devina sejak awal, apakah dia bisa menempati posisi yang lebih penting di hatinya?"Dia benar-benar peduli padamu," ujar Jay. Hal itu selalu dia lihat dengan jelas. Setiap kali Devina mengalami luka se
"Lagian ...."Sebuah suara lain menyela, "Kalian lihat ekspresi Pak Raka hari ini? Sikapnya terhadap Pak Harvis jelas penuh hormat dan kepuasan. Tapi, aku sama sekali nggak melihat dia memperlakukan Faye seperti calon adik ipar.""Benar. Selain menatap Brielle, Pak Raka seperti menganggap orang lain
Jay teringat sesuatu, lalu lebih dulu turun untuk mengatur tempat duduk. Kursinya berada di baris kedua paling kanan. Dia sudah lebih dulu meminta staf menyiapkan tiga kursi kosong di sana.Setelah Raline dan Devina duduk, mereka mendongak dan melihat film promosi di layar. Isinya adalah potongan fo
Dari seberang sana juga terdengar pesan suara. Brielle menekannya untuk memutar. Di dalam kabin mobil yang sunyi, suara Niro terdengar jernih dan merdu, penuh daya tarik."Oke, nanti aku telepon kamu."Brielle menurunkan ponselnya, menyalakan lampu di bagian belakang mobil, lalu mencari barang di da







