LOGINSepanjang malam sampai pagi, mata Utari masih terjaga dengan segar bisa dibilang mata Utari kuat melotot. Sejak kejadian di dalam kamar mandi bersama tuan Darsa membuat Utari langsung demam tinggi. Sedangkan tuan Darsa tidurnya malah tambah nyenyak setelah memainkan squisi alami milik Utari.
"Tuan, kenapa kita berangkatnya pagi-pagi sekali? Memangnya pejalanannya sangat jauh, ya?" tanya Utari masih dalam keadaan ngantuk, melirik kek arah Darsa yang sedang fokus menyetir mobil.
Malam pertama Larasati di kediaman Wijaya terasa sunyi yang mencekam. Meskipun ia berbaring di atas sprei sutra dengan aroma melati yang mahal, bayang-bayang masa lalunya sebagai Utari, gadis desa yang tertindas masih menghantuinya. Di sudut ruangan, kalung simbol Wijaya itu berkilat di bawah lampu tidur, seolah-olah menuntut keadilan yang lebih besar. Namun, di saat Larasati mulai mengonsolidasikan kekuatannya di luar, sebuah rencana jahat sedang bersemi di tempat yang paling gelap, yaitu Penjara Wanita. Sarah duduk di pojok sel umum yang kotor. Wajahnya yang dulu cantik kini dihiasi lebam akibat "perpeloncoan" yang diatur oleh instruksi Larasati. Namun, di matanya yang cekung, api dendam membara lebih terang dari sebelumnya. "Nyonya Sarah," bisik seorang narapidana bertato yang baru saja masuk. Wanita itu adalah Ratna, tangan kanan dari sindikat perdagangan manusia yang dulu sering bekerja sama dengan Juragan Somat. "Apakah pesanku sudah sampai ke luar?" tanya Sarah dengan sua
Larasati berdiri di tengah hujan yang mulai mengguyur Bogor, menggenggam foto usang ibunya dengan jemari yang bergetar. Informasi dari Supardi adalah petir di siang bolong. Ia bukan hanya sekadar korban obsesi Darsa, ia adalah aset yang sengaja disembunyikan. "Bara," suara Larasati memecah kesunyian di dalam mobil yang melaju kembali ke Jakarta. "Berapa lama Darsa mengetahui tentang asal-usulku?" Bara yang sedang menyetir melirik melalui spion. "Jika pengakuan bapak Anda benar, kemungkinan besar sejak Tuan Darsa melakukan riset latar belakang saat Anda masih di desa. Dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa keuntungan finansial, Nona." Larasati memejamkan mata. Darsa telah merencanakan ini bertahun-tahun. Dia membiarkan Larasati hidup dalam kemiskinan, lalu menyelamatkannya hanya untuk mencuri identitas dan hak warisnya. Dan Sanjaya... pria itu pasti tahu bahwa keponakannya tidak benar-benar mati di jurang itu dua puluh tahun lalu. "Kita tidak akan kembali ke apartemen," ucap Lar
Asap dari pembakaran barang-barang mewah di depan villa Darsa masih membubung tinggi ke langit malam, namun Larasati sudah melesat jauh dengan mobilnya. Di dalam kabin yang senyap, ia menatap ponselnya. Sebuah koordinat baru saja dikirim oleh informan bayaran Adrian. "Bapakmu tidak di penjara biasa, Laras," suara Adrian terdengar dari handsfree mobil. "Setelah kasus suap Darsa meledak, dia dipindahkan ke fasilitas rehabilitasi medis di pinggiran Bogor karena overdosis. Tapi aku tahu itu hanya kedok. Dia sedang disembunyikan oleh seseorang." Larasati mencengkeram kemudi. "Siapa yang mau menyembunyikan pria rongsokan seperti dia?" "Seseorang yang tidak ingin dia bicara tentang apa yang terjadi dua puluh tahun lalu. Utari, maksudku Larasati. Apakah kamu pernah bertanya-tanya kenapa Darsa memilihmu dari sekian banyak gadis desa di Jawa?" Pertanyaan Adrian menggantung di udara, menciptakan kecemasan baru di dada Larasati. "Maksudmu, ini bukan sekadar kebetulan?" "Cari bapakmu. Temuka
Matahari baru saja menyembul di cakrawala Jakarta, namun Larasati sudah duduk di kursi kebesarannya di lantai teratas gedung Darsa Group. Di depannya, selusin pengacara dan analis keuangan dari Vanguard Capital berdiri dengan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Larasati tidak tidur semenjak keluar dari penjara semalam. Matanya yang dingin dan tajam kini tidak lagi menyiratkan kesedihan, melainkan fokus yang mematikan. "Mulai menit ini, saya ingin semua aset properti Darsa Group yang tidak produktif dijual dengan harga pasar terendah ke perusahaan cangkang kita di Singapura," perintah Larasati. Suaranya tenang, namun mutlak. "Tapi Nona Larasati," potong salah satu analis, "itu akan memicu kepanikan di bursa efek. Nilai perusahaan akan terjun bebas!" Larasati menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Memang itu tujuannya. Biarkan kapal ini tenggelam. Saya ingin para pemegang saham setia Darsa merasa ketakutan dan menjual saham mereka kepada kita dengan harga sampah. Kita akan membe
Ruangan privat di lantai atas hotel bintang lima itu kedap suara, namun telinga Larasati seolah berdengung hebat.Di hadapannya, seorang pria paruh baya bernama Sodik, mantan sopir pribadi Sarah yang sempat menghilang ke luar negeri, duduk bersimpuh di lantai marmer. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu gantung kristal. Larasati mencengkeram botol obat kecil bertuliskan huruf kimia yang asing di tangannya. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang mendidih hingga ke sumsum tulang. "Katakan sekali lagi, Sodik. Pelan-pelan. Jangan ada yang kamu kurangi satu kata pun," desis Larasati. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan. Sodik menelan ludah dengan susah payah. "Malam itu... sebelum Nyonya Sarah menemui Anda di taman mawar untuk berkonfrontasi. dia memanggil saya ke dapur belakang. Dia memberikan serbuk ini. Dia bilang, ini hanya obat pencahar kuat agar Nona Utari merasa mulas dan ma
Lembaga Pemasyarakatan Wanita terlihat lebih suram daripada penjara pria. Bau karbol yang menyengat dan suara kunci besi yang beradu menciptakan suasana mencekam. Larasati melangkah dengan anggun, heels-nya mengetuk lantai semen yang lembap. Ia mengenakan setelan jas merah menyala, warna yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan dominasi dan keberanian. Di balik kaca pembatas, seorang wanita duduk dengan bahu merosot. Rambut Sarah yang biasanya tertata salon kini kusam dan berantakan. Wajahnya yang dulu angkuh kini dipenuhi garis-garis kelelahan dan dendam yang belum padam. Begitu melihat Larasati, mata Sarah membelalak. Ia menyambar gagang telepon dengan tangan gemetar. "Kamu... kamu masih hidup?!" desis Sarah, suaranya parau penuh kebencian. "Kenapa kamu ke sini? Mau pamer karena berhasil merebut semuanya?" Larasati mengangkat teleponnya dengan tenang. "Saya ke sini bukan untuk pamer, Sarah. Saya ke sini
Prang ...! Nampan yang dipegang Utari sontak terjatuh ke lantai ketika mata sucii Utari benar-benar melihat belalai panjang, besar, dan berurat milik Darsa. "Utari!" *** Kedua mata Utari terpejam sangat erat sekali dengan kedua tangan saling meremas sisi samping bajuny
Suara nyaring dari handpone butut milik Utari membuat gadis itu mengurunkan niatnya untuk tidur malam. Buru-buru Utari bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah lemari kecil yang menyimpan pakaian miliknya. Tertera di layar kecil handphone milik Utari, ada nama Ajeng -Adik kandung
Suasana di dapur milik Indri terasa sunyi dan sepi sepertitidak ada kegiatan apa pun. Namun, ada ketegangan yang mengisi di are sana, karena ada Darsa yang semakin berani mengukung tubuh Utari ke pojok dinding dapur yang ke halang kulkas besar."Tuan Darsa mau apa lagi dari Utari, hah? Mend
Tubuh Darsa dan juga Utari saling menegang di tempat. Refleks mereka berdua saling menjauhkan dirinya masing-masing dengan gerakan cepat. Utari menatap penuh raut pias pada wajah Darsa, sedangkan Darsa sudah menebalkan wajahnya dengan raut wajah yang sangat dingin sekali."Loh, kamu sudah p







