/ Romansa / Bukan Pelakor / Bab 9. Sabuk Pengaman

공유

Bab 9. Sabuk Pengaman

last update 게시일: 2021-09-05 23:49:23

Sepanjang malam sampai pagi, mata Utari masih terjaga dengan segar bisa dibilang mata Utari kuat melotot. Sejak kejadian di dalam kamar mandi bersama tuan Darsa membuat Utari langsung demam tinggi. Sedangkan tuan Darsa tidurnya malah tambah nyenyak setelah memainkan squisi alami milik Utari.

"Tuan, kenapa kita berangkatnya pagi-pagi sekali? Memangnya pejalanannya sangat jauh, ya?" tanya Utari masih dalam keadaan ngantuk, melirik kek arah Darsa yang sedang fokus menyetir mobil.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bukan Pelakor   BAB 51: Operasi Bumi Hangus

    Matahari baru saja menyembul di cakrawala Jakarta, namun Larasati sudah duduk di kursi kebesarannya di lantai teratas gedung Darsa Group. Di depannya, selusin pengacara dan analis keuangan dari Vanguard Capital berdiri dengan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Larasati tidak tidur semenjak keluar dari penjara semalam. Matanya yang dingin dan tajam kini tidak lagi menyiratkan kesedihan, melainkan fokus yang mematikan. "Mulai menit ini, saya ingin semua aset properti Darsa Group yang tidak produktif dijual dengan harga pasar terendah ke perusahaan cangkang kita di Singapura," perintah Larasati. Suaranya tenang, namun mutlak. "Tapi Nona Larasati," potong salah satu analis, "itu akan memicu kepanikan di bursa efek. Nilai perusahaan akan terjun bebas!" Larasati menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Memang itu tujuannya. Biarkan kapal ini tenggelam. Saya ingin para pemegang saham setia Darsa merasa ketakutan dan menjual saham mereka kepada kita dengan harga sampah. Kita akan membe

  • Bukan Pelakor   BAB 50: Cawan Beracun di Taman Mawar

    Ruangan privat di lantai atas hotel bintang lima itu kedap suara, namun telinga Larasati seolah berdengung hebat.Di hadapannya, seorang pria paruh baya bernama Sodik, mantan sopir pribadi Sarah yang sempat menghilang ke luar negeri, duduk bersimpuh di lantai marmer. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu gantung kristal. Larasati mencengkeram botol obat kecil bertuliskan huruf kimia yang asing di tangannya. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang mendidih hingga ke sumsum tulang. "Katakan sekali lagi, Sodik. Pelan-pelan. Jangan ada yang kamu kurangi satu kata pun," desis Larasati. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan. Sodik menelan ludah dengan susah payah. "Malam itu... sebelum Nyonya Sarah menemui Anda di taman mawar untuk berkonfrontasi. dia memanggil saya ke dapur belakang. Dia memberikan serbuk ini. Dia bilang, ini hanya obat pencahar kuat agar Nona Utari merasa mulas dan ma

  • Bukan Pelakor   BAB 49: Pertemuan Dua Ratu yang Runtuh

    Lembaga Pemasyarakatan Wanita terlihat lebih suram daripada penjara pria. Bau karbol yang menyengat dan suara kunci besi yang beradu menciptakan suasana mencekam. Larasati melangkah dengan anggun, heels-nya mengetuk lantai semen yang lembap. Ia mengenakan setelan jas merah menyala, warna yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan dominasi dan keberanian. Di balik kaca pembatas, seorang wanita duduk dengan bahu merosot. Rambut Sarah yang biasanya tertata salon kini kusam dan berantakan. Wajahnya yang dulu angkuh kini dipenuhi garis-garis kelelahan dan dendam yang belum padam. Begitu melihat Larasati, mata Sarah membelalak. Ia menyambar gagang telepon dengan tangan gemetar. "Kamu... kamu masih hidup?!" desis Sarah, suaranya parau penuh kebencian. "Kenapa kamu ke sini? Mau pamer karena berhasil merebut semuanya?" Larasati mengangkat teleponnya dengan tenang. "Saya ke sini bukan untuk pamer, Sarah. Saya ke sini

  • Bukan Pelakor   BAB 48: Langkah Perdana Sang Komisaris

    Satu bulan kemudian. Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak pernah berubah dari bising, panas, dan penuh dengan wajah-wajah yang terburu-buru. Namun bagi Larasati alias Utari, udara Jakarta kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekik paru-parunya. Tidak ada lagi aroma getah karet atau debu bandara bayangan. Sebuah jet pribadi bertuliskan logo Vanguard Capital mendarat mulus di area khusus. Pintu pesawat terbuka, dan Larasati melangkah turun. Ia mengenakan blazer putih tulang dengan potongan tajam yang membingkai bahunya dengan sempurna. Kacamata hitam bermerek menutupi matanya, dan tas kulit buaya di lengannya tampak berkilat di bawah terik matahari. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap dengan jas hitam, pengawal pribadi yang disediakan Adrian mengikuti setiap langkahnya. "Mobil sudah menunggu di depan, Nona Larasati," ucap salah satu pengawal. Larasati berhenti sejenak, menghirup udara Jakarta yang sarat polusi. "Bawa saya langsung ke gedung Darsa Gro

  • Bukan Pelakor   Bab 47 : Tawaran dari Sang Pemangsa

    Larasati mematung di lobi bank yang dingin. Nama aslinya Utari yang diucapkan oleh pria bernama Adrian itu terasa seperti sembilu yang menyayat identitas barunya. Larasati menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain atau kamera pengawas yang terlalu dekat. "Anda lancang," desis Larasati, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Saya tidak kenal Anda, dan saya tidak punya urusan dengan orang asing di negeri orang." Adrian tertawa kecil, suara tawa yang elegan namun terdengar berbahaya. Kemudian Adrian merapikan jas abu-abu gelapnya. "Orang asing? Di dunia keuangan seperti ini, tidak ada yang benar-benar asing bagi saya, Nona Larasati. Atau haruskah saya panggil 'Mawar Hitam' dari Jakarta?" Adrian menyodorkan sebuah kartu nama hitam dengan tulisan emas timbul yaitu ADRIAN WONG – CEO, VANGUARD CAPITAL. "Saya tahu apa yang ada di dalam brankas itu. Bukan hanya uang, tapi bukti pengalihan saham ilegal senilai

  • Bukan Pelakor   BAB 46: Cakrawala di Balik Kaca Orchard

    Singapura menyambut mereka dengan kemilau lampu yang tertata rapi dan udara yang jauh lebih dingin. Begitu jet pribadi itu menyentuh landasan di bandara Seletar, sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu di depan hangar. Tidak ada lagi polisi, tidak ada lagi bau getah karet, dan tidak ada lagi debu landasan pacu yang menyesakkan. Utari yang kini resmi menyandang identitas Larasati Arjanti, melangkah keluar dari pesawat dengan kacamata hitam besar menutupi matanya yang sembab. Di belakangnya, Ajeng menatap sekeliling dengan mulut ternganga, sementara Mbak Lastri terus memegang tas dokumen mereka seolah itu adalah nyawanya. "Selamat datang, Nona Larasati. Saya Hendrik, asisten hukum Tuan Darsa di Singapura," seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi membungkuk hormat. Laras hanya mengangguk kaku. "Bawa kami ke tempat tinggal kami. Saya lelah." Mobil itu meluncur mulus menuju sebuah apartemen penthouse di kawasan Orchard Road. Begitu pintu unit terbuka, kemewahan yang terpampa

  • Bukan Pelakor   BAB 23. Perangkap di Balik Sutra

    Pagi setelah malam yang menghancurkan harga diri itu, Utari terbangun dengan perasaan kosong. Kamar mewah dengan sprei sutra ini terasa seperti medan perang baginya. Tuan Darsa sudah pergi sejak subuh, meninggalkannya dengan janji-janji manis tentang masa depan Ajeng yang justru terasa seperti beba

  • Bukan Pelakor   Bab 21. Rahim yang Tergadai

    Malam di villa itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Setelah insiden pemaksaan pil kontrasepsi oleh Sarah, Utari hanya bisa meringkuk di sudut kamarnya yang sempit. Tubuhnya masih gemetar, bukan hanya karena dinginnya ubin, tapi karena bayangan wajah Sarah yang penuh kebencian. Di tangannya, sis

  • Bukan Pelakor   Bab 20. Kekejaman Sarah

    Di sebuah Villa keluarga Munthe.Utari ingin memberitahukan kepada Samu tentang kabar ini. Namun, Utari harus mengumpulkan keberanian untuk menelepon Darsa.Dalam lima detik, panggilannya ditolak. Karena itu, Utari hanya bisa mengirim pesan dengan takut-takut untuk memberitahuny

  • Bukan Pelakor   Bab 19. Terpaksa Menikah

    Gemercik suara air yang bertabrakan dengan lantai menjadi pengiring irama di sela-sela tangisan Utari. Tubuh mungil nan rapuhnya bergetar hebat menahan dingin dan kehancuran secara bersamaan.“Hiks ... Kenapa harus aku yang mengalami semua ini ...!” jerit Utar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status