MasukSepanjang malam sampai pagi, mata Utari masih terjaga dengan segar bisa dibilang mata Utari kuat melotot. Sejak kejadian di dalam kamar mandi bersama tuan Darsa membuat Utari langsung demam tinggi. Sedangkan tuan Darsa tidurnya malah tambah nyenyak setelah memainkan squisi alami milik Utari.
"Tuan, kenapa kita berangkatnya pagi-pagi sekali? Memangnya pejalanannya sangat jauh, ya?" tanya Utari masih dalam keadaan ngantuk, melirik kek arah Darsa yang sedang fokus menyetir mobil.
Jakarta diguyur hujan deras saat Larasati melangkah keluar dari gedung Wijaya Group. Sorot lampu kamera wartawan menyambar-nyambar dari balik pagar betis pengawal, namun ia tetap bungkam. Pikirannya tertuju pada satu nama: Malik. Jika pria itu benar-benar memegang dokumen medis dari dua puluh tahun lalu, maka seluruh kemenangannya saat ini hanyalah istana pasir. "Nona, kita punya lokasi Malik," bisik Bara sambil membukakan pintu mobil SUV hitam yang antipeluru. "Dia bersembunyi di sebuah motel murah di kawasan pelabuhan. Tampaknya dia sedang menunggu instruksi selanjutnya untuk muncul di stasiun televisi besok pagi." "Jangan beri dia kesempatan untuk menghirup udara besok pagi sebagai orang merdeka," desis Larasati. "Bawa saya ke sana." Motel itu kumuh, berbau amis garam dan solar. Di kamar 204, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal sedang memasukkan tumpukan uang ke dalam tas ranselnya. Dialah Malik. Wajahnya tampak cemas, matanya terus melirik ke arah pintu. Tiba-tiba,
Malam pertama Larasati di kediaman Wijaya terasa sunyi yang mencekam. Meskipun ia berbaring di atas sprei sutra dengan aroma melati yang mahal, bayang-bayang masa lalunya sebagai Utari, gadis desa yang tertindas masih menghantuinya. Di sudut ruangan, kalung simbol Wijaya itu berkilat di bawah lampu tidur, seolah-olah menuntut keadilan yang lebih besar. Namun, di saat Larasati mulai mengonsolidasikan kekuatannya di luar, sebuah rencana jahat sedang bersemi di tempat yang paling gelap, yaitu Penjara Wanita. Sarah duduk di pojok sel umum yang kotor. Wajahnya yang dulu cantik kini dihiasi lebam akibat "perpeloncoan" yang diatur oleh instruksi Larasati. Namun, di matanya yang cekung, api dendam membara lebih terang dari sebelumnya. "Nyonya Sarah," bisik seorang narapidana bertato yang baru saja masuk. Wanita itu adalah Ratna, tangan kanan dari sindikat perdagangan manusia yang dulu sering bekerja sama dengan Juragan Somat. "Apakah pesanku sudah sampai ke luar?" tanya Sarah dengan sua
Larasati berdiri di tengah hujan yang mulai mengguyur Bogor, menggenggam foto usang ibunya dengan jemari yang bergetar. Informasi dari Supardi adalah petir di siang bolong. Ia bukan hanya sekadar korban obsesi Darsa, ia adalah aset yang sengaja disembunyikan. "Bara," suara Larasati memecah kesunyian di dalam mobil yang melaju kembali ke Jakarta. "Berapa lama Darsa mengetahui tentang asal-usulku?" Bara yang sedang menyetir melirik melalui spion. "Jika pengakuan bapak Anda benar, kemungkinan besar sejak Tuan Darsa melakukan riset latar belakang saat Anda masih di desa. Dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa keuntungan finansial, Nona." Larasati memejamkan mata. Darsa telah merencanakan ini bertahun-tahun. Dia membiarkan Larasati hidup dalam kemiskinan, lalu menyelamatkannya hanya untuk mencuri identitas dan hak warisnya. Dan Sanjaya... pria itu pasti tahu bahwa keponakannya tidak benar-benar mati di jurang itu dua puluh tahun lalu. "Kita tidak akan kembali ke apartemen," ucap Lar
Asap dari pembakaran barang-barang mewah di depan villa Darsa masih membubung tinggi ke langit malam, namun Larasati sudah melesat jauh dengan mobilnya. Di dalam kabin yang senyap, ia menatap ponselnya. Sebuah koordinat baru saja dikirim oleh informan bayaran Adrian. "Bapakmu tidak di penjara biasa, Laras," suara Adrian terdengar dari handsfree mobil. "Setelah kasus suap Darsa meledak, dia dipindahkan ke fasilitas rehabilitasi medis di pinggiran Bogor karena overdosis. Tapi aku tahu itu hanya kedok. Dia sedang disembunyikan oleh seseorang." Larasati mencengkeram kemudi. "Siapa yang mau menyembunyikan pria rongsokan seperti dia?" "Seseorang yang tidak ingin dia bicara tentang apa yang terjadi dua puluh tahun lalu. Utari, maksudku Larasati. Apakah kamu pernah bertanya-tanya kenapa Darsa memilihmu dari sekian banyak gadis desa di Jawa?" Pertanyaan Adrian menggantung di udara, menciptakan kecemasan baru di dada Larasati. "Maksudmu, ini bukan sekadar kebetulan?" "Cari bapakmu. Temuka
Matahari baru saja menyembul di cakrawala Jakarta, namun Larasati sudah duduk di kursi kebesarannya di lantai teratas gedung Darsa Group. Di depannya, selusin pengacara dan analis keuangan dari Vanguard Capital berdiri dengan tumpukan dokumen yang siap ditandatangani. Larasati tidak tidur semenjak keluar dari penjara semalam. Matanya yang dingin dan tajam kini tidak lagi menyiratkan kesedihan, melainkan fokus yang mematikan. "Mulai menit ini, saya ingin semua aset properti Darsa Group yang tidak produktif dijual dengan harga pasar terendah ke perusahaan cangkang kita di Singapura," perintah Larasati. Suaranya tenang, namun mutlak. "Tapi Nona Larasati," potong salah satu analis, "itu akan memicu kepanikan di bursa efek. Nilai perusahaan akan terjun bebas!" Larasati menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Memang itu tujuannya. Biarkan kapal ini tenggelam. Saya ingin para pemegang saham setia Darsa merasa ketakutan dan menjual saham mereka kepada kita dengan harga sampah. Kita akan membe
Ruangan privat di lantai atas hotel bintang lima itu kedap suara, namun telinga Larasati seolah berdengung hebat.Di hadapannya, seorang pria paruh baya bernama Sodik, mantan sopir pribadi Sarah yang sempat menghilang ke luar negeri, duduk bersimpuh di lantai marmer. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu gantung kristal. Larasati mencengkeram botol obat kecil bertuliskan huruf kimia yang asing di tangannya. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang mendidih hingga ke sumsum tulang. "Katakan sekali lagi, Sodik. Pelan-pelan. Jangan ada yang kamu kurangi satu kata pun," desis Larasati. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan. Sodik menelan ludah dengan susah payah. "Malam itu... sebelum Nyonya Sarah menemui Anda di taman mawar untuk berkonfrontasi. dia memanggil saya ke dapur belakang. Dia memberikan serbuk ini. Dia bilang, ini hanya obat pencahar kuat agar Nona Utari merasa mulas dan ma
Mobil mewah yang membawa Darsa dan Utari berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang tertutup rapat. Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, kendaraan itu menyusuri jalanan aspal kecil yang dikelilingi pohon-pohon pinus hingga sampai di sebuah rumah bergaya modern minimalis yang te
Di sebuah Villa keluarga Munthe.Utari ingin memberitahukan kepada Samu tentang kabar ini. Namun, Utari harus mengumpulkan keberanian untuk menelepon Darsa.Dalam lima detik, panggilannya ditolak. Karena itu, Utari hanya bisa mengirim pesan dengan takut-takut untuk memberitahuny
Gemercik suara air yang bertabrakan dengan lantai menjadi pengiring irama di sela-sela tangisan Utari. Tubuh mungil nan rapuhnya bergetar hebat menahan dingin dan kehancuran secara bersamaan.“Hiks ... Kenapa harus aku yang mengalami semua ini ...!” jerit Utar
Sarah mengacak rambutnya sambil mengerang frustrasi. Kepalanya berdengung sakit ketika memaksakan tubuhnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengingat semua kejadian di ruangan kerja Darsa semalam.“Sial! Kenapa Darsa harus pergi menghilang begitu saja! Padahal dia lagi dalam keadaan t







