Home / Rumah Tangga / Bukan Pernikahan Kontrak / BAB 2 - Jangan Sekarang, Anya.

Share

BAB 2 - Jangan Sekarang, Anya.

Author: ELARETAA
last update Last Updated: 2026-01-03 10:50:32

Pagi menyingsing dengan cahaya matahari yang menusuk celah-celah jendela kos Anya, namun wanita itu sama sekali tidak merasakan kehangatan. Matanya bengkak, kepalanya berdenyut nyeri setelah menghabiskan malam dengan tangisan yang tertahan. Dengan gerakan cepat, ia bersiap dan memulas wajahnya dengan makeup yang sedikit lebih tebal untuk menyembunyikan rona pucat dan jejak kepedihan semalam.

Hari ini ia harus kembali menjadi Anya yang tangguh, sang andalan di divisi operasional Atmaja Group. ​Namun, saat Anya melangkah memasuki lobi megah gedung Atmaja Group, suasana terasa sangat berbeda dari biasanya.

Ada ketegangan yang merayap di udara, para staf keamanan berdiri jauh lebih tegak, resepsionis merapikan seragam mereka berkali-kali dan bisik-bisik riuh terdengar dari setiap sudut.

"Dia datang! Kabarnya pesawatnya mendarat subuh tadi," bisik salah satu rekan kerja Anya di depan lift.

"Siapa?" tanya Anya dengan suara serak.

"Siapa lagi kalau bukan Narendra Arkana Atmaja! Pewaris tunggal kerajaan bisnis ini. Kabarnya dia sudah selesai mengurus ekspansi di negara C dan akan mengambil alih kepemimpinan pusat mulai hari ini. Bersiaplah, Anya, kabarnya dia pria yang sangat perfeksionis dan dingin," ucap Sheila.

Jantung Anya berdegup kencang, nama itu sering ia dengar dalam laporan tahunan, namun sosoknya selama ini hanya berupa foto di majalah bisnis atau layar televisi saat konferensi pers internasional. Narendra Arkan Atmaja adalah putra mahkota yang selama ini mengendalikan Atmaja Group dari jauh.

Baru saja Anya sampai di ruangan, Bu Oliv sudah menyuruh Anya untuk bekerja dan Anya hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar instruksi dari Bu Oliv, manajer seniornya yang terkenal sangat ambisius. Di saat semua orang di kantor bersolek dan berdiri rapi di lobi untuk menyambut kepulangan sang putra mahkota, Anya justru harus menyingkir.

"Anya, saya tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun saat Pak Arkan memeriksa data lama nanti. Pergi ke gudang arsip di lantai bawah tanah, periksa berkas pengadaan vendor lima tahun terakhir satu per satu dan pastikan semuanya lengkap dan sinkron dengan data digital!" perintah Bu Oliv tanpa menatap Anya karena ia sibuk mematut diri di depan cermin kecil sambil memoles lipstik merah menyalanya.

"Tapi Bu, laporan operasional hari ini juga harus saya selesaikan...," ucapan Anya harus terhenti karena Bu Oliv yang bersuara.

"Tidak ada tapi-tapian, kamu itu yang paling teliti di sini. Sudahlah, jangan membantah. Kamu juga tidak perlu ikut penyambutan, wajahmu terlihat kuyu hari ini, bisa merusak pemandangan di barisan operasional," potong Bu Oliv tajam.

Anya terdiam dan ia tahu itu hanya akal-akalan Bu Oliv agar Anya tidak mencuri perhatian di depan ceo baru atau mungkin hanya cara untuk menyingkirkan siapa pun yang bisa menjadi saingannya dalam mencari muka. Dengan bahu lunglai, Anya membawa tumpukan map dan kunci akses menuju lantai basement yang jarang dikunjungi orang.

Gudang arsip Atmaja Group sangat luas, dingin, dan dipenuhi aroma kertas tua yang khas. Suasana di sini sangat kontras dengan hiruk-pikuk di lobi atas, hanya ada suara dengung lampu neon dan detak jantung Anya yang masih tidak keruan memikirkan tagihan rumah sakit.

Anya mulai membuka boks besar, satu persatu dokumen ia periksa. Debu mulai menempel di jemari halusnya dan kemeja putih yang ia kenakan kini tak lagi sebersih tadi pagi. Di tengah keheningan itu, pikirannya kembali melayang pada ucapan Paman Andi.

'Dua miliar,' batin Anya.

Anya berhenti sejenak, duduk di sebuah kursi kayu tua di pojok gudang. Ia mengeluarkan ponselnya, berharap ada keajaiban, namun yang ia temukan hanyalah pesan singkat dari pihak bank yang menanyakan status pinjaman rumah di kampung. Anya memejamkan mata, air mata hampir jatuh lagi, namun ia segera menghapusnya.

"Jangan sekarang, Anya. Kamu sedang bekerja," bisiknya pada diri sendiri.

Di tengah kesibukannya, ponselnya kembali bergetar dan Anya menatap layar ponselnya dengan pandangan nanar, sebuah notifikasi pesan singkat dari administrasi Rumah Sakit Medika muncul, menghancurkan sisa-sisa ketenangan yang ia bangun.

*Pemberitahuan RS Medika*

[Yth. Keluarga Ibu Sarah, mohon segera menyelesaikan tunggakan biaya ruang ICU dan tindakan medis sebesar 150 juta paling lambat besok pukul 12.00. Jika tidak ada konfirmasi pembayaran, dengan berat hati pasien akan dipindahkan ke bangsal umum dan prosedur penunjang intensif akan dihentikan sementara sesuai prosedur]

Tangan Anya gemetar hebat hingga ponselnya hampir merosot dari genggamannya, seratus lima puluh juta itu hanyalah cicilan kecil dari total dua miliar yang menghantui hidupnya, namun bagi Anya saat ini, angka itu setara dengan mendaki gunung tanpa oksigen. Anya tahu persis apa arti pemindahan ke bangsal umum bagi ibunya. Ibunya membutuhkan ventilator dan pengawasan monitor jantung setiap detik, memindahkannya berarti menyerahkan nyawa ibunya pada takdir yang paling kejam.

"Satu hari, aku hanya punya waktu kurang dari dua puluh empat jam," gumam Anya.

Anya tengah bingung darimana ia mendapatkan uang untuk pengobatan Ibunya hingga Vira mengirim pesan padanya yangmana Vira menawarkan pekerjaan pada Anya, Anya menatap pesan dari Vira di layar ponselnya dengan perasaan bimbang yang luar biasa. Lima juta rupiah untuk lima jam kerja, itu angka yang sangat besar bagi seorang pelayan paruh waktu dalam satu malam. Namun, tempat yang disebutkan Vira adalah sebuah bar eksklusif bernama The Midnight Eclipse, tempat itu bukanlah tempat sembarangan. Di mana tempat itu adalah tempat para konglomerat dan ekspatriat membuang uang mereka dalam semalam.

[Anya, aku tahu kamu lagi butuh uang. Malam ini di Midnight Eclipse ada event besar, mereka kekurangan pelayan VIP, kamu cuma perlu anter minuman, pakai seragam yang disediakan dan jaga sikap. 5 jam kerja, 5 juta bersih di tangan, gak ada aneh-aneh, aku jamin. Mau gak? Ini kesempatan cepat buat nambah bayar rumah sakit] - Vira.

Anya meremas ponselnya, lima juta memang jauh dari seratus lima puluh juta yang ia butuhkan, apalagi dua miliar untuk utang ayahnya. Tapi, setidaknya itu bisa menjadi uang jaminan awal agar pihak administrasi melihat ada itikad baik darinya.

"Hanya menjadi pelayan, bukan pemuas," bisik Anya meyakinkan dirinya sendiri.

Hati kecil Anya menolak karena bagaimanapun stigma orang tentang orang yang bekerja di bar bukanlah pekerjaan yang baik, meskipun orang yang bekerja disana belum tentu sama seperti yang mereka pikirkan.

Namun, karena tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, Anya harus mempertimbangkan tawaran dari Vira.

[Kamu yakin cuma anter minum aja?] - Anya.

[Iya, kamu percaya sama aku. Lagipula, nanti tamunya itu orang-orang kaya, mereka juga gak akan mau sama perempuan yang banyak masalah kayak kamu] - Vira.

[Yaudah, aku mau. makasih ya, Vir] - Anya.

[Yoi] - Vira.

.

.

.

Bersambung.....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Pernikahan Kontrak   BAB 11 - Aku Adalah Suamimu

    Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. ​Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. ​Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. ​Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. ​Berbeda dengan c**m*n di

  • Bukan Pernikahan Kontrak   BAB 10 - Kau Sangat Menyukainya?

    "Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. ​"Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. ​Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. ​"Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya

  • Bukan Pernikahan Kontrak   BAB 9 - Ini Rumah Siapa?

    Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan

  • Bukan Pernikahan Kontrak   BAB 8 - Jangan Pernah Membantah Perintahku

    Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. ​"Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.​Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.​Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan

  • Bukan Pernikahan Kontrak   BAB 7 - Tidak Punya Pilihan

    Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan. Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar

  • Bukan Pernikahan Kontrak   BAB 6 - Urusan Pribadi

    Anya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya."Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung.Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak."Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara."Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti.Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status