เข้าสู่ระบบAnya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya.
"Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung. Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak. "Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara. "Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti. Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik menghina tiba-tiba berubah sunyi senyap, orang-orang di sekitar sana memberikan jalan, mundur beberapa langkah seolah-olah ada predator besar yang sedang lewat. Arkan melangkah maju dengan tangan terbenam di saku celana, Bagas dan Dion mengikuti di belakang dengan ekspresi bingung, namun serius. Mata Arkan tidak tertuju pada Tuan Tyo, melainkan pada sosok wanita yang terduduk gemetar di lantai dengan darah yang mulai menetes dari jemarinya. "Lepaskan dia, Tyo," suara Arkan rendah, namun memiliki kekuatan yang mampu membungkam kemarahan siapa pun. Tuan Tyo menoleh, wajahnya yang penuh emosi seketika berubah saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. "Tu-tuan? A-anda mengenal perempuan murahan ini?" tanya Tuan Tyo. Arkan tidak menjawab pertanyaan itu, ia berjalan mendekat dan melewati Tuan Tyo seolah pria itu hanya udara kosong. Arkan berhenti tepat di depan Anya, Arkan berjongkok dan mengabaikan genangan alkohol dan pecahan kaca yang bisa saja merusak sepatu mahalnya. "Anya," panggil Arkan. Anya perlahan mengangkat wajahnya yang sembab, rambut hitamnya menempel di pipinya yang memerah bekas tamparan. Saat matanya bertemu dengan mata Arkan, pertahanan Anya runtuh sepenuhnya. Ia tidak tahu apakah pria ini akan menolongnya atau justru ikut menghinanya, tapi saat ini, Arkan adalah satu-satunya wajah yang ia kenali di tengah kerumunan serigala ini. "Bangun," ucap Arkan dan mengulurkan tangannya. Anya ragu, namun ia perlahan menyambut tangan kokoh itu. Arkan membantu Anya berdiri lalu melepaskan jas hitamnya yang tadi sempat ia pakai kembali dan menyampirkannya ke bahu Anya yang terbuka. Aroma sandalwood yang tenang seketika menyelimuti Anya, memberikan sedikit rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan. "Tuan Arkan, jam saya..." ucap Tuan Tyo mencoba menyela, namun Arkan mengangkat tangannya dan menghentikan ucapan pria itu. "Lima miliar, benar?" tanya Arkan dingin dan kini matanya tertuju tajam pada Tuan Tyo. "I-iya, Tuan. Ini edisi sangat terbatas...," Lagi-lagi ucapan Tuan Tyo terhenti. "Dion, urus ganti rugi jam Tuan Tyo sekarang juga. Pastikan nominalnya masuk ke rekeningnya malam ini, lengkap dengan biaya gangguan kenyamanan yang dia keluhkan," ucap Arkan dan memanggil Dion yang memang menjadi pengacara di Atmaja Group. Meskipun bingung, tapi Dion tetap melakukan apa yang dikatakan Arkan, sementara itu Bagas bersiul pelan di belakang dan Tuan Tyo ternganga, ua tidak menyangka Arkan akan mengeluarkan uang sebesar itu demi seorang pelayan bar. "Tapi sebagai gantinya, saya tidak ingin melihat wajah anda lagi di bisnis properti mana pun yang berafiliasi dengan bisnis saya dan soal tamparan tadi, anggap saja itu biaya untuk mengakhiri karier Anda di kota ini," ucap Arkan dengan suara yang berubah menjadi setajam silet. Wajah Tuan Tyo seketika memutih ketika mendengar perkataan Arkan, "Tuan, maafkan saya! Saya tidak tahu dia adalah...," Tuan Tyo mencoba menjelaskan, namun Arkan segera menghentikannya "Pergi," usir Arkan dan Tuan Tyo tidak berani membantah, ia pun segera pergi dengan langkah seribu, diikuti tatapan sinis dari Bagas. Arkan kembali menatap Anya yang masih terpaku, tubuhnya masih sedikit gemetar di balik jas besar Arkan. Arkan meraih tangan Anya yang terluka, menatap luka-luka kecil akibat pecahan kaca dengan kening berkerut. "Joseph," panggil Arkan pada sang manajer yang sedari tadi menahan napas. "I-iya, Tuan?" ucap Joseph. "Berapa gaji yang harus kamu bayar untuk wanita ini malam ini?" tanya Arkan. "Lima juta, Tuan," jawab Joseph dengan menahan napas karena berada dekat dengan tamu terhormat di bar ini. Arkan merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan melemparnya ke meja. "Ini untuk kerugian botolmu, Anya berhenti malam ini juga. Jangan pernah izinkan dia menginjakkan kaki di bar ini lagi atau saya yang akan menutup tempat ini," ucap Arkan. "Ba-baik, Tuan," jawab Joseph. Arkan kemudian beralih ke Anya, mencengkeram lembut lengannya untuk membawanya keluar, "Ayo ikut saya, sepertinya harga dirimu baru saja jatuh bersama pecahan jam itu," ajak Arkan dengan kata-kata tajamnya. Anya tidak menjawab, ia hanya bisa pasrah saat Arkan membawanya pergi dan meninggalkan sorot mata penuh tanya dari para tamu dan sahabat-sahabat Arkan. "Lo kenal cewek tadi?" tanya Bagas. "Gak," jawab Dion. "Kayaknya ada sesuatu deh, tumben banget seorang Arkan mau menolong orang," ucap Bagas. "Kali ini gue setuju sama lo," ucap Dion, lalu mereka segera mengikuti Arkan masuk ke ruangan mereka. Disisi lain, sesampainya di depan pintu ruangan VVIP, Arkan berhenti sejenak lalu ia melirik Bagas dan Dion yang masih mengekor di belakang dengan wajah penuh rasa penasaran yang nyaris meluap. "Kalian berdua, tunggu di luar atau pulang saja, jangan masuk," ucap Arkan tanpa menoleh. Bagas yang mendengarnya pun terkejut, dengan penuh drama Bagas mebolak untuk keluar dari ruangan tersebut. "Loh kok gitu sih, ini ruangan kita dan kita baru mau mulai minum, kenapa tiba-tiba kita diusir?" tanya Bagas yang tidak terima diusir oleh Arkan. "Dion, bawa dia pergi. Gue masih ada urusan pribadi yang harus diselesaikan," ucap Arkan dengan nada yang tidak menerima penolakan. Dion yang lebih peka dalam membaca situasi pun segera menarik kerah baju Bagas. "Ayo Gas, biarkan Arkan disini. Sepertinya urusan pribadi yang dimaksud Arkan ini jauh lebih penting daripada sekadar Macallan kita," sindir Dion. Dion paham jika hubungan Arkan dan Anya bukan hanya sebatas pelayan dan tamu, tapi lebih dari itu. Selama ia berteman dengan Arkan, ini adalah pertama kalinya Dion melihat tatapan tertarik Arkan pada seorang perempuan. "Tapi, Dion...," ucapan Bagas harus terhenti karena Dion yang tiba-tiba menyeretnya keluar dari ruangan tersebut. "Ayo!" ajak Dion dengan menyeret Bagas menjauh, meninggalkan Arkan dan Anya yang masih mematung di ruangan yang kini sepi. . . . Bersambung.....Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan c**m*n di
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. "Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. "Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya
Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan
Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. "Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan
Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan. Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar
Anya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya."Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung.Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak."Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara."Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti.Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik me







