เข้าสู่ระบบPintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan.
Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar perkataan Arkan, kepalanya mendongak dan menatap Arkan dengan mata membelalak. "Bagaimana... bagaimana anda tahu semuanya?" tanya Anya. Arkan menyandarkan punggungnya dan menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak memberitahu Anya bahwa ia adalah ceo dari tempatnya bekerja, ia membiarkan Anya menganggapnya sebagai pengusaha kaya biasa yang kebetulan lewat. "mencari informasimu adalah hal yang sangat mudah untukku," ucap Arkan. "La-lalu, saya harus bagaimana sekarang?" tanya Anya. "Aku menawarkan jalan keluar, menikahlah denganku. Aku akan melunasi semua utangmu malam ini juga, ibumu akan dipindahkan ke kamar VIP dan mendapatkan perawatan terbaik dan sebagai gantinya, kamu hanya perlu menjadi istriku," ucap Arkan. Anya mengepalkan tangannya di atas pangkuan, ia merasa terpojok dan tidak ada lagi jalan keluar. Seluruh dunianya telah runtuh dan pria di hadapannya adalah satu-satunya pelampung di tengah badai. "Kenapa saya? Anda kan kaya, anda bisa mendapatkan siapa saja," tanya Anya yang merasa tidak pantas menjadi istri Arkan.. "Karena aku butuh istri untuk memenuhi tuntutan keluargaku dan kamu adalah orang yang paling mudah aku kendalikan karena seluruh hidupmu kini ada di tanganku," jawab Arkan dengan nada yang sengaja dibuat dingin dan tanpa perasaan. Anya memejamkan mata, air matanya jatuh ketika mendengar perkataan Arkan. "Hanya kontrak? Satu tahun?" tanya Anya. Arkan terdiam sejenak, di dalam hatinya ada gejolak yang tidak ia tunjukkan. Ketertarikannya pada Anya bukanlah sebuah paksaan atau kebetulan, melainkan sesuatu yang menyulut rasa ingin tahunya sejak melihat Anya tadi. Namun, Arkan adalah pria yang penuh rahasia, ia tak ingin Anya tahu bahwa ia sudah jatuh hati pada pandangan pertama. "Ya, satu tahun. Setelah itu kamu bebas, jadi bagaimana?" tanya Arkan. Anya menarik napas panjang, menatap tangannya yang terluka. Demi ibunya, demi nyawanya yang kini terancam oleh rentenir, ia tidak punya pilihan lain. "Baik, saya setuju," jawab Anya. Arkan bangkit berdiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan, senyum yang Anya artikan sebagai kesepakatan bisnis, padahal bagi Arkan, itu adalah langkah awal untuk mengurung wanita itu dalam hidupnya selamanya. "Bagus, besok asistenku akan menjemputmu. Jangan terlambat dan bersiaplah karena hidupmu yang sekarang sudah berakhir," ucap Arkan. Anya mengangguk pelan, merasa seperti baru saja menyerahkan jiwanya pada iblis. Anya tidak tahu bahwa pria yang akan ia nikahi ini sebenarnya sangat mendambakannya, Arkan sengaja memasang topeng dingin dan paksaan agar Anya tetap merasa berutang budi, sebuah taktik licik untuk memastikan Anya tidak akan pernah berani meninggalkannya. Arkan melirik jam tangan di pergelangan tangannya yang kokoh lalu kembali menatap Anya yang masih tampak linglung. "Ayo, aku antar kamu pulang. Tidak aman bagi wanita dengan kondisi berantakan seperti ini berkeliaran di luar jam dua pagi," ucap Arkan. Anya sempat ingin menolak karena merasa sudah terlalu banyak merepotkan, namun tatapan tajam Arkan membuatnya menelan kembali kata-katanya, Anya mengekor di belakang Arkan menuju parkiran khusus VVIP, di mana sebuah mobil Rolls Royce hitam mengilat sudah menunggu di sana. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kabin mobil yang mewah. Anya hanya bisa menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai meredup. Anya masih memeluk jas milik Arkan seolah kain itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki dari dunia yang baru saja menghancurkannya. "Di mana alamatmu?" tanya Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Anya menyebutkan sebuah alamat di daerah pemukiman padat penduduk yang gangnya bahkan mungkin terlalu sempit untuk dilewati mobil mewah pria itu. Benar saja, saat sampai di mulut gang, Arkan terpaksa menghentikan mobilnya. "Rumah saya masuk ke dalam lagi, Tuan. Anda bisa menurunkan saya di sini," ucap Anya pelan sambil melepas jas Arkan dan melipatnya dengan rapi. Arkan tidak menjawab, ia justru mematikan mesin mobil dan keluar lalu membukakan pintu untuk Anya, tindakannya yang gentleman terasa sangat kontras dengan kata-katanya yang dingin sebelumnya. "Aku antar sampai depan pintu rumahmu, jam segini pasti banyak pria hidung belang yang berkeliaran, mereka itu bisa saja muncul dari balik kegelapan gang ini," ucap Arkan tegas. Anya terpaksa menuntun Arkan berjalan menyusuri gang sempit yang remang-remang, Dengan kemeja putih mahal yang dikenakan Arkan dan juga aura kelas atasnya, Arkan tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan kumuh tersebut. Namun, pria itu tidak mengeluh sedikit pun, matanya justru sibuk merekam betapa sulitnya kehidupan yang dijalani calon istrinya ini dan sesampainya di depan sebuah rumah kecil dengan cat yang sudah mengelupas, Anya berhenti. "Ini tempat tinggal saya, Tuan. Terima kasih sudah mengantar saya," ucap Anya. "Kau tinggal di kos-kosan?" tanya Arkan. "Iya, Tuan," jawab Anya. "Kenapa tinggal di tempat ini?" tanya Arkan. "Karena disini murah," ucap Anya. "Tapi, tempatnya tidak layak. Lebih baik pindah ke apartemen," ucap Arkan. "Di apartemen mahal, lebih baik di sini karena murah," ucap Anya. "Kau kan kerja di Atmaja Group, gaji disana besar bahkan bonus juga tidak main-main. Tapi, kenapa kau tinggal di tempat seperti ini?" tanya Arkan. "Saya hanya pegawai kontrak di Atmaja Group, bukan pegawai tetap. Jadi, gaji dan bonus saya tidak sebesar gaji pegawai tetap bahkan gaji saya sering dipotong, selain itu saya gaji saya juga bukan hanya untuk saya pribadi, tapi untuk keluarga saya, untuk melunasi hutang ayah saya dan juga biaya rumah sakit ibu saya," ucap Anya. Arkan yang baru mengetahui tentang hal itu pun terkejut, 'Apa ada yang tidak beres selama ini di Atmaja Group, aku sudah mengatakan untuk menyamakan gaji pegawai tetap dan juga pegawai kontrak,' batin Arkan. . . . Bersambung.....Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan c**m*n di
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. "Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. "Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya
Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan
Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. "Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan
Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan. Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar
Anya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya."Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung.Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak."Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara."Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti.Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik me







