เข้าสู่ระบบSetelah menekan tombol kirim, Anya menarik napas panjang yang terasa sangat berat di paru-parunya, ia merasa seolah-olah baru saja menandatangani kesepakatan dengan sisi gelap dunia yang selama ini ia hindari. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, bayangan wajah ibunya yang pucat pasi di balik masker oksigen langsung menghapus egonya.
Anya kembali memeriksa tumpukan dokumen di gudang bawah tanah, debu yang menempel di tangannya kini terasa seperti beban yang kian nyata, ia bekerja tanpa henti hingga punggungnya terasa kaku dan matanya perih karena terus-menerus memindai angka-angka kecil dalam kegelapan. Pukul 5 sore, kantor Atmaja Group mulai riuh, suara gelak tawa terdengar dari lantai atas, menandakan pesta penyambutan Narendra Arkan Atmaja sedang mencapai puncaknya. Anya segera merapikan barang-barangnya menghindari interaksi dengan siapa pun, terutama Bu Oliv. Anya menyelinap keluar melalui pintu belakang gedung merasa seperti seorang kriminal yang sedang bersembunyi dari sorotan lampu. Sesampainya di kos, Anya tidak sempat beristirahat, ia membersihkan diri dengan terburu-buru dan mencoba menggosok sisa debu gudang dari kulitnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang retak, ia memulas riasan tipis hanya sekadar agar ia tidak terlihat seperti orang yang sedang sekarat. "Hanya lima jam, Anya. Lima jam untuk nyawa Ibu," bisiknya pada diri sendiri dan mencoba menguatkan hatinya yang sedang terluka. Pukul delapan malam, Anya tiba di area belakang The Midnight Eclipse. Suasana di sini jauh dari kesan mewah yang ditampilkan di pintu depan, lorongnya sempit, dipenuhi tong sampah besar dan bau asap rokok dari para kru yang sedang beristirahat. Anya merapatkan jaketnya, mencoba menyembunyikan rasa takut yang nyaris meluap. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap dengan rambut yang disisir klimis keluar dari pintu besi, pria itu mengenakan kemeja hitam ketat dan memiliki tato kecil di belakang telinganya. Tatapannya tajam, memindai Anya dari atas ke bawah dengan cara yang membuat Anya merasa tidak nyaman. "Kamu temannya Vira?" tanya pria itu dengan suaranya yang serak dan berat. Anya mengangguk pelan, suaranya hampir tidak keluar. "Iya, saya Anya," jawab Anya. Pria itu menyeringai tipis lalu mengulurkan tangan yang dihiasi cincin perak besar, "Saya saja Joseph, saya yang pegang kendali di area VIP malam ini. Vira sudah cerita soal kondisi kamu,katanya kamu butuh uang cepat, ya?" tanya Joseph. Anya menelan ludah dan hanya mampu mengangguk kecil, ada sesuatu dari cara Joseph menatapnya yang terasa seperti seorang predator sedang menilai mangsanya. "Bagus, aku suka orang yang punya motivasi kuat karena uang biasanya bekerja lebih keras," ucap Joseph sambil memberi isyarat agar Anya mengikutinya masuk ke dalam. "Ikut aku, kita tidak punya banyak waktu. Malam ini ada tamu-tamu kelas atas termasuk beberapa orang paling berpengaruh di negara ini. Satu kesalahan kecil saja, bukan cuma gaji kamu yang hilang, tapi kepalaku juga taruhannya," lanjutnya. Anya dibawa ke sebuah ruangan sempit yang dipenuhi gantungan baju dan kotak makeup, Joseph melemparkan sebuah gaun hitam ke arahnya. "Ganti bajumu dengan ini, cepat! Sepatunya ada di bawah meja," ucap Joseph. Saat Anya membuka bungkusan itu, matanya membelalak. Itu adalah gaun silk hitam dengan potongan yang sangat berani, bagian punggungnya terbuka hampir sepenuhnya dan panjangnya hanya mencapai tengah paha. "Joseph, apa ini tidak terlalu terbuka?" tanya Anya dengan nada protes yang tertahan. Joseph yang sedang menyalakan korek api di ambang pintu menoleh, tatapannya dingin. "Ini bar kelas satu, Anya. Bukan perpustakaan, tamu di sini membayar jutaan hanya untuk melihat pemandangan yang indah. Pakai saja atau kamu mau pulang sekarang tanpa membawa uamg sepeser pun," ucap Joseph. Anya terdiam, bayangan tagihan rumah sakit senilai seratus lima puluh juta kembali menghantam benaknya. Dengan tangan gemetar, Anya masuk ke bilik ganti. Saat Anya keluar dan menatap cermin besar di ruangan itu, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan yang tadinya tipis kini dipertebal oleh penata rias yang dikirim Joseph, bibirnya dipulas merah darah dan rambut hitamnya dibiarkan tergerai bergelombang menutupi sebagian punggungnya yang terbuka. "Nah, begini baru layak," gumam Joseph yang kini berdiri di belakangnya, menatap pantulan Anya di cermin. "Ingat, tugasmu sederhana. Antar minuman, tuangkan lalu pergi. Jangan banyak bicara kecuali diminta dan jangan pernah menolak jika ada tamu yang ingin memberimu tip, selama mereka tidak menyentuhmu dan jika ada yang kurang ajar padamu, kamu langsung pergi," lanjut Joseph dan diangguki Anya. Anya melangkah keluar menuju area VIP, musik techno jazz yang berdentum rendah membuat lantai di bawah kakinya terasa bergetar, Anya membawa nampan perak berisi botol-botol minuman yang harganya setara dengan biaya hidupnya selama setahun. Awalnya, semuanya terasa kabur. Anya hanya melihat bayangan orang-orang kaya yang tertawa, asap cerutu yang membubung dan aroma alkohol yang menyengat. Anya mencoba tetap menunduk fokus pada kakinya agar tidak tersandung sepatu hak tinggi yang tidak biasa ia pakai. Hingga tiba saatnya Joseph mendekatinya dengan wajah yang jauh lebih tegang dari sebelumnya. "Anya, ambil botol Macallan edisi khusus ini. Bawa ke meja nomor satu di pojok kanan, area VVIP," bisik Joseph dengan nada mendesak. "Siapa tamunya?" tanya Anya yang entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak. "Tamu paling penting malam ini, dia baru kembali dari luar negeri dan kabarnya dia yang memegang kendali atas separuh ekonomi kota ini sekarang, jadi jangan berani-berani melakukan kesalahan," ancam Joseph sebelum mendorong pelan bahu Anya. Anya menarik napas panjang mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Anya berjalan menuju area yang paling remang, di mana satu meja besar dikelilingi oleh pria-pria berpakaian formal yang tampak sangat eksklusif. Saat Anya sampai di meja itu, ia mulai meletakkan gelas kristal satu per satu dengan tangan yang berusaha tetap stabil. Namun, saat ia harus menuangkan minuman untuk pria yang duduk di kursi utama, tangannya harus terhenti karena pria yang sedari tadi hanya diam menatap kegelapan di balik jendela kaca tiba-tiba menoleh kearah Anya. Cahaya lampu gantung yang redup mengenai rahang tegasnya, mata pria itu sangat tajam, dingin dan mematikan. 'Aku kok kayak kenal dan pernah ketemu sama pria ini ya, tapi dimana?' batin Anya. Anya sempat melirik pria dihadapannya dan ia merasa takut karena tatapan tajam pria itu padanya, Anya pun segera menyelesaikan tugasnya dan setelah itu ia keluar dari ruangan tersebut dengan tenang tanpa membuat masalah. "Gimana?" tanya Joseph ketika melihat Anya keluar dari ruangan VVIP. "Aman," jawab Anya. "Bagus lah, awas saja kalau sampai tamu kita tidak puas. Sekarang kamu ke tamu yang lain," ucap Joseph dan diangguki Anya. . . . Bersambung.....Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan c**m*n di
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. "Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. "Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya
Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan
Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. "Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan
Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan. Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar
Anya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya."Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung.Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak."Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara."Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti.Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik me







