LOGINLangkah kaki Arkan bergema di sepanjang lorong eksklusif menuju ruangan VVIP nomor satu, wajahnya yang datar tidak menyiratkan emosi apa pun, namun di dalam kepalanya, bayangan pelayan bar bernama Anya itu masih tertanam kuat. Baru kali ini ada orang yang menolak tawaran terbuka darinya, tawaran yang bisa mengubah nasib seseorang dalam semalam.
Begitu ia mendorong pintu ganda ruangan tersebut, suasana sunyi dan dingin menyambutnya. Arkan menuangkan kembali sisa Macallan ke dalam gelasnya, menatap cairan berwarna ambar itu dengan pandangan kosong. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dengan kasar, seorang pria dengan kemeja flanel yang dibiarkan terbuka memperlihatkan kaus putih di dalamnya melangkah masuk dengan cengiran lebar. Di belakangnya, menyusul seorang pria lain yang tampak lebih tenang. "Narendra Arkana Atmaja! Sialan, lo benar-benar pulang tanpa memberi tahu dulu!" seru pria pertama yaitu Bagas yang merupakan sahabat Arkan sejak masa sekolah menengah sekaligus pemilik hotel terkemuka. Pria kedua adalah Dion, seorang pengacara yang sering menangani kasus-kasus kelas atas hanya tersenyum tipis dan duduk di hadapan Arkan. "Jangan salahkan dia, Gas. Lo tahu Arkan paling benci dengan penyambutan yang berisik," ucap Dion. Arkan hanya mengangkat gelasnya sedikit sebagai tanda salam, "Gue baru sampai pagi tadi dan gue terlalu banyak urusan di kantor yang harus segera diselesaikan," ucap Arkan. Bagas menuangkan minuman untuk dirinya sendiri dan Dion, "Ayo, lupakan sejenak tentang saham dan vendor, malam ini kita rayakan kembalinya sang Raja! Tapi, tunggu sebentar. Kenapa wajah lo terlihat lebih kesal dari biasanya? Apa perjalanan lo buat lo jetlag parah?" tanya Bagas. "Gak, gue cuma males aja," ucap Arkan. "Apa karena Mommy Viona?" tanya Dion. "Kenapa gara-gara Mommy?" tanya Arkan. "Ya, mungkin aja gara-gara Mommy Viona yang nyuruh lo buat nikah," ucap Dion. "Gak lah, gue udah terbiasa sama Mommy yang nyuruh gue nikah, kalau Mommy tiba-tiba diam dan gak nyuruh gue nikah justru itu aneh," ucap Arkan. "Terus kenapa lo kelihatan kesel gitu?" tanya Bagas. "Ya gapapa, gue males aja," jawab Arkan. "Emang orang kaya satu ini aneh," ucap Bagas. Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba suara berisik terdengar di indra pendengaran mereka, "Ada apa kok berisik?" tanya Bagas. "Gak tahu, coba lo kekuar dan cari tahu," ucap Dion. "Gak deh, males gue. Gue pengen minum," ucap Bagas. Tak berselang lama, suara berisik kembali terdengar dan kali ini terdengar suara bentakan dari luar ruangan, "Ayo keluar, kayaknya ada yang lagi berantem deh di luar," ajak Bagas. Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari ruang VVIP dan ketika mereka sampai di luar, mereka melihat seirang wanita terduduk di lantai dan seorang pria berdiri dihadapan wanita terus dengan melontarkan kata-kata yang tidak pantas. ### Disisi lain, Anya berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih tidak keruan dan ia mulai merapikan gaun hitamnya lalu kembali memegang nampan perak dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Fokus, Anya. Empat jam lagi dan kamu bisa pulang membawa uang untuk Ibu," bisiknya menyemangati diri sendiri. Di tengah kesibukannya, Joseph memanggilnya kembali dan kali ini dengan ekspresi yang lebih tegang. "Anya! Meja VVIP nomor tiga. Mereka memesan satu botol Louis XIII. Hati-hati, itu meja milik Tuan Tyo, pengusaha properti yang sangat temperamental, jangan sampai ada lecet sedikit pun pada botolnya!" ucap Joseph. Anya mengangguk patuh, ia mengangkat botol kognak mewah yang harganya mencapai puluhan juta itu menuju meja di sudut yang lebih terang. Di sana, sekelompok pria paruh baya sedang tertawa terbahak-bahak dikelilingi oleh kepulan asap cerutu yang tebal. Saat Anya sampai di samping meja, ia membungkuk sopan untuk meletakkan botol tersebut. Namun, salah satu pria di sana tiba-tiba berdiri dengan gerakan kasar sambil mengibaskan tangannya karena terlalu bersemangat bercerita. PRAKKK! Tangan pria itu menghantam nampan Anya dengan keras. Botol kognak itu terjatuh, namun yang lebih buruk, botol itu menghantam pergelangan tangan Tuan Tyo yang sedang diletakkan di atas meja sebelum akhirnya pecah berkeping-keping di lantai. Hening seketika, musik techno yang berdentum seolah menjadi latar belakang suara napas yang tertahan. Tuan Tyo memegang pergelangan tangannya, wajahnya memerah padam. Ia tidak melihat botol yang pecah, melainkan menatap jam tangan yang melingkar di tangannya. Jam tangan mewah edisi terbatas itu kini retak seribu pada bagian kacanya, dan strap kulitnya robek terkena pecahan kaca botol. "Kurang ajar!" teriak Tuan Tyo dengan suaranya yang menggelegar dan mampu mengalahkan dentum musik. "Maaf, Tuan. Saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja," ucap Anya dengan wajah pucat pasi. Anya segera berlutut di lantai, mencoba memungut pecahan kaca dengan tangan telanjang, mengabaikan rasa perih saat ujung kaca menggores jarinya. "Maaf? Kamu tahu berapa harga jam ini?" tanya Tuan Tyo. Tuan Tyo berdiri dan menendang nampan perak di depan Anya hingga terpental jauh, "Ini jam koleksi! Harganya lima miliar! Dan kamu menghancurkannya dengan botol murahan itu!" bentak Tuan Tyo. "Bukan saya yang menyenggol, Tuan. Tapi, tadi teman Anda...," ucapan Anya harus terhenti saat merasakan tamparan yang cukup keras dari Tuan Tyo. PLAKKK! Satu tamparan mendarat di pipi Anya, membuatnya tersungkur di atas lantai yang basah oleh alkohol dan dipenuhi pecahan kaca, perih menjalar di pipinya, namun rasa takut yang menghimpit dadanya jauh lebih menyakitkan. "Berani-beraninya kamu menyalahkan tamu saya!" teriak Tuan Tyo. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, menonton drama tragis itu dengan tatapan menghina. Tidak ada yang membela, semua hanya menonton seperti melihat pertunjukan sirkus. Anya terpojok di lantai, ia terduduk bersandar pada kaki meja yang dingin. Air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah bahkan tubuhnya sudah gemetar hebat, Anya menatap telapak tangannya yang mulai mengeluarkan darah karena terkena pecahan beling. "Ganti rugi! Saya tidak mau tahu! Manajer! Mana manajer bar ini!" teriak Tuan Tyo. Bahkan Tuan Tyo mencengkeram bahu Anya, memaksa wanita itu menatapnya. "Perempuan sampah seperti kamu, meskipun kamu menjual seluruh organ tubuhmu pun tidak akan cukup untuk membayar jam saya ini! Dasar pembawa sial! Kamu hanya pelayan rendahan yang tidak tahu diri!" bentak Tuan Tyo. Caci maki itu terus menghujani Anya dan ia hanya bisa diam karena jika Anya membela diri, maka masalahnya akan semakin rumit, "Lihat tampangmu, pura-pura suci tapi bekerja di tempat seperti ini. Pasti kamu sengaja kan? Mau menjebak saya agar saya kasihan lalu memberimu uang? Murahan!" lanjutnya. Anya hanya bisa menunduk, menutup telinganya dengan tangan yang bersimbah darah. Ia merasa dunia benar-benar tidak adil, kemarin utang ayah dua miliar, tadi siang tagihan rumah sakit seratus lima puluh juta dan sekarang ganti rugi lima miliar. . . . Bersambung.....Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan c**m*n di
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. "Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. "Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya
Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan
Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. "Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan
Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Arkan dan Anya, Arkan berjalan perlahan menuju sofa lalu duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritasnya yang tak terbantahkan. Arkan menatap Anya yang masih berdiri mematung, tampak kecil di balik jas mahalnya yang kini ternoda sedikit darah dari jemari Anya. "Duduk," perintah Arkan singkat. Anya menurut dengan tubuh gemetar, ia duduk di ujung sofa dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan. Sa-saya akan mencicil uang jam itu, saya akan bekerja keras untuk mengembalikannya," bisik Anya parau dan suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis yang tertahan. Arkan mendengus dingin, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. "Mencicil? Lima miliar rupiah, Anya. Belum lagi utang ayahmu sebesar dua miliar pada rentenir yang mengejarmu dan tagihan rumah sakit ibumu yang mencapai seratus lima puluh juta, berapa ratus tahun kamu harus bekerja di bar ini untuk melunasinya?" tanya Arkan. Anya tersentak hebat mendengar
Anya merasa dunianya seakan berhenti berputar, suara caci maki Tuan Tyo terasa jauh, berganti dengan suara denging di telinganya. Di antara rasa perih di pipi dan luka di tangannya, Anya merasa dirinya telah mencapai titik nadir. Lima miliar, angka itu tertawa di dalam kepalanya, mengejek kemiskinan dan kemalangannya."Berdiri kamu! Jangan cuma menangis! Joseph! Di mana kamu? Lihat apa yang dilakukan pelayanmu ini!" bentak Tuan Tyo dan kembali menarik bahu Anya dengan kasar hingga membuat tubuh mungil itu terhuyung.Joseph datang dengan wajah pucat pasi, ia melihat botol Louis XIII yang hancur dan lebih ngeri lagi melihat jam tangan Tuan Tyo yang rusak."Maaf, Tuan Tyo. Maafkan kami. Anya masih baru, saya akan mengurusnya...," ucapan Joseph terhenti karena Tuan Tyo yang bersuara."Mengurus? Kau mau bayar jam saya? Hah!" bentak Tuan Tyo bahkan hampir saja melayangkan tinjunya pada Joseph, namun langkahnya terhenti.Suasana bar yang tadinya riuh oleh bisik-bisik me







