เข้าสู่ระบบNiat Larasati memperkenalkan kekasihnya kepada sang ayah yang sedang sekarat hancur seketika saat ia memergoki Rehan, kekasihnya tengah berselingkuh. Demi mengabulkan permintaan terakhir ayahnya, Laras terpaksa menikah secara kilat dengan Saka, sepupu sang mantan, dalam sebuah pernikahan yang mereka anggap hanya sandiwara.Namun, ketika batas antara kepura-puraan dan kenyataan mulai mengabur, akankah pernikahan darurat ini justru berubah menjadi takdir cinta yang sungguh-sungguh?
ดูเพิ่มเติม"Ras, kamu kapan pulang? Bapakmu sakitnya kambuh lagi, dia ingin kamu segera pulang bersama pacarmu. Bapakmu ingin mengenal calon suamimu." ucap Ibu Laras dari seberang telpon.
"Iya Bu, Laras akan coba ajak dia ke rumah." "Kalau bisa sore ini ya Ras" "Bapakmu terus terusan nanyain kamu, dan kondisinya semakin gak karuan." "Iya Bu, kalau begitu sudah dulu ya Bu, Laras akan mencoba menghubungi Mas Rehan." "Iya Ras." Laras pun memutuskan panggilan telpon dari ibunya, ia mencoba menghubungi Rehan kekasihnya. Laras dan Rehan telah menjalin hubungan kurang lebih dua tahun, sejak Laras kerja di kota sebagai buruh pabrik. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Rehan, namun hasilnya nihil tak ada satupun panggilan darinya yang dijawab oleh Rehan. "Kamu kemana sih Mas?" Karena tak kunjung mendapat jawaban, maka Laras memutuskan untuk mendatangi Cafe milik Rehan. Tak membutuhkan waktu lama, setelah mengendarai motor dari kontrakannya, Laras pun telah sampai di cafe milik Rehan. Dengan langkah terburu-buru, Laras menuju ruang kerja Rehan. Namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu kaca, langkahnya terhenti. Laras mendengar suara aneh dari dalam ruang kerja Rehan. Suara yang asing, tapi jelas. Desahan tertahan, tawa kecil seorang wanita, dan suara berat Rehan yang terdengar berbeda, lebih rendah, lebih intim. Suara-suara itu bersahutan, memecah keheningan sore. Jantung Laras berdegup tak beraturan. Dengan nafas tercekat, ia mendekatkan wajahnya ke celah pintu kaca. Perlahan, Laras mengintip melalui celah pintu kaca yang sedikit terbuka. Di dalam ruangan, Rehan sedang duduk di kursinya, memangku seorang wanita. Mata Laras membulat, jantungnya berdegub tak karuan, dan darahnya terasa mendidih. "Sayang, kamu membuatku terasa melayang." "Kamu juga Sayang, aku mau lebih." "Lakukan apa yang kamu suka." Suara desahan saling bersahutan membuat Laras semakin jijik. Pemandangan itu begitu dekat, begitu terbuka, hingga ia bisa melihat detail-detail kecil yang membuatnya semakin tidak nyaman. Rehan, lelaki yang selama ini ia puja, kini terlihat begitu asing baginya. Wajahnya yang biasa terlihat lembut, kini tampak berbeda dalam momen intim ini. Ia mengecup bibir wanita di pangkuannya dengan intensitas yang membuat Laras merasa mual. Tangan Rehan pun terlihat bebas bergerak di tubuh wanita itu, menjelajahi area-area sensitif wanita itu. Tubuh Laras mendadak kaku. Seakan seluruh darahnya membeku sekaligus mendidih dalam waktu yang sama. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia ingin berteriak, ingin menangis, ingin menghancurkan pintu itu dan menampar lelaki yang selama ini ia banggakan didepan keluarganya. Tapi kakinya tak bergerak. Air matanya jatuh tanpa suara. Satu, dua, lalu mengalir deras. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat. "Tega kamu Mas...." Laras pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang kerja Rehan, ia lebih memilih untuk berbalik, dengan hati yang luka dan hancur. Namun karena Langkah Laras terlalu cepat dan seolah terburu-buru, dengan hati yang kalut, baru beberapa langkah ia berjalan keluar dari lorong ruang kerja Rehan. Bbrruuuggg, Laras tak sengaja menabrak seseorang. "Ma'af aku tak sengaja...." Laras tak menjawab ucapan lelaki di hadapannya itu. "Tunggu kamu kan Laras, pacarnya Rehan, kamu menangis?" Laras semakin menunduk dan terisak. Saka, sepupu Rehan penasaran, mengapa kekasih sepupunya itu menangis? Saka pun mencoba melihat ke dalam ruang kerja sepupunya dengan cara mengintip. Mata Saka membulat saat melihat ke dalam. Saka menoleh ke arah Laras yang mulai kembali melangkah. "Pantas saja dia menangis." gumam Saka. Saka segera mengejar langkah Laras. "Tunggu!" Laras menghapus air matanya sambil menghela nafas. "Ada apa?" tanya Laras dingin. "Aku tau apa yang kamu rasakan, apa Rehan tau kalau dirimu datang?" Laras menggeleng pelan. "Ayo aku temani, kamu harus melabrak mereka berdua." "Enggak, biarkan saja mereka melanjutkkan kegiatan menjijikkan itu, lebih baik aku pergi." "Seharusnya kamu memberi pelajaran untuk mereka!" "Dengan melihat Rehan seperti itu, aku anggap hubungan ku dengannya detik ini juga sudah berakhir. Sampaikan kata selamat tinggalku untuknya." "Kamu mau kemana?" "Aku mau pulang." Saka menatap Laras dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. "Kamu mau pulang hanya untuk menghindari Rehan, sungguh konyol." cibir Saka. "Aku pulang bukan karena Rehan, tapi ayahku sedang sakit keras." Jelas Laras, lalu beranjak meninggalkan Saka. Laras berjalan menuju parkiran motornya, entah mengapa tiba-tiba Saka merasa kasihan dan tak tega melihat wajah rapuh Laras. "Tunggu!" Saka mendekati Laras, namun Laras tak menghiraukannya, ia terus mengenakan helm di kepalanya dan mengabaikan Saka. "Tunggu.... Hatimu sedang tak baik-baik saja, sebaiknya kamu tak mengendarai motor sendiri." Laras masih tak menghiraukannya. "Kamu dengar aku gak sih?" ucap Saka sambil mencekal tangan Laras yang hendak memutar kunci motornya. Laras menghela nafas. "Bisa lepaskan gak? Aku mau pulang, ayahku sakit keras?" "Kamu mau mengendarai motor sendiri?" "Lantas? Mau sama siapa? Aku sudah gak sudi dibonceng Rehan." "Ayo aku antar!" Laras mengernyit. "Gak perlu." Tiba-tiba ponsel Laras kembali berdering. Ibu.... Laras menggeser layar ponselnya. "Iya halo Bu...." ucap Laras sedikit ragu. "Nak, kamu jadi pulang hari ini kan?" "Iya Bu, apa sakit Bapak sudah berkurang?" "Bapakmu semakin tak karuan, kondisinya semakin parah. Kamu bawa kekasihmu ya, Bapakmu ingin mengenal calon suamimu." Laras masih terdiam mendengar permintaan ibunya. "Apa harus aku ajak dia sekarang Bu?" "Iya, Bapakmu ingin sekali melihat dan bertemu dengan calon suamimu. Apalagi kondisinya sekarang semakin parah, ini kita bersiap akan membawa Bapakmu ke rumah sakit." "Ke rumah sakit?" "Iya." "Ya sudah Bu, aku segera pulang." Setelah panggilan terputus, Laras terlihat sangat buru-buru. "Bapakmu ada di rumah sakit?" "Masih akan dibawa." jawab singkat Laras. "Ayo aku antar biar cepat!" Entah mengapa, Laras seolah melupakan masalah di hatinya karena Rehan, tanpa disadari Laras pun langsung mengiyakan saat Saka hendak mengantar dirinya. Saka tak banyak bicara. Ia langsung mengenakan helm cadangan milik Laras. Beberapa menit kemudian, motor itu melaju meninggalkan halaman parkir cafe Rehan. Angin sore menerpa wajah Laras. Ia duduk kaku di belakang Saka, menjaga jarak sebisa mungkin. Di antara mereka terasa ruang hampa yang tegang. Tak ada percakapan. Hanya suara mesin dan angin yang berdesir. Beberapa kilometer berlalu dalam diam. Dari belakang, Laras akhirnya bersuara, suaranya hampir tenggelam oleh angin. "Bisa… lebih cepat?” Saka sedikit menoleh. “Pegangan kalau gitu.” “Iya.” Saka menarik gas lebih dalam. Motor melaju lebih kencang, membelah jalanan yang mulai redup oleh senja. Namun Laras tak berani melingkarkan tangannya ke pinggang pria itu. Rasanya terlalu canggung. Terlalu asing. Terlalu dekat. Ia hanya meremas ujung jaket Saka dengan erat, jemarinya mencengkeram kain seolah itu satu-satunya pegangan yang ia miliki. Saka bisa merasakan tarikan kecil itu. “Aman?” tanyanya singkat. “Iya…” jawab Laras pelan, meski jantungnya berdegup kencang. Perjalanan dua jam itu terasa seperti dua tahun bagi Laras. Angin malam menampar wajahnya tanpa ampun, namun ia tak lagi peduli. Tangannya masih mencengkeram erat jaket Saka, meski hatinya sibuk berdoa tanpa henti. Ketika akhirnya motor berhenti di depan rumahnya, halaman sudah ramai. Lampu-lampu menyala terang. Beberapa tetangga berdiri berkelompok dengan wajah cemas. Laras turun hampir terhuyung. "Bu, Bapak mana?” tanyanya panik. “Bapakmu sudah dibawa ke klinik desa!” jawab salah satu tetangga. Tanpa banyak kata, Laras kembali naik ke motor. Saka langsung memutar arah menuju klinik kecil yang tak jauh dari sana. Sesampainya di sana, aroma obat-obatan dan cairan antiseptik menyeruak tajam. Lorongnya sempit, cat dindingnya mulai mengelupas. Namun di sanalah harapan terakhir ayahnya bergantung. “Mbak… akhirnya kamu datang juga…” suara adiknya bergetar menyambutnya. Laras tak sempat menjawab. Kakinya melangkah cepat menuju ruang perawatan. Laras melihat ayahnya terbaring lemah. Wajahnya pucat, dadanya naik turun perlahan dengan bantuan selang oksigen tipis. Tubuh yang dulu begitu kokoh kini terlihat rapuh. “Pak…” suara Laras pecah. Kelopak mata Darman bergerak pelan. Ia membuka matanya, mencari sumber suara yang begitu ia rindukan. “Kemarilah, Nak…” Laras mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Tangannya gemetar. “Pak… Bapak bagaimana kondisinya?” tanyanya dengan suara bergetar, menahan tangis yang hampir pecah. Darman tersenyum lembut, senyum yang begitu penuh kasih meski wajahnya diliputi lelah. Pandangannya bergeser ke belakang Laras, ke arah Saka yang berdiri kaku beberapa langkah dari Laras. “Ini… pacarmu?” tanya Darman lirih, napasnya terdengar berat, suaranya terbata. Jantung Laras seperti terjun bebas. Ia menoleh ke arah Saka. Saka menggeleng kecil, lalu mengangguk samar, sebuah isyarat tanpa kata. Tatapannya seolah berkata, lebih baik kita ikut saja. Waktu terasa membeku. Laras ingin berkata tidak. Ingin menjelaskan semuanya. Ingin berteriak bahwa lelaki yang ia cintai baru saja menghancurkan hatinya. Tapi melihat kondisi ayahnya, melihat mata itu yang penuh harap, suaranya tertelan di tenggorokan. “Iya, Pak,” suara Saka akhirnya memecah keheningan. “Saya pacar Laras.” Deg. Jantung Laras berdetak semakin cepat. Ruangan terasa sempit. Napasnya memburu. Darman tersenyum lebih lebar, meski jelas senyum itu menguras sisa tenaganya. “Bapak… ingin menyampaikan sesuatu pada kalian…” “Apa, Pak?” tanya Laras panik, menggenggam tangan ayahnya semakin erat. Darman menelan ludah pelan, seolah setiap kata adalah perjuangan. “Sebelum ajal bapak tiba… bapak ingin melihat kalian menikah.” Suasana ruangan mendadak sunyi. “Menikahlah… di hadapan Bapak…” Deg. "Enggak, Bapak ini bicara apa?" "Bapak sepertinya sudah gak kuat, menikahlah Nak, Bapak mohon. Sebelum Bapak pergi, aku ingin melihat putri Bapak menikah." Bersambung....Laras masih berdiri di tempat yang sama.Matanya terpaku pada pintu yang baru saja dilewati Saka.Entah kenapa, melihat lelaki itu pergi begitu saja membuat hatinya terasa nyeri.Padahal bukankah itu yang ia inginkan?Bukankah sejak tadi ia sendiri yang mengatakan ingin mengakhiri sandiwara pernikahan mereka?Laras perlahan duduk di tepi tempat tidur.Tangannya menggenggam ujung bajunya."Mungkin memang sudah takdirku..." Suaranya lirih."...harus hidup sendiri dalam sepi." gumam Laras dengan suara bergetar."Tak ada yang tulus mencintaiku."Laras segera menggeleng."Ngomong apa sih aku?"Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah."Lagian siapa juga yang cinta sama aku?"Senyum getir muncul di wajahnya."Mas Saka kan menikahiku hanya karena kasihan."Laras menunduk."Dan hanya ingin membantu aku menyenangkan Bapak."Ia menarik napas panjang."Setelah Bapak pergi, sudah seharusnya semuanya selesai."Namun semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin sesak dadanya terasa.Lar
DRRTTT... DRRTTT...Saka menghela nafas, sedangkan Laras dapat bernafas dengan lega.Laras segera menjauh, menunduk,berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.Saka mengambil ponsel dari sakunya.Tatapannya jatuh pada nama yang tertera di layar.Mama.Sebelum menjawab panggilan tersebut, Saka membuang napas dengan kasar.Kemudian ia mengangkat telepon."Iya, Ma..."Suara sang ibu langsung terdengar dari seberang."Ka, kamu ini di mana saja? Berapa hari kamu gak pulang?"Saka melirik sekilas ke arah Laras."Saka lagi masih banyak urusan, Ma. Nanti Saka beri tahu.""Bukan begitu. Kamu ini jarang pulang. Sebentar lagi Angel pulang ke Indonesia. Mama ingin segera menyiapkan pernikahan untuk kalian."Saka menghela napas."Sudahlah, Mama atur. Saka masih sibuk.""Ka—"Saka tidak memberi kesempatan ibunya melanjutkan.Ia langsung memutuskan panggilan telepon tersebut.Ruangan itu kembali hening setelah panggilan telepon dari Mama Saka berakhir.Laras yang sejak tadi hanya diam akhirnya m
"Katakan padaku, sejak kapan kalian menjalin hubungan?" Rehan semakin murka melihat Saka yang terlihat sangat meremehkan dirinya.Cairan merah mengalir dari tepi bibirnya, Saka mengusapnya lembut, lalu tersenyum tipis."Sejak kamu mengabaikannya?""Apa? Mengabaikannya katamu? Sejak kapan aku mengabaikannya? Dia masih milikku Saka!" Teriak Rehan."Milikmu? Dia sebisa mungkin menjaga hati dan perasaanya, tapi malah kamu dengan mudahnya bermain api di belakangnya dengan banyak wanita." cibir Saka meremehkan.Tangan Rehan mengepal kuat."Bukannya kamu tau sendiri, aku hanya main main dengan wanita di luar sana.""Kamu main main dengan wanita di luar sana, tapi mempermainkan pacarmu sendiri, lantas apa salahnya jika dia pergi darimu?""Kamu memang sepupu kurang ajar, aku telah salah menganggapmu sebagai sepupu sekaligus sahabat yang baik bagiku."Reham kembali melayangkan pukulan ke wajah Saka.Bug.. Bugg.. Bugggg.Dua orang petugas keamanan datang, untuk mengamankan Rehan."Berhenti! Kamu
"Ras, motornya aku bawa yaa." ucap Saka sambil terus mengemudikan motor Laras."Iya Mas, bawa saja.""Nanti aku jemput.""Gak perlu Mas, nanti aku bisa pulang bareng temanku atau naik angkot.""Jangan Ras!""Gakpapa Mas, beneran."Motor yang dikendarai Saka terus melaju, tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang terus membuntuti mereka.Rehan tidak terlalu dekat. Ia sengaja menjaga jarak agar Laras tidak menyadari keberadaannya.Matanya terus tertuju pada motor di depannya.Sesekali ia melihat sosok Laras yang duduk di belakang lelaki tersebut.Semakin lama, rasa penasaran di dalam dirinya semakin besar."Siapa sebenarnya lelaki itu?"Rehan kembali mencengkeram setir."Kenapa lelaki itu sepertinya sangat tak asing bagiku, aku harus bisa menemukan lelaki itu. Aku harus ikuti terus mereka."Hampir tiga puluh menit kemudian, motor itu akhirnya memasuki kawasan industri tempat Laras bekerja.Di depan sebuah pabrik besar, Saka memperlambat laju motornya.Laras melihat jam tangannya."Mas,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น