Share

Bukan Salahku Selingkuh
Bukan Salahku Selingkuh
Author: Nadira Dewy

Bab 1

Author: Nadira Dewy
last update Last Updated: 2025-12-01 13:33:21

“Sayang, aku mohon padamu... tolong bantu aku memohon kepada Pamanku. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menyelamatkan perusahaan,” ucap pria bernama Alex, 32 tahun, suami dari Helena Greg Lauder.

Mendengar permohonan sang suami, Helena pun merasa bingung. “Tapi, Sayang, Paman Davidson itu Pamanmu. Bagaimana mungkin aku menemuinya? Dia juga bukan orang yang ramah. Bagaimana jika dia—”

Tidak menyerah, Alex kembali memohon, kali ini ekspresinya lebih menyedihkan sampai-sampai suaranya seperti sedang menahan tangis yang ingin pecah dari tenggorokannya. “Sayang, Paman Davidson itu adalah orang yang baik. Hanya saja aku sudah meminta bantuannya beberapa kali. Kalau sekarang aku minta bantuannya lagi, yang ada dia akan memaki ku dan menganggapku tidak mampu mengelola keuangan kantor sampai-sampai keadaan kantor jadi kacau dan terancam bangkrut.”

Helena pun terdiam. Selama empat tahun menikah dengan Alex, jangankan merasa bahagia seperti yang ia harapkan sebelumnya, cuma ada kekhawatiran dan juga keluhan yang harus dia dengar setiap hari dari mulut Alex.

Ia juga merasa sangat lelah, tetapi dia mencintai pria itu. Walaupun dia tahu kadang kala keinginan Alex berada di luar keinginannya, bahkan menyakitkan sekalipun, Helena masih dengan senyum menerima setiap tindakan suaminya itu.

Sadar kalau Helena masih belum merasa yakin, Alex pun dengan cepat meraih kedua tangan Helena erat-erat digenggamnya. Ia menatap semakin dalam sepasang mata Indah berwarna coklat muda milik Helena.

Kejayaan perusahaannya berada di ujung tanduk, tidak peduli lagi di mana letak harga dirinya.

“Sayang, kalau kau berhasil membujuk Paman... aku janji akan pergi liburan denganmu seperti yang sudah kita rencanakan beberapa waktu lalu. Aku bersumpah akan lebih sering menghabiskan waktu bersamamu. Kita juga bisa mulai bayi tabung tanpa harus mengirit biaya,” timpal Alex, berharap kali ini istrinya itu benar-benar mau membantunya.

Helena pun membuang napasnya. Entah kenapa hatinya masih merasa berat, tetapi sulit baginya untuk menolak.

Ia baru akan membuka mulut, tetapi Ibunya Alex, Karina datang dengan ekspresi yang sinis.

“Dasar istri durhaka! Bisa-bisanya kau biarkan suamiku bersujud di hadapanmu sampai sebegitu lamanya hanya untuk memohon bantuanmu. Sebagai Seorang istri sudah kewajibanmu untuk membantu suami, Kenapa kau terlihat tidak rela begitu, hah?” ucap Karina, matanya yang tajam itu fokus terarahkan kepada Helena.

Begitulah perlakuan Karina terhadap Helena selama ini.

Bagi wanita paruh baya itu, Helena adalah wanita yang telah menghancurkan masa emas putranya, menganggap kalau kedatangan Helena menjadi bintang kesialan untuk putranya hingga harus gagal berkali-kali dalam bisnis.

“Ibu mertua, aku tahu, aku juga akan—”

“Akan apa?” potong Karina. “Selama ini kau hanya tahu menghabiskan uangnya Alex saja. Saat begini harusnya kau yang paling bertanggung jawab!”

Helena memilih untuk membuang napas kasarnya. Seperti biasa, saat Karina mengomel pada Helena, yang dilakukan oleh Alex hanyalah diam. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, Helena kadang kalah jadi merasa bahwa Alex tidak lagi memiliki cinta yang sebesar dulu.

Tidak ada ruang dan kesempatan untuk Helena bicara, ia benar-benar memilih diam hingga perdebatan itu berakhir sendiri karena sang Ibu mertua lelah mengoceh.

Sore harinya, sesuai dengan yang diinginkan suami serta Ibu mertuanya, Helen datang ke rumah Paman dari Alex, Davidson.

Rumah mewah nan megah itu berdiri di tanah luas, taman bunga dan pohon buah mengelilinginya.

Suara pintu gerbang besi kokoh berderit halus, mengiringi kaki Helena.

“Nona, tolong jangan membuat Tuan Davidson kesal. Maaf jika saya menyinggung anda. Tuan baru saja bertengkar dengan Nona Michelle, Saya takut Tuan akan tambah kesal,” pesan sang penjaga pintu gerbang.

Mendengar itu, Helena pun menelan ludah. Tubuhnya merinding seperti ada hawa dingin yang menggerayangi hanya karena mendengar nama Davidson.

Namun dia tidak bisa mundur lagi.

Helena pun mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat.

Kembali ia melangkahkan kakinya, sampailah di depan pintu utama yang dibuka oleh pelayan rumah itu.

“Silahkan masuk, Nona,” ucap sang Pelayan.

Helena menganggukkan kepalanya. Kedatangannya kali ini juga sudah dikabarkan lebih dulu pada asisten pribadinya Davidson.

Paham kalau selama ini pria itu memang jarang sekali mau menemui tamu atau orang yang dianggapnya tidak penting.

Meski sempat ragu, Helena terpaksa nekad. Soal keberaniannya, anggap saja dia pinjam dari Tuhan.

Sampainya dia di ruang tengah, Helena mengedarkan pandangannya. Menangkap sosok gagah itu berdiri di teras samping. Batang rokok terselip di jemarinya. Matanya menatap lurus, tetapi terlihat jelas kelelahan dan kekesalan yang sepertinya cukup menghabiskan energi.

Helena takut. Keberaniannya terkikis hanya karena melihat pria itu dari kejauhan.

Entah alasan yang mana...

Padahal pria itu memiliki postur yang begitu gagah, tinggi, dan kekar. Wajahnya yang begitu tampan, auranya, semuanya... keindahan itu membuat Helena merinding.

“Tidak. Aku tidak boleh membuang waktu lebih banyak lagi. Kalau tidak segera bertindak, Ibu mertua pasti akan mengomel lagi,” gumamnya pelan, penuh tekad.

Helena kembali melangkah. Meski ia merasa gugup, entah kenapa dia cukup yakin kalau menghadapi Davidson tidak menyakitkan menghadapi ocehan Ibu mertuanya.

“P—Paman...” panggil Helena pelan. “Maaf kalau aku datang di waktu yang kurang tepat.”

Davidson tidak menoleh. Ia membuang asap rokok yang tertinggal di mulutnya, lalu mematikan nyalanya.

“Kau datang sendiri?” tangan Davidson, masih belum ingin menatap Helena.

“I—iya, Paman,” jawab Helena cepat.

Davidson membuang napas. “Cepat katakan.”

Helena merapatkan bibirnya. Sungguh tidak menyangka kalau Davidson bahkan sudah tahu apa tujuannya datang.

Karena Helena tidak langsung menjawab, Davidson pun membalikkan badannya, menatap Helena dengan tatapan matanya yang tegas. “Katakan. Kalau kau datang cuma mau diam, aku tidak ada waktu untuk itu. Aku orang yang sibuk.”

Helena menjadi gelagapan. “Aku akan bicara.”

“Cepat.”

Helena menelan ludah. Terdorong oleh keadaan ia pun bicara dengan cukup lancar. “Paman, Alex bilang, saat ini perusahaan mengalami masalah karena proyek besar yang sedang dijalani mengalami kendala serius. Perusahan menanggung kerugian yang sangat besar, jadi...”

Davidson langsung tersenyum kesal. “Jadi butuh dana yang juga sangat besar?”

“I—iya, Paman.”

“Tidak mau. Ini sudah berkali-kali, mau sampai kapan bocah bodoh itu terus melakukan kesalahan? Apa dia pikir mudah bagiku menghasilkan uang? Jika tidak punya otak maka lebih baik masuk rok Ibunya saja.”

Helena menunduk malu. Dia paham benar hal itu, tapi dia juga tidak bisa pulang tanpa hasil.

“Paman, aku mohon bantulah Alex. Hanya Paman yang bisa membantunya...” Helena menatap dengan sorot memelas.

“Pulanglah. Bilang saja aku tidak membantu. Jangan buang energimu.”

Helena menggelengkan kepalanya. “Paman, aku mohon...”

Davidson mendesah kesal. “Tidak. Aku tidak mau menghambur uang.”

Helena membayangkan bagaimana sinisnya sang Ibu mertua. Dia juga tidak sanggup kalau Alex harus jatuh bangkrut.

“Paman, aku mohon...”

Davidson menatap wajah Helena dengan tatapan yang aneh. “Keuntungan apa yang aku dapatkan nantinya?”

Helena nampak bingung. “Itu... apa yang Paman inginkan? Aku akan membicarakan dengan Ibu mertua dan Alex.”

Seketika itu Davidson tersenyum miring. “Jadilah teman tidurku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 116

    Kirena menggenggam selimut di atas pangkuannya, matanya berkaca-kaca saat Davidson berdiri tegak di samping ranjang tanpa banyak ekspresi. Cahaya pagi menembus tirai, menciptakan suasana hening yang hampir menyakitkan untuknya. Davidson memang tidak banyak bicara, tapi kehadiran ria itu di sana sudah cukup menjelaskan bahwa kepedulian untuknya masih begitu besar. “David…” suara Kirena parau, nyaris bergetar. “Bolehkah aku… tinggal di sini untuk sementara waktu?” Davidson tidak menjawab langsung. Rahangnya mengeras, pandangannya tertuju ke arah jendela seolah ia sedang menahan diri agar tidak terbawa emosi. Keheningan itu membuat Kirena semakin gugup. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya... aku pergi waktu itu bukan karena aku ingin meninggalkanmu,” lanjut Kirena. Air matanya jatuh dengan sendirinya. “Aku divonis menderita leukimia. Parah. Dokter bilang aku harus segera menjalani pengobatan intensif di luar negeri.” Davidson akhirnya menatapnya, tatapan gelap, menusuk, sulit dit

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 115

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke kamar, menerangi ruangan yang masih sunyi. Davidson duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya tegak, kedua lengan terlipat. Matanya tidak benar-benar terpejam semalaman, lebih tepatnya waspada dalam diamnya. Dia tidak menyentuh Kirena, tidak menggenggam tangan, tidak menunjukkan kelembutan berlebihan seperti kalanya mantan kekasih. Tapi dia memilih untuk tetap di sana, tidak beranjak sedikit pun. Ketika Kirena membuka mata untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa lemah. Pandangannya buram sebelum akhirnya fokus pada sosok yang duduk kaku di sampingnya. “…Davidson?” suaranya serak. Davidson membuka mata sepenuhnya. Ekspresinya tetap datar, dingin seperti biasa, tapi kilatan lega sekilas tampak, cukup cepat untuk mudah terlewat kalau tidak memperhatikannya. “Kau sudah sadar,” katanya singkat, suaranya rendah dan tegas. Kirena melihat sekeliling, tampak bingung. “Apa… yang terjadi?” “ Kau pingsan kemarin,” jawab Davidson, masih de

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 114

    Helena mulai merasa gelisah melihat reaksi Davidson. Sejak dokter pergi, ruang tamu itu terasa terlalu hening. Kirena sudah dibaringkan di kamar tamu, napasnya teratur namun lemah. Sementara Davidson… tampak seperti seseorang yang baru saja ditampar kenyataan yang begitu pahit. Helena memperhatikan gelagatnya. Pria itu berdiri kaku di depan pintu kamar Kirena, kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun matanya… penuh kekhawatiran yang sulit untuk disembunyikan. Helena menghela napas dan mendekat pelan. “David…” panggilnya hati-hati. Davidson tak menjawab. Ia hanya menatap Kirena yang terbaring tak berdaya. Ada campuran marah, takut, dan bingung di wajahnya. Emosi yang bahkan Helena sendiri tak pernah lihat sebelumnya. “Kenapa dokter bilang dia sudah lama menjalani pengobatan? Apa kau tahu sesuatu?” tanya Helena pelan. Davidson menggeleng cepat, seperti menolak kenyataan. “Aku… aku tidak tahu apa pun. Dia tidak bilang apa-apa waktu datang. Dia cuma menangis dan bicara

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 113

    “Aku tahu aku dulu pengecut,” ucap Kirena, suaranya retak. “Aku tahu aku melukai mu dengan cara paling buruk. Tapi… aku juga manusia, David. Aku takut.” Davidson menghela napas panjang. “Takut apa maksudnya?” “Takut menikah dengan pria yang aku cintai… tapi yang waktu itu terlalu posesif sampai aku bahkan tak bisa bernapas.” Dia menatap Davidson penuh penyesalan. “Aku takut rumah tangga kita akan hancur sebelum dimulai. Aku takut kau tidak bisa berubah… dan aku salah karena pergi dengan cara seperti itu.” Hening. Davidson menatapnya tajam, tapi di balik tatapan itu, ada luka lama yang masih terasa. Kirena melanjutkan, suaranya menurun. Sungguh, dia tidak peduli dengan Helena yang justru menonton di sana. “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Setiap tahun berlalu, aku tetap memikirkan mu. Kau mungkin berubah jadi lebih tenang, lebih dewasa. Tapi aku tetap dengan rasa bersalah yang sama.” Wajah Davidson sedikit melunak, meski dia belum mengatakan apa pun. Kirena membe

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 112

    Davidson menuruni anak tangga dengan langkah tenang namun wajahnya sudah berubah kaku sejak mendengar nama Kirena. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Helena sebelum turun, hanya satu kalimat singkat, “Aku ke bawah dulu. Kau mandilah.” Helena mengangguk dan tidak memaksa ikut, apalagi ia masih mengenakan pakaian Davidson. Ia masuk ke kamar mandi sementara Davidson turun ke lantai bawah. Begitu Davidson muncul, Kirena, seorang wanita muda dengan pakaian elegan dan riasan yang jelas dipersiapkan matang langsung berdiri. Matanya berbinar melihat sosok Davidson, lalu tanpa ragu sedikit pun ia melangkah cepat mendekat. “Davidson!” serunya. Sebelum Davidson sempat menahan, Kirena langsung memeluknya erat. Davidson terdiam. Tubuhnya kaku, kedua tangannya tidak bergerak satu sentimeter pun untuk membalas. Ia hanya berdiri tegak dengan tatapan datar, persis seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak menepis pelukan itu secara kasar. Kirena memejamkan mata, seolah rindu yang me

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 111

    Helena bangkit dari tempat tidur sambil memegangi bokongnya. Ia meringis menahan panas karena hukuman yang Davidson maksud benar-benar tidak masuk akal. “Orang gila. Dia pikir aku ini bocah? Hukuman macam apa sih sebenernya? Memukul bokong sampai panas begini,” gumam Helena. Tidak ada Davidson di sana, pria itu tengah sibuk dengan rapat dadakan yang diadakan secara daring di ruang kerjanya. Davidson masuk ke kamarnya, sebenarnya hanya berniat mengganti baju dan beristirahat setelah rapat dadakan itu. Tapi suara air yang mengalir dari kamar mandi membuat langkahnya terhenti. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, senyum yang hanya muncul setiap kali menyangkut Helena. Setelah menegaskan untuk fokus pada Davidson, Helena dengan patuh tinggal di kamarnya. Pintu kamar mandi tidak dikunci. Helena memang sering lupa kalau laki-laki itu tidak pernah tahu aturan privasi. Davidson mendorong pintu perlahan. Uap hangat langsung menguar keluar, memenuhi wajahnya. Helena sedang berdiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status