ログイン“Apa...?” Helena terperangah tak percaya. “Teman tidur... maksud Paman apa sebenarnya?”
Davidson beranjak dari tempatnya, melangkah agar bisa lebih dekat dengan Helena. “Menurutmu apa artinya teman tidur, hemm?” Helena reflek memundurkan langkahnya. Dia tidak menyangka kalau Davidson bahkan sampai meminta hal yang tidak mungkin untuk dia penuhi. Melihat reaksi Helena, Davidson pun tersenyum angkuh. “Takut? Maka pulanglah, jangan datang lagi ke sini.” Ingin. Tentu Helena ingin sekali pergi dari tempat itu. Tetapi, jika dia kembali tanpa mendapatkan hasil yang memuaskan Alex dan Ibunya, Helena pun akan merasa sangat bersalah. “Paman, apa tidak ada hal lain saja yang bisa aku lakukan? Aku ini kan istri keponakan mu, bagaimana bisa Paman meminta itu dariku?” ucap Helena, mencoba untuk bernegosiasi dengan harapan Davidson dapat memberi syarat yang lebih masuk akal.. Namun, Helena sama sekali tidak tahu seberapa keras kepalanya Davidson. Pria itu memiliki segalanya yang dia butuhkan, dia juga tidak terlalu ingin membuang waktu untuk membantu Alex. Walaupun dia punya banyak uang, dia juga tidak akan membuang uang dengan percuma tanpa keuntungan. Setiap sen uangnya yang sudah dimakan keluarga Alex, Davidson jelas sudah menghitungnya sebagai hutang. Selama ini dia tetap diam, dia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menagih semua uang itu. Waktu di mana Alex maupun Ibunya tidak mampu untuk membayar. Davidson menyentuh dagu Helena, membuat tatapan mereka bertemu. “Helena, kau pikir apa yang aku butuhkan sekarang? Walaupun aku tidak kunjung menikah, aku juga tidak kekurangan wanita. Kedudukan, uang, apapun itu aku bisa memilikinya asal aku mau. Artinya... aku juga tidak begitu menginginkan mu.” Davidson menjauh. Dia duduk dengan nyaman sambil meminum teh yang sejak tadi bertengger di meja. Santai sekali pria itu duduk. Helena pun merasa kecil, bahkan lebih kecil dibanding debu. Benar seperti yang dikatakan oleh Davidson, wanita, kedudukan, kekuasaan, dan lainnya telah dimiliki oleh pria itu. Bukan hanya satu atau dua wanita saja yang mencoba untuk mendekati Davidson dengan berbagai macam alasan dan tujuan, ia pun sadar bahwa dia jelas tidak cukup menarik untuk menjadi salah satu wanitanya Davidson. Sebentar Davidson melirik pada Helena. Ia menggeleng tak percaya. “Masih ingin di sini? Pulanglah, aku sudah malas bicara.” Helena menggigit bibir bawahnya. Ia merasa terhina dalam setiap kata dan sikap yang ditunjukkan Davidson. Dia tidak tahan lagi berada di sana. Selama ini dia begitu setia dan menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri, tetapi situasi menghimpitnya untuk tetap menahan diri. Karena Davidson sudah memintanya untuk pergi, maka tidak ada alasan untuknya tetap berada di sana. “Paman, aku pergi dulu,” ucap Helena. Ia pun meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Selama dalam perjalanan pulang, Helena sebenarnya merasa takut, gugup, dan waspada. Entah bagaimana dia akan menjelaskan apa yang terjadi pada Alex dan Ibunya. Namun, mengingat bagiamana sikap Davidson, dia berharap mereka juga mau mengerti dan memahami kondisinya. Helena membuang napas kasarnya. “Semoga saja Alex bisa menemukan jalan keluar lain dari masalah ini,” gumamnya. Sesampainya di rumah, Helena ragu untuk melangkah masuk, tetapi suara mobil yang terparkir di garasi membuat Karina dan Alex bergegas menghampirinya. “Sayang,” panggil Alex. Pria itu terlihat tidak sabaran, menunggu kabar baik dari Helena. Karina menatap Helena tanpa berkedip. Tentu saja apa yang ingin dia dengar sama seperti yang Alex rasakan. Alex meraih tangan Helena. Tatapan penuh harapnya itu membuat Helena kehilangan kata. “Bagaimana? Paman mau memberi secara transfer atau dengan cek?” tanya Alex, makin tidak sabaran. Karina membuang napasnya. “Kenapa kau diam saja? Pusing memikirkan banyak uang yang akan Davidson berikan? Sudah hijau matamu ingin berbelanja?” Helena menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali rasanya membalas ucapan Ibu mertuanya yang sangat menyakitkan itu, tapi dia tidak bisa lupa bahwa Karina adalah Ibunya Alex, Ibu mertuanya yang harus dia hormati. “Sayang, bagaimana?” tanya Alex lagi. Helena bingung, tapi dia juga harus tetap menjawab. “Paman Davidson menolak untuk membantu, Sayang.” Mendengar itu, ekspresi Alex dan Karina kompak terkejut. “Apa?!” Karina dan Alex berucap, bersamaan. Karina langsung mencengkram lengan Helena, kuat. “Akh...” keluh Helena, pelan. Tatapan mata Karina begitu penuh kemarahan. “Bagaimana bisa dia menolak membantu?! Tidak mungkin! Kau pasti tidak bisa membujuknya!” Alex lemas. Hanya Davidson satu-satunya harapan yang dia miliki. Sebelumnya dia sudah mencoba mendapatkan uang, tapi sayangnya tidak ada satupun yang mau membantu karena Alex memang lebih sering merugi saat berbisnis. “Sayang, harusnya kau membujuk Paman lebih lagi. Kau pasti tidak bisa meyakinkan. Kau datang lagi saja ke sana. Katakan kalau kau siap menjadi jaminan dalam hutang kali ini.” Helena terdiam. Jaminan dalam hutang? Apakah dia mirip seperti barang? Tangan Helena pun terkepal menahan emosi. Karina mencengkram lengan Helena lebih erat. “Sana. Datang lagi ke rumah Davidson. Bujuk dia, bila perlu kau bersujud. Jika dia memintamu mencium kakinya, maka lakukan saja yang penting dia mau membantu!” Ha?? Seluruh tubuh Helena bergetar. Sakit... sungguh sangat sakit hatinya. Dia adalah istri dan membatu di rumah itu, tapi kenapa digambarkan seolah rendah sekali harga dirinya. “Lihat, Lex!” Karina menatap semakin tajam. “Memilih istri pun kau tidak becus. Sudah tidak bisa menghasilkan anak, tidak bisa pula membantu suami!” Helena pun semakin tidak tahan. “Ibu mertua, aku sudah melakukan yang seharusnya aku lakukan. Aku sudah memohon dengan bahasa yang sopan dan baik, tapi Paman Davidson memang tidak mau membantu.” “Itu karena kau bodoh!” sergah Karina. “Ibu mertua, tolong jangan bicara begitu. Selama ini aku juga sudah—” “Sudah apa, huh?!” potong Karina. “Coba saja kau dapatkan uang dari Davidson, baru bisa diakui kau istri yang pantas untuk anakku!” Alex memijat pelipisnya. Pusing sekali. Dia harus bisa mendapatkan uang dari Davidson, tidak peduli bagaimana caranya. “Helena, bujuk lagi Paman, ya... aku mohon... aku tidak memiliki jalan keluar lagi. Paman Davidson itu memiliki banyak uang, aset, dan investasi yang bertebaran. Dia pasti bisa dengan mudah mengeluarkan uang jika dia mau,” bujuk Alex. Helena terlihat kecewa. Padahal dia tidak ingin mengatakan syarat memalukan yang Davidson katakan, tapi sudah sejauh ini, dia tidak bisa menutupi lagi. “Alex, Paman Davidson memang sempat bilang mau membantu kita. Tetapi syarat yang dia minta dariku sangat tidak masuk akal dan memalukan. Aku—” “Masa bodoh apa syaratnya!” bentak Karina. “Apapun syaratnya ya lakukan saja yang penting kita dapat uangnya!” “Ibu mertua, Paman Davidson memintaku untuk—” Alex memotong, “Sayang, penuhi saja syaratnya. Selama aku bisa menstabilkan perusahaan, syarat itupun tidak penting.”Kirena menggenggam selimut di atas pangkuannya, matanya berkaca-kaca saat Davidson berdiri tegak di samping ranjang tanpa banyak ekspresi. Cahaya pagi menembus tirai, menciptakan suasana hening yang hampir menyakitkan untuknya. Davidson memang tidak banyak bicara, tapi kehadiran ria itu di sana sudah cukup menjelaskan bahwa kepedulian untuknya masih begitu besar. “David…” suara Kirena parau, nyaris bergetar. “Bolehkah aku… tinggal di sini untuk sementara waktu?” Davidson tidak menjawab langsung. Rahangnya mengeras, pandangannya tertuju ke arah jendela seolah ia sedang menahan diri agar tidak terbawa emosi. Keheningan itu membuat Kirena semakin gugup. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya... aku pergi waktu itu bukan karena aku ingin meninggalkanmu,” lanjut Kirena. Air matanya jatuh dengan sendirinya. “Aku divonis menderita leukimia. Parah. Dokter bilang aku harus segera menjalani pengobatan intensif di luar negeri.” Davidson akhirnya menatapnya, tatapan gelap, menusuk, sulit dit
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke kamar, menerangi ruangan yang masih sunyi. Davidson duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya tegak, kedua lengan terlipat. Matanya tidak benar-benar terpejam semalaman, lebih tepatnya waspada dalam diamnya. Dia tidak menyentuh Kirena, tidak menggenggam tangan, tidak menunjukkan kelembutan berlebihan seperti kalanya mantan kekasih. Tapi dia memilih untuk tetap di sana, tidak beranjak sedikit pun. Ketika Kirena membuka mata untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa lemah. Pandangannya buram sebelum akhirnya fokus pada sosok yang duduk kaku di sampingnya. “…Davidson?” suaranya serak. Davidson membuka mata sepenuhnya. Ekspresinya tetap datar, dingin seperti biasa, tapi kilatan lega sekilas tampak, cukup cepat untuk mudah terlewat kalau tidak memperhatikannya. “Kau sudah sadar,” katanya singkat, suaranya rendah dan tegas. Kirena melihat sekeliling, tampak bingung. “Apa… yang terjadi?” “ Kau pingsan kemarin,” jawab Davidson, masih de
Helena mulai merasa gelisah melihat reaksi Davidson. Sejak dokter pergi, ruang tamu itu terasa terlalu hening. Kirena sudah dibaringkan di kamar tamu, napasnya teratur namun lemah. Sementara Davidson… tampak seperti seseorang yang baru saja ditampar kenyataan yang begitu pahit. Helena memperhatikan gelagatnya. Pria itu berdiri kaku di depan pintu kamar Kirena, kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun matanya… penuh kekhawatiran yang sulit untuk disembunyikan. Helena menghela napas dan mendekat pelan. “David…” panggilnya hati-hati. Davidson tak menjawab. Ia hanya menatap Kirena yang terbaring tak berdaya. Ada campuran marah, takut, dan bingung di wajahnya. Emosi yang bahkan Helena sendiri tak pernah lihat sebelumnya. “Kenapa dokter bilang dia sudah lama menjalani pengobatan? Apa kau tahu sesuatu?” tanya Helena pelan. Davidson menggeleng cepat, seperti menolak kenyataan. “Aku… aku tidak tahu apa pun. Dia tidak bilang apa-apa waktu datang. Dia cuma menangis dan bicara
“Aku tahu aku dulu pengecut,” ucap Kirena, suaranya retak. “Aku tahu aku melukai mu dengan cara paling buruk. Tapi… aku juga manusia, David. Aku takut.” Davidson menghela napas panjang. “Takut apa maksudnya?” “Takut menikah dengan pria yang aku cintai… tapi yang waktu itu terlalu posesif sampai aku bahkan tak bisa bernapas.” Dia menatap Davidson penuh penyesalan. “Aku takut rumah tangga kita akan hancur sebelum dimulai. Aku takut kau tidak bisa berubah… dan aku salah karena pergi dengan cara seperti itu.” Hening. Davidson menatapnya tajam, tapi di balik tatapan itu, ada luka lama yang masih terasa. Kirena melanjutkan, suaranya menurun. Sungguh, dia tidak peduli dengan Helena yang justru menonton di sana. “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Setiap tahun berlalu, aku tetap memikirkan mu. Kau mungkin berubah jadi lebih tenang, lebih dewasa. Tapi aku tetap dengan rasa bersalah yang sama.” Wajah Davidson sedikit melunak, meski dia belum mengatakan apa pun. Kirena membe
Davidson menuruni anak tangga dengan langkah tenang namun wajahnya sudah berubah kaku sejak mendengar nama Kirena. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Helena sebelum turun, hanya satu kalimat singkat, “Aku ke bawah dulu. Kau mandilah.” Helena mengangguk dan tidak memaksa ikut, apalagi ia masih mengenakan pakaian Davidson. Ia masuk ke kamar mandi sementara Davidson turun ke lantai bawah. Begitu Davidson muncul, Kirena, seorang wanita muda dengan pakaian elegan dan riasan yang jelas dipersiapkan matang langsung berdiri. Matanya berbinar melihat sosok Davidson, lalu tanpa ragu sedikit pun ia melangkah cepat mendekat. “Davidson!” serunya. Sebelum Davidson sempat menahan, Kirena langsung memeluknya erat. Davidson terdiam. Tubuhnya kaku, kedua tangannya tidak bergerak satu sentimeter pun untuk membalas. Ia hanya berdiri tegak dengan tatapan datar, persis seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak menepis pelukan itu secara kasar. Kirena memejamkan mata, seolah rindu yang me
Helena bangkit dari tempat tidur sambil memegangi bokongnya. Ia meringis menahan panas karena hukuman yang Davidson maksud benar-benar tidak masuk akal. “Orang gila. Dia pikir aku ini bocah? Hukuman macam apa sih sebenernya? Memukul bokong sampai panas begini,” gumam Helena. Tidak ada Davidson di sana, pria itu tengah sibuk dengan rapat dadakan yang diadakan secara daring di ruang kerjanya. Davidson masuk ke kamarnya, sebenarnya hanya berniat mengganti baju dan beristirahat setelah rapat dadakan itu. Tapi suara air yang mengalir dari kamar mandi membuat langkahnya terhenti. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, senyum yang hanya muncul setiap kali menyangkut Helena. Setelah menegaskan untuk fokus pada Davidson, Helena dengan patuh tinggal di kamarnya. Pintu kamar mandi tidak dikunci. Helena memang sering lupa kalau laki-laki itu tidak pernah tahu aturan privasi. Davidson mendorong pintu perlahan. Uap hangat langsung menguar keluar, memenuhi wajahnya. Helena sedang berdiri







